
Sejak malam tadi, pikiran Sarah terus terfokus pada Alex. Oh, apakah ia harus kembali mengingat kalau semalam Alex benar-benar ingin dimanja di dalam mobil yang jauh lebih sempit daripada kamar mandi nya dulu waktu di flat? Sarah mengacak-acak rambutnya, ia menenggelamkan separuh wajahnya ke dalam bathub yang sudah dipenuhi air dan sedikit busa-busa. Jika melihat jam, Sarah bisa tahu kalau dia berendam di dalam sini hampir satu jam lamanya. Bahkan jari-jarinya mulai terlihat seperti keriput karena terlalu lama terendam.
Jantungnya masih terpacu dengan begitu jelas, Alex membuat dia sepuluh kali lebih liar dibanding saat pertama kali mereka bercinta. Pria itu dengan sabar membuka pakaian Sarah dan menuntun dia untuk bergerak. Sarah tidak tahu, peristiwa semalam kelihatan lebih menjijikkan tapi sialannya juga memacu gairahnya begitu cepat.
"Sial, aku pasti sudah gila!" Ia memukul pelipisnya berulangkali karena mengutuk otaknya yang mulai berpikir aneh tentang Alex dan tubuhnya.
Bunyi ketukan atau terdengar seperti gedoran menyadarkan Sarah dari pikirannya. Ia memekik saat suara Alex menggema di balik pintu itu, memintanya untuk segera keluar karena intensitas waktu yang ia gunakan sudah melebihi batas.
"Keluar Sarah! Jangan buat aku mendobrak pintu ini jika kau tidak membukanya."
"Iya! Jangan mengancam!" Balas Sarah dari dalam sana. Ia segera berdiri, meraih handuk putih yang terlipat di atas rak khusus sebelum melilitkannya pada tubuhnya. Sarah melepas penutup saluran pembuangan air dan berjalan ke arah pintu kamar mandi. Dibukanya kunci pintu itu dan perlahan ia menekan gagang pintu ke bawah.
Saat pintunya sudah di buka, tubuh Alex yang menjulang tanpa pakaian atas terpampang jelas di depannya. Sarah sempat terkejut tapi ia buru-buru menormalkan kembali jantungnya.
"Jangan mati konyol di dalam sana, aku masih membutuhkan kau," Katanya. Sarah mendengus tak suka dengan cara Alex berbicara. Ia berjalan melewati Alex untuk dapat mencari pakaiannya di dalam lemari.
Alex menatap Sarah dengan jahil. Ia berjalan mengikuti Sarah lalu menarik handuk yang dikenakan wanita itu hingga terlepas. Sarah berteriak kaget, ia dengan panik berusaha menutupi sekujur tubuhnya yang tidak memakai apapun.
"Alex! A-apa yang kau lakukan?! Kembalikan handuk itu."
"Apa? Ini milikku. Tidakkah kau membacanya?" Alex menunjukkan nama yang terjahit di ujung handuk tersebut. Tertera tulisan Alexander disana dan hal itu membuat Sarah bersemu. Pantas saja aroma handuk itu berbeda, sejak semalam ia memakai handuk Alex. Memalukannya.
Alex hanya menggeleng sambil terkekeh sebelum beranjak masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan kegiatannya di dalam sana. Sialnya, tubuh Sarah punya efek yang tinggi dalam menumbuhkan gairahnya di pagi hari.
Sarah meraih pakaian santai dari dalam lemari. Alex berkata kalau ia memerintahkan Zack untuk membeli apapun yang dia butuhkan bahkan untuk pembalut sekalipun. Entah harus berterimakasih atau mencaci, tapi Sarah cukup terbantu dengan hal itu.
...
Wanita itu turun ke lantai satu dengan satu alisnya yang terangkat. Sepi, hal itu yang pertama kali hinggap di pikirannya. Ia mengusap lengan kanannya yang terasa dingin sambil memerhatikan keadaan sekitar.
Langkah kakinya membawa ia ke dapur. Disana juga Sarah tidak mendapati siapapun selain dirinya sendiri. Ia menarik kursi makan dan duduk di atasnya, jemarinya meraih buah apel hijau di atas meja sebelum menggigitnya. Sarah masih sedikit bingung, apakah para pelayan dan penjaga di rumah besar ini punya jam kerja mereka atau memang ini hari libur? Tapi yang jelas, Sarah merasa sedikit tenang dan aman karena tempat ini tidak dipenuhi oleh orang asing.
Ia tiba-tiba tersedak kala mengingat suatu hal. Sarah menaruh kembali apel itu ke tempatnya,"Astaga. Apa itu artinya aku hanya berdua dengan si brengsek itu?" Sarah segera berdiri, dia mengitari meja makan itu dengan sedikit cemas. Otaknya tiba-tiba melambat seperti kura-kura. Ia mulai berpikiran macam-macam, pantas saja Alex terlihat lebih santai dari biasanya. Pria itu tampak merencanakan ini.
"Apa jangan-jangan Alex sengaja? Benar-benar!"
"Sengaja apa?"
Sarah berteriak kaget. Ia mundur beberapa langkah hingga tumitnya menyentuh lemari es. Alex menatapnya heran, pria itu mendekati Sarah yang semakin menjaga diri.
"Sa-sana!"
