Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 39



Pemeriksaan terakhir pagi ini telah selesai. Dokter mengatakan pada Sarah untuk selalu berhati-hati dan waspada di setiap keadaan.



Marilyn membantu Sarah untuk bersiap-siap pulang. Wanita tua itu begitu khawatir dengan kondisi Sarah dan mengutuk siapapun itu yang telah membuat Sarah seperti ini.



"Apa kau ingin makan sesuatu, Sarah? Kita bisa mampir dulu," Tanyanya. Sarah hanya tersenyum kecil, ia begitu senang karena Marilyn mampu menggantikan peran orangtuanya dengan bersikap baik seperti ini. Beruntunglah Alex karena ia masih punya ibu sebaik Marilyn.



Alex menoleh ke kursi belakang,"Kau mau cream soup?"



Sarah lantas menggeleng. Ia tak ingin makan apapun, dia hanya ingin beristirahat di rumah lalu menenangkan pikirannya. Yang ia dengar, wanita hamil sepertinya tidak boleh stres karena bisa saja memengaruhi perkembangan bayinya dan Sarah tak mau hal itu sampai terjadi.



"Aku mau pulang saja," Jawabnya kemudian. Alex menghela napas sejenak sebelum kembali menghadap ke depan. Ia melirik tangan kanannya yang diperban, rasanya pukulan-pukulan yang didapat oleh manusia hina itu belum cukup dan tak akan pernah cukup. Namun, ia masih waras untuk tak membunuh Edric dan keluarganya semalam.



"Mom akan menjaga Sarah sampai satu minggu ke depan. Aku tak mau kejadian serupa kembali terjadi," Ucapnya dan Alex menyetujui itu. Selama Sarah aman bersamanya, itu tak akan menjadi masalah yang besar.



Mobil mereka akhirnya berhenti di pekarangan rumah. Marilyn membantu Sarah untuk turun dari mobil lalu membawanya masuk. Alex memerintahkan Zack untuk melakukan pengawasan 24 jam di sekitar mansion dan dia tak ingin ada orang asing yang masuk tanpa seizinnya.



"Mr.Grissham, saya sudah mengasingkan keluarga Lynch ke desa kecil yang jauh, tapi saya akan terus memantau mereka dan memastikan kalau kedua putrinya tak hidup susah," Kata Zack.



Alex mengangguk. Dia tahu kalau Edric adalah pria sialan dan rasanya Alex benar-benar ingin membunuh Edric juga keluarganya. Namun, ia punya pemikiran lebih bijak dengan mengasingkan istri beserta anak Edric ke tempat jauh saja. Itu terdengar lebih baik.



"Aku memercayakannya padamu, Zack. Dan satu lagi, aku tak ingin ada pemberitaan apapun tentangku di media. Segera lakukan peringatan terakhir pada semua stasiun televisi atau apapun itu," Titahnya. Zack mengerti lalu dengan segera pergi dari mansion untuk melakukan tugasnya.



Alex masuk ke kamar di lantai bawah, dimana dia dan Sarah tidur. Kamar ini adalah saksi bisu semua percintaan yang mereka lakukan. Mengingat itu semua, membuat Alex tambah yakin kalau ia memang menyukai Sarah.



Marilyn pergi ke dapur untuk membuat sesuatu, dia berkata kalau para pelayan tak dapat dipercaya begitu saja.



Pria itu lalu menutup pintu dan berjalan ke ranjang, duduk di pinggirnya sembari menatap Sarah,"Kau merasa lebih baik?"



"Uhm, iya. A-aku baik-baik saja," Jawabnya.



Alex mengelus perutnya dengan perlahan, merasakan kedua bayinya di dalam sana,"Dua minggu lagi kau punya jadwal dengan Delilah kan?" Sarah mengangguk, ia nyaris melupakan itu dan tak disangka ternyata Alex mengingatnya dengan baik.



"Apa aku bisa mengetahui jenis kelamin bayiku?"



Sarah seharusnya menduga pertanyaan inilah yang akan Alex layangkan. Wanita itu tak langsung menjawab, dia ikut mengelus perutnya lalu menggenggam tangan Alex.



"Apakah itu penting sekarang? Kupikir semuanya sudah berubah."



Alex menangkap raut kesedihan di wajah cantik itu. Sarah pasti masih terpikir tentang perjanjian mereka.



"Rules are rules, remember?"



"Tapi... Bukankah kau berkata kalau kau ingin memberi kesempatan untuk hubungan kita, Alex?"



"Aku tahu Sarah. Dalam hidupku, aku tak menyangka kalau aku harus punya anak dalam keadaan yang seperti ini. Aku tak menyesalinya, sungguh. Namun, seberapa kuat aku mencoba, tetap saja sama."



Sarah menekukkan bibirnya karena sedih,"Apa itu artinya kau berhenti untuk berusaha? Bahkan sebelum kau memulainya?"



"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya ingin memastikan kalau aku tak akan menyakiti siapapun di kemudian hari."



"Kau sudah menyakiti ku dengan menolak kehadirannya," Balasnya.



Alex mengatupkan bibirnya. Kenapa Sarah selalu berkata seperti ini? Membuat hatinya ikut merasa tercubit.



"Aku tak bilang kalau aku menolaknya, Sarah. Kenapa kau selalu berkata seperti itu? Aku tak berniat untuk menyakiti siapapun, apalagi kau."



Sarah menghela napas. Ia beralih memandang potret bunga yang ada di dinding,"Aku mau pulang."



"Apa?"



