
Aku terbangun karena merasakan angin dingin yang kupastikan berasal dari luar sedang berusaha untuk membuatku beku. Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 2 malam yang mana artinya ini benar-benar larut. Di sampingku, Alaina masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang menutupi hingga lehernya, tapi tak kutemui Sarah di sisi ranjang.
Aku beranjak ke pintu balkon yang terbuka, ternyata benar dugaan ku, Sarah berada di sana. Dia sedang berdiri sembari menatapi bulan sabit di atas sana. Aku menyunggingkan senyuman tipis sebelum melangkah tepat di belakang Sarah lalu memeluknya dari belakang.
Sarah sempat terkejut sebentar, tapi detik berikutnya ia tertawa kecil lalu mengusap punggung tanganku dengan lembut.
"Apa yang kau lakukan disini saat tengah malam?"
"Tidak, aku terbangun karena suara Aaron terdengar dari monitor bayi dan sialnya aku tak bisa tidur."
Aku mencium pundaknya lalu menyembunyikan wajahku di sela-sela lehernya. Aroma Sarah selalu membuatku gila, tapi tidak mungkin jika aku mengajaknya untuk bercinta disaat ia baru saja melahirkan satu minggu yang lalu.
"Dia lapar ya?" Tanyaku. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, Aaron memang sering terbangun saat malam seperti ini hanya untuk meminta susu. Dia menggemaskan sekali.
"Iya. Lalu kenapa kau ikut terbangun?"
"Suhunya jadi dingin karena pintu balkon terbuka. Kau tahu aku tak memakai pakaian atas saat tidur," Balasku.
Sarah membalikkan tubuhnya menghadap ku. Ia menyentuh rahangku dengan ujung jarinya sebelum mencuri satu kecupan di sudut bibirku. Belum sempat aku balas menciumnya, Sarah lebih dulu melarikan diri ke dalam kamar sambil terkikik geli. Sialan, dia ingin mempermainkan ku sepertinya.
"Masuklah, kau bisa flu jika berlama-lama diluar sana," Aku tersenyum lalu melangkah masuk kembali ke dalam kamar, tak lupa mengunci pintu balkon.
Aku memutuskan untuk kembali menggunakan kamar lamaku karena hanya kamar ini yang memiliki pintu penghubung ke kamar sebelahnya dimana Aaron dan Axelle tidur. Jika kupaksakan menggunakan kamar di lantai bawah, perlengkapan anak-anakku tak akan muat.
"Alex, apa besok kita akan pergi lagi?"
"Iya. Ada beberapa hal yang mesti kita selesaikan besok."
"Aku jadi semakin tidak sabar. Kau tahu kan, pernikahan adalah salah satu impianku."
Aku terdiam mendengar pernyataan itu. Benarkah setiap wanita memimpikan sebuah pernikahan yang indah dengan lamaran yang romantis juga pria yang setia? Aku heran, kenapa hal semacam itu terlihat begitu didambakan mengingat dulu aku pernah memberi pernyataan kalau pernikahan adalah hal sia-sia, setidaknya itu yang aku pikirkan ketika putus dari Calyria. Namun, pancaran sinar dari mata Sarah menggambarkan betapa ia memuja ikatan suci itu. Aku tak bisa mendebatnya untuk hal ini. Saat kutanya pada Jake kenapa ia ingin menikah, ia hanya menjawab karena itu adalah tanggung jawabnya untuk membahagiakan Abby disamping ingin membangun sebuah keluarga. Apa aku juga menganggapnya begitu? Aku menikahi Sarah karena aku berpikir kalau itu memang harus aku lakukan. Aku mencintainya dan dia juga cinta padaku, kupikir itu adalah alasan tepat kenapa aku harus menikahi Sarah. Namun tetap saja, aku tidak mengerti kenapa?
"Pernikahan seperti apa yang menjadi impianmu?"
Sarah terlihat berpikir sebentar lalu ia menyunggingkan senyum,"Pernikahan damai dengan pria yang kucintai. Aku tak peduli apapun, selama yang aku cinta juga mencintaiku, aku akan baik-baik saja," Jawabnya. Sederhana sekali, tapi mengandung banyak arti. Aku bisa mengerti dengan apa yang Sarah lontarkan tadi, wanita ini tulus. Ia bukan tipe perempuan seperti Calyria atau jalang-jalang yang pernah aku temui di manapun. Bahkan sikapnya jauh berbeda dengan Leah.
"Aku berjanji padamu, Sarah. Aku akan menjadi pria yang kau inginkan."
...
Author POV
Alex mengajak Sarah dan anak-anak mereka pergi ke sebuah katedral dimana acara pernikahannya akan digelar besok. Katedral itu berada di distrik taman Toronto. Itu sebuah katedral besar dan yang terbaik di antara beberapa katedral lainnya. Bangunannya boleh jadi tua, tapi bentuk dan interior yang dimiliki St. Michael's Cathedral Basilica adalah yang terbaik.
Mereka berhenti di depan pintu gereja itu sembari menunggu seseorang yang akan membawa mereka masuk ke dalam.
Alex melirik jam tangannya, musim dingin tahun ini agak menyebalkan. Pengamat cuaca menginformasikan bahwa salju akan terus menutupi hampir setiap bagian di Toronto. Hampir beberapa tempat seperti katedral ini ditutup. Itu menyebalkan, tapi untunglah, untuk hari ini tak ada salju yang turun jadi petugas yang bertugas untuk membersihkan salju di jalanan akan bisa lebih mudah menyelesaikan urusannya.
Pria itu melirik Axelle yang masih saja menangis sejak tadi. Sarah sudah memberinya susu dan mendekap tubuh kecilnya, tapi Axelle tetap rewel.
