
Alex menoleh ke arah pintu ruang kerjanya ketika Zack masuk. Pria yang agak kurus itu menunduk sedikit padanya dan berdiri beberapa meter dari tempat Alex.
"Anda butuh sesuatu Tuan?"
"Kau bawa gadis yang ada di apartemen ku, Zack. Namanya Sarah, jika dia menolak, ancam saja."
Zack mengangguk patuh kemudian berjalan keluar untuk segera memenuhi permintaan majikannya ini. Memang, Alex selalu merepotkannya dalam urusan perempuan.
Alex memejamkan matanya, dia sudah berpikir sejak tadi dan saat ini dia akan menyetujui permintaan Sarah. Setelah gadis itu mendapatkan hak nya, maka Alex akan segera menyingkirkan Sarah sebelum sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi.
Di apartemen, Sarah menyibukkan diri dengan memakan apapun yang ia dapat di dalam kulkas. Sebenarnya ia sudah kenyang dan sekarang terasa ingin muntah karena makan terlalu banyak, tapi dia melakukan hal ini hanya untuk membuat Alex jijik akan dirinya. Sarah tidak punya ide lain selain menggemukkan dirinya sendiri lalu keluar dari jebakan yang secara sengaja ia masuki.
Bunyi pip di pintu apartemen membuat Sarah berhenti mengunyah. Ia mulai berpikir kalau Alex pasti sudah pulang dan jika pria itu melihat dia dalam keadaan seperti ini, Alex pasti akan langsung jijik.
Sarah menambah kecepatan kunyahannya dan memasukkan dua kue kering sekaligus ke dalam mulutnya.
Zack berjalan ke arah dapur karena dia melihat lampunya terang.
"Permisi Nona Sarah-"
Zack berhenti. Dia menatap Sarah yang mengunyah seperti anak kecil. Begitupun Sarah, dia terkejut saat melihat Zack.
"Siapa?" Tanyanya dengan susah payah karena mulutnya penuh.
Zack hanya tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya,"Saya diperintahkan Tuan Alex untuk membawa Nona ke mansion utama,"
Sarah menelan sisa makanannya dan menatap Zack dengan mata yang melebar,"Kau bilang apa?!"
"Mansion, Nona. Rumah Tuan Alex," Jawab Zack. Oh bukan, Sarah bukan terkejut karena Alex punya mansion, dia hanya tidak menyangka kalau sekarang dia akan terjebak di dalam istana besar, bukan sangkar emas lagi. Double shit!
"Mari Nona, ikut saya. Tuan Alex mengancam jika--"
"Iya. Aku tahu sifatnya walau baru dua hari kenal. Baik, aku akan ikut denganmu hanya saja... Berikan aku senjata api. Untuk jaga-jaga," Potongnya. Zack membulatkan mata ketika mendengar kalimat terakhir Sarah. Baru kali ini ada perempuan yang terlihat muak dengan Alex dan segala pesonanya.
"Tapi Nona... Saya--"
Sarah menaikkan tangannya ke udara agar Zack berhenti berucap. Dia berjalan ke arah meja dapur lalu memilih sebuah pisau di dalam rak sebelum membungkusnya dengan kain lap yang bersih,"Aku akan bawa ini. Untuk melindungi diri,"
Zack lantas terdiam. Dia kemudian menuntun Sarah untuk pergi dan menyelesaikan tugasnya kali ini.
...
Sarah cukup terpana dengan keadaan mansion yang begitu mewah dan sangat elegan. Seleranya hampir sama dengan yang ada di apartemen hanya saja tempat ini begitu luas dan dipenuhi oleh maid serta belasan penjaga.
Zack memintanya untuk duduk di ruang tamu sebelum ia berjalan ke lantai atas untuk melapor pada Alex. Sarah mendengus dalam hati, dia masih enggan untuk mengingat wajah arogan Alex saat bertatap muka dengannya atau saat pria itu dengan begitu mudah merendahkan harga diri seseorang.
