Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 43



Sarah menghembuskan napas lega ketika kakinya berhasil sampai di salah satu kota kecil di Florida. Tempat itu tidak sepadat perkotaan pada umumnya. Mereka lebih senang disebut sebagai pedesaan kecil yang nyaman dan sunyi. Joanna mengarahkan Sarah untuk menunggu di terminal bus dimana dia berhenti karena keponakan Joanna akan datang menjemputnya. Sarah membawa beberapa lembar uang pemberian Joanna serta pakaian ganti. Betapa baik wanita itu dan Sarah berjanji kalau suatu saat nanti dia akan membalas jasa yang telah Joanna berikan untuknya.



Sekitar dua puluh menit menunggu, ia mendengar bunyi mobil yang cukup keras, menandakan betapa tuanya mobil tersebut. Lantas ia menoleh ke arah sumber suara, mendapati ada sebuah mobil tua yang tampak kotor karena lumpur yang menutupi sekitar jalan.



Seorang pria seusianya turun dari mobil jeep tersebut. Pria itu memiliki rambut pirang pucat dengan mata hijau yang cerah. Ia memakai kaus putih dengan dipadukan jaket kulit warna madu. Ia celingak-celinguk mencari seseorang sampai akhirnya mata mereka bertemu.



Ia menjentikkan jarinya kemudian berlari kecil mendekati Sarah.



"Apa kau benar Nona Sarah Heather?"



Sarah takut jika pria yang sedang bertanya padanya ini merupakan anak buah Alex atau siapapun yang juga mengenal Alex. Dia akhirnya memikirkan sebuah nama,"Millie. Aku Millie," Jawabnya.



Laki-laki itu pun segera menaikkan satu alisnya, ia menatap Sarah tak enak karena merasa salah orang,"Benarkah? Tapi foto yang dikirim Bibi Joanna tampak sepertimu. Maafkan aku kalau begitu," Balasnya.



Sarah terkejut. Ia langsung mengibaskan tangannya dan memberikan senyum kecil pada pria pirang ini,"Ma-maafkan aku. Yang kau cari itu memang diriku. A-aku hanya takut kalau kau orang jahat," Ucap Sarah.



Pria tadi lantas tertawa kencang. Ia membawa tangannya ke pinggang sambil menggeleng kecil pada Sarah,"Baru kali ini ada perempuan yang mengira kalau aku orang jahat. Baiklah Nona Sarah, biar aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu--"



Ia mengulurkan tangan kanannya,"Namaku Joseph Pevensie Junior. Orang-orang disini biasa memanggil ku Jo atau Junior. Aku mengurusi peternakan milik kakek ku dan tentu saja pandai berkuda. Kuharap kau bisa berteman denganku disini," Lanjutnya. Sarah mengangguk kecil sembari menyambut tangan Joseph, sepertinya Joseph adalah pria yang periang dan tentu saja begitu friendly, sangat bertolak belakang dengan sifat Alex.



Hatinya tiba-tiba meringis sakit saat ia kembali mengingat nama itu. Entah saat ini apa yang sedang Alex lakukan, apakah pria itu mencarinya atau mungkin menyerah lalu mencari wanita lain?



"Sarah? Kau melamun ya? Ayo sebaiknya kita pulang agar kau bisa beristirahat."



Sarah segera mengangguk lalu mengikuti Joseph yang tengah membawa tas miliknya ke dalam mobil.



Perjalanan mereka memakan waktu dua puluh menit. Sepanjang jalan, Joseph selalu berceloteh mengenai daerah White Springs yang hanya diisi tidak lebih dari seribu orang serta hal-hal menarik lainnya. Dia juga menjelaskan kalau ada beberapa acara di setiap musim yang sudah menjadi tradisi di tempat ini dan ia ingin Sarah mengenali budaya daerah mereka.



"Lalu bagaimana denganmu Sarah? Bagaimana tinggal di kota besar seperti Jacksonville?"



"Uhm, ya begitulah. A-aku tidak benar-benar menikmati hidup di perkotaan," Jawabnya. Ia menutup pintu mobil lalu mengikuti Joseph ke arah rumah kayu yang sederhana dan luas.



"Ya, aku mengerti. Orang kota kadang menyebalkan bukan? Jadi itu sebabnya kau bertengkar dengan suamimu?"



Sarah menggigit bibirnya,"Apa maksudmu?"



Joseph menunjuk perut Sarah dengan dagunya,"Siapapun tahu kalau kau sudah menikah, Nona."



