
Enam bulan lalu.
Reanne Lee adalah satu dari pekerja **** yang berada di kelab malam milik salah satu mucikari psikopat dan menyebalkan yang biasa orang temui saat tengah malam. Ia bekerja sebagai si penari striptis, tapi kadang kala Reanne hanya menghibur pelanggan kelab itu dengan sebuah nyanyian. Ia sebenarnya terpaksa melakukan ini semua, Reanne tak punya pilihan selain mengikuti semua arahan Mr.Jones, mucikari yang membuat dia harus melayani nafsu menjijikkan pria-pria kesepian diluar sana. Kakak sialannya punya hutang yang besar pada Mr.Jones dan tanpa rasa iba sedikit pun, Brent menjualnya pada ******** tua yang sialnya seorang mucikari dan pemilik kelab malam yang saat ini Reanne tempati.
"Reanne! Kau punya tamu khusus malam ini!" Reanne tak perlu bertanya lagi suara siapa itu yang menggema seperti orang gila padanya. Ia meletakkan gelasnya dengan penuh kekesalan lalu menoleh pada Noah.
"Aku tak bisa. Aku sedang datang bulan," Balasnya dingin. Noah menatapnya jijik,"Pembohong ulung seperti mu tak mungkin bisa aku percaya! Jangan lupakan kalau kau masih punya hutang yang besar padaku, Reanne!"
Wanita itu mendesah keras, dia menatap balik pada Noah,"Terserah apa katamu! Aku tak peduli!"
Dia mengeluarkan tumpukan uang dari dalam tasnya lalu melemparkan itu tepat di depan wajah Noah,"Aku bayar sisa hutang kakak sialanku! Ambil uang itu dan aku berhenti dari pekerjaan ini!"
Beberapa orang menatapi mereka berdua. Ada yang tidak percaya kalau Reanne berani menghina Noah seperti itu. Wanita itu meraih tasnya kasar lalu beranjak pergi dari tempat laknat itu. Sudah cukup lama ia mengumpulkan uang yang ia dapatkan dari pria-pria yang pernah menjamahnya. Reanne selalu meminta tip agar ia bisa mengelabui Noah dan pada akhirnya ia berhasil membuat Noah malu atas perlakuannya.
Namun itu tak semudah yang Reanne kira. Di tengah malam yang dingin itu, ia merasakan tangannya ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil. Ia diseret dengan cara yang tidak manusiawi.
Reanne ingin berteriak, tapi mulutnya lebih dulu disumpal dengan kain. Wanita itu tak bisa berpikir jernih lagi, ia merasa begitu sesak di dalam mobil ini ditambah Reanne tak bisa melihat apapun karena gelap.
"Ini akibat jika kau melawan ucapanku, Reanne."
Suara itu cukup mengejutkan baginya. Noah ada dibalik semua ini, dia ingin berteriak dan mengatakan kalau pria tua ******** itu benar-benar gila. Namun saat ini tak ada yang bisa Reanne lakukan selain menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.
Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah jalanan sepi yang tidak terlihat apapun di sekelilingnya selain pepohonan. Reanne bisa menebak apa yang akan terjadi padanya, Noah pasti akan membunuhnya.
Ia didorong dari dalam mobil sampai tubuhnya menyentuh aspal yang keras. Reanne meringis, ia ingin sekali berteriak kencang, tapi sayang sekali mulutnya tersumpal kain dan tempat ini begitu sepi.
Dia ditarik kuat ke dalam hutan, Reanne merasa benar-benar ketakutan ketika akhirnya matanya menangkap sebuah bangunan tua yang mengerikan. Oh sialan, sepertinya Noah akan membunuhnya di tempat ini.
Pria-pria bertubuh kekar itu melempar tubuh Reanne ke ubin kayu yang penuh dedaunan kering dengan keras. Noah menghela napas kasar sebelum menarik penyumpal mulut Reanne.