"Nona, Tuan meminta Anda untuk ke ruangannya,"
Sarah segera menoleh pada Zack. Pria itu kemudian pergi ke arah dapur entah melakukan apa. Sarah segera berdiri, dia naik ke lantai atas lalu melihat ada beberapa pintu dan lorong di atas sana. Yang membuatnya tampak menonjol adalah pintu kamar Alex yang berbeda. Sungguh, jika ia seorang pencuri maka Sarah akan mencuri pintu itu. Lihat saja desainnya yang ditaburi oleh berlian yang cukup berkilauan.
Demi apapun, Alex begitu menikmati hartanya.
Sarah melihat pintunya tidak tertutup, dia memutuskan untuk mengetuk beberapa kali dan mendorong pelan pintu itu. Kamar Alex terlihat seketika, di dalam sana ada sebuah tempat tidur ukuran paling besar yang tampak empuk dengan tatanan bantal yang begitu rapi. Tepat di depannya, sebuah pintu kaca terpampang jelas. Menampilkan pemandangan langit malam yang indah dan nyaman.
Mata hitamnya beralih untuk menatap seseorang di depan perapian. Oh di dalam kamar luas ini juga ada sofa kecil untuk dua orang, karpet bulu warna hitam dan di depannya ada perapian elektrik. Sarah bisa melihat ada siluet tubuh pria yang tengah berbaring di atas karpet bulu tanpa melakukan apapun. Sialan. Dari sini, Alex tampak begitu menggoda imannya.
"Selamat datang Sarah--" Perlahan pria itu bangkit dari posisinya. Tubuhnya yang menjulang dengan rambut yang sudah berantakan kini tengah memandangnya penuh gairah. Pria itu memasukkan satu tangannya di dalam saku celana selutut yang ia pakai. Sedang satu tangannya yang lain bertumpu di atas perapian yang dihiasi banyak foto keluarga dan penghargaan semasa sekolah.
Sarah menelan ludahnya. Ia meremas sisi pahanya yang di dalamnya tersimpan sebilah pisau kecil yang lumayan tajam. Alex perlahan berjalan mendekatinya dan Sarah hanya bisa melihat itu dari tempat ia berdiri.
Dan tanpa sadar napas Alex sudah menerpa hidungnya dengan pas sembari satu tangan pria itu mendorong pintu di belakangnya agar kembali tertutup rapat sebelum memutar kuncinya.
Ia mengurung gadis itu dengan kedua tangannya tanpa berhenti menatap mata gelap Sarah yang terlihat makin gelap karena keadaan yang seperti ini. "Kau harus kuhukum karena membuatku memikirkan mu sepanjang hari ini."
Sarah menahan napasnya, jemari Alex mengelus lengan kanannya hingga sampai ke punggung tangannya, dimana Sarah tengah meremas pisau yang ia simpan.
"Jangan pernah simpan apapun yang bisa menyakitimu, sayang."
Tangan Alex bergerak cepat untuk masuk ke dalam celana yang Sarah kenakan lalu merebut pisau yang tersimpan cukup rapi di bagian kantung. Hebat sekali, celana yang Sarah kenakan punya kantung celana tersembunyi di dalam sana.
Alex melempar pisau itu jauh dari mereka lalu menarik pinggang Sarah begitu kencang, hingga gadis itu tersentak akibat perlakuan tiba-tiba ini.
"Damn, baby. Kau meracuniku,"
Sarah tampak ingin berkata tapi tidak jadi karena kesempatan itu direbut oleh Alex. Pria itu mencium rakus dirinya sambil membawa Sarah jauh dari pintu. Sarah ingin menolak, tapi ia begitu lemah akan gairahnya sendiri hingga ia tidak mampu untuk mendorong tubuh Alex yang semakin menyudutkannya ke arah ranjang besar.
