
Alex menjabat tangan pria tua yang baru saja menyetujui usulannya untuk mengembangkan resort miliknya yang terletak di sebuah pulau yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Aku memercayakan kinerja yang kau punya, Mr.Grissham. Aku sudah dengar banyak tentangmu dan aku sangat-sangat beruntung karena kau berniat untuk melakukan bisnis denganku."
"Terimakasih atas sanjungannya, Mr.Stines."
Pria tua itu menepuk bahunya,"Aku dengar kau baru saja menikah ya? Wahh... Pria muda sukses seperti mu memang patut untuk segera menikah. Aku ucapkan selamat atas pernikahan mu dan maaf karena saat itu aku belum bisa menghadiri acara mu," Katanya dengan nada menyesal. Alex memang memberinya undangan pernikahan, tapi urusannya di Australia begitu pelik hingga ia tak punya banyak waktu untuk melakukan penerbangan.
"Tidak masalah, Mr.Stines. Ah ya, aku menyukai hadiah pernikahan yang kau berikan saat itu."
Julio Stines terkekeh pelan. Ia kembali menepuk pundak Alex lalu dengan segera pamit undur diri. Pria tua itu punya banyak urusan lainnya.
Alex menghela napas lega. Setidaknya hari ini berjalan lancar tanpa ada hambatan. Ia merasa beruntung sekali karena Julio mempunyai waktu untuk bertemu dengannya tadi. Sehabis pertemuan ini, Alex akan pergi ke Resort De Paula bersama dua sekretarisnya dan juga Zack untuk mengobservasi tempat itu sekaligus memikirkan rencana-rencana pembangunan fasilitas disana. Dia masih punya banyak kesibukan lainnya dan berharap saja semuanya bisa selesai lebih cepat agar ia bisa kembali ke Kanada untuk berkumpul bersama keluarga kecilnya.
...
Sarah mencium gemas pipi Alaina. Ulahnya itu sukses membuat Alaina tertawa meski tak terlalu keras suaranya. "Kau suka ibu membuat lelucon untukmu, sayang? Iya?"
Ia kembali mengecup gemas kedua pipi putrinya yang gemuk. Alaina baru saja meminum susunya, tapi gadis kecil itu belum merasa mengantuk.
Dia melirik ponselnya di atas nakas. Alex belum menghubunginya dari tadi dan ini sudah dua hari sejak kepergian pria itu ke Melbourne. Sarah sudah berusaha untuk mencari waktu yang tepat, tapi selalu tak ada jawaban.
Ia menghela napasnya lelah,"Apa Alaina juga merindukan Daddy? Kau ingin mendengar suara Daddy, sayang?"
Alaina menatapnya tanpa kedipan. Bibirnya terbuka sedikit sebelum Sarah mendengar ada celotehan kecil dari bibir putrinya itu,"Tapi sepertinya ayahmu sedang sibuk hari ini, bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat? Kau mau pergi ke tempat Grandma?"
Tangan Alaina bergerak-gerak dan Sarah mengartikan itu sebagai tanda setuju. Ia dengan segera meraih tubuh mungil Alaina, membawanya ke kamar anak-anaknya lalu memanggil salah seorang pelayan kepercayaannya untuk membantunya bersiap-siap.
Sarah sudah mengetikkan sebuah pesan kepada mertuanya kalau dia dan si kembar akan pergi ke mansion keluarga hari ini lalu setelah semua perlengkapan sudah siap, Sarah meminta supir untuk mengantar mereka ke tempat Marilyn.
Sesampainya, kedatangan mereka disambut gembira oleh Marilyn. Wanita tua itu bahkan terlihat sangat ceria melihat Sarah dan si kembar yang hadir.
"Dimana Alex? Kalian tak pergi bersama?"
"Alex sedang ada urusan bisnis di luar kota, Mom. Ia pergi dua minggu."