"Asal kau tahu ya, ******* sialan! Hutang kakak mu itu tak akan pernah bisa terbayarkan dengan uang hasil kau menjual diri! Tapi kau sombong sekali berkata kalau dirimu akan membayar semua hutangnya!"
Reanne menatapnya marah,"Lalu kau mau membunuhku?! Lakukan sialan! Biarkan aku mendekam di dalam neraka saja!"
Noah membuang ludah, dia tertawa keras sembari menarik kasar rambut coklat Reanne yang kusut.
"Mungkin ada baiknya jika aku menyiksamu dulu sebelum kau mati."
Bola mata Reanne bergerak-gerak, ini pertanda yang jauh lebih buruk.
"A-apa maksudmu?"
Noah memberi kode pada dua pengawal bertubuh seperti monster itu untuk mengikat kedua tangan Reanne.
"Kalian bebas memerkosanya semau kalian. Ingat, jangan biarkan dia mati dengan tenang."
Reanne berteriak kencang. Ia menangisi nasibnya yang kacau dan kali ini Reanne benar-benar berharap untuk mati.
...
Suara mobil yang melaju kencang ke sepanjang jalan yang kosong itu terlihat mengerikan. Ini pagi buta dan hanya ada satu mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Seorang pria muda di dalamnya tengah menyetir mobil dengan tenang, di telinganya, sebuah earphone kecil menempel. Ia sedang bertelepon dengan seseorang.
"Iya, Dad. Aku sedang dalam perjalanan, sudah ku katakan pada Paman Zack untuk membawakan suratnya padamu."
"Aku hanya khawatir, Aaron. Kau tidak memberi kabar tentang ini sebelumnya. Kau tahu bagaimana marahnya ibumu saat mengetahui kau pergi ke luar kota tanpa kabar?"
Aaron, dia tertawa kecil. Oh sungguh, ibunya terlalu berlebihan tentang ini, tapi dia senang kalau ada yang mengkhawatirkan dirinya.
"Maaf. Ya sudah, mungkin setengah jam lagi aku sampai. Katakan pada ibu kalau aku menyayanginya."
"Hati-hati, nak."
Setelah itu sambungannya terputus. Aaron kembali memfokuskan perhatiannya pada jalanan yang sepi ini. Kemarin ia pergi ke London tanpa memberi kabar apapun pada keluarganya, kecuali Axelle. Aaron hanya memberitahu tentang kepergiannya pada Axelle karena menurutnya saudara kembarnya itu bisa sedikit dipercaya.
Asal tahu saja, kemarin ibunya mengadakan acara makan malam bersama keluarga Langford yang mana artinya, ayah dan ibunya itu tengah berusaha untuk menjodohkannya dengan putri sulung Langford yang bernama Brittany. Aaron memang mengenal Brittany sejak ia masih kecil, tapi dirinya tak punya niat sedikit pun untuk menjalin hubungan dengan gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu. Mungkin orangtuanya merasa kalau jika mereka dijodohkan maka semuanya akan baik-baik saja, tapi nyatanya Aaron memang tak memiliki ketertarikan pada Brittany. Jadinya ia meminta Axelle untuk menyembunyikan perihal kepergiannya kemarin.
Karena asyik melamunkan tentang apa yang terjadi kemarin, Aaron tak melihat ada seseorang yang terlihat sedang menyebrangi jalan hingga ia dengan keras menekan rem depan. Decitan ban itu terdengar ketika Aaron menekan rem nya. Ia menatap terkejut pada seseorang yang sepertinya ia tabrak.
Pria itu dengan segera keluar dari mobil untuk memastikan.
Aaron membulatkan matanya.
Ia menatap ngeri pada seorang perempuan yang tergeletak tanpa busana dengan luka di sekujur tubuh dan sekitaran wajahnya. Kepalanya terluka mungkin karena aspal.
