Perfect Agreement

Perfect Agreement
EPISODE 1 |SERIES 3|



Peringatan!


Ini hanya sekedar spoiler saja, kalo kalian mau lanjut, silahkan tunggu pemberitahuan resmi dari saya aja :)


Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena membuat kalian kesal :)


...


Cast


Stefan Anderson/Stefan Roswell



Seorang pemimpin baru organisasi gelap yang dulunya diketuai oleh Viktor Roswell, ayah angkat Stefan. Hidup dalam kubangan kebencian dan penuh dengan hal berbau gelap membuat Stefan harus dengan terpaksa menjadi dirinya yang saat ini. Sebagai pemimpin yang baru, Viktor meminta Stefan untuk menikahi seorang gadis bernama Elina. Namun, calon istrinya mati karena sebuah insiden yang terjadi saat kunjungan mereka ke Swedia. Disitulah Stefan bertemu dengan orang di masa lalunya dan mau tak mau ingatan kecil tentang peristiwa di malam mengerikan itu harus kembali muncul dalam ingatannya. Ternyata bukan terikat di masa lalu saja, pembunuhan Elina rupanya memiliki keterikatan dengan desainer muda itu, membuat Stefan berkeinginan untuk memiliki perempuan itu segera sebagai alat balas dendamnya.


Alaina Hailee Grissham



Alaina adalah gadis periang. Ia tumbuh dalam keluarga bahagia dengan orang-orang yang selalu memanjakan dirinya. Dikenal dengan sebutan Daddy's Girl karena ia begitu dekat dengan sang ayah, Alex Grissham. Pergaulan Alaina cukup dibatasi, ia tidak punya banyak teman pria ataupun pacar karena ayahnya melarang dengan keras bagi pria manapun yang berusaha mendekati Alaina. Gadis 25 tahun itu tidak banyak berontak disaat ia menikmati masa sendirinya. Namun, ada beberapa teror yang akhir-akhir ini mengganggunya. Ia memiliki sebuah masalah dengan kliennya sendiri, pria akan menikah dengan sahabatnya, Elina. Teror itu dimulai sejak kematian Elina di Swedia. Gangguan dari pria Rusia itu membuat Alaina memutuskan untuk datang menemuinya, tapi keputusan itu membawa dampak yang menghancurkan sebagian masa depannya karena Alaina mengetahui kalau pria Rusia yang menerornya adalah seorang Mafia.


.


.


.


.


.


.


"Mati kau!"


"Pergi! Aku tak mengharapkan dirimu!"


"Pembawa sial! Terkutuk lah kau!"


"Mommy... Mommy... Jangan pergi..."


"******** tengik! Anak sialan, kau membuatku menderita!"


"Mommy! Tidak, jangan bunuh aku-- AHHH!"


Mata itu terbuka seketika dengan tubuh yang dipenuhi oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal ketika mimpi itu datang lagi. Netra coklatnya melirik ke arah jam digital yang masih menunjukkan pukul dua pagi dan ini sudah ketiga kalinya dia terbangun karena mimpi buruk.


Ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat lalu ia beranjak dari atas ranjang untuk menghirup angin malam yang dingin menusuk kulit. Pria itu membuka pintu balkon, ia mendekati pagar pembatas lalu mencengkramnya erat. Rahangnya mengeras dengan urat-urat di leher yang mulai bermunculan.


Mimpi itu lagi. Mimpi dimana ia mendapati keengganan ibunya atas dirinya. Dia tidak dicintai, tidak pernah mendapat apa itu kasih sayang sang ibu. Namun...


"Shit!" Ia mengumpat lalu tangannya memukul pagar besi itu beberapa kali hingga buku jarinya terlihat memerah.


Matanya memejam erat, berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri agar tidak termakan oleh mimpi sialan itu.


"Stefan?"


