
Alex memarkirkan kendaraaannya di depan rumah Leah. Ia sedikit terlambat satu jam karena terjebak dengan padatnya lalu lintas di sepanjang Downtown Toronto.
Ia keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju teras rumah Leah yang begitu damai dan sejuk. Ia melihat lampu di ruang tengah rumah itu hidup-- menandakan kalau ada orang di dalam sana.
Ia menekan bel beberapa kali lalu tak lama kemudian Leah membuka pintunya,"Selamat malam, Alex. Masuklah lebih dulu," Sapanya.
Alex menggeleng,"Mana Sarah? Kami langsung pulang saja," Tolaknya. Alex ingin mengajak wanita itu makan malam di suatu tempat mengingat ia sudah melewati jam makan malam. Leah hanya mendengus lalu masuk kembali ke dalam untuk memanggil Sarah. Tak lama kemudian, wanita dengan surai hitam panjang itu muncul. Sarah memberi Alex sebuah senyuman kecil.
"Ayo pulang. Kau sudah makan malam?" Tanya Alex.
Sarah menggeleng,"Tadinya aku dan Leah akan memasak tapi kau datang lebih cepat. Kau sendiri?" Jawabnya. Leah memandang keduanya dengan jahil. Oh, Alex dan Sarah benar-benar menggemaskan, lihat cara mereka yang dengan malu-malu menunjukkan bahwa sebenarnya mereka saling peduli satu sama lain. Ia jadi ingat saat dulu Alex bercerita padanya kalau ia menyukai seorang gadis. Kalau tidak salah tipikal gadis yang Alex pernah sukai dulu tidak beda jauh dari Sarah. Namun sayangnya, Alex tak berhasil karena gadis itu lebih dulu pergi ke luar kota dan tidak pernah kembali sejak kelulusan sekolah. Lalu setelah gadis itu, datanglah Calyria. Mengingatnya saja membuat Leah ingin menampar wanita jahat itu berkali-kali.
"Leah, aku pulang. Terimakasih atas waktumu," Leah tersenyum lalu mengangguk pada Sarah. Ia mengedipkan sebelah matanya, memberi kode untuk segera melakukan aksi yang sudah ia berikan pada Sarah.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan pekarangan rumah Leah untuk segera berburu makanan.
...
Alex membawa Sarah ke salah satu restoran yang sering ia sambangi bersama sahabatnya. Restoran itu berada di York Street, berdekatan dengan balai kota. Malam itu begitu ramai dan dingin, Sarah memandangi ke sepanjang jalan itu dengan sedikit ringisan karena lampu mobil dimana-mana. Alex meraih tangannya untuk segera masuk ke dalam salah satu steakhouse yang cukup terkenal di daerah sini. Ada puluhan orang yang tengah makan malam di The Keg, bahkan untuk meneliti adanya meja yang kosong pun terlihat begitu sulit.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Salah satu pelayan pria mendekati mereka berdua. Alex hanya mengangguk lalu mengeluarkan kartu namanya,"Aku sudah memesan satu meja di tempat VIP untuk malam ini."
"Baik, mari ikut saya Tuan Grissham," Pelayan itu menuntun mereka ke sebuah tempat yang jauh lebih sepi dan terlihat nyaman. Sarah terpanah dengan mewahnya ruangan itu. Ada candle light yang sudah menghias di atas meja dengan begitu cantiknya. Sarah juga melihat ada sebuket bunga mawar dengan ukuran sedang yang tertata di atas meja bundar itu.
"Duduklah." Mata hitamnya berbinar saat melihat Alex menarik kursi untuk dirinya. Ia merasa tersipu untuk sejenak.
Ketika mereka berdua duduk dengan rapi disana, hidangan pertama mereka pun tiba. Sarah merasa perutnya dua kali lipat lebih lapar dari biasanya dan ia yakin jika nanti tubuhnya akan melebar seperti sapi jika terus merasa lapar seperti ini.
Wanita itu takjub dengan sajian dari restoran ini. Sarah sebenarnya malu mengakui ini, tapi dia benar-benar tak pernah memakan hidangan mewah seperti ini selama ia hidup. Ya, mungkin hanya resep masakan biasa yang hampir mirip-mirip seperti ini tapi jujur saja, Sarah tak pernah memakan apa yang akan ia makan sebentar lagi.