Tanpa banyak berpikir lagi, Aaron lekas membawa perempuan asing itu ke dalam mobilnya lalu menjalankan kendaraannya dua kali lebih cepat. Dia akan pergi ke rumah sakit untuk menolong perempuan yang baru saja ia tabrak.
...
"Keadaannya benar-benar memprihatinkan. Gadis itu sepertinya korban pemerkosaan, aku mendapati ada DNA pria di bagian selangkangannya. Luka memar itu sepertinya bekas pukulan, tapi beruntung itu tak melukai tulang dan syarafnya. Bisa kukatakan dia selamat."
Aaron memejamkan matanya. Ya tuhan, dia gadis yang malang.
"Tolong beri dia perawatan yang baik dan beritahu aku tentang keadaannya. Ini kartu namaku, jika ia sudah siuman, cepat hubungi aku," Ucap Aaron. Dokter itu mengangguk mengerti sebelum meninggalkan Aaron sendirian di ruang rawat gadis yang baru saja ia tabrak. Pria itu melirik ke arah ranjang pasien sebelum menghela napas lalu pergi keluar. Ia harus pulang dulu ke rumah untuk meluruskan masalahnya. Ibunya pasti akan memarahinya pagi ini.
Aaron dengan segera beranjak pergi dari sana. Dia mengendarai mobilnya ke arah mansion lebih dulu sebelum kembali lagi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah, kedatangan Aaron ternyata sudah disambut sang ibu di depan teras depan. Sarah menatapnya dengan marah dan khawatir, tapi tak bisa ia pungkiri kalau ia senang putranya pulang dengan selamat.
"Aaron! Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku lebih dulu? Kau tahu betapa aku mencemaskan dirimu, nak?!"
Aaron memberi senyum tipis,"Aku baik-baik saja, Mom. Lagipula aku hanya pergi satu hari."
Sarah mencubit pelan pipi putranya,"Setidaknya beritahu aku, nak. Untunglah kau pulang dalam keadaan baik-baik saja."
Aaron meraih telapak tangan sang ibu lalu mengecupnya,"Maafkan aku. Ini kulakukan untuk menghindari perjodohan yang akan kau dan ayah lakukan. Aku sudah pernah mengatakan kalau aku tak menyukai Brittany, Mom. Dia sudah kuanggap adik bagiku," Balasnya. Sarah terlihat kecewa dengan perkataan putranya, tapi dia sadar kalau Aaron pasti punya alasan kenapa ia tak bisa memenuhi permintaan nya untuk mempersunting Brittany Langford.
Sarah menghembuskan napasnya lalu mengajak sang anak untuk masuk ke dalam rumah. Ya, mungkin Aaron punya calon kekasihnya sendiri dan Sarah tak punya kuasa untuk menentukan kehidupan putranya.
Aaron melihat adik kembarnya tengah duduk di sofa ruang tamu sembari menonton televisi. Axelle itu adalah seorang dokter, asal tahu saja. Walau pribadinya begitu usil, Axelle memiliki otak yang cemerlang hingga kini dia berhasil menggapai mimpinya untuk menjadi dokter.
"Bro, lain kali jika kau pergi, jangan diam-diam seperti kemarin. Kau tidak tahu saja bagaimana kusamnya wajah Brittany tadi malam."
Aaron menghembuskan napasnya, dia melepas jas kerjanya lalu berjalan menaiki undakan tangga, mengabaikan celotehan Axelle yang menyebalkan. Sampai kapanpun dirinya tak akan pernah menjadikan Brittany sebagai kekasih ataupun istri.
Axelle berdecak kesal karena lagi-lagi kakaknya itu tak merespon ucapannya.
"Axelle, sudah kukatakan untuk jangan mengganggu kakak mu seperti itu. Biarkan dia dengan pikirannya dulu," Sarah berkacak pinggang sembari menatap putra nakalnya yang terlihat santai duduk di sofa itu.
Axelle mengendikkan bahunya lalu kembali menonton siaran televisi yang menayangkan saluran olahraga.
