Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 3



Sarah pergi dengan wajah suram. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang. Leah berjanji kalau dia akan menjemput Sarah di kantor Alex tadi tapi Sarah masih ingin sendirian. Jadinya dia pergi entah kemana sambil memikirkan nasibnya ke depan nanti. Suara klakson mobil menghentikan langkahnya, ia menoleh ke kanan dan mendapati sebuah mobil sport berhenti di sampingnya. Sarah menyampirkan rambutnya ke telinga dan meneliti mobil siapa yang berhenti padanya.



Kaca mobil itu terbuka perlahan dan menampakkan seseorang dengan kacamata hitam tengah menatapnya. Satu tangannya berada di kemudi mobil seolah menunggunya untuk naik saat ini juga,"Masuk,"



Suara tajam itu berhembus masuk ke telinga Sarah, membuat gadis itu terhenyak sebentar.



Alex?



"Maaf Tuan Grissham, a-aku punya urusan untuk--"



"Seingatku, kau pulang beberapa jam yang lalu dan kenapa kau masih berada di sekitar sini?"



Sarah hendak berkata sebelum matanya melihat Alex yang keluar dari mobil, berjalan ke arahnya sebelum memeluk tubuh gadis itu cukup erat.



Sarah terpaku. Ia merasa sesak oleh aroma parfum yang dipakai Alex dan merasakan bagaimana kerasnya dada pria itu. Oh entahlah, ia merasa pening hanya karena memikirkan aroma tubuh pria itu yang kini tengah mendekapnya tanpa alasan pasti.



"Ke-kenapa kau--"



"Sstt, kau terlihat tegang,"



Sarah mengerjapkan matanya beberapa kali. Tangannya masih tertahan di bawah sana, tidak berani untuk balas memeluk pria itu. Sarah merasa semua pemikirannya tentang Alex yang arogan adalah salah. Pria itu memeluk dia dengan erat dan mengelus punggungnya dengan gaya menenangkan.



"Tuan Grissham, Aku--"



"Bertingkah lah seperti kita adalah pasangan. Kerumunan orang itu melirik kita berdua," Bisiknya membuat Sarah terlonjak begitu saja. Mata hitamnya beralih menatap ke arah seberang, dimana memang ada sekumpulan orang yang tampak penasaran dengan apa yang mereka-- atau lebih tepatnya yang Alex lakukan.



"A-apa maksudmu?"



"Demi Tuhan Sarah--" Alex melepas pelukan mereka dan menangkup kedua pipi gadis itu dengan telapak tangannya yang besar,"Tidak bisakah kau bersikap seolah kita pasangan atau apapun itu. Ini adalah langkah yang bagus, sekarang masuk ke dalam mobil," Lanjutnya kemudian.



Otak Sarah mencerna baik-baik setiap kata yang terlontar dan seketika menyadari kalau Alex tengah membuat sandiwara,"Oh Tunggu! Aku--"



"Masuk! Aku tak terima bantahan lagi," Alex membuka pintu mobil dan mendorong paksa Sarah ke dalamnya sebelum menutup pintu mobil itu. Ia melirik ke arah orang-orang di seberang sana yang berhasil memotret dirinya kemudian membubarkan diri dari sana ketika ketahuan.



Pria itu menyeringai sebelum mengitari mobilnya untuk duduk di kursi kemudi.



"Bisa kau jelaskan padaku kenapa kau tiba-tiba melakukan ini?"



Alex tetap mengeluarkan ekspresi tenang sembari mengendarai mobilnya.



"Tuan Grissham?!"



"Baiklah Sarah. Aku akan beritahu padamu. Orang-orang tadi adalah si pencari uang," Jawabnya.



Dahi Sarah berkerut, maksudnya?



"Tak mengerti juga?" Tanya Alex.



