
Alex mengerutkan dahinya ketika tak melihat siapapun di dalam rumah. Seharusnya para pelayan berada disini, tapi kemana mereka semua?
Netranya melirik ke arah lampu dapur yang menyala, mungkin seseorang berada disana. Ia berjalan ke arah dapur lalu mendengar suara tawa dari beberapa orang. Salah satunya terdengar seperti suara Sarah.
Bibirnya tertekuk saat sampai di pintu penghubung dapur, ternyata Sarah sedang bersama Scott-- sahabatnya. Mereka tampak sedang bercanda bersama sambil memasak. Alex tahu, Scott itu seorang koki, jadi bukanlah hal aneh melihat pria itu berurusan dengan dapur. Hanya saja sedikit menyebalkan melihatnya di sana bersama dengan Sarah. Dalam sekali lihat saja, Alex bisa tahu kalau Sarah begitu menyukai keberadaan Scott.
"Aku dan Alex itu saling kenal sejak kami masih di bangku sekolah dasar. Mau tahu tidak, dulu si Alex itu bocah gendut. Dia selalu memakan coklat dimana pun ia berada dan ketika aku ingin meminta sedikit, dia malah memukul tanganku dan mengatakan kalau perutnya kekurangan coklat jika aku mengambil bagiannya," Ungkapnya. Sarah tertawa lepas mendengar itu, ia tidak menyangka kalau Alex yang tampak seksi dengan otot-ototnya yang tercetak sempurna di tubuhnya-- dulu pernah menjelma menjadi bocah gendut. Dia sedikit penasaran bagaimana penampilan Alex kecil yang sepertinya menggemaskan.
"Nanti akan kucoba cari foto-foto lama kami ya, biar kau bisa lihat," Tambahnya lalu kembali tertawa bersama Sarah.
Alex merasakan pipinya sedikit panas. Sialan si bajingan itu, disaat seperti ini malah menjelekkan dirinya. Harusnya Alex sudah menjahit bibir Scott agar tak selalu bicara sembarangan tentang dirinya dan masa lalunya.
Tanpa sadar kakinya melangkah ke arah dapur, Scott menyadari itu lalu berkata,"Kau pulang? Aku dan Sarah baru saja membicarakan mu."
Wajah Alex tertekuk masam. Ia tak melirik atau menanggapi sapaan yang diberikan Scott. Dia lebih memilih untuk menarik salah satu kursi makan dan duduk di atasnya,"Boleh aku tahu kenapa semua pelayan pergi?" Tanyanya kemudian. Sarah menatapnya tak enak,"Maafkan aku. Aku tahu bukan hak ku untuk memerintahkan mereka pulang tadi sore, tapi sungguh aku sedang tak ingin suasana ramai," Sesalnya. Scott tak berniat untuk ikut campur, dia meraih potongan buah mangga lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Oh begitu ya? Tapi kelihatannya rumah ini cukup ramai dengan suara tawa kalian dan kau tak terganggu sama sekali Sarah," Balasnya dengan sinis. Scott tahu kapan ia harus bertindak pintar, dia pun berdeham lalu menatap Alex seakan memberi penjelasan.
"Yang benar saja. Sekarang kau menuduhku sedang menggoda Sarah bukan? Baiklah Alex, aku kemari karena aku ingin berbicara denganmu tapi tadi kau belum pulang dan aku melihat Sarah sedang memasak. Jadi aku membantunya sambil berbincang sedikit. Apa kita sudah clear?"
Alex melipat tangannya di depan dada,"Oh, berbincang sedikit atau sebenarnya kau mengejekku?"
Sarah menghela napasnya. Ia menarik sebelah tangan Alex lalu menggenggamnya hingga membuat pria itu menoleh kecil pada Sarah,"Maafkan aku jika kau merasa terganggu," Ucapnya.
"Kenapa kau yang meminta maaf? Harusnya--"
"Ya ampun Alex, berhenti bersikap kekanak-kanakan. Kau itu hampir 30 tahun jadi bisakah berbicara layaknya pria dewasa?" Scott memberikan tatapan kesal pada Alex ketika pria itu terlihat seperti anak kecil. Oh tentu saja, ini bukan kali pertama Alex bersikap semaunya. Scott tentu hapal sekali dengan tingkah laku sahabatnya ini hanya saja ini bukan saat yang tepat untuk bertingkah seperti itu.
"Sebaiknya kita makan malam dulu baru setelah itu aku akan berbicara serius denganmu," Scott pun beralih ke meja dapur lalu membawa beberapa piring berisi masakan yang tadi ia buat bersama Sarah.
...
Scott menutup pintu ruang kerja Alex. Pria itu merogoh saku celananya lalu mengeluarkan dua buah tiket dari dalamnya. "Itu untukmu," Ucapnya.