Di kamar, Aaron membersihkan dirinya. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Aaron meraih ponselnya yang sedari tadi bergetar lalu mengetahui kalau ada nomor tak dikenal yang menghubunginya.
"Mr.Grissham? Ini aku Dokter Tris, aku ingin mengabarkan padamu bahwa pasien ku sudah siuman."
Aaron menuruni tangga dengan sedikit terburu-buru,"Ya, baiklah. Aku akan segera kesana," Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya lalu berniat untuk kembali ke rumah sakit.
Mata birunya menangkap orangtuanya tengah berkumpul di ruang tamu, tampaknya sedang menikmati waktu bersama.
"Mom, Dad... Aku pergi dulu, ada urusan."
Alex menatap pada putranya yang baru saja pulang itu dengan pandangan bingung,"Kemana? Kau baru saja pulang, Aaron."
Sarah pun begitu, dia menatap tak suka padanya karena putranya itu sering sekali pergi,"Kau bahkan belum sarapan," Timpalnya.
Aaron menggaruk hidungnya,"Aku harus ke rumah sakit, Mom. Tadi di jalanan, aku tak sengaja menabrak seorang gadis hingga ia terluka. Aku mesti bertanggung jawab."
Alex dan Sarah saling pandang,"Kenapa kau tak katakan sedari awal? Bagaimana keadaannya?"
"Aku belum tahu, Dad. Dia baru saja siuman. Ya sudah, aku pergi dulu ya?" Selepas itu, Aaron kembali melangkahkan kakinya menuju mobil lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
...
Reanne memerhatikan seisi ruangan yang ditempatinya ini dengan pemandangan kosong. Awalnya ia mengira kalau dirinya sudah berada di dalam neraka, tapi nyatanya ia masih terjebak di dalam dunia penuh kekejaman ini.
Wanita itu melayangkan tatapannya pada sebuah nampan berisi makanan rumah sakit yang baru saja ditaruh oleh seorang perawat sebelum dirinya kembali sendiri di ruangan ini. Sayang sekali ia tak punya nafsu untuk makan.
Air matanya mengalir, Reanne merasa kalau hidupnya tak ada artinya lagi. Ia wanita kotor dan bahkan jauh lebih kotor lagi.
Dia menekuk lututnya lalu menyembunyikan wajahnya disana, membuat rambut panjang Reanne yang kusut terlihat sangat mengerikan. Tadi ia mendengar dokter yang sedang menghubungi seseorang, apa jangan-jangan orang itu yang telah membawanya ke rumah sakit ini?
Setelah beberapa lama memikirkan nasibnya ke depan, pintu ruangannya dibuka pelan. Reanne enggan untuk mendongak, ia tidak menyukai siapapun sekarang ini. Dia hanya ingin mati.
"Nona?"
Ia merasa tertarik dengan suara yang berat itu, lantas Reanne mendongak lalu matanya bertatapan dengan mata biru seorang pria muda yang kelihatannya orang kaya.
Orang itu meraih kursi lalu duduk di samping ranjang pasien yang ditempati Reanne. Dia mengulurkan tangannya, hendak menyapa Reanne.
"Aku Aaron, Aaron Grissham. Tadi pagi aku tak sengaja menabrakmu dan--"
"Kenapa Tuan menolong ku?"
"Maaf?"
Air mata Reanne kembali mengalir membasahi pipinya, ia menatap kesal pada pria bernama Aaron yang tampak baik-baik saja.
"Kenapa Tuan tak membiarkan aku mati saja?!"
Aaron semakin mengerutkan dahinya. Dia menarik tangannya lagi lalu mengeluarkan sapu tangan dari balik mantel yang ia kenakan sebelum memberinya pada Reanne.
Wanita itu menepis tangan Aaron hingga sapu tangannya terjatuh. Reanne enggan untuk berbicara lagi, dia kembali tidur menyamping lalu menangis.