Pria itu menghela napasnya,"Mereka wartawan yang sedari tadi mengikutiku, Sarah. Berharap kalau akan mendapat berita bagus,"



Sarah mengatupkan bibirnya. Oh, jadi benar itu cuma sandiwara semata. Sarah harusnya tahu kalau Alex hanya membutuhkan dia untuk memperbaiki citra namanya yang sempat turun. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di kursi mobil dan menundukkan kepalanya, pikirannya tambah kacau karena keputusan nya beberapa saat yang lalu.



"Apa, maksudku, apakah aku bisa memutuskan--"



"Tidak. Apapun yang akan kau katakan tentang membatalkan janji kita, jawabannya tetap tidak," Potong Alex dengan cepat. Sarah menatapnya dari samping dan mendapati kalau rahang pria itu mengeras seolah akan hancur jika diberi tekanan yang terlalu dalam. Mata biru pudarnya tidak meliriknya ketika berbicara dan itu membuat Alex tampak sangat menggoda.



Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ketika otaknya mulai berpikiran hal lain.



"Aku harus memanggilmu bagaimana? Tuan Grissham atau Alex saja?" Tanya Sarah.



"Entahlah, buat dirimu nyaman,"



Sarah melipat bibirnya, walau bagaimanapun juga ia harus sopan pada Alex,"Baiklah. Tuan Grissham saja, rasanya itu lebih--"



"Alex. Kau sedang tidak berbicara dengan kakek buyutku," Potongnya lagi. Sarah menggeram, ia ingin mencakar wajah rupawan pria itu agar berubah seperti beruang dan memasukkannya ke dalam kandang di Amazon.



Sarah tak menyahut setelah itu. Alex sangat suka memotong pembicaraan orang lain dan itu sangat tidak sopan. Sarah membenci tipikal pria seperti dia bahkan untuk berbicara dengan orang saja Alex tidak menunjukkan rasa sopan.



"Ngomong-ngomong, aku tinggal di rumah Leah. Jadi jangan lupa antar aku," Kata Sarah. Untuk beberapa saat kemudian Alex balas menatapnya. Mata pria itu menyipit dan senyum kecilnya mengembang. Untuk beberapa orang seperti Alex, itu seringai serigala yang bisa membuat gadis sepertinya merinding seketika.



"Kita pulang ke apartemen ku,"



...



Sarah berjalan dengan susah payah saat pergelangan tangannya ditarik paksa untuk masuk ke dalam gedung menjulang sampai ke depan pintu lift.



"Astaga! Bisakah kau tidak menarikku seperti anjing? Tentu aku bisa berjalan sendiri!" Cercanya sembari mengelus tangannya yang memerah.



Alex menyimpan satu tangannya di dalam saku celana sembari menatap Sarah yang tampak kesal padanya,"Kau lamban, itu alasannya,"



Pintu lift terbuka ketika Sarah hendak berbicara dan Alex kembali menarik tangannya dengan kuat,"Alex!"



Pria itu tidak memedulikan ketika suara Sarah menggema di telinganya, ia ingin segera sampai di dalam apartemen dan memberi Sarah sedikit pembelajaran tentang seks. Mungkin dimulai dengan mereka menonton video dewasa di televisi besar?



"Sebenarnya kau ini kenapa?! Aku sudah bilang untuk mengantarku pulang ke tempat Leah dan kau malah--"



"Sekarang kita adalah rekan dan dalam hal ini, aku ingin rekanku berada di tempat yang sama denganku. Kau mengerti kan tentang bisnis yang sedang kita kerjakan ini?" Ucap Alex.



"Fuck you!"



"Yes, we're gonna fuck all day and all night, baby,"



Dentingan lift kembali terdengar dan pintu terbuka otomatis. Alex berjalan lebih dulu dari Sarah yang masih sedikit mematung setelah mendengar ucapan pria itu. Oh tuhan, apakah ia akan memasuki kandang singa saat ini?