Alex mengerutkan dahinya, ia mengambil dua tiket itu dari atas meja kerjanya lalu membaca huruf yang tercetak dengan gaya tulisan aneh.
"Tiket ke Venesia? Untuk siapa?"
Pria itu menatap tiket pesawat ke Venesia dan Scott bergantian. Apa benar ia harus melakukan ini?
"Kurasa itu tak diperlukan."
"Persetan dengan opinimu. Bagiku ini penting dan aku ingin sahabatku ini bahagia. Alex, wanita itu kini tengah hamil bahkan kembar. Tidakkah terpikir olehmu untuk menikahi dia?"
Alex menaruh tiket itu kembali ke atas meja. Dia mendekati rak buku lalu membaca salah satu judul buku karya seorang penulis yang cukup dikenal.
"Alex, aku sedang berbicara padamu," Nada bicara Scott mulai terdengar kesal. Alex membalikkan tubuhnya, ia tahu kalau Scott pasti akan menceramahinya seperti yang sudah-sudah.
"Scott, kami sudah sepakat untuk tidak menikah. Dan juga... Kau salah dalam satu hal. Aku tidak mencintai Sarah," Ucapnya. Scott berdecak tak senang, ia tahu Alex kadang menolak kebenaran yang ada dalam hatinya dan lebih memilih untuk hidup dalam kebodohan sepanjang hidupnya. Itulah yang selalu Alex jalani sejak ia putus dengan Calyria.
"Sudahlah. Berbicara denganmu tak ada selesainya, aku sudah memberimu saran terbaik dan kau tidak memedulikannya. Aku beri tahu ya, jangan sampai kau menyesal suatu saat nanti jika Sarah yang memilih untuk menyerah dan pergi dari hidupmu," Balasnya kemudian beranjak untuk pergi. Alex menatap kepergian Scott dalam diam, dia memikirkan Sarah dan bayi dalam kandungannya. Ada sebuah tembok penghalang yang membuat dia tak ingin melanjutkan hubungan yang lebih dari sekedar perjanjian sialan itu. Alex takut untuk kembali dikecewakan. Ia sudah pernah merasakannya dulu dan itu sakit sekali. Otaknya mendoktrin dirinya sendiri bahwa wanita adalah racun paling mematikan. Ditambah lagi ia tak ingin punya anak perempuan, yang mana jika ia punya, maka pilihannya adalah menikahi Sarah-- sesuai dengan apa yang wanita itu inginkan.
Dia mengacak rambutnya karena kesal. Alex merasa tak bahagia dengan hidupnya walau ia punya uang dan segala kehormatan. Lalu apa yang ia butuhkan? Cinta?
Seketika Alex tersadar dari pikirannya. Sudah berapa lama ia tak merasakan getaran itu? Atau ketika ia dengan semangatnya menelepon seseorang yang ia cintai lalu menanyai kabarnya di pagi atau malam hari. Ya, itu saat ia masih berhubungan dengan Calyria. Sejak itu dia tak pernah lagi merasakannya. Alex mengambil tiket pesawat ke Venesia yang berlaku untuk besok, apa sebaiknya ia pergi bersama Sarah?
Tepat setelah itu, pintu ruang kerjanya terbuka. Alex menoleh lalu melihat Sarah masuk dengan segelas kopi di tangannya,"Scott baru saja pulang. Ini aku membawakan mu kopi, sepertinya kau mau bekerja," Katanya. Alex masih diam terpaku, ia meneliti wajah Sarah dengan begitu baik, mulai dari bulu matanya yang lentik, bola matanya yang hitam seperti langit malam. Sarah juga punya bibir yang seksi, hal itu cukup untuk membuat Alex puas ketika berhasil mengecapnya.
"Kau mau jalan-jalan?" Tanyanya kemudian setelah melewati beberapa detik penuh keheningan. Sarah terkejut, matanya menangkap dua buah tiket pesawat yang ada di tangan Alex lalu menebak kalau pria itu memang ingin mengajaknya ke suatu tempat diluar Kanada.
"Scott memberiku dua tiket ke Venesia. Kupikir hanya kau yang bisa ku ajak kesana karena aku tak mungkin mengajak orang lain."
Pipi Sarah memerah. Venesia katanya? Bukankah kota itu dijuluki kota cinta karena keindahan arsitektur dan kanal serta gondolanya? Ya Tuhan, kenapa harus ke tempat seperti itu?
"Kau mau?"
Sarah segera menatap Alex lalu mengangguk cepat. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dia menganggukkan kepalanya, yang Sarah tahu, ia ingin pergi bersama Alex dan menikmati keindahan kota tersebut. Ya, tidak peduli dengan julukan atau apapun itu.
"Kalau begitu ayo berkemas. Besok kita akan berangkat."
...