Panggilan halus dari dalam kamar membuat Stefan menoleh. Ia sebenarnya malas menanggapi wanita cantik itu, tapi mau bagaimana lagi? Perempuan yang sedang berdiri di pintu balkon dengan memakai kemeja hitam miliknya itu adalah calon istri yang sudah dipilihkan untuknya. Ini bukan sekedar pernikahan biasa, ayah angkatnya memang menyiapkan pernikahan ini sebagai bentuk kerja sama antar relasi gelap mereka.


"Tidurlah, Elina."


"Aku tidak bisa tidur, kau mimpi lagi?"


"Tidur saat kubilang tidur, El. Kau mau mati?"


Perempuan itu menggeleng lemah lalu ia dengan terpaksa kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya. Selama ini ia tidak ingin membuat Stefan marah karena dia tahu kalau Stefan adalah orang yang kejam. Pernah dulu ia mendengar kalau pria yang akan menikahinya itu membunuh tiga orang pelayan sekaligus karena tidak becus mengurusi urusan rumah. Betapa mengerikannya itu, bukan?


Stefan duduk di kursi malas lalu ia menatap dalam ke atas langit tak berbintang itu. Selamanya ia akan terus mengingat peristiwa itu. Peristiwa yang merenggut nyawa ibunya. Tangannya kembali terkepal, apa urusannya? Ibunya tak menginginkannya, bukan?


Stefan kembali memejamkan mata, kali ini tidurnya tidak terganggu dan ia bersyukur karena tidak ada mimpi sialan itu lagi yang menghantuinya malam ini.


...


Alaina mengusap wajahnya yang baru saja terbangun dari tidur. Hari ini dia akan pergi ke Swedia, tepatnya untuk bertemu dengan teman lamanya. Banyak hal yang terjadi di dalam rumah ini dan ia merasa kalau sebuah liburan sederhana akan membuatnya menjadi lebih baik.


Perempuan muda itu beranjak untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi lalu selepas itu ia mulai menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Swedia nanti siang.


Ditengah kesibukannya melipat baju, ibunya masuk ke dalam kamar dan menatapnya aneh.


"Ada apa ini?"


"Mom, aku mau berangkat. Ada urusan."


Sarah menatapnya bingung,"Kau mau pergi kemana memangnya, nak?"


Alaina meliriknya sebentar lalu ia kembali menyusun pakaian ke dalam koper. "Mom, kumohon... Aku hanya pergi ke acara pernikahan temanku di Swedia. Hanya untuk beberapa hari saja."


"Apa ayahmu sudah tahu?" Tanyanya lagi dan Alaina hanya mendengus kecil. Ayahnya harus dibujuk dulu baru bisa diberi izin.


"Iya, nanti aku beritahu."


Tepat setelah itu, pintu kamarnya dibuka. Seorang pelayan masuk dan mengatakan kalau Aaron datang mencari Sarah. Wanita tua itu pun akhirnya keluar dan membiarkan Alaina sibuk dengan urusannya.


Perempuan muda itu bernapas lega. Ia mengingat kembali semua barang-barangnya lalu tersenyum puas saat tidak ada yang ketinggalan.


Drtt! Drtt!


Ponsel Alaina yang ada di tengah ranjang berbunyi. Perempuan itu melirik nama yang muncul di depan layar lalu senyum manisnya muncul.


"Halo, Elina?!"


"Hai, Al. Apa kabarmu? Hari ini jadi, kan?"


"Aku baik. Tentu saja! Aku sudah bersiap-siap dan nanti siang aku berangkat."


"Syukurlah kalau begitu. Aku benar-benar senang bisa bertemu denganmu. Nanti aku kenalkan kau dengan calon suamiku, ya? Beruntunglah karena dia mau menemaniku."


"Iya, ya sudah kalau begitu... Sampai jumpa!"


Alaina menyimpan kembali ponselnya. Ia menatap tak sabar pada jarum jam yang masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Ia akan berangkat di jam dua-- menemui Elina dan calon suaminya. Elina tiba-tiba menghubunginya pekan lalu dan berkata kalau dia tertarik dengan desain gaun yang Alaina buat dan berharap kalau Alaina mau membuatkan gaun pengantin untuknya.