"Aku mau pulang ke Florida. Aku rindu Grandma," Jawabnya. Seketika itu pula air muka Alex berubah, ya hingga saat ini dia masih belum menceritakan soal kematian Allison beberapa bulan yang lalu. Sekarang, apa yang mesti ia katakan pada Sarah?



"Kenapa kau mau pulang?"



Sarah menatapnya kesal,"Kau gila ya? Sudah lama aku tak bertemu dengan satu-satunya keluargaku, hanya ini kesempatan bagiku untuk bertemu dengannya mengingat kau mengingkari janjimu dulu," Jawabnya. Ia tentu kecewa karena Alex tak memenuhi ucapannya kala itu. Dia sempat berjanji untuk membawa neneknya ke Kanada, tapi hingga saat ini Alex tak melakukan itu.




"Aku marah padamu, Alex. Bisa-bisanya kau menahan ku disini," Balasnya.



Alex menyerah, Sarah benar-benar keras kepala. Namun, disisi lain wanita itu juga benar. Lagipula, ia bisa menjelaskan perlahan padanya dan ia yakin kalau Sarah bisa mengerti.



"Baiklah, kita ke Florida."



Sarah membelalakkan matanya,"Kita? Kau juga pergi?"



Alex mengangguk,"Tentu saja aku harus ikut. Kau tahu kan, kejadian kemarin bisa saja terjadi lagi dan aku tak mau hal itu mencelakakan jagoan-jagoan ku."



Termasuk kau.



"Ya sudahlah. Jadi kapan kita berangkat?"



"Setelah jadwal pemeriksaan kandunganmu."



...



Jadwal pemeriksaan dengan Delilah akhirnya datang juga. Saat ini Sarah sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit, menunggu dokter cantik itu melakukan tugas pentingnya. Di pemeriksaan kali ini, Marilyn turut hadir, dia tahu kalau Alex dan Sarah akan melakukan pemeriksaan.



"Sudah berjalan 28 minggu ya, Nona Sarah? Kandungannya berkembang baik, mereka sepertinya senang di dalam sana." Kata Delilah.



Sarah tak dapat menahan senyumnya. Hampir setiap malam, sebelum tidur, ia menyanyikan lagu pengantar tidur untuk bayi-bayinya sambil mengelus lembut perutnya yang besar. Jadi wajar kan kalau mereka senang?



Dokter Delilah terus menggerakkan alat USG itu untuk melihat jenis kelamin si bayi. Tentu saja Sarah dan Alex penasaran dengan bayi mereka.



Alex berdiri di samping Sarah, matanya memandang was-was pada monitor yang memperlihatkan bayinya walau tidak jelas.



"Apa aku bisa tahu jenis kelamin mereka?" Tanya Alex. Delilah mengangguk sambil tersenyum, dia memerhatikan dengan jelas monitor itu untuk melihat bayi-bayinya.



Sarah merasa gugup seketika. Perasaannya tidak enak dan dia yakin kalau siapapun bisa melihat itu.



Ruangan itu hening untuk beberapa saat hingga terdengar decakan bahagia dari Delilah yang membuat Sarah sedikit kaget.



"Selamat Mr.Grissham dan Nona Sarah--"



Delilah menatap keduanya bergantian lalu melanjutkan kata-katanya,"Kalian akan punya dua jagoan yang tampan dan--"



"Mereka laki-laki?!" Alex tak dapat menahan keterkejutannya. Dia yakin jika saat ini debaran jantungnya kian meningkat, apalagi saat dokter itu mengangguk sebagai jawabannya.



Delilah tersenyum bahagia, dia tahu kalau Alex dan Sarah sangat menantikan jenis kelamin bayi mereka ini.



"Aku... Aku tak percaya ini. Aku punya dua bayi laki-laki? Mom, ini bukan mimpi kan?"



Marilyn ikut bahagia melihat putranya seperti sekarang. Dia menepuk pelan pundak Alex dan menatapnya lembut,"Aku juga senang mendengarnya, nak."



Sarah merasakan air matanya keluar, ia mengelus sayang perutnya sambil membisikkan kalimat cinta. Betapa ia sayang dengan dua jagoannya ini. Untuk sejenak, Sarah bisa melupakan semua keterpurukan yang sedang terjadi di sekelilingnya dan berbahagia.



"Kondisi bayi dan ibunya sejauh ini baik-baik saja. Apa Nona ada keluhan lain?"



Sarah menggeleng, keluhan apapun itu tak akan menandingi rasa bahagia di dalam hatinya. Oh Tuhan, Sarah semakin tak sabar menantikan kehadiran anak-anaknya ini.



Delilah menjelaskan beberapa hal tentang kehamilan Sarah yang memasuki trimester terakhir atau apa saja yang mesti wanita itu hindari. Dia juga menyarankan untuk tidak meminum terlalu banyak obat-obatan karena itu bisa berdampak buruk pada perkembangan bayinya.



Setelah mendengarkan penjelasan itu, mereka pun akhirnya pergi karena dua jam lagi, pesawat yang mereka tumpangi akan segera berangkat menuju Florida.



"Alex, kalian pergi saja duluan. Aku akan menelepon Cole untuk menjemputku disini sekalian aku ingin menanyakan beberapa hal tentang kehamilan pada Dokter Delilah," Ujar Marilyn. Alex dan Sarah hanya mengangguk lalu berpamitan pada Marilyn.



Pria itu berjalan ke parkiran lalu membuka pintu mobil untuk Sarah. Mereka perlahan pergi meninggalkan rumah sakit untuk sampai ke bandara. Kali ini ada masalah lain yang mesti Alex tangani dan ia harus sebisa mungkin menahan rasa kecewa juga kesedihan Sarah.



...