"Maaf kalau kehadiran ku membuatmu tak merasa nyaman. Namun aku sudah mendengar hasil diagnosa dari dokter bahwa kau--"
"Jangan diteruskan. Aku tidak mau dengar dan kumohon biarkan aku sendiri."
Aaron dengan segera berdiri, dia meraih bahu Reanne dan menariknya perlahan. Dia tahu bagaimana cara melunakkan hati wanita keras kepala, karena ia sudah banyak mempelajari tentang wanita.
"Nona, mari kita berbicara. Aku akan membantumu jika itu yang kau inginkan, tapi tolong, jangan buat dirimu seperti ini," Aaron mengusap bahu Reanne ketika mengetahui kalau wanita itu terlihat agak rileks.
Sepertinya usahaku berhasil.
Reanne kembali menatap Aaron, wanita itu mendudukkan dirinya dan menarik napas,"Namaku Reanne Lee."
Itu sebuah kemajuan karena akhirnya Reanne mau kembali berbicara.
"Reanne, aku minta maaf sebelumnya karena mengatakan ini, tapi dokter mengatakan kalau ada yang salah denganmu. Apa kau memang korban pemerkosaan?"
Reanne menundukkan kepalanya, ia memainkan jemarinya yang bergetar, tapi perlahan ia menganggukkan kepalanya.
Aaron tak lagi berbicara. Dia tahu ini pasti hal yang menyakitkan untuk Reanne.
"Aku... Seorang *******. Apa... Apa kau tak merasa terganggu denganku, Tuan?"
Lagi-lagi wanita itu bicara hal tak masuk akal. Aaron menarik kursinya lagi lalu duduk di atasnya,"Bagiku kau tetap manusia, Reanne. Tidak ada bedanya."
Reanne merasa nyaman dengan kata-kata itu karena sebelumnya pria-pria yang menidurinya hanya menganggap dia seonggok daging pemuas nafsu, baru kali ini ada yang menghargainya sebagai manusia.
"Tuan, terima kasih karena telah membantuku. Anda baik sekali."
"Tidak masalah, lagipula aku bertanggung jawab karena telah menabrakmu. Kalau begitu, aku akan berbicara dengan dokter terlebih dahulu. Aku pergi dulu."
Aaron berdiri dari sana, dia berjalan ke arah pintu lalu menekan tuasnya ke bawah, ia berniat untuk membicarakan perihal kesehatan mental yang diderita Reanne. Mana tahu wanita itu bisa menghilangkan bayangan pemerkosaan yang sudah ia alami itu.
Sebelum pria itu benar-benar pergi, Reanne kembali bersuara.
"Tuan Aaron, sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena Anda telah menolongku. Andai aku bisa membalas kebaikanmu."
"Tidak masalah, Reanne."
Aaron pun memilih keluar dari ruang perawatan Reanne untuk menemui dokter. Reanne merasa tak enak hati dengan pria yang sudah menolongnya itu, dia berpikir keras, apakah ada hal yang bisa ia lakukan untuk balas budi? Namun apa? Aaron terlihat telah memiliki segalanya.
Wanita itu lantas melirik sapu yang ada di sudut ruangan. Ada sebuah ide yang tercetus di kepala cantiknya itu.
"Apa sebaiknya aku menawarkan diri untuk bekerja di rumahnya ya? Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih dan juga jika aku bekerja, aku pasti akan dapat uang."
Terkutuk lah ia karena memanfaatkan keadaan ini.
...
A/n : Halo❤️
Apa ada yang masih nyimpen cerita ini? Hehe, saya mau kasih kabar gembira🥳
Buku Grissham Series pertama udah Open PO 🔥🔥🔥❤️
Open PO : 22 Februari 2020
Close PO : 07 Maret 2020
Saya upload ini sebagai teaser buat novel kedua nanti yang akan ikut terbit hehe. Grissham Series pertama nanti akan ada bonus notebook dan postcard