Tentu saja Alaina tidak akan menolak. Disamping karena ini pekerjaannya, dia juga rindu dengan teman lamanya itu. Hitung-hitung reuni lah.


Gadis itu lantas mendudukkan diri di pinggir ranjang sembari memainkan ponselnya untuk mencari sebuah nama.


Elina mengatakan kalau nama calon suaminya itu Stefan Roswell dan mungkin ia bisa mencari tahu sedikit tentang pria itu, bukan?


Dahinya berkerut saat tak muncul apapun di dalam internet. Elina berkata kalau Stefan adalah pengusaha, tapi kenapa profilnya tidak bisa Alaina temukan di internet?


"Aneh... Apa kekasih Elina ini seorang introvert?"


...


Stefan mematikan rokok yang ada di tangannya ketika salah seorang bawahannya datang membawa informasi.


"Ini, Tuan Roswell. Saya sudah mengumpulkan data beberapa orang yang terlibat dalam pemalsuan pengiriman narkoba beberapa hari yang lalu."


"Siapa mereka?"


Pria dengan rambut perak itu menunduk,"Suruhan dari musuh Anda, Tuan. Roger Fransisco."


Stefan memejamkan mata elangnya. Sudut bibirnya melengkung-- menciptakan sebuah seringaian jahat yang seringkali muncul tiap kali dia akan beraksi.


"Si ***** itu lagi rupanya. Biarkan dia bermain dengan kebodohannya itu. Aku akan menanganinya sendiri nanti, setelah kepulangan ku dari Swedia."


"Apa Tuan ingin saya memata-matai Roger?"


Stefan menggeleng,"Tidak. Itu cara kuno, aku akan bermain dengan caraku sendiri."


Orang tadi kemudian undur diri. Stefan berdiri dari kursinya lalu ia meraih beberapa kertas yang berisi data-data orang yang mengacaukan pekerjaannya beberapa hari yang lalu. "Dasar bodoh."


Pria dengan mata coklat itu keluar dari ruangannya untuk melihat apakah Elina sudah siap dengan keberangkatan mereka hari ini.


Beberapa pelayan tampak menunduk penuh hormat padanya bahkan sesekali bergetar takut tatkala pria itu lewat di hadapan mereka.


"Stefan, kudengar kau akan pergi?"


Ia menoleh saat merasa dirinya dipanggil. Kakak angkatnya, Harper, tampak tak menyukai keputusannya. "Memangnya kenapa? Tidak ada yang melarang ku juga."


"Aku yang melarang mu!"


"Kak, dengar... Aku pergi ke Swedia bukan untuk membunuh orang. Aku menemani Elina."


Harper melipat tangannya di depan dada. Matanya menyipit saat mendengar adik angkatnya yang seperti malas menanggapi setiap perkataannya,"Kau tidak tahu, ya? Swedia penuh dengan musuh kita. Kau datang kesana, itu sama saja dengan bunuh diri."


"Oh, ya? Lalu kenapa? Aku harus takut?"


"Stefan, kau--"


"Berhenti memerintah, kak. Aku menghormatimu sebagai kakak dan kuharap kau pun dapat melakukan hal yang sama walau kita tak punya hubungan darah." Ucapan dingin yang keluar dari bibir Stefan membuat Harper terdiam. Memang, dia adalah orang kedua yang selalu menentang setiap kelakuan Stefan. Jika bukan karena status sebagai kakak angkatnya, mungkin sudah lama Stefan melubangi kepala Harper.


Pria itu menemukan Elina di ruang tamu. Gadis muda itu sudah siap dengan koper miliknya dan sepertinya dia baru sudah menelepon seseorang.


"El, sebenarnya kau mau menemui siapa?"


"Oh."


"Aku sudah siap, kita bisa berangkat sekarang," Kata Elina.


