
Perjalanan ke Venesia ternyata lumayan jauh juga. Dia harus bertahan di dalam pesawat selama 10 jam. Ketika sampai di tempat itu pun, hari sudah gelap.
Mereka berdua berada di dalam taksi saat ini, sedang menuju ke tempat penginapan yang sudah di reservasi oleh Scott. Pria itu mengatakan kalau Alex dan Sarah tak perlu memedulikan semuanya karena Scott sudah mengurusnya lebih awal.
"Apa masih jauh?" Bisiknya. Alex melirik Sarah sebentar sebelum kembali memejamkan matanya,"Jarak bandara dari Venesia lumayan jauh. Jadi tidurlah dulu jika kau lelah," Jawab Alex.
Sarah menghembuskan napasnya. Ia mengalihkan matanya ke arah jendela, dimana lautan terlihat sejauh mata memandang. Memang benar, Venesia terkenal dengan kanal-kanal yang berliku. Bukan hanya itu, Sarah bahkan bisa melihat banyaknya gondola disana.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya tiba di salah satu penginapan dengan fasilitas terbaik disini. Nama tempat itu Bauer Palazzo, lokasinya menghadap ke Grand Canal yang begitu indah ketika dilihat saat malam hari seperti ini. Sarah terkagum-kagum dengan bentuk bangunan serta lampu yang menghiasi tempat itu. Penginapan yang mereka tempati ternyata cukup ramai juga. Sarah bisa melihat pria maupun wanita yang menghabiskan malam mereka dengan duduk di meja makan bundar yang berada di teras belakang penginapan itu sambil menikmati angin malam yang menyejukkan.
Beberapa pegawai penginapan mengarahkan mereka berdua untuk naik ke lantai atas karena disanalah kamar yang sudah dipesan. Alex benar-benar terlihat seperti seorang suami. Bagaimana tidak, mereka datang kemari hanya berdua dan semua orang pasti mengira bahwa mereka telah menikah. Ditambah dengan kehamilannya yang membuat perspektif itu terlihat benar. Pria itu membawa koper mereka lalu berhenti di depan pintu warna kekuningan.
Sarah kembali tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum karena melihat interior kamar hotel mereka yang terlihat seperti rumah. Propertinya terbilang mewah dan satu hal yang semakin membuatnya indah adalah balkon yang langsung menghadap ke kanal. Oh demi apapun juga, ini adalah mimpinya sejak lama dimana ia bisa bersantai di balkon sembari menikmati pemandangan sungai yang indah.
"Sebaiknya segeralah istirahat. Kau pasti lelah," Suara Alex membuyarkan semua lamunan Sarah. Wanita itu mengangguk lalu duduk di pinggir ranjang.
"Kau mau makan sesuatu terlebih dahulu atau langsung tidur?"
Sarah hanya memberi Alex sebuah senyuman kecil,"Terimakasih karena kau telah membawaku kemari, Alex. Aku benar-benar menyukai ini," Katanya. Alex menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuka koper. Dia melirik Sarah dari sudut matanya sebelum kembali dengan aktivitasnya,"Itu dari Scott. Berterimakasih lah padanya," Balasnya. Alex menutup kembali koper itu setelah akhirnya selesai membereskan isinya ke dalam lemari. Ia tersentak saat sebuah tangan tengah mendekapnya hangat dari belakang.
"Aku tidak peduli jika Scott yang memberinya. Aku... Hanya senang berada disini denganmu," Gumamnya. Alex tak tahu mengapa, tapi ia yakin 100% kalau jantungnya tengah berdebar kencang. Ia menyentuh dadanya sendiri dan meringis saat debaran itu memang semakin terasa dari dalam sana.
"Sarah, istirahatlah," Titahnya.
Sarah menggeleng, dia semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma tubuh Alex yang benar-benar membuat dia nyaman,"Aku masih ingin memelukmu. Kurasa bayi kita menyukainya," Balasnya.