"Apa? Aku ingin ambil soda, sayang. Kenapa? Kau mau menawarkanku susu?" Alex tertawa saat Sarah menggeleng keras. Wanita itu segera menghindar dari sana dan lebih memilih untuk mendekati peralatan dapur. Dari sini ia bisa mewaspadai Alex, jika pria itu macam-macam, Sarah akan melemparkan pisau daging ini tepat di depan dahinya dan menjadi psikopat dalam satu hari ini.
Mata hitamnya menatap gerakan tangan Alex yang sedang membuka kulkas, bisa dilihatnya, Alex punya bentuk tangan yang kekar. Tidak kurus kering ataupun punya lemak berlebih, pria itu dipenuhi otot-otot yang menggoda.
"Kenapa kau cepat sekali mandi?"
Sarah mendengus tak suka, ia bergerak menjauh saat Alex terlihat seperti mendekati dia. Padahal pria itu hanya mengambil tempat untuk duduk di meja makan.
"Buatkan aku makanan sekarang juga. Aku lapar."
Dahi Sarah berkerut, ia salah dengar kan? Apa Alex kekurangan pelayan hingga meminta dia yang memasak?
"Dimana pelayanmu? Kau kan punya--"
"Dipecat. Saat ini hanya kau dan aku dan ya mungkin saja Zack jika aku memanggilnya. Jadi mulai saat ini kau siapkan semua keperluan ku dan tentu saja hingga yang paling terkecil sekalipun," Ucap Alex.
Sarah tercengang, ia tidak tahu dengan apa yang Alex pikirkan. Pria itu berusaha untuk balas dendam atau apa?
"Apa yang sedang kau rencanakan hah? Apa kau sengaja melakukan ini karena kau tidak percaya dengan yang terjadi? Alex, aku tidak pernah berniat untuk menjebakmu," Balas Sarah. Wanita itu memberanikan diri untuk menatap ke arah Alex yang juga menatapnya tajam. Mata pria itu tidak lepas sedetikpun darinya, hingga Alex akhirnya tersenyum aneh.
"Ini bukan tentang tadi malam Sarah. Aku hanya berpikir mungkin tugasmu akan lebih cocok jika seperti ini. Maksudku, selagi kita masih terikat oleh perjanjian, bukanlah masalah kan jika kau membantuku mengurus rumah ini? Hitung-hitung sebagai tanda terimakasih mu karena aku menampung mu di rumahku. Jadi sekarang buatlah sarapan untuk kita berdua."
Sarah menghembuskan napasnya. Dia berjalan lesu ke arah meja dapur dan mulai berpikir. Alex mungkin ada benarnya juga, dia disini menumpang jadi Sarah harus sadar diri dengan yang dia lakukan saat ini. Wanita itu meraih bahan makanan dari dalam kulkas, rencananya dia ingin membuat sup ayam jagung kesukaan neneknya di Florida. Biasanya Sarah juga akan makan ini jika tidak punya uang berlebih.
Wanita itu melirik ke belakangnya, Alex masih setia duduk membelakanginya. Pria itu tidak melakukan apapun selain memakan buah-buahan di atas meja dengan tenang. Sarah menggeleng pelan, dia juga harus memutar otak untuk menghentikan semua ini sebelum ia menyesal.
...
Alex mematikan mesin mobilnya ketika ia sampai di kantornya. Tadinya ia berpikir untuk tidak pergi kemanapun hari ini karena menurutnya hanya berdua bersama Sarah adalah pilihan yang menggoda. Tapi sialnya ada pertemuan penting dengan pimpinan perusahaan asal Rusia yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Pria itu melirik ke arah sebelahnya, dimana Sarah duduk. Sejak tadi pagi ia bergulat dengan pemikirannya sendiri antara membawa Sarah bersamanya atau meninggalkan wanita itu sendiri di dalam mansion yang sepi. Tapi akhirnya Alex memutuskan untuk membawa Sarah bersamanya.
Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan beriringan ke dalam gedung. Alex meraih telapak tangan Sarah lalu menggenggamnya erat, seakan Sarah akan hilang jika dilepas begitu saja. Wanita itu menatap canggung ke arah sekitarnya, ada beberapa orang yang tampak membicarakan mereka berdua tapi Alex seperti pura-pura tidak tahu dengan apa yang mereka bicarakan.
Sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam lift pribadi, Sarah menahan tangan Alex. "Aku perlu ke kamar kecil," Bisiknya.
"Kau bisa gunakan kamar kecil di ruangan ku."
Sarah menggeleng keras. Tidak, saat ini ia butuh persiapan lebih untuk berada di satu ruangan yang sama seperti Alex. "Biarkan aku gunakan kamar kecil yang ada disini. Apa kau tidak mendengar karyawan mu itu berbisik?"
Alex melirik ke sekelilingnya lalu mendengus keras,"Kupecat saja mereka jika itu mengganggumu."
Pipi Sarah memerah, dia segera melepas tangan Alex,"Kau ini! Sudah, aku akan menyusul. Aku janji tak akan kabur."
Alex menghela napasnya, ia menekan tombol lift lalu pintu itu pun terbuka. Pria itu masuk ke dalamnya setelah memberi Sarah sebuah kecupan di dahi, membuat wanita itu menjadi kaku perlahan.
"Aku tunggu kau di ruanganku," Setelah itu pintu lift tertutup rapat. Sarah menggelengkan kepalanya, ia berjalan sambil menundukkan wajah agar tidak ada orang yang menyadari keberadaannya.
Sialan.
...