Setelah pelayan itu selesai menghidangkan makanan ke atas meja dan pergi, barulah Sarah berani berkomentar,"Kau pasti selalu memakan ini kan?"
"Kau tahu Alex, kurasa aku belum berkata hal yang menyenangkan untukmu."
Alex menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong daging. Ia menyimpan alat makan itu ke atas meja lalu memandang Sarah yang hanya memainkan garpu dan pisau. "Berkata apa?"
"Well, mungkin sedikit memujimu kurasa?"
"Aku tak butuh pujianmu," Balasnya. Sarah hanya terkekeh, ia tahu Alex pasti akan mengatakan hal demikian. Wanita itu menaruh alat makan di atas meja lalu sebelah tangannya ia jadikan tumpuan pada dagunya,"Iya aku tahu tapi kurasa aku harus melakukannya. Jadi... Menurut ku kau tampan. Bahkan sangat tampan hingga aku mau tak mau mengakui kalau kau lebih tampan dibanding Tom Cruise."
"Seriously? Babe, cara bercanda mu lumayan juga. Walau terdengar aneh untukku," Alex tak bisa menahan senyumnya melihat wajah Sarah. Demi tuhan, apa yang sudah Leah katakan pada wanita ini? Bahkan Alex tahu kalau ada guratan keraguan di mata Sarah ketika ia mengatakan hal demikian. Ia tidak bermaksud untuk merusak suasana ini hanya saja Sarah terlalu lucu.
"A-aku tak bercanda denganmu, jadi jangan salah paham. Sudah kubilang aku ingin memuji," Balasnya. Oke, ini mulai terdengar memalukan dan jangan katakan kalau Alex sedang menertawakannya?
"Sungguh? Tapi kau membandingkan ku dengan orang tua. Bukankah itu seperti gurauan?"
Sarah mengerjapkan matanya. Ia tiba-tiba tersadar akan sesuatu dan tawa Alex pun meledak. Sarah memalingkan wajahnya dan merutuki kebodohannya. Tentu saja kan? Tom Cruise bahkan lebih tua dari Marilyn dan tentu saja dia terlalu tua.
"Ya tapi mungkin untuk beberapa wanita seperti mu, Tom Cruise terbilang tampan," Alex lalu kembali melanjutkan makan yang sedikit tertunda itu dengan sesekali melirik wajah Sarah yang sudah semerah tomat.
Ternyata dugaan Sarah benar, rencana ini pasti gagal.
Setelah makan malam itu selesai, keduanya pun kembali ke dalam mobil dan pulang ke rumah Alex. Sarah benar-benar lelah hari ini, sehabis ini ia akan sedikit berendam air hangat dengan aroma mawar lalu beristirahat dengan tenang di atas ranjang. Ya, semoga saja Alex tak mengganggunya dengan berbagai macam permintaan.
Mereka pun akhirnya sampai di depan rumah besar itu. Sarah membuka pintu mobil dan berjalan mendahului Alex untuk pergi berendam. Rasanya ia tak sabar lagi untuk segera bertemu kasur.
"Sarah."
Wanita itu menoleh ke belakang, Alex berjalan menyusulnya lalu meraih tangan Sarah,"Jangan naik tangga. Untuk saat ini kamar kita pindah di lantai dasar saja. Tangga cukup berbahaya untuk perutmu," Ucapnya kemudian. Sarah perlu waktu beberapa detik untuk mengerti ucapan itu karena saat ini dia sedang mengagumi sosok dengan rambut coklat dan mata biru pudarnya yang menyejukkan. Sialan, kenapa momen seperti ini justru membuat hatinya kian panas ketika berhadapan dengan Alex?
"Hei? Aku tahu aku tampan, jadi jangan beri aku tatapan seolah kau akan menelanku saat ini," Alex melepas tangan Sarah lalu berjalan meninggalkan wanita itu yang masih berdiri kaku di undakan tangga. Sarah segera menormalkan kembali dirinya sebelum terjerumus ke dalam kubangan mematikan yang akan membuat dia menyesal. Dia mencintai Alex, tapi jangan sampai cintanya membuat dia terjebak dalam situasi ini. Sarah harus sebisa mungkin berusaha untuk membuat Alex juga mencintainya. Oh bukan hanya dirinya, tapi bayi dalam kandungannya. Karena Sarah tahu, Alex sedikit mewaspadai kedua janin yang tengah berkembang ini.