Sarah berjalan perlahan sebelum pintu lift tertutup dan menyadari kalau hanya ada satu pintu di lorong pendek ini.



Alex menekan password yang tertempel di dinding sebelah pintu bewarna silver dengan tulisan Grissham di bagian atasnya.



"Ayo masuk, sexy," Titahnya. Sarah mengetatkan rahangnya, ia memang merasa dilecehkan tapi dia bisa apa? Ini adalah kesalahan bagi Sarah, dia telah salah karena menerima tawaran tak masuk akal dari Alex.



Gadis itu berjalan masuk ke dalam apartemen Alex dan mengagumi interior tempat ini yang indah. Sungguh, flat tempat dia tinggal bukanlah apa-apa dibanding apartemen milik Alex ini. Apakah begini rasanya jadi kaya?



"Apartemen ku memang lumayan kecil, jadi kuharap kau bisa betah disini,"



Sarah segera menoleh pada Alex yang ikut memandangi seisi apartemen nya. Wajah pria itu sangat sombong, dia melipat tangannya di depan dada dan itu merupakan hal menakjubkan yang telah Sarah lihat-- sejauh ini.



"Kau bercanda kan? Apartemen ini bahkan lebih besar 10 kali lipat dibanding flatku yang dulu,"




"Kita akan tidur disini mulai malam ini," Ucap Alex.



Sarah menunjuk dirinya,"Ki-kita?"



"Jangan bercanda, sayang. Tentu saja kita," Jawab Alex. Apa perlu dia melempar kembali dokumen perjanjian mereka agar Sarah segera mengerti setiap ucapannya? Oh Tuhan, sepertinya Alex perlu untuk mengajarinya semua hal tentang kenikmatan dunia.



Sarah menelan salivanya,"Apa harus secepat ini?"



Alex hanya mengangguk kemudian meninggalkan Sarah sendirian di dalam kamar. Pria itu berjalan ke ruang tamu lalu duduk, mengecek kembali ponselnya dan mendapati ada beberapa panggilan tidak terjawab dari ibunya. Alex menghela napas, apa yang akan ibunya pikirkan setelah mendengar berita ini?



"Alex,"



Pria itu menoleh, Sarah keluar dari kamar dan mendekatinya, wajah gadis itu terlihat begitu kacau seakan beban dunia berada di pundaknya saat ini. "Kenapa?" Tanyanya.



"A-apa aku boleh pulang ke Florida untuk sementara waktu? Kau tahu, aku masih punya Grandma," Pintanya. Alex hanya menatap Sarah yang sangat mengharapkan persetujuannya. Mungkin Sarah juga ingin sedikit waktu untuk merenungkan kembali keputusan yang sudah ia ambil.



"Memangnya nenekmu kenapa?"



"Dia sakit Alex. Grandma Allison membutuhkan aku untuk ada di dekatnya," Jawab Sarah.



Alex menggeleng,"Tidak, berikan saja alamat rumah nenekmu dan aku akan memerintahkan anak buahku untuk membawanya ke Kanada," Putusnya.



Sarah merasa lemah, dia hanya mampu mengangguk dan menggumam. Setidaknya Alex sepakat untuk membawa neneknya kemari.



Pria itu berdiri seketika, menyimpan kembali ponselnya dan mendekati Sarah sebelum memeluk gadis itu dengan erat,"Demi apapun, Sarah. Kau begitu wangi," Bisiknya.



Sarah merinding, dia berusaha melepas dirinya sendiri dari pelukan Alex tapi pria itu makin erat mendekapnya,"A-Alex,"



Ia tersentak saat jemari Alex berjalan menyusuri bokongnya kemudian meremasnya dengan cara yang bisa membuat Sarah melayang saat ini juga,"Sebentar lagi semuanya akan menjadi milikku," Bisiknya lagi.