Bayi kita.
Terdengar begitu aneh di telinga Alex tapi entah kenapa ia menyukai kata-kata itu. Alex meraih kedua tangan Sarah, dia membalikkan tubuh wanita itu lalu memeluk pinggangnya sehingga Sarah berada semakin dekat dengannya.
"Kau atau bayinya yang menyukaiku?"
Sarah menggigit bibir bawahnya, oh ayolah! Dia jujur saat mengatakan itu. Mungkin saat ini Sarah sedang masuk dalam fase yang namanya 'mengidam'. Lalu apakah salah kalau dia ingin berdekatan dengan Alex karena harum pria itu? Menjengkelkan sekali, pria memang tidak pernah peka.
"Aku mencintaimu Alex," Senyuman kecil di bibir Alex tadi perlahan meluntur. Ia mengamati ekspresi wajah wanita itu yang terlihat serius dengan ucapannya atau bahkan lebih terlihat seperti terluka? Entahlah, Alex tak akan pernah mengerti.
Pria itu melepas pelukannya. Dia membuka pakaian atasnya lalu melemparnya sembarang ke lantai juga celana panjangnya. Dia menghempaskan dirinya ke atas ranjang lalu menarik selimut,"Tidurlah Sarah, kau terlihat lelah," Titahnya lalu perlahan memejamkan matanya. Sarah masih diam terpaku di depan lemari, dia tersenyum masam lalu mengikuti ucapan Alex untuk ikut beristirahat di sebelah pria itu.
...
Setelah selesai sarapan, Sarah dan Alex meninggalkan penginapan untuk bersenang-senang. Alex mengatakan ada beberapa tempat wisata yang mesti mereka kunjungi di Venesia.
Pertama mereka mengunjungi Piazza San Marco. Tempat itu berada tidak jauh dari tempat penginapan mereka sehingga Alex memutuskan menaiki gondola untuk sampai ke tempat wisata itu. Sarah sebenarnya cukup takut, ia tidak pernah menyeberangi sungai seperti ini dengan gondola yang terbilang cukup kecil dan rendah. Mereka butuh waktu beberapa menit untuk cepat sampai ke sana dan itu seperti berjam-jam baginya.
Sarah dan Alex turun dari gondola itu lalu berjalan sedikit ke alun-alun pusat kota Venesia tersebut.
"Disini jauh lebih indah ternyata. Walau begitu bising, tapi tempat ini memang indah," Ucap Sarah. Alex membenarkan pendapat wanita tersebut. Ia sudah pernah datang ke Venesia saat tahun pertamanya bekerja di perusahaan. Saat itu dia hanya datang untuk menemui janji pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya. Jika diingat-ingat lagi, usianya masih 19 tahun waktu itu. Alex ingin sedikit berbangga diri akan hasil kerjanya hingga sekarang.
"Kau mau kesana?"
Alex mengikuti arah pandang Sarah pada bangunan tua St. Mark Basilica, dimana banyak orang yang penuh dengan antusias sedang mengabadikan salah satu dari peninggalan sejarah kota ini. Alex menganggukkan kepalanya, dia menggenggam erat tangan Sarah lalu berjalan menembus keramaian tempat itu untuk melihatnya lebih jelas.
Bangunan tersebut merupakan sebuah gereja. Alex mengakui kalau tempat ini indah dan penuh dengan kesan bersejarah seperti ukiran di dindingnya yang sangat menunjukkan abad pertengahan. Ada banyak orang yang tengah menautkan jemari mereka masing-masing sambil memejamkan mata. Sudah dipastikan mereka tengah berdoa. Alex menoleh pada Sarah dan ternyata wanita itu juga turut memanjatkan doanya. Matanya terpejam dengan dahi yang kadang berkerut dalam. Entah doa seperti apa yang sedang dia rapal, tapi Alex yakin kalau itu tentang dirinya.