Stefan tidak menanggapinya lagi, pria itu memberi kode pada bawahannya untuk membawa koper mereka ke dalam mobil. Penerbangan mereka akan dilakukan secara rahasia mengingat banyak sekali ancaman luar yang bisa kapan saja datang menyerang mereka.


Stefan tidak mau membuang peluru hanya untuk membunuh orang, ia ingin berlibur dari acara membunuhnya.


Selama di penerbangan, Elina tidak duduk di samping Stefan. Pria itu berkata kalau dia ingin sendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. Sebenarnya Elina bingung dengan sifat pria itu, terkadang Stefan memaksanya bercinta lalu kemudian hari membuangnya seperti saat ini. Jujur saja, Elina tidak begitu mencintai Stefan. Dia hanya mengikuti arahan dari pamannya untuk mau menikah dengan pria psikopat itu dan semoga saja ini bukan pertanda buruk untuknya.


...


Alaina sampai di Swedia saat hari sudah gelap. Dia memutuskan untuk menginap di salah satu hotel terdekat karena sekarang dirinya benar-benar kelelahan. Kepergiannya sedikit terhalang karena sang ayah yang lagi-lagi bersikap menyebalkan dengan tidak menyuruhnya pergi kemana-mana. Betapa susahnya membujuk sang ayah hingga akhirnya ia mendapat izin. Alaina benci jika harus merengek seperti anak kecil demi mendapat izin dari ayahnya seperti tadi.


"Nona, langsung ke penginapan?"


Alaina menyandarkan punggungnya,"Ya, mungkin. Apa kau punya rekomendasi tempat, pak supir?"


Pria tua dengan topi hitam itu tersenyum kecil,"Ada sebuah bar yang menyajikan minuman khas, Nona. Jika Anda berkenan, saya bisa mengantar Anda kesana untuk menghilangkan lelah."


Alaina awalnya ragu, tapi ia tergoda dengan tawaran si pria tadi. Lantas ia mengangguk dan taksi itu melaju ke arah yang berbeda dari yang tadi.


Sesampainya, bisa ia lihat kalau tempat ini hanyalah sebuah bar kecil yang memang ramai oleh orang-orang. Mungkin untuk sebagian orang, tempat ini adalah surga.


"Saya akan menunggu disini, Nona. Anda bisa menikmati minuman tanpa terburu-buru."


"Oh, aku sangat menghargai itu. Terima kasih," Alaina lekas turun dari taksi lalu berjalan ke pintu masuk. Suara musik yang cukup kuat membuat telinganya terasa sakit. Ternyata bukan Amerika saja yang memiliki hiburan seperti ini. Dia duduk di depan meja panjang yang diisi oleh beberapa pria dan wanita. Alaina melambaikan tangannya pada bartender yang sedang mengelap beberapa gelas.


"Tolong, segelas rum."


Si bartender itu mengangguk lalu mulai menyiapkan minuman yang dipesan oleh Alaina. Wanita itu memijat dahinya karena merasa pusing. Sungguh, perjalanan tadi benar-benar melelahkan dan apabila orangtuanya tahu dia pergi ke bar selarut ini, mereka pasti mengamuk.


"Aku terkesan karena gadis seperti mu berani datang sendirian dan memesan minuman dengan kadar alkohol tinggi." Ia menoleh ke kiri, seorang pria dengan kemeja hitam duduk sambil menyesap brandy di tangannya. Wajahnya tidak bisa dilihat begitu jelas oleh Alaina karena keadaan yang tidak begitu diterangi oleh cahaya.


"Maaf, apa Anda berbicara denganku?"


"Ya."


Alaina memutar bola matanya karena merasa percakapan ini bukan menjadi urusannya. Dia berucap terima kasih saat si bartender kembali dengan pesanannya. Perlahan, gadis itu menyesap minuman di gelasnya. Ia bukan tipe orang yang mudah mabuk seperti Aaron. Segelas alkohol bukan apa-apa baginya.