"Ja-jangan seperti ini Alex. Aku--"



"Kenapa Sarah? Kau takut padaku?" Tanyanya. Sarah terlihat salah tingkah ketika Alex menatapnya tajam seolah mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya. Demi apapun, mereka baru saling mengenal beberapa jam bahkan belum ada satu hari tapi cara Alex memandangnya seolah mereka sudah mengenal puluhan tahun.



"Aku hanya-- kau tahu, kita tidak mengenal satu sama lain,"



Alex menganggukkan kepalanya seolah mengerti dan dia pun mengelus pipi Sarah yang halus,"Maka dari itu harus ada chemistry di antara kita," Sarah mendelik, ia terlihat bingung dengan kata-kata Alex.



"Maksudmu cinta?"



Alex hanya terkekeh pelan,"Tidak sayangku. Tidak akan pernah ada cinta, maksudku adalah gairah,"



...



Malam datang begitu cepat setelah perkataan Alex tadi siang. Pria itu belum kembali sejak tadi, dia hanya berpesan kalau akan pulang jika urusannya selesai dan Sarah dapat melakukan apapun yang ia suka di dalam apartemen ini selagi menunggu.



Ia meringis, apakah ia hanya menunggu pria itu untuk seks? Menuntaskan bisnis mereka segera dan pergi kembali ke tempat asalnya untuk hidup normal? Oh Tuhan, bahkan ini lebih sulit daripada menunggu kelulusannya saat masa sekolah dulu. Pilihan Sarah sangat berat dan sedikit merugikannya. Ia jadi tidak yakin jika harus rela menukar bayinya dengan semua uang yang diberikan Alex.



Sarah memijat kepalanya yang pusing, ia menghela napas lalu beranjak ke walk in closet untuk mencari pakaian santai. Alex bilang ia bisa memilih pakaian apapun di dalam sana.



Mata hitamnya bergerak menyusuri banyaknya potongan gaun serba mini yang tergantung rapi di sana. Sarah menggigit bibirnya, ragu untuk menarik salah satu dari gaun yang tergantung itu. Apakah ia harus mengabari Leah hari ini?



Ia berbalik untuk kembali ke dalam kamar. Sarah mencari ponsel di dalam tas kecilnya. Ia mengerutkan dahinya, Leah menelponnya belasan kali dan mengirim pesan. Sial, ia benar-benar tidak menyentuh ponselnya sedari tadi karena sibuk mengagumi interior apartemen ini dan mencari-cari sesuatu.



Sarah memiringkan kepalanya sedikit ketika menyadari sesuatu,"Kenapa Alex menyimpan pakaian perempuan?"



Kakinya melangkah kembali ke dalam walk in closet dan menatap kumpulan gaun dan pakaian dalam dari sana. Ini mengejutkan.



"Sarah!"



Gadis itu terlonjak dan segera memegangi dadanya yang berdegup. Ia menoleh kesal ke belakang saat melihat Alex berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.



"Tidak bisakah kau bertindak seperti manusia? Jangan muncul tanpa permisi," Makinya. Alex menaikkan satu alisnya,"Harusnya aku yang mengucapkan itu, girl. Apa kau tahu apa yang ada dalam pikiranku saat melihat perempuan rambut panjang dengan jubah mandi putih itu?!" Balasnya tak kalah kesal.



"Ke-kenapa? Aku seperti hantu?"



"Hell! Kau jauh lebih menakutkan dari hantu dan lain kali jangan berdiri konyol seperti itu," Jawabnya sedikit kesal.



Sarah menundukkan wajahnya, ia hanya terlalu bingung.



"Sudahlah, kenakan apapun yang ada di dalam sana dan segera ke meja makan. Aku sudah membeli makanan," Titahnya sebelum menarik diri dari sana. Sialan, ia bisa lepas kendali jika seperti ini.