Sarah mengucapkan doa di dalam hatinya, ia berharap Tuhan bisa mempersatukan dia dengan Alex. Dia ingin akhir hidup yang bahagia bersama dengan pria yang ia cintai serta ditemani oleh anak-anak mereka nanti. Ia berharap kalau Tuhan mau mengabulkan satu doanya ini. Sarah tak menginginkan harta atau kehormatan, dia hanya butuh Alex dan semua keromantisan pria itu. Biarlah mereka hidup miskin asalkan Alex selalu bersamanya, Sarah akan merasa sangat bahagia.
Mata hitamnya lalu terbuka, pandangannya kembali pada keindahan arsitektur bangunan ini dan orang-orang yang juga tengah berkunjung.
"Sudah selesai?"
Sarah lalu mengangguk. Ia dan Alex kembali mengelilingi tempat itu, tak lupa untuk mengabadikan momen tersebut di sebuah kamera yang ternyata di bawa oleh Alex.
Pria itu memotret beberapa bagian yang menunjukkan adanya bekas bersejarah dan juga lambang salib yang begitu besar di depan sana.
Frame kamera yang sedang Alex gunakan menangkap objek seorang wanita yang tengah menatap pada ratusan merpati di alun-alun. Tentu saja itu Sarah. Angin membuat sebagian dari rambut wanita itu terbang ke sisi kirinya dan itu terlihat cantik dari arah sini. Alex memotret wanita itu beberapa kali. Bibirnya perlahan tersenyum begitu tipis ketika menemukan kalau hasil jepretannya begitu cantik dibandingkan objek yang lain.
Sekali lagi, Alex memfokuskan kameranya pada Sarah, wanita itu berada sedikit jauh darinya karena Sarah terlihat begitu menyukai merpati yang berterbangan itu. Disanalah Alex menemukan sebuah keindahan dari cara Sarah memandang. Wajahnya terlihat lebih ceria seakan melupakan apa yang tengah terjadi pada dirinya.
Alex menurunkan kameranya, ia berjalan mendekati Sarah-- tak peduli jika ia menabrak beberapa orang. Wanita itu, Alex tak bisa memahaminya. Dia adalah racun kenikmatan yang tidak pernah Alex temukan dalam hidupnya. Tidak, Alex tak ingin menyangkal kalau ia membutuhkan kehadiran wanita itu. Sarah berbeda --ya-- dia berbeda dari semua wanita yang pernah Alex temui.
Ketika ia sudah berada tepat di depan Sarah, pria itu menarik pinggangnya. Sebelah tangannya yang lain mendorong tengkuk Sarah lalu mencium bibir wanita itu cukup lama. Sarah terdiam tidak membalas, dia masih terkejut dengan ciuman tiba-tiba ini, tapi akhirnya dia membalas. Perlahan Sarah memejamkan matanya dan menikmati kecupan yang terasa berbeda untuk kali ini.
Merpati-merpati itu berterbangan di sisi mereka, seakan memberi tanda bahwa merekalah pasangan yang paling berbahagia.
Alex melepas ciuman mereka, dia membuka kedua matanya yang langsung bertatapan dengan iris seperti Black Pearl milik wanita itu.
"Kenapa Alex? Kenapa rasanya begitu berbeda?" Tanyanya. Alex menggeleng, dia mengeratkan pelukannya pada pinggang Sarah,"Kau yang harus menjawab pertanyaan itu untukku, Sarah. Katakan, kenapa rasanya berbeda?"
Sarah terdiam. Dia meremas sisi pakaian Alex lalu menenggelamkan wajahnya di dada pria itu,"Itu karena ada perasaan di dalamnya. Tidakkah kau percaya ketika aku mengatakan kalau aku mencintaimu Alex?"
Alex menghela napasnya, dia mencium puncak kepala Sarah lalu mengusap punggung wanita itu.
"Kalau begitu buatlah aku percaya."
...
A/n : hai saya kembali🎉🎉