Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 52



"Bagaimana kau tahu tentang dia?" Tanyanya penuh peringatan. Viktor menaikkan sebelah alisnya, ia memandang remeh pada Alex.


"Kau kira hanya dirimu yang pintar? Sombong sekali. Aku juga punya informan rahasia. Tak perlu khawatir, aku tidak ingin mengacau kekasihmu. Justru kau harusnya menangkap arah pembicaraan ku ini," Jawab Viktor.


"Apa yang ingin kau katakan?"


"Well, aku punya dua orang anak perempuan dan satu anak laki-laki-- walau bukan darah dagingku. Langsung saja, aku ingin melakukan perjodohan."


Alex sontak saja terkejut. Ia bingung dengan kalimat terakhir pria itu. Viktor hanya memberinya sebuah senyuman miring dan Alex pikir pria itu serius dengan ucapannya.


"Masa depan seorang anak akan ditentukan olehnya sendiri. Aku atau siapapun tak berhak mengaturnya."


"Ouch, that hurts me really bad. Apa itu sebuah penolakan?"


Alex membalikkan tubuhnya, ia rasa percakapan ini membuang waktunya saja. Viktor Roswell bukanlah orang yang ramah. Keberadaan Viktor dan anggota gengnya itu cukup sulit untuk terlacak, tapi siapapun tahu kalau dia menguasai sebagian besar kota di Ukraina.


"Tidak apa, Grissham. Mungkin lain kali kita bisa berbisnis," Teriaknya saat Alex perlahan menjauh.


"Atau mungkin bukan kita," Gumamnya. Tatapan dinginnya tampak mengerikan, Viktor memang kagum dengan keberanian Alex datang kemari tanpa perlindungan apapun.


"Apa kita perlu mengejar mereka Tuan?" Tanya salah satu pria dengan bahasa Rusia.


Viktor menaikkan sebelah tangannya,"Tidak. Mungkin lain kali saja."


Jauh dari Katedral, kendaraan yang ditumpangi Alex dan yang lain berjalan menuju salah satu penginapan terdekat. Untuk saat ini mereka akan bermalam lalu besok pagi terbang kembali ke Kanada menggunakan jet.


"Zack, sebenarnya apa yang ada dipikiran mu sehingga kau nekad datang kemari tanpa sepengetahuan ku?"


Zack menundukkan wajahnya,"Maafkan saya, Tuan Grissham. Waktu itu saya masih curiga dengan kepergian Reginald, maka dari itu saya menandai kepergiannya."


"Apa kau tuli hah? Waktu itu sudah kukatakan kalau Reginald bukan lagi menjadi urusanku, tapi kau sepertinya tidak paham dengan ucapanku."


"Maafkan saya, Tuan Grissham," Balasnya. Ia memang merasa bersalah karena melakukan investigasi tanpa memberitahu majikannya lebih awal. Entahlah, insting Zack mengatakan ada sesuatu yang tidak beres ketika ia melihat Reginald dijemput dengan sebuah mobil SUV hitam di sebuah klub malam pun dengan Stefan. Rupanya memang ada yang tidak beres kan? Reginald mendapatkan perlindungan dari seorang mafia kelas kakap yang bahkan Zack tak mengenalinya karena kepiawaian orang itu menyembunyikan jati dirinya.


Alex tak lagi membalas perihal masalah ini. Dia lelah dan ingin beristirahat segera. Sebentar lagi kedua putranya akan lahir dan Alex akan disibukkan dengan berbagai urusan mengenai anak-anaknya serta rencana pernikahannya dengan Sarah setelah Aaron dan Axelle lahir.


...


Setelah satu hari lewat, semuanya masih sama di mansion. Sesuai ucapan Alex kemarin, Leah dan yang lain menginap disini. Sarah merasa tak kesepian karena sahabat-sahabat Alex adalah orang-orang yang menarik.


"Memangnya berapa Minggu lagi, Sarah? Perutmu benar-benar besar dan kurasa kau bisa saja melahirkan hari ini," Tanya Nathan. Ia sedang membantu Sarah menyusun pakaian bayi di dalam lemari karena wanita itu tak mau para pelayan yang melakukannya.