Sarah menundukkan wajahnya karena malu. Apa boleh buat, ini adalah konsekuensi atas segala hal yang sudah ia putuskan bukan?



Wanita itu mengusap perutnya dan merasakan tendangan yang cukup kuat hingga membuat dia meringis.



"Kau baik-baik saja?" Tanya Joseph. Ia tampak cemas mendengar ringisan Sarah,"Tidak apa. Bayiku hanya menendang," Balasnya.




Joseph menunjukkan sebuah kamar di lantai bawah untuk Sarah. Dia mengatakan kalau wanita itu bisa beristirahat sejenak sedangkan dirinya masih harus memandikan kuda-kuda di istal dan membersihkan kandang.



Sarah menutup pintunya rapat. Matanya menatap ke semua titik di kamar ini yang benar-benar asing baginya. Dia duduk di pinggir ranjang untuk satu orang lalu mengusap perutnya kembali.



"Maafkan Mommy ya, sayang? Saat ini kita harus berpisah dari Daddy, tapi hanya sementara kok. Mommy sedang tak ingin melihatnya. Semoga kalian setuju ya nak?" Ucapnya sambil terus mengusap lembut perutnya yang berisi buah cintanya itu. Berawal dari perjanjian lalu menjadi sebuah kerumitan yang tak Sarah pikirkan pada akhirnya. Dia pun tak tahu kenapa dia harus melabuhkan hatinya pada Alex yang jelas-jelas tak mungkin mendapatkan cintanya. Dia hanya... tak punya jawabannya. Seperti kata Joanna, Alex yang akan mendatangkan jawaban itu untuknya nanti.



Sarah membuka isi tasnya lalu mengeluarkan beberapa pakaian sebelum menyimpannya rapi di lemari kecil. Wanita itu mengusap perutnya sekali lagi, merasakan kalau bayi-bayinya menolak keputusan Sarah.



"Tenang sayang, kita hanya berpisah sebentar dengannya," Ucapnya. Tendangan dari dalam perutnya begitu kuat hingga ia beberapa kali meringis sakit.



Sarah meraih handuk lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.



...



Alex terdiam di dalam mobil sudah hampir satu jam. Ia kehilangan arah, sejak kemarin Sarah tak bisa ia temukan. Alex sudah mengunjungi setiap hotel ataupun penginapan kecil, berharap kalau Sarah berada di salah satu tempat itu, tapi ia tak menemukan apapun yang berarti. Wanita itu cepat sekali menghilang.



Dia memukul kemudi mobil beberapa kali sebelum mengacak rambutnya frustasi. Alex tak bisa melacak keberadaan Sarah karena wanita itu meninggalkan ponselnya. Hal ini bisa membuatnya semakin menggila ditambah pemikiran buruk yang mungkin terjadi semakin menambah kacau hatinya.



"Sarah, kau dimana?" Gumamnya frustasi. Alex tersentak saat dering ponselnya terdengar cukup kuat. Ia meraih ponselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya hari ini. Nama Leah tertera di layar ponsel itu, Alex menghela napasnya sebelum menekan tombol hijau.



"Ada apa?"



"Astaga, kenapa kau tak bisa kami hubungi sejak kemarin? Ada hal penting yang ingin aku dan yang lain tanyakan. Kau harus jujur pada kami."



"Apa?" Balasnya tak minat.



"Kenapa kau tak bilang kalau Reginald berada disini karena mu hah? Kau kenapa tak mengatakan pada kami?"



"Leah, aku sedang tak ingin membahas mengenai itu. Sarah hilang," Jawabnya.



Alex menjauhkan benda itu dari telinganya ketika terdengar suara Leah yang kaget. Tentu saja kan? Siapa yang tidak kaget mendengar kata-kata Alex barusan?



"Hilang bagaimana?! Apa yang kau lakukan padanya Alex? Ya Tuhan, kenapa bisa sampai seperti ini?"



Alex memejamkan matanya, dia memijat keningnya karena pusing. Hari sudah hampir gelap dan dia masih belum bisa menemukan Sarah sejak kemarin. Dia benar-benar tidak tahu dimana Sarah berada. Rumah wanita itu kosong bahkan para tetangga tak pernah melihat Sarah berada di sana.



"Cerita panjang. Aku akan menghubungi kalian jika terjadi sesuatu," Lalu Alex pun mematikan ponselnya kembali. Dia menghidupkan mesin mobilnya, kembali menyusuri jalanan di Jacksonville dan berharap menemukan petunjuk. Sekecil apapun itu.



...