"Kau punya teman?"


"Maaf, Tuan. Jika kau berharap untuk meniduriku, maka tendang pikiran itu jauh-jauh. Aku disini bukan untuk menjual kemaluanku."


Alaina mendengus malas.


Pria di sampingnya itu mulai meliriknya dengan tatapan penuh nafsu. Rambut coklat panjangnya terlihat indah dengan keadaan kusut seperti itu dan Alaina punya bola mata yang memukau. Gadis bermata biru yang menarik. Tubuhnya juga seksi, terlihat seperti seorang Dewi kecantikan dengan balutan gaun selutut warna biru tua.


"Aku ingin namamu."


Alaina meliriknya penuh permusuhan,"Jangan kurang ajar! Aku bisa membuatmu menyesal karena berani menggangguku."


Pria tadi terkekeh pelan, tapi entah kenapa ada aura menakutkan yang bisa Alaina rasakan dari cara pria itu tertawa.


"Well... Aku tertarik dengan sifatmu, Nona. Aku--"


Byurr!


Alaina menumpahkan minumannya tepat ke depan wajah si pria kurang ajar ini. Ia tersenyum mengejek melihat laki-laki itu terdiam akibat perbuatannya.


"Perlu kau ketahui, Tuan kurang ajar. Aku bisa mempermalukanmu lebih dari yang ini. Dasar perusak suasana!" Alaina mengeluarkan beberapa lembar dollar lalu menaruhnya kasar ke atas meja panjang itu lalu ia beranjak untuk pergi.


"Tuan Stefan?! Apa kami perlu mengejar perempuan itu?"


Stefan menaikkan telapak tangannya, memberi kode kalau tidak ada yang boleh mengejar wanita tadi. "Tidak perlu, aku pasti akan mendapatkannya sendiri."


Seringai jahat itu kembali timbul, Stefan mengeluarkan sapu tangan dari dalam jasnya lalu mengelap wajahnya yang basah karena tumpahan alkohol.


Bau tubuh perempuan tadi masih membekas di hidungnya.


Alaina kembali ke dalam taksi dengan wajah yang memerah. Si supir taksi terlihat bingung, tapi dia tidak mengatakan apapun dan langsung menjalankan taksinya.


Gadis itu menggeram tertahan karena merasa baru saja dilecehkan secara tidak langsung oleh pria mesum tadi. Apa-apaan pertanyaan itu? Seolah Alaina adalah gadis panggilan saja.


"Nona, kita sudah sampai."


Ia tersentak lalu melihat sebuah gedung bertingkat, ternyata memang sudah sampai. Alaina memberi bayaran lebih untuk si supir lalu dia mengeluarkan kopernya sebelum masuk ke dalam penginapan itu.


"Atas nama Alaina Grissham," Ucapnya pada si resepsionis hotel.


"Kamar nomor 20, Nona."


"Terima kasih." Alaina menerima kunci pintu kamar lalu meminta seorang pelayan untuk membawakan kopernya ke kamar.


Drtt! Drtt!


Perempuan itu meraih ponsel dari dalam tas kecilnya saat merasakan nada panggilan.


"Oh, ada apa Elina? Aku baru saja sampai di hotel."


"Benarkah? Baguslah kalau begitu, kita bertemu besok siang, ya?"


"Iya, sampai jumpa besok, El."


Dimasukkannya kembali ponselnya ke dalam tas, Alaina masuk ke dalam lift karena ia benar-benar lelah hari ini.


...


"Tuan, saya mendapat kabar kalau Tuan Viktor berada di Swedia."


"Apa? Sejak kapan ayah angkatku kemari?" Pria dengan balutan pakaian hitam itu menunduk,"Sepertinya Tuan Viktor berada disini sejak beberapa hari yang lalu."


Sial, batinnya.


Stefan mendengus malas saat mendengar kalau Viktor berada di negara yang sama saat ini. Entah kenapa, pria tua itu selalu saja mengikutinya dimana pun.