"Sudah memasuki 8 bulan, Nathan. Mungkin setelah tahun baru, mereka akan hadir," Jawabnya sambil tangannya terus memisahkan beberapa pakaian bayi. Nathan memberi Sarah sebuah senyuman semangat, melahirkan bukanlah perkara mudah.


"Lalu kapan kalian akan menikah? Apa... Kalian masih terikat perjanjian itu?"


Sarah lantas tertawa kecil. Dia menutup pintu lemari khusus yang Alex beli beberapa waktu yang lalu sebelum menatap Nathan di sebelahnya,"Semuanya sudah sempurna, Nathan. Aku dan Alex sepakat kalau kami akan membangun sebuah keluarga bersama tanpa terikat dengan perjanjian atau kontrak apapun. Semuanya murni karena kami saling mencintai walau terasa sulit pada awalnya."


Mata Nathan berbinar mendengar ucapan Sarah. Ini artinya Alex sudah satu langkah lebih maju dari keterpurukannya. Dia maupun yang lain tentu tahu bagaimana jeleknya masa lalu Alex dulu bersama mantan kekasihnya, belum lagi sifatnya yang kadang diluar kendali itu.


"Syukurlah kalau pada akhirnya kalian bisa bersama. Sungguh, maafkan aku dan yang lain Sarah. Kami sempat bersikap tak sopan padamu," Balas Nathan.


Sarah hanya memberinya sebuah senyuman. Wanita itu lantas mengatakan kalau mulai saat ini, ia tak mau membahas hal yang sudah-sudah. Ia hanya ingin hidup bersama Alex dan kedua bayi mereka lalu menua bersama. Sejak dulu, Sarah hanya ingin menghindari permasalahan karena hidupnya selalu dalam masalah. Hanya inilah kesempatan bagi Sarah untuk bahagia.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman belakang untuk menikmati pemandangan salju yang indah. Tentu saja bersama Leah, Jake dan istrinya.


Disisi lain-- di sebuah apartemen yang terlihat acak-acakan seperti habis diterjang oleh badai, seorang wanita terduduk di samping sofa dengan rambut yang kusut masai. Ia tak henti-hentinya menggigiti kuku jarinya yang bergetar. Jejak air matanya yang masih terlihat di sudut mata membuktikan kalau hidupnya sedang dalam kekalutan. Entah sejak kapan ia merasa sial seperti ini. Ia bersikap gila sejak Stefan pergi.


"Nona Calyria, Anda harus makan. Sejak semalam Nona belum makan apapun," Pinta seorang gadis muda sembari memegangi nampan berisi makaroni keju serta susu hangat. Calyria hanya menoleh sejenak sebelum kembali terfokus pada pikirannya.


Calyria kembali melempari segala barang yang bisa ia jangkau. Teriakan melengkingnya itu mungkin bisa menghancurkan dinding-dinding apartemen jika wanita itu tak membungkam mulutnya segera.


Gadis muda bernama Lonna itu menatap kasihan pada majikannya. Dia menyesal karena dirinya tak dapat berbuat apapun ketika Reginald datang untuk mengambil Stefan waktu itu. Namun, ia pikir ini merupakan hukuman untuk Calyria karena ia tidak bisa merawat Stefan dengan baik. Lonna pun berpikiran kalau Stefan mungkin akan hidup lebih baik bersama ayahnya ketimbang dengan Calyria.


"Tidak... Reggie tak boleh membawa S-Stefan. Di-dia... Stefan..."


"Nona Calyria. Maafkan saya karena mengatakan ini, tapi mungkin Stefan akan bisa lebih bahagia bersama ayahnya. Lagipula, jika dia terus menerus tinggal bersama Nona, saya takut Stefan tak akan bisa bertahan."


Wanita itu menatap marah pada pengasuh Stefan yang tengah menceramahinya itu. Dengan cepat Calyria melompat dari tempatnya lalu menyentak nampan berisi makanan yang dibawa oleh Lonna. Dia menampar pipi gadis itu hingga membuatnya jatuh tersungkur ke atas lantai lalu dengan brutalnya Calyria memukul tubuh Lonna di bawah sana.


