
Alex dan Sarah sedang duduk di kursi tunggu ketika mereka mendengar seorang suster menyebutkan nama Sarah di depan pintu. Dengan sedikit ragu Sarah berdiri mengikuti suster itu dan juga Alex di belakangnya. Sedari tadi pria itu tak berbicara bahkan meliriknya pun tidak. Sarah sangat ingin menegurnya tapi selalu gagal karena Alex terlihat menjauh.
Ia bernapas lega saat berhasil duduk di depan meja dokter itu. Mata hitamnya melirik papan nama yang terpasang di atas meja. Namanya Miguel Carter dan mungkin umurnya lebih dari 40 tahun.
"Baiklah, boleh aku tahu dengan siapa aku berbicara?" Dokter itu menyapanya dengan satu senyuman manis yang mungkin memang semua dokter melakukannya. Sarah hanya tersenyum kecil,"Aku Sarah. Sarah Heather," Jawabnya. Dokter itu mencatat namanya di sebuah kertas lalu mata hijaunya melirik Alex,"Dan dengan siapa Nyonya Sarah berkunjung hari ini?"
"Oh i-itu dia--"
"Aku suaminya."
Dokter Miguel tak menjawab apapun lagi. Dia menyimpan penanya ke atas meja lalu melirik keduanya bergantian,"Aku sangat senang karena Anda menyempatkan diri untuk datang memeriksakan kandungan istrimu. Itu suatu bentuk dukungan batin," Katanya.
"Mari Nyonya, kita mulai saja," Dokter Miguel menuntun Sarah untuk berbaring di ranjang pasien lalu meminta wanita itu untuk merilekskan dirinya. Ia perlahan mengangkat ujung pakaian Sarah hingga bagian perutnya terbuka lalu mengoleskan semacam gel di atas perutnya. Sarah menelan ludahnya, ia tiba-tiba menjadi gugup saat ini. Bola matanya melirik Alex yang berdiri tak jauh darinya, pria itu memandang cukup serius pada sang dokter yang tengah melakukan tugasnya.
"Apa hal seperti itu diperlukan?"
"Maaf?"
Alex menunjuk gel yang berada di atas meja kecil,"Apa kau memang harus mengoles perutnya seperti itu?"
Dokter Miguel terlihat kebingungan dengan sikap Alex. Ia lalu mengangkat tangannya dan mencoba menjelaskan pada Alex,"Oh Tuan Heather. Gel ini berfungsi untuk--"
"Jangan oles perutnya seperti itu. Kau mungkin bisa membunuh bayinya--"
"--Dan satu lagi. Nama belakang ku Grissham, bukan Heather."
Pria paruh baya itu tak ingin berbicara lagi. Ia hanya membalas dengan senyum kecil lalu melanjutkan prosedur yang harus dilakukan. Mungkin Alex tengah dalam masalah yang pelik, pikirnya.
Sarah memandang Alex dengan pandangan yang sulit diartikan. Inikah bentuk kecemburuan yang baru saja Sarah lihat? Hanya karena gel dan tangan si dokter, wajah Alex jadi masam? Yang benar saja.
"Dokter,"
Dokter Miguel kembali menatap Alex, ia siap jika pria itu kembali melayangkan pertanyaan.
"Aku akan kembali kemari bersama Sarah beberapa minggu lagi. Tidak usah ada pemeriksaan hari ini," Ucapnya kemudian. Dokter Miguel tampak terkejut pada awalnya, dia ingin menolak tapi Alex lebih dulu menarik tangan Sarah untuk beranjak dari ranjang pasien itu.
"Alex, demi tuhan! Bersikaplah sopan," Bisik Sarah lalu ia melepas tangan Alex. Wanita itu membalikkan tubuhnya pada Miguel dan menatap pria tua itu dengan sedikit rasa bersalah,"Dokter, a-aku minta maaf dengan sikap Alex, suamiku. Kami sedang bertengkar dan--"
"Apa maksudmu? Bertengkar apa?"
Sarah melirik Alex dengan tak suka dan pria itu kembali bungkam.
"Tidak apa-apa Nyonya Sarah. Aku mengerti, kau bisa kembali lagi kemari jika punya keluhan. Maaf aku tidak bisa berkata banyak karena aku belum sempat memeriksakan kandungan mu," Miguel merasa tak enak karena Alex seperti tidak bersahabat.
"Maafkan aku dok, kami akan kembali nanti," Balasnya.
"Ayo kita pergi," Alex menarik tangan Sarah dan dengan cepat mereka meninggalkan ruangan itu untuk segera pulang.
Saat keduanya berada di dalam mobil, Sarah menatap kesal kepada Alex,"Oke sekarang kau bersikap menyebalkan. Ada apa?"
Alex tak menyahut. Ia menghidupkan mesin mobil lalu mulai mengendarainya menjauhi rumah sakit sialan itu. Ia rasanya ingin memukul wajah tua si dokter itu tapi beruntunglah karena Alex masih bisa menahannya.
"Tidakkah kau melihatnya? Dokter sialan itu bersikap mesum. Dia mengambil keuntungan dengan menyentuh tubuh mu lewat pekerjaannya," Jawab Alex kemudian. Sarah terdiam mendengar itu, ia merasa hatinya bersorak kegirangan saat mendengar untaian kata itu terucap dari bibir Alex. Rasanya seperti ada yang menggelitik hatinya.
Sarah tak bisa menahan senyumnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah luar, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh ucapan itu.
"Kenapa kau tersenyum? Kau suka pria tak tahu malu itu mengelus perutmu?"
