
Sarah bergidik, matanya sudah ditutupi oleh kabut gairah, ketika Alex dengan mudah menyentuh inti dari tubuhnya lalu memainkannya dengan gerakan yang membuat Sarah melayang. Sedikit sakit pada awalnya, ketika Alex mencoba untuk memasukkan satu jarinya tapi tatapan pria itu seakan membakar Sarah dalam kubangan penuh gairah.
Sarah mendesah tertahan, matanya memejam erat saat sebuah gelombang kenikmatan menghantamnya hingga ke atas langit.
"Ya, seperti itu Sarah. Mendesahlah karena ku," Bisik Alex.
Sarah tak dapat berpikir jernih, ia membuka matanya dan disitulah dia bisa memandang manik biru pudar milik Alex yang tengah menatapnya penuh minat.
"A-alex, aku rasa aku akan--"
"Lepaskan saja. Aku ingin merasakannya," Potong pria itu. Alex mencium bibir Sarah dengan rakus, tidak memberikan kesempatan bagi Sarah untuk sekedar berteriak nikmat. Ciuman itu sedikit meredakan desahannya yang begitu sialan.
Alex menjauhkan wajahnya dari Sarah, dia menatap penuh arti pada bola mata hitam gadis itu sebelum menjilat satu jarinya cukup lama. Sarah memerhatikan itu semua dengan wajah yang merah padam, dia tahu ini salah tapi semuanya sudah begitu tanggung dan Sarah akan membiarkan gairahnya yang berkuasa untuk malam ini. Biarlah penyesalan akan ia rasakan belakangan.
"Rasamu manis, seperti ekspektasi ku."
Alex menjauhkan tubuhnya dari Sarah, dia melepas celananya hingga bukti gairahnya terpampang jelas di depan Sarah. Gadis itu sedikit khawatir, bukannya apa, ini adalah yang pertama untuknya dan lagipula Alex benar-benar pria yang perkasa. Ia merasa takut dan penasaran disaat yang sama.
"Aku akan memanjakanmu, Sarah. Tak perlu takut," Pria itu mengelus pipi kanannya dengan lembut sebelum kembali menindih Sarah, memposisikan dirinya di antara tubuh gadis itu dan mengecupi sekujur wajah Sarah.
"Alex... Jangan terlalu cepat, ini yang pertama untukku,"
Alex menggeleng sembari tersenyum penuh godaan,"Justru akan sangat berbahaya jika aku bergerak lambat,"
Alex mencium bibir Sarah sebelum memasukkan bukti gairahnya ke dalam tubuh Sarah secara perlahan. "Cakar saja punggungku jika kau merasa sakit," Sarah memejamkan matanya erat, ia berteriak ketika rasa sakit itu menguasainya. Ia merasa sesak dan seakan dirobek menjadi dua. Sesuai ucapan Alex tadi, Sarah benar-benar mencakar punggungnya sebagai pelampiasan. Bibirnya terkadang mengeluarkan rintihan ketika Alex tetap memaksa untuk menerobos pertahanan yang ia simpan.
"Alex! Kumohon hentikan, i-ini terasa sakit!" Racaunya. Alex tidak menyahut, pria itu menyentak tubuhnya begitu saja ke dalam tubuh Sarah, merobek sesuatu yang menurut Sarah merupakan bagian terpenting dalam hidupnya. Gadis itu menggigit bibirnya, rasanya tetap sakit walau Alex mencoba membuatnya nyaman dengan menciumi wajah Sarah.
Air mata mengalir di sudut mata Sarah. Rasanya benar-benar mengerikan tapi perlahan rasa sakit itu hilang menguap setelah Alex bergerak dengan pelan di bawah sana.
"Jangan takut Sarah, rasa sakitnya akan segera hilang," Bisik pria itu tepat di depan telinga Sarah. Wanita itu mengangguk pelan dan menggumam.
Lambat laun, rasa sakit itu hilang dan digantikan dengan sesuatu yang belum pernah Sarah rasakan di dunia ini. Pinggul Alex bergerak dengan indahnya, menghentak jauh ke dalam sana dengan cara yang cukup untuk membuat Sarah terus mendesah dan mendesah. Wanita itu meraih wajah Alex kemudian mencium bibirnya sebagai bentuk pelampiasan dari kenikmatan di bawah sana dan tentu saja dibalas dengan senang hati oleh pria tampan yang tengah menggagahinya itu.
"Oh Alex... Jangan berhenti!" Pekiknya. Ranjang itu berguncang dengan sedemikan rupa, mengikuti ritme yang Alex ciptakan. Pria itu meraih sebelah dada Sarah dan meremasnya kuat, menambah situasi panas diantara keduanya.
"Sialan Sarah! Kau begitu sempit dan nikmat. Sebut namaku sayang!"
Sarah tidak bisa berpikir jernih lagi, ia terus mendesah dan memekik ketika Alex menghentak tubuhnya seperti orang kesetanan.
"Demi Tuhan, Alex... Sshh,"
Sarah merasa sesuatu akan dengan cepat mengalir keluar dari miliknya, begitu pun Alex, bukti gairahnya semakin keras di bawah sana.
