Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 41



Scott tengah berada di club ketika dia melihat seseorang yang tampak tak asing baginya. Scott menajamkan matanya, ia menyimpan sloki itu ke atas meja lalu berjalan perlahan ke arah orang yang sedang duduk di kursi bar sambil sesekali menyesap minuman nya.



"Wow, Reginald?"



Pria itu merasa terpanggil. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya ke kanan lalu tersentak saat seseorang berhasil mengenalinya,"Shit..."



Reginald bersiap untuk mundur lalu pergi dari hadapan Scott, tapi pria itu jauh lebih dulu menahan bahu Reginald hingga dia tak bisa pergi,"Kenapa kau tiba-tiba muncul hah? Aku perlu berbicara denganmu," Ucap Scott. Reginald berusaha menepis tangan Scott lalu ia mengenakan kembali jaketnya lalu memakai topi.



"Tidak disini."



Scott menarik kesimpulan kalau Reginald tengah bersembunyi entah dari siapa. Pria itu melirik sekitarnya lalu memberi kode bagi Reginald untuk mengikutinya. Mereka berjalan keluar lalu masuk ke sebuah gang kecil yang jauh dari orang-orang.



"Kenapa kau berada di Kanada? Apa yang terjadi hah? Kami berusaha mencari tahu keberadaan mu untuk menanyakan beberapa hal," Kata Scott langsung pada intinya. Ia jarang berbasa-basi, tapi sepertinya dia harus melakukan ini.



"Aku tak bisa berlama-lama. Sebenarnya aku sudah hampir satu tahun berada di Kanada. Aku tak bisa pergi dengan leluasa karena kurasa aku masih diawasi," Jawabnya.



"Apa maksudmu? Diawasi? Kau tahu, beberapa bulan yang lalu, aku dan beberapa temanku berusaha untuk melacak keberadaan mu, tapi anehnya identitas yang kami masukkan tidak valid."



Reginald mengusap wajahnya, ia bergerak gelisah,"Sebenarnya aku tak boleh pergi kemanapun tanpa pengawasan, Alex mengirim penjaga untuk mengawasi ku."



Scott semakin terkejut. Kenapa dengan Alex?



"Alex? Maksudmu, kau diawasi oleh Alex? Tapi kenapa? Alex bahkan tak mengetahui dimana keberadaan mu dan untuk apa pula dia melakukan hal itu?"



Reginald mengerjapkan matanya. Oh, sepertinya ia salah bicara karena Scott tampak tak mengerti arah bicaranya,"Aku sudah terlalu banyak bicara, sebaiknya aku pergi."



Dia kemudian mengenakan masker hitam lalu berlari meninggalkan Scott yang masih bertanya-tanya.



Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alex. Scott menatap berang pada ponselnya karena nomor Alex bahkan tak aktif. Dia tahu dari Marilyn kalau kemarin Alex dan Sarah berangkat ke Florida, tapi sepertinya Alex sengaja mematikan ponselnya.



Scott masuk ke dalam mobilnya, ia rasa dirinya perlu mendiskusikan ini dengan Leah dan Nathan. Jika Alex sengaja menyembunyikan hal semacam ini, maka ini saat bagi mereka untuk mencari tahu.



...



Reginald menutup pintu apartemennya dengan kasar. Dia membuka masker serta topi hitam yang ia kenakan sebelum melemparnya tepat ke atas meja kopi. Dia duduk di atas sofa sembari mengusap wajahnya yang menyedihkan. Reginald kehilangan semuanya, sejak perselingkuhan yang ia lakukan bersama Calyria, ia mendapat banyak kesialan.



Alex benar-benar membuat hidupnya jauh lebih menderita dari yang terakhir kali. Pria itu berhasil membuat dirinya terasingkan, menjatuhkan nama baik keluarganya juga membuat perusahaan keluarga Anderson bangkrut begitu saja. Itu semua ulah Alex, balas dendam pria itu begitu menyeramkan. Ditambah saat ini, dirinya berada dalam pengawasan. Alex meminta Reginald untuk tak pernah menemui Calyria atau putranya karena alasan tertentu dan rupanya inilah yang Alex khawatirkan. Tindakan bodoh Calyria dengan berkata kalau Stefan adalah darah daging Alex, membuatnya tambah terkena masalah.



Sialan sekali, ia ingin merebut Stefan dari tangan Calyria lalu membenci wanita itu. Dengan tak tahu malunya dia berani berkata kalau Stefan adalah putra Alex Grissham. Tak dapat ia pungkiri, ia kesal. Reginald tak mau Stefan benar-benar menganggap Alex sebagai ayahnya.



Dering ponselnya berbunyi, Reginald melihat nama seseorang yang menghubunginya lalu mendesah keras. Itu asisten Alex, Zack. Pasti pria itu mengetahui kalau ia pergi dari apartemen secara diam-diam.




"Ini sudah ketiga kalinya. Aku memberimu peringatan terakhir, Anderson," Suara Zack yang jauh lebih dingin dan suram.



"Ya, kau begitu setia dengan Tuanmu. Benar-benar pesuruh yang baik."