"Biar aku yang memilikinya," Kata Alex. Sarah menganggukkan kepalanya lalu memindahkan Axelle ke dalam dekapan Alex. Anak itu perlahan berhenti menangis.
"Sepertinya Axelle menyukai pelukanmu, Alex."
"Oh Tuhanku, maafkan aku. Apa kalian sudah lama berdiri disini? Ayo masuk!" Ia menatap tak enak pada Alex juga Sarah lalu membuka pintu gereja itu untuk memberi jalan bagi keduanya.
"Maafkan aku, Mr.Grissham. Aku nyaris kehilangan sepatuku tadi dan jika aku pergi tanpa mengenakan sepatu, Oh, hanya Tuhan yang bisa tahu bagaimana tak sopannya aku."
"Tidak apa, Mr.Louse, aku dan calon istriku kemari hanya untuk melihat--"
"Semuanya berada dalam kendali, Tuan. Anda jangan khawatir, besok tempat ini akan menjadi tempat paling menakjubkan dan bersejarah bagi anda dan Nona Heather. Apa ada yang bisa aku bantu lagi?"
"Boleh aku berdoa?" Tanya Sarah. Mr.Louse membulatkan matanya lalu ia mengangguk cepat. Pria tua itu menunjuk sebuah bangku di depan dimana Sarah bisa berdoa.
Alex menatap wanita itu dalam diam. Ia berpikir, apa lagi yang Sarah harapkan ketika semuanya nyaris ia dapatkan?
"Tuan, aku berharap kehidupan pernikahan Tuan dan Nona Heather berjalan baik. Aku melihat ada ketulusan di dalam mata Nona Heather dan kuharap Anda tak menyakiti perasaannya. Ah, maafkan aku Tuan Grissham, bukan maksudku untuk menggurui mu. Hanya saja, aku sudah pernah merasakan betapa menyakitkannya ketika istriku memilih untuk meninggalkanku karena aku sering menyakitinya. Aku hanya ingin Anda bahagia. Sama seperti mendiang Tuan Leonard dulu."
Alex mengangguk paham. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau Sarah adalah tujuan terakhirnya. Terlepas dari semua permasalahan mereka, Sarah memang takdirnya. Louse benar, wanita itu memiliki hati yang baik dan alangkah berdosanya Alex jika dia menggores luka pada hatinya.
"Mr.Louse, apa aku boleh meminta bantuanmu untuk besok?"
Louse tersenyum lebar,"Aku bisa membantumu, Tuanku."
Alex memandangi Sarah yang sedang berjalan menuju ke arahnya lalu kembali menatap Louse,"Aku ingin kau mendampingi Sarah di altar."
"Demi nama Tuhan, itu merupakan kehormatan tersendiri untukku, Tuan. Dengan senang hati aku akan menerima permintaanmu."
Alex tersenyum. Louse berhenti berkata ketika Sarah datang. Wanita itu meraih kereta bayi si kembar kemudian mengikuti langkah kaki Alex untuk mengelilingi seisi katedral ini didampingi oleh Louse.
...
Lonna tak berhenti mengerang sakit ketika punggungnya terkena pukulan. Ia tak bisa menghentikan tangisnya sedari tadi. Tangannya diikat kuat pada kaki meja, begitu pula dengan kakinya. Dia tak bisa melakukan apapun selain menangis.
"Kumohon maafkan aku, Nona Calyria! Le-lepaskan aku!"
Calyria memandangnya marah. Ia sekalipun tak merasa kasihan terhadap Lonna dan ia malah menambah bekas luka di tempat yang sama hingga gadis itu kembali mengerang.
"Aku masih membencimu, jalang sialan! Kau membiarkan Reggie membawa putraku dan sekarang aku menderita sendirian disini!" Ia berteriak pada Lonna lalu menendang perut gadis itu dengan kencang. Calyria memang wanita yang kasar, ia memiliki sisi liar sama seperti kakeknya yang seorang psikopat. Lonna tahu kalau majikannya punya sifat yang jelek, tapi dia tak menyangka kalau Calyria bahkan berniat membunuhnya dengan cara yang seperti ini.
"Nona?! Aku tak tahu apapun, kumohon lepaskan aku!"
"Kali ini aku akan membuat perhitungan kepada setiap orang yang sudah membuatku terpuruk seperti ini. Bukan hanya kau, bahkan semua orang sama! Kalian tidak pernah peduli padaku!"
Calyria meraih vas bunga lalu melemparnya ke depan kaca hingga kaca itu retak. Ia menatap dirinya sendiri melalui pantulan kaca retak itu lalu menggeram kesal.
"Ini semua salah Alex. Aku akan membuat perhitungan padanya, ya! Aku akan membuat dia merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan!"
Dia berjalan ke ke dalam kamarnya lalu mencari sebuah foto yang ia simpan. Itu adalah potret Alex dua hari yang lalu ketika ia membuntuti pria itu dan calon keluarga kecilnya sedang menikmati makan siang di Front St. W.
Calyria memandang lamat-lamat pada potret wajah Alex yang terlihat cukup jelas dibanding Sarah,"Kau akan lihat bagaimana aku bisa bertindak lebih cerdas darimu, Alex. Aku pastikan kau akan bersujud di depanku untuk nyawa anak-anak mu." Wanita itu lalu merobek-robek setiap sisi foto itu lalu membuangnya ke dalam perapian. Jika Alex mengatainya seorang wanita gila, maka Calyria akan tunjukkan seberapa gila dirinya karena pria itu.
...
A/n : bentar lagi ini tamat loh hehehe