"Tatap aku Sarah. Tatap mataku," Titahnya. Sarah membuka matanya perlahan dan menatap wajah Alex yang sepenuhnya menegang di hadapannya. Detik berikutnya Sarah mengeluarkan desahannya lagi. Tubuhnya bergetar saat pelepasan itu datang menghampirinya pun dengan Alex. Ia menumpahkan semua cairannya ke dalam tubuh Sarah, hingga bisa ia rasakan jika ada sesuatu yang cukup membasahi rahimnya.
Sarah dan Alex kembali berciuman, pria itu menjalankan bibirnya disekitar rahang Sarah kemudian turun ke leher lalu ke payudara wanita itu. Mengecupnya penuh kelembutan di setiap sisinya.
"Sarah, kau sudah menjadi wanita yang luar biasa,"
Wajah Alex kembali berada tepat di depannya. Pria itu mengelus pipi Sarah,"Mulai malam ini kau harus menurut padaku, apapun yang terjadi,"
...
Pagi itu, hujan turun deras. Menciptakan bunyi berisik air yang berjatuhan di atas atap. Sarah terjaga dari tidurnya, dia menatap kosong pada jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Karena hujan ini, langit cukup gelap hingga ia tidak bisa melihat sinar matahari dari luar.
Wanita itu menarik selimutnya hingga benar-benar menutupi leher. Sarah cukup kedinginan walau tubuh pria yang tidur di belakangnya ini tengah memeluknya erat.
Perlahan air matanya mengalir, ia mengingat neneknya di Florida. Kini neneknya pasti tengah bertanya-tanya tentang keberadaannya. Sarah pernah berjanji untuk pulang tapi kini ia tidak akan pernah bisa pulang. Ia hanya bisa berharap Alex menepati ucapannya waktu itu.
Wanita itu mengusap air matanya ketika ranjang kembali bergerak. Dirasakannya sebuah kecupan di tulang selangkanya sebagai bentuk ucapan selamat pagi, mungkin.
"Sarah..."
Suara serak itu menyapanya. Sarah merasakan tangan Alex semakin memeluknya erat hingga ia yakin kalau akan segera kehilangan napas.
Sarah melepaskan tangan Alex kemudian berganti posisi menjadi duduk. Pria itu masih tertidur dan Sarah akan memanfaatkan ini untuk segera membersihkan diri dan menemukan pakaian Alex untuk ia pinjam sementara.
Setelah bermenit-menit di dalam kamar mandi dan mencari pakaian, Sarah akhirnya bisa bernapas lega. Dia keluar dari pintu kamar mandi dan melihat kalau Alex masih tertidur dengan selimut yang menutupi pinggangnya saja.
Dia berjalan ke arah Alex dengan pelan karena selangkangannya masih sedikit nyeri sebelum menyenggol pundak pria itu,"Alex. Kau harus bangun,"
Pria itu tidak memedulikan panggilan Sarah dan tetap terlelap sampai bunyi ketukan pintu terdengar.
Samar-samar terdengar suara Zack di luar sana yang memberi kabar kalau ada seseorang yang ingin menemui Alex.
"Alex! Kau punya tamu," Sarah berbicara setengah berbisik. Dia mendesis karena Alex tetap tertidur seperti sapi. Jadi dia memutuskan untuk mendekati pintu tapi ia kalah cepat. Pintu itu lebih dulu terbuka lebar, menampilkan seorang wanita anggun yang sudah berumur sekitar 50 tahunan. Sarah terkesiap, dia benar-benar kaget melihat kedatangan wanita ini. Ia menjadi trauma, apakah wanita tua ini berniat untuk menamparnya seperti Calyria kemarin pagi?
"Alexander! Bangun dan dengarkan aku!" Seakan tidak melihat Sarah, wanita tua itu berjalan ke arah ranjang dan menuang air dari gelas yang ia bawa, tepat di wajah Alex hingga pria itu terkejut dan terbangun tiba-tiba.
Dia menyesuaikan pandangannya dan ia melihat wajah penuh amarah dari wanita yang paling ia cintai dimuka bumi ini dan wajah Sarah yang masih terkaget-kaget di belakang wanita itu.
"Mommy benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang kau lakukan. Aku sudah dengar semuanya dari orang terpercaya ku kalau kau menyewa gadis untuk hal maksiatmu! Aku tidak pernah mengajarkan hal seperti itu padamu Al!" Cercanya. Sarah menutup mulutnya, wanita anggun ini rupanya ibunya Alex.
Ia semakin tersentak saat wajah ibunya Alex menatapnya tajam,"Ini wanita yang kau sewa, Alex?"
"Mom, aku akan jelaskan--"
"Nikahi dia Alex, Mommy tidak ingin menerima kata tidak,"
Wanita itu berbalik tanpa menunggu jawaban Alex dan dia mendekati Sarah. Dipeluknya Sarah begitu erat,"Maafkan aku sayangku. Karena ku, kau harus terlibat dengan masalah Alex," Bisiknya sebelum meninggalkan kamar itu.
...