Sambungan itu pun akhirnya terputus. Reginald menghela napasnya, dia menyimpan ponsel itu ke atas meja lalu ia menyandarkan kepalanya di sofa. Selama ini, hidupnya bagai di penjara dan terlihat seperti tawanan. Dia sadar, disini dia yang salah. Reginald awalnya mengira dengan membuat skandal bersama Calyria akan membuat Alex jatuh. Ia mengira Alex akan terpuruk, tapi kenyataannya, Alex bahkan hampir membuat nyawanya melayang. Sialan, Reginald benar-benar salah perhitungan.



Kembali ke Florida, di hari kedua Alex dan Sarah berkunjung. Semuanya masih sama, Sarah masih menolak untuk berbicara. Wanita itu lebih sering duduk diam di atas ranjang sambil mengusapi perut buncitnya dengan lembut. Tatapannya kosong, ia terlihat begitu kesakitan dan hampa.



Alex pun sama, di kamar hotel itu, ia hanya duduk di sofa sambil memijat kepalanya. Sudah puluhan kali ia berusaha untuk mengajak Sarah berbicara, tapi wanita itu terlalu keras kepala. Alex ingin marah, tapi dia tak bisa. Cukuplah sudah, ia tak mau menambah masalah dengan membentak atau menyakiti Sarah dan perasaannya.



"Kau belum sarapan tadi pagi. Setidaknya makanlah sesuatu," Pintanya.



Sarah menghela napasnya,"Aku ingin kue coklat. Tolong, belikan di toko kue dekat taman," Balasnya. Alex tak membalas apapun lagi, setidaknya Sarah sudah bisa diajak berbicara daripada sebelumnya. Pria itu meraih jaket dan kunci mobil, sebelumnya Alex mengutus bawahannya yang masih berada di Florida untuk membawakan mobil padanya. Ia tak bisa terus-terusan pergi menggunakan taksi.



"Alex."



Pria itu berhenti di depan pintu. Dia membalikkan tubuhnya ketika melihat Sarah berusaha untuk berjalan dengan perutnya yang besar. Wanita itu meraih jaket yang dikenakan Alex, meremasnya cukup kuat sebelum menarik tubuh pria itu dalam dekapannya yang tak seberapa. Sarah mencium pelan bibir Alex, merasakan kalau rasa sakit itu kian timbul ke permukaan. Ia tahu kalau saat ini dirinya sendirian dan tak punya apapun sebagai pegangan hidup. Itulah yang membuat rasa sakit yang Sarah rasakan semakin kentara.



Pria itu membalas ciuman Sarah, dia memiringkan sedikit wajahnya dan berharap kalau ini akan menjadi lebih dari sekedar ciuman panas. Namun Sarah lebih dulu menarik diri, membuat harapan Alex seperti dihancurkan dengan palu kebencian.



"Maafkan aku," Ucapnya. Alex menarik dagu Sarah agar bisa selalu menatapnya, karena ia menyukai bagaimana jeratan netra gelap itu melingkupi dirinya dengan cara yang tak wajar.



"Tunggulah disini. Aku akan membawakan kue untukmu," Balas Alex kemudian dia pun keluar dari kamar hotel itu. Sarah merasakan air matanya meluruh setelah kepergian Alex. Dia dengan cepat mengusap sudut matanya lalu mulai mencari kertas dan pena.



Ia harus pergi.



...



Alex kembali ke hotel setengah jam kemudian. Ia sedikit terhalang oleh beberapa pekerja yang tengah memperbaiki jalanan yang rusak, menyebabkan kemacetan di beberapa titik sebelum ia berhasil kembali ke hotel.



Alex menenteng sekotak kue coklat di tangannya, sesuai apa yang Sarah inginkan. Dia menekan tuas pintu lalu mendorongnya. Namun, segera setelah itu, Alex merasakan sesuatu yang hilang. Ia mengerutkan dahinya lalu ditaruhnya plastik berisi kue itu ke atas meja bundar dekat perapian kecil. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, lalu beralih untuk membuka pintu toilet dan tetap menemukan kekosongan. Pikiran Alex semakin tak karuan ketika ia menemukan sebuah kertas putih di tengah ranjang.



Dia meraih lalu membaca setiap huruf yang terpahat di atas kertas putih itu sebelum meremasnya dengan kuat.



Alex, aku ingin sendirian. Kumohon jangan pergi untuk mencariku karena saat ini aku tak ingin melihat mu. Aku mencintaimu, Alex. Aku sangat-sangat mencintaimu sehingga aku tak bisa memikirkan untuk mencari pria lain selain kau. Namun aku sadar, kita begitu berbeda. Kau memiliki segalanya dan penuh dengan kehormatan, sedangkan aku hanya seorang perempuan bodoh. Aku cukup tahu kalau kehadiran diriku pasti akan menyulitkan mu dan aku tak bisa melanjutkan semua perjanjian yang kita sepakati berdua. Maafkan aku Alex, aku membawa bayi ini bersamaku karena hanya mereka yang aku punya.



Sarah