"Pergilah, katakan pada Viktor kalau aku kemari bukan karena mengacau."


"Ba-baik, Tuan Stefan." Orang itu lantas pergi dari hadapan Stefan. Siang ini dia akan pergi menemui desainer sekaligus teman lama Elina di sebuah restoran yang sudah dipesan khusus.


"Stefan? Kita bisa pergi sekarang." Ajak Elina.


"Kau datang duluan saja. Anak buahku akan menjagamu."


"Kenapa tidak pergi bersama?"


Stefan berdecak kesal,"Sekali lagi aku dengar kau membantah ucapanku, akan kulempar tubuhmu dari jendela."


Elina menelan ludahnya susah payah lalu tanpa diberitahu sekali lagi, wanita itu pun dengan segera pergi dari hadapan Stefan.


Pria itu mendengus malas, ia membuka laptopnya lalu mengetikkan sesuatu di sana.


Stefan mendengar ada sebuah pengeboman pabrik di sudut kota Stockholm. Bukan pabrik biasa, itu adalah salah satu pabrik rahasia yang memproduksi senjata-senjata rakitan. Jangan sampai penyebab peledakan tempat itu karena Viktor.


"Yo, Stefan. Kenapa, bung? Tumben kau menghubungi ku."


Stefan menggeleng saat melihat tampilan sahabatnya ini. Ia sengaja menghubungi orang ini untuk mendapat informasi.


"Kudengar pabrik--"


"Yap, benar. Meledak, seperti kembang api. Kau mau tahu kan siapa pelakunya?"


"Apa ada kaitannya denganku? Jangan katakan kalau ada hubungannya dengan orang-orang Rusia," Tanya Stefan. Ia benar-benar akan murka jika peledakan pabrik di Stockholm benar-benar didalangi oleh ayah angkatnya sendiri.


"Kelompok Elang Putih, bung. Tenang saja, bukan merupakan orang-orang mu."


Alis Stefan menyatu dalam. Ia memberi tatapan tak percaya pada temannya melalui layar laptop itu. "Kau serius? Orang kulit hitam itu?"


"Yang aku dengar, tetua Elang Putih kalah taruhan dengan tetua kami. Mereka membobol sistem pertahanan di Stockholm lalu merusak pabrik kami. Bukan hanya itu, Stefan. Elang Putih juga kalah taruhan dengan tetua kalian. Yang mana artinya--"


"Mereka mengincar ku."


"Tepat sekali, temanku. Aku sebenarnya ingin memberitahu sejak kemarin, tapi aku tak diberi akses oleh Deborah. Maafkan aku, bung."


Rahang Stefan kembali menegang. Ternyata memang benar, Viktor membuat kesalahan dengan memilih untuk mengibarkan bendera peperangan pada orang Nigeria itu.


"Oliver, dimana aku bisa bertemu dengan anggota Elang Putih?"


Mata Oliver melebar ngeri saat mendengar pertanyaan Stefan,"Gila! Kau mau cari mati?!"


"Aku menduga kalau kalian menangkap setidaknya satu orang?"


Oliver menghela napasnya lalu mengangguk. Tidak mudah untuk menyimpan rahasia di depan Stefan.


"Datanglah ke markas ku. Kita bicara disana."


"Aku akan segera ke sana." Stefan lantas memutus sambungan itu. Dia menutup laptopnya lalu mengeluarkan ponsel. Ia dengan segera menghubungi Elina untuk mengabarkan bahwa dirinya mungkin tidak dapat bergabung untuk menemani Elina berjumpa dengan desainer asal Kanada itu.


Setelah itu, Stefan memilih untuk pergi dengan ditemani oleh beberapa bawahannya. Tujuannya yang pertama adalah pergi ke markas Oliver untuk menggali informasi lebih dalam tentang mengapa ada taruhan diantara kelompok Elang Putih dan organisasinya.


...


ada yang inget sama Stefan? haha