"Aku tak mau peduli. Akan kucari dokter lain," Jawab Alex. Sarah menatapnya hangat, tidakkah Alex tahu kalau perlakuan pria itu tanpa sadar semakin membuat pertahannya runtuh. Sarah mengakui jika ia menyukai Alex karena sikap pria itu. Entahlah, walau terkesan seperti orang yang sombong, Alex tetap terlihat seperti pria yang penuh kasih sayang atau memang seharusnya ia begitu?
"Aku minta maaf karena bersikap kekanak-kanakan semalam. Aku tidak tahu kenapa aku berlari."
Alex meliriknya sebentar. Dia sebenarnya malas untuk membahas tentang apa yang terjadi semalam tapi mungkin ia harus meluruskan masalah ini,"Aku sama sekali tak berniat untuk mencium Calyria. Kurasa dia melakukan itu dengan sengaja," Balasnya.
Sarah menundukkan kepalanya, tentu saja wanita itu pasti sengaja. Calyria pasti ingin membuat Sarah cemburu dan semakin terlihat bodoh karena sudah menunjukkannya terang-terangan.
"Jika saja aku tahu dia akan berbuat semacam itu, mungkin aku tak akan mau berbicara dengannya," Katanya lagi. Sarah hanya tersenyum lirih, ia menggigit bibir bawahnya sebelum menguatkan hati untuk berbicara pada Alex.
"Alex, bolehkah jika aku mengharapkan sesuatu?"
Pria itu tak langsung menjawab, dia mengetatkan rahangnya. Alex tentu tahu dengan apa yang akan Sarah bicarakan jadi mungkin dia tak perlu untuk menjawab ucapan wanita itu.
"Aku berharap suatu saat hubungan kita tak seburuk ini. Maksudku, ketika pada akhirnya kau membawa bayi ini bersamamu, ku harap itu tak membuatnya jauh lebih buruk. Aku tidak ingin berpisah sebagai musuh. Kita bisa menjadi teman baik," Ujarnya. Sarah merasa hatinya sedikit tercubit, ia mengatakan ini hanya sebagai bentuk persiapan karena suatu saat Alex pasti akan memintanya menjauh. Jadi untuk mengurangi rasa sakitnya, mungkin ia bisa sedikit menawarkan sebuah ikatan kecil dengan Alex.
"Kau yakin Sarah? Karena aku sendiri tak bisa berjanji untuk membuatmu jauh. Namun jika memang itu terjadi... Baiklah, kita bisa menjadi teman dan melupakan apa yang pernah terjadi saat ini," Balasnya.
Kata-kata itu membuat Sarah sepenuhnya terdiam. Ia menarik napas lalu mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata,"Ah maaf aku hanya terbawa suasana," Gumamnya lalu tertawa tapi terdengar seperti isakan.
Alex tak berkata apapun lagi. Ia tetap fokus pada jalanan yang tidak terlalu padat lalu menghilangkan rasa apapun yang mungkin akan membuat dia melemah.
...
Keesokan harinya.
Sarah memotong sayuran di atas talenan sambil bersenandung kecil. Dia tak berhenti menyanyikan lagu pengantar tidur yang selalu neneknya nyanyikan ketika dia bermimpi buruk. Sungguh hal itu sedikit mengurangi kesedihannya.
"Selamat pagi."
Gerakan tangannya terhenti saat merasakan pelukan seseorang dari belakang. Ia menoleh pelan ketika mendapati Alex yang belum bersiap untuk ke kantor-- tengah memeluknya erat sambil sesekali mendaratkan ciuman pada pundaknya.
Alex tak pernah melakukan ini.
"Kau tahu, aku memikirkan mu semalaman."
"A-apa?" Gumamnya. Sarah memejamkan matanya, ia melepas pisau dari tangannya dan menjauhkan alat masak itu ke meja yang lain. Ia menyentuh telapak tangan Alex dengan hati-hati, berusaha untuk melepas pelukan itu tapi Alex sepertinya tak berniat untuk melepas tangannya.
"Jangan seperti ini Alex, kumohon. Aku tak bisa."
Alex membalikkan tubuh Sarah lalu mengangkatnya untuk duduk di atas meja dapur. Sarah tersentak saat bokongnya menyentuh meja dapur. Ia menatap ke arah mata Alex yang tengah menatapnya juga.
"Aku kagum denganmu, Sarah. Kau adalah wanita pertama yang berhasil membuatku tak bisa tidur semalaman hanya karena memikirkanmu," Pengakuan itu membuat Sarah semakin tak karuan. Ia ingin menahan dirinya sendiri untuk tak mencium bibir Alex yang tampak menggoda. Demi tuhan, bisakah sekali saja tubuhnya tak bereaksi seperti ini ketika berada pada jarak sedekat ini dengan Alex?
"Aku tahu. Kau cemburu kan saat itu? Saat aku mencium Calyria."
"Tidak, aku tak cemburu. Bisakah kau menjauh dariku?" Balas Sarah. Ia setengah kesal mendorong bahu Alex yang lebar.
Matanya menangkap sesuatu di pundak kiri Alex, itu sebuah tato bergambar bunga aster. Sepertinya itu tato baru.
Ia mengelus tato kecil itu dengan telunjuknya,"Bunga aster. Kau membuat tato baru," Gumamnya. Alex meraih telapak tangan Sarah lalu mengecupnya,"Aku pernah mendengar kalau Aster dapat membawa ketenangan, jadi aku melakukannya," Ucap Alex.
Sarah menatap mata pria itu dan mencoba untuk menelaah sesuatu yang tersembunyi dibalik keindahan turquoise memukau yang Alex punya. Namun Sarah tak mendapatkan apapun selain gairah yang terasa membakar sekujur tubuhnya.
...