Setelah beberapa menit, Sarah pun keluar dari kamar dan menuju meja makan. Alex memang sudah disana dan ia menatapnya penuh sinar,"My god, darling. I could see everything behind that fucking dress,"



Sarah mengikuti pandangan Alex pada tubuhnya. Menurutnya ini sudah lebih dari pantas walau agak menerawang. "Hanya ini menurutku yang paling baik,"



"Terserahlah Sarah. Sekarang bawa bokongmu kemari dan nikmati makan malam ini,"



Sarah hanya mengangguk dan mendudukkan dirinya di seberang Alex lalu makan dengan tenang.



Beberapa lama setelah makan malam dan membersihkan semua peralatan makan, Sarah memilih untuk duduk di atas ranjang dan memainkan ponselnya. Dia mengabari Leah kalau malam ini ia akan menginap di hotel dan akan menemuinya besok pagi. Alex ada di kamar mandi, tengah membersihkan diri.



Sarah menghela napasnya sebelum mematikan ponselnya. Ia menerawang ke langit kamar yang sedikit memiliki motif seperti awan-awan, menenangkan ketika dilihat. Pikirannya melayang jauh ke masa-masa dimana dia berpikir kalau dunia akan berada dalam genggamannya. Sarah berjanji pada neneknya kalau dia akan pulang dengan uang yang banyak dan menjadi kaya. Merubah status mereka yang kerap menjadi bahan pembicaraan para tetangga.



Ia terkesiap ketika mendengar suara pintu yang dibuka, mata hitamnya bergerak untuk menatap siluet tubuh pria dengan balutan handuk di sekitar pinggangnya serta rambutnya yang basah. Jantung Sarah berdegup kencang, ia tidak mengetahui kalau Alex punya sejumlah tato di dadanya yang kekar juga di lengan kanannya. Pria itu terlihat sangat liar.



"Sarah, tenang saja. Kau akan merasakan kulitku di tubuhmu," Gadis itu tersentak mendengar suara itu. Cepat-cepat ia mengalihkan matanya dan bersikap seperti tidak tahu apapun. Alex hanya menyeringai sebelum masuk ke walk in closet untuk mencari pakaian.



Setelah selesai, ia segera mendekati ranjang-- atau lebih tepatnya mendekati Sarah di ujung sana.



Gadis itu menelan ludahnya dan bergerak ke belakang, berusaha menjauh dari tubuh Alex yang terlihat kelaparan,"A-Alex, aku rasa aku harus ke kamar mandi," Ucapnya. Alex menggeleng, ia menarik pinggang Sarah hingga menempel pada tubuhnya dan mencium aroma gadis itu,"Kau wangi. Jangan meragukan pesonamu Sarah. Kau sempurna,"



Wajah pria itu mendekat pada lehernya sebelum menciumnya dengan disertai gigitan halus. Sarah bergerak tak nyaman, ia mendorong pria itu agar menjauh darinya dan ia punya kesempatan untuk melarikan diri.



Alex menahan tangan Sarah. Dia menarik tubuh gadis itu hingga ia terlentang dan Alex menindih tubuhnya,"Kau tak akan pernah pergi dari ranjang ini hingga aku sendiri yang membuatmu pergi, Sarah. Jadi jangan pernah menolak sentuhan yang kuberikan hingga urusan kita selesai," Titahnya.



Seolah dihipnotis oleh sepasang mata biru pudar di hadapannya ini, Sarah mengangguk beberapa kali. Bibirnya terbuka, hendak mengeluarkan kata-kata tapi tak sempat karena Alex lebih dulu menciumnya rakus dan menghisap apa saja yang bisa ia gapai di dalam sana. Decakan bibir mereka terdengar begitu menyesakkan dada, Sarah bersumpah, apapun yang dilakukan Alex pada bibirnya sekarang ini adalah suatu gambaran kenikmatan tiada tara.



Alex menarik wajahnya, menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa sambil menatap Sarah yang juga terengah-engah di bawahnya,



"Sweet, just like strawberry,"



...