Mereka jatuh ke atas ranjang yang empuk tanpa melepas ciuman itu. Sarah mengernyitkan dahinya sebelum mendorong dengan penuh tenaga bahu Alex yang serasa menindihnya.
"Alex hentikan!" Ia berteriak. Sarah terengah-engah, dia memerhatikan Alex juga seperti itu. Pria itu tidak suka ketika Sarah menolaknya seperti ini. Demi apapun, bahkan wanita lain melemparkan tubuh mereka pada Alex tapi Sarah, Alex tidak bisa menjelaskan bagaimana cara gadis ini menatapnya.
Sarah merasakan air matanya meleleh dari ujung matanya. Ia yakin penampilannya tampak begitu kacau,"Kumohon Alex... Aku bukan pelacur," Lirihnya.
Alex menggeram, dia tetap pada posisinya di atas tubuh Sarah sembari memandangi wajah perempuan itu yang sudah dipenuhi air mata sialan.
"Bukankah ini yang kau inginkan Sarah? Kau ingin cepat selesai bukan? Maka aku akan mengabulkannya untukmu," Balas Alex dengan sinis. Ia tidak ingin dibodohi oleh gadis seperti Sarah yang bahkan tidak jauh lebih pintar darinya. Ia tidak bisa membiarkan Sarah mengendalikan permainannya.
Sarah memukul dada Alex berulangkali sambil mengumpat. Ia ingin pergi, sungguh ia ingin keluar dari sini.
Alex menahan kedua tangan Sarah di sisi tubuh gadis itu, Sarah meringis tertahan ketika Alex mencengkram kedua tangannya seperti orang kesetanan.
"Aku sudah terlanjur tergoda denganmu Sarah. Siap atau tidak, malam ini kau harus jadi milikku,"
Kedua bola mata Sarah terbuka lebar, ia sedikit berteriak ketika Alex merobek bagian tengah pakaian yang ia kenakan hingga tubuh bagian depannya terpampang begitu saja. Sarah berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangan tapi lagi-lagi Alex bergerak cepat. Pria itu menyatukan kedua tangan Sarah di atas kepala sembari menatap tajam ke arah wajah Sarah yang mulai diliputi rasa gelisah.
"Turuti kemauanku maka kau akan baik-baik saja, Sarah. Jika kau berani melawan, kau akan menyesal."
Sarah merasa detak jantungnya berhenti saat itu juga. Kesadarannya mulai terganggu ketika Alex kembali menempelkan bibir penuh racun kenikmatan itu disela-sela leher Sarah, memastikan bahwa tidak ada satu senti pun yang tertinggal. Sarah merasa perlawanannya melemah saat itu juga, bibir Alex terasa begitu panas menyentuh kulit leher dan dadanya.
Alex menjauhkan bibirnya sebentar lalu menjalankan jemarinya pada ikatan bra yang berada tepat di antara kedua dada Sarah yang indah. Alex tahu, Sarah mengenakan pakaian yang berada dalam lemarinya. Demi apapun, ini adalah bekas pakaian Calyria yang tertinggal semenjak mereka tidak lagi punya hubungan. Untuk kali ini, Alex masih akan membiarkan Sarah memakainya.
Sarah mengerang, ia tidak ingin mengatakan kalau Alex mengecupi dadanya dengan begitu sensual sebelum mencecap ujung payudaranya dengan lidah Alex yang tajam.
"Hmm, A-alex.."
Pria itu masih sibuk mengecupi dan menghisap ujung dadanya sembari satu tangan Alex menarik turun celana yang dikenakan Sarah, sekaligus dengan celana dalam yang gadis itu kenakan.
Entah sejak kapan Sarah menaruh kedua tangannya di sisi kepala Alex, meminta pria itu untuk tidak berpindah posisi.
Alex beranjak sejenak, dia dengan tidak rela melepas bibirnya lalu kembali mencium singkat pipi Sarah,"Aku ingin merasakan mu."
...