Marilyn menangkap guratan kerinduan di mata menantunya itu. Seperti yang mereka semua ketahui, Alex memang seringkali pergi ke tempat yang jauh hanya untuk bisnis. Bahkan dulu pernah lebih parah, saat tahun ketiga jabatan Alex di perusahaan, pria itu pergi selama satu bulan ke China dan Brazil. Marilyn tak bisa menghentikan tindakan itu karena menurutnya Alex melakukan semuanya hanya untuk memajukan perusahaan yang keluarganya bangun. Walau bagaimanapun juga, Marilyn tetap bangga dengan pencapaian putranya tersebut.
"Tidak apa-apa, Sarah. Lagipula Alex pergi bukan untuk liburan atau bersenang-senang, dia sedang bekerja."
Sarah mengangguk lemah. Memang Alex pergi untuk bekerja, tapi siapa yang bisa menolak rasa rindu yang kian mengembang di dalam hati ini? Ditambah sudah dua hari sejak obrolan terakhir mereka. Alex tak menepati janjinya dengan menghubunginya setiap hari.
"Sarah? Hey? Sudahlah, dia pasti juga sedang merindukanmu disana, tapi ia belum punya kesempatan pas untuk menelepon mu ditambah perbedaan waktunya mungkin lumayan jauh," Ucapan Marilyn membuat Sarah tersadar seketika. Wanita itu lantas tersenyum kikuk pada mertuanya lalu ia mengikuti Marilyn untuk masuk ke dalam rumahnya.
Si kembar berada di stroller nya. Mereka semua belum tertidur.
Marilyn meraih Alaina lalu menciuminya gemas,"Entah ini perasaanku saja atau tidak, tapi Alaina benar-benar mirip seperti Elle. Dia punya garis mata yang sama seperti mendiang putriku dulu."
Sarah tak membalas ucapannya, ia lebih tertarik melihat ekspresi Marilyn yang seperti kehilangan cahaya dari pancaran matanya. Sarah tahu kalau Marilyn sedih, siapapun yang merasakan kehilangan tahu bagaimana perasaan Marilyn saat ini.
"Aku bersyukur karena Alex membuat keputusan tepat untuk merubah perilakunya. Kau tahu Sarah, alasan kenapa aku selalu ikut campur dengan semua urusan putraku?"
"Bukan, nak. Alasan utamaku adalah karena aku takut Alex melukai dan membenci perempuan selamanya. Aku tahu dia anak yang punya rasa dendam pada sesuatu yang pernah menyakitinya dan aku takut kalau putraku tak segera merubah diri, ia akan menyakiti kau ataupun Alaina. Aku selalu takut Sarah, hatiku tak pernah tenang saat mendengar berita kalau kau dan Alex menjalin sebuah perjanjian tak masuk akal itu. Aku selalu mewaspadai semua hal yang tidak pernah aku inginkan."
Wanita tua itu menghela napas lelah,"Ia selalu bermain-main seumur hidupnya. Merendahkan harga diri wanita dengan meniduri mereka lalu membuangnya di kemudian hari. Itulah yang membuatku berpikir untuk memberi Alex sedikit pelajaran agar ia bisa lebih menghargai wanita."
"Alex yang sekarang sudah berbeda, Mom. Ia mencintaiku dan Alaina, dia tidak terlihat seperti saat pertama kami berjumpa. Aku tahu Alex merasa bersalah atas semua yang ia lakukan terlebih lagi padamu, Mom. Ia pernah bercerita padaku kalau dirinya takut kau tak akan bisa memaafkan semua kebodohannya," Balas Sarah. Ia menyentuh punggung tangan mertuanya yang terlihat menua sembari tersenyum.
"Aku selalu ingat ucapannya kalau tidak seharusnya kita melihat hal yang sudah lewat karena ada masa depan yang jauh lebih menakjubkan untuk kita rangkai menjadi sebuah kisah kehidupan yang lebih baik."
Marilyn tertawa kecil. Ya, itu ada benarnya juga. Masa lalu tak perlu untuk diungkit lagi. Untuk apa ia mengorek kembali aib putranya sendiri?