"Sialan kau! Ini semua karena mu! Kau... Kau membiarkan Reggie membawa putraku! Mati saja kau jalang sialan!" Teriaknya tepat di telinga Lonna. Gadis itu ingin meminta tolong, tapi kesadarannya menghilang saat tamparan keras yang dilayangkan Calyria pada tengkuknya.


Calyria berdiri menjauh dari Lonna. Napasnya terputus-putus ketika ia menatap si pengasuh itu yang pingsan. Langkah kaki Calyria tak menentu saat ia berusaha untuk pergi. Tidak, Calyria tak mau kehilangan Stefan. Ia menyayangi anak itu dan Calyria tak mau hidup menderita sendirian sedangkan Stefan hidup senang bersama Reginald. Dia akan mencari, walau terasa sulit.


...


Kepulangan Alex dari Ukraina sedikit terlambat. Pria itu terpaksa menunggu sampai esoknya lagi untuk bisa kembali karena badai salju tengah terjadi. Namun, untunglah saat ini dia bisa kembali dengan selamat. Sungguh bukan rencananya pergi ke Ukraina di hari pertama musim dingin, tetapi Zack memaksanya untuk melakukan penerbangan darurat hari itu juga.


"Aku senang kau cepat pulang. Kupikir kalian akan tertahan lebih lama lagi disana," Ucap Sarah dengan bibirnya yang menekuk manja. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Alex dengan hati-hati.


Pria itu terkekeh, dia meremas bokong Sarah dengan kedua tangannya,"Aku tak bisa terus berjauhan darimu, seksi. Aku bisa gila," Balasnya.


Sarah berdecak senang, ia mendorong pelan tubuh Alex-- memilih untuk duduk di pinggir ranjang sembari mengelusi perut besarnya,"Jadi Zack kenapa? Aku masih belum paham."


Alex menggaruk hidungnya,"Bukan hal penting, hanya sedikit kesalahpahaman saja," Jawabnya.


Wanita itu lantas mengangguk. Mungkin memang bukan hal yang mesti ia pahami.


"Alex, boleh aku bertanya?"


Alex duduk di samping Sarah lalu meraih telapak tangan wanita itu untuk ia kecup,"Apa saja."


"Kenapa saat itu kau menyimpan pakaian Calyria di lemari apartemen mu?"


"Kau serius mau menanyakan itu dan bukan hal lain?" Sarah mengangguk cepat.


Alex menghela napasnya,"Aku sudah lama tidak tinggal di apartemen itu, hanya beberapa kali jika aku harus datang pagi ke kantor karena lokasinya tidak begitu jauh. Maka dari itu aku tak pernah meminta siapapun untuk membereskan barang-barang di dalam sana karena tidak penting juga."


Sarah menyipitkan matanya,"Benarkah? Kau tidak menghirup aroma Calyria dari pakaiannya sepanjang malam?"


Pria itu tertawa keras, ia seketika menjadi jijik sendiri jika memang benar dirinya dulu pernah melakukan hal sebodoh itu.


"Tentu saja tidak. Untuk apa pula aku melakukannya? Sudahlah, sekarang ayo kita bahas tentang Aaron dan Axelle. Apa mereka butuh nama tengah?"


Wajah Sarah berubah 180 derajat, wanita itu tampak berseri-seri ketika Alex menyebut nama calon bayi kembar mereka.


"Kau yang tentukan, itu akan menjadi adil untuk kita," Jawab Sarah.


Alex sempat memikirkan beberapa nama yang mungkin saja cocok untuk melengkapi nama anaknya kelak, tapi mungkin lebih baik ia mengatakannya nanti saja.


Sebentar lagi tahun baru. Ia akan punya lembaran cerita yang baru dan tentu saja permasalahan yang akan muncul dalam hidupnya. Alex dan Sarah tidak hanya punya kebahagiaan yang menanti mereka di tahun depan, ada puluhan duri tajam yang siap untuk menghancurkan ikatan merah yang saat ini tengah mereka rajut.


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan bukan?


...


A/n : sumpah lama banget review dari mangatoonnya :'( sebel saya