Dia kembali menatap Alaina lalu memberinya senyuman,"Aku selalu tahu kalau Alex punya banyak rasa cinta dalam hatinya. Terimakasih untuk mu, Sarah. Setidaknya karena mu, putraku bisa mengerti apa arti cinta yang sebenarnya."
Sarah mengangguk. Ia juga ingin berterimakasih pada Marilyn, berkat berita konyol itulah dirinya bisa menjadi seperti ia sekarang ini. Sarah tak pernah menyangka kalau semua air mata yang pernah ia keluarkan akan berhadiah rasa bahagia yang sekarang ia miliki. Sarah tak pernah mampu untuk menebak hidupnya.
"Jadi, apa ada rencana bulan madu? Pernikahan sudah jalan 2 bulan kan? Apa Alex tak pernah mengajakmu untuk berbulan madu?"
Tiba-tiba pipi Sarah merona. Ia memalingkan wajahnya seketika lalu mengusap hidungnya,"I-itu, si kembar tak mungkin ditinggal, Mom. Kasihan mereka."
"Ya ampun Sarah! Kalian masih punya aku untuk menjaga mereka. Kau harus pergi bulan madu bersama Alex!"
Sarah menundukkan wajahnya. Ini benar-benar pembahasan yang memalukan. Sarah tak bisa membayangkan apa saja yang akan Alex lakukan padanya selama mereka bulan madu. Yang jelas, Sarah tak mungkin harus hamil lagi bukan setelah pulang dari bulan madu?
"Sarah? Kenapa jadi melamun?"
"Ah tidak apa-apa, Mom. Mungkin aku akan mendiskusikan ini nanti bersamanya."
...
Tak terasa dua Minggu telah terlewati dengan baik. Alex pulang sesuai dengan janjinya. Ia selalu berdecak kesal saat Sarah mengiriminya foto-foto si kembar, membuat dirinya kian dilanda kerinduan yang mengerikan.
Malam itu, Alex sampai di mansion. Ini benar-benar tengah malam, tapi untungnya Alex sudah mengingatkan pelayan rumah untuk jangan mengunci pintu lebih dulu. Zack membantunya masuk ke dalam rumah sebelum pria itu pamit untuk pulang. Alex menghela napas lega, ia membiarkan kopernya tetap di lantai bawah sedangkan kakinya melangkah ke arah tangga. Alex membuka pintu kamar si kembar terlebih dahulu, ia berjalan pelan ke dalam kamar anak-anaknya lalu menutup pintu. Dia menatap tak sabaran ke arah tiga ranjang bayi dimana anak-anaknya tengah tertidur. Alex akhirnya bernapas lega saat menatap malaikat-malaikat mungilnya ini.
"Ya Tuhan, Daddy benar-benar merindukan kalian!" Dia mengusap pipi Alaina, ia mengangkat tubuh kecil gadisnya lalu menimangnya.
Lihat, baru dua minggu ditinggal, tapi rasanya Alex sudah melewatkan momen perkembangan mereka. Alaina tampak lebih gemuk dari yang terakhir kali ia lihat dan semakin manis.
"Cintaku... Daddy rindu sekali denganmu."
Seakan mendengar ucapannya, Alaina perlahan membuka matanya. Ia menggeliat kecil dengan lirihan khas bayi yang keluar dari bibir mungilnya.
"Alaina, apa kau merindukan Daddy juga?" Gadis kecil itu mengeluarkan tawanya. Matanya bergerak-gerak menatap mata sang ayah yang ia rindukan.
"Tidurlah lagi, nak. Besok pagi kita bermain, ya?" Ia mencium kening anaknya lalu menimang Alaina hingga anak itu kembali terlelap. Perlahan Alex menaruh Alaina kembali lalu menyelimutinya.
Sama halnya dengan kedua jagoannya. Setelah menggendong mereka satu persatu sembari melepas rindu, Alex pergi ke pintu penghubung antara kamarnya dan kamar si kembar. Ia juga begitu merindukan istri cantiknya itu. Sesuatu yang begitu sayang jika dilewatkan.
...