
Mereka berdiri di tempat yang tidak dipenuhi orang-orang. Alex menatap dingin pada Calyria, ia ingin mempermalukan wanita itu di hadapan semua tamu disini tapi sepertinya bukan saat yang tepat.
"Alex, aku minta maaf padamu atas perbuatan ku waktu itu. Aku tahu aku salah dan tidak sepatutnya aku kembali lagi tapi aku masih mencintaimu dan tak bisa melupakan mu. Aku tidak rela kau berhubungan dengan wanita manapun dan aku ingin kita kembali menjalin hubungan," Ia berujar panjang lebar. Calyria berusaha untuk memikat Alex dengan semua kata-kata manisnya dan ia yakin Alex pasti akan terpikat lagi dengannya lalu meninggalkan wanita bodoh yang waktu itu ia temui di apartemen Alex.
Alex menaikkan sebelah alisnya, Calyria ini bodoh atau apa? Dimana urat malu wanita itu setelah apa yang ia lakukan di masa lalu? Demi Tuhan, Alex jijik pada Calyria. Benar-benar jijik.
Ketika ia ingin berbicara, Calyria tanpa sopan santun mencium bibirnya. Alex terkejut dan terdiam beberapa detik tapi ia merasa kalau Calyria memang sengaja menciumnya.
Detik kemudian ia mendengar riuh suara tepukan tangan dari para tamu. Alex melepas paksa bibirnya dari Calyria, menatap tajam dengan apa yang wanita itu lakukan padanya,"Bitch! Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dengan nada tak suka. Calyria tersenyum lebar lalu pura-pura terkejut,"Ups. Sepertinya kita ketahuan."
Alex semakin mengerutkan dahinya, dia mengikuti arah pandang mata Calyria dan tersentak kala melihat Sarah berdiri di seberangnya. Wajah wanita itu terlihat tidak baik-baik saja, bahkan dari sini Alex bisa melihat kalau tubuh Sarah sedikit bergetar. Tunggu, sebenarnya ada apa? Apakah Sarah cemburu?
Tanpa memedulikan riuh celotehan para tamu yang menyaksikan ciuman yang tidak disangka-sangka itu, Alex memilih untuk berjalan cepat pada Sarah. Instingnya memaksa dia untuk memberikan penjelasan agar wanita itu tak salah paham.
Di sisi lain, Sarah pun ikut membalikkan tubuhnya menjauhi Alex. Ia berlari dengan sedikit kesusahan karena sepatu yang ia pakai lumayan tinggi juga gaun merah ini sedikit mengetat. Sarah tak bisa menahan air matanya, entahlah, ia sudah merasa bahwa dirinya benar-benar menyukai Alex, kali ini menyukai dengan segenap hatinya, bukan nafsu semata. Ia menoleh ke belakang dan melihat kalau Alex juga mulai mengejarnya hingga akhirnya ia sampai ke taman depan, masih dengan berlari kesusahan-- meninggalkan tempat ini yang penuh dengan kebohongan.
Beberapa orang tampak melintas di depan Sarah dan menatapnya bingung tapi itu tidak membuat wanita itu berhenti berlari.
"Sarah berhenti!"
Ia semakin kaget mendengar suara Alex semakin mendekat, ia menoleh ke belakang dan melebarkan mata karena Alex hanya tinggal beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu mempercepat larinya tapi sayang, sepatu hak nya tersangkut ke dalam tanah hingga ia nyaris jatuh terjerembab sebelum Alex menarik lengannya dengan gerakan cepat lalu menahan tubuhnya.
Keduanya terengah-engah, Sarah mendongak saat menatap wajah Alex yang sedikit berkeringat tapi tidak menghapus ketampanan yang pria itu miliki.
"Sudah kubilang untuk berhenti," Bisiknya. Sarah menggeleng kecil, ia akan menolak semua ini. Ia tidak bisa mengikutsertakan perasaannya dalam hubungan saling untung seperti ini.
"Alex. A-aku hanya ingin pulang. Kumohon biarkan aku pulang."
"Baik, kita pulang bersama," Balas Alex. Sarah menahan tangan Alex yang akan membawanya,"Biarkan aku pulang. Aku ingin mengakhiri ini semua. Kau sudah mendapatkan apa yang kau cari, Calyria mantan kekasihmu itu sudah berhasil membuatmu menciumnya lalu semua orang akan menduga kalau kau bukanlah seorang gay. Jadi kupikir tidak ada alasan lagi aku disini."
Alex menatap mata Sarah yang memancarkan kesedihan,"Tidak. Kau salah, aku tak mencium Calyria. Dia yang menciumku."
Dan kau tak menolaknya, batinnya. Sarah perlahan melepas tangannya dari Alex, ia merasa kepala pusing untuk beberapa saat. Mungkin karena semua kejadian ini membuat dia sakit kepala.
"Maafkan aku Alex. Aku tak bisa melanjutkan perjanjian ini, kau tak perlu membayar ku untuk apa yang terjadi selama satu bulan ini dan aku..Β Aku akan kembali ke Florida," Putusnya kemudian. Alex mendengar itu dengan tak suka, ia tak biasa merasakan ini. Maksudnya, keadaan seperti berbalik saja. Jika dulu ia sering mencampakkan wanita, sekarang ia yang merasa dicampakkan. Ah, apa Alex baru saja berpikir kalau ia dibuang?
"Kau cemburu Sarah?"
Mata biru pudarnya tak mengedip sama sekali, ia memiringkan kepalanya sejenak sebelum menyentuh dagu wanita itu untuk dapat bertatapan dengannya,"Jangan katakan kalau sekarang kau malah menyukaiku?"
Sekujur tubuh Sarah membeku. Ia tertangkap basah karena telah menyukai Alex tanpa seizinnya. Sarah membalas tatapan Alex dengan pedih, sial, dirinya benar-benar jatuh ke dalam pesona pria itu terlalu cepat.
Sarah ingin sekali menjawab tapi kepalanya semakin bertambah pusing tidak karuan. Memikirkan kalau Alex pasti memaksanya untuk tak menaruh perasaan apapun membuat Sarah merasa pusing dan perutnya serasa bergejolak.
"Alex aku..."
"Kau baik-baik saja?"
Sarah tak menjawab, ia merasa kakinya melemas sebelum tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Sarah! Hei, kau mendengarku?"
Alex menepuk pipi Sarah saat kedua mata wanita itu terpejam. Ia dengan cepat menggendong Sarah lalu membawanya kembali ke dalam mobil.
...
Ponselnya berbunyi tapi Alex tak berniat menjawab itu. Mungkin sedari tadi Scott ataupun Jake mencoba menghubunginya dan meminta penjelasan lain. Hell, bahkan dua orang pria itu tak pernah menyetujui hubungan Alex dan Calyria. Pastilah mereka akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Alex."
Dia membalikkan tubuhnya ke arah pintu. Disana, pria dengan pakaian tidur yang belum sempat ia ganti ketika Alex datang, menatapnya dengan misteri.
"Jadi ada apa? Apa Sarah baik-baik saja? Jangan katakan ia punya riwayat penyakit jantung atau serangan panik," Tanyanya.
"Konyol. Dia tidak apa-apa," Jawabnya. Alex menghembuskan napas lega, setidaknya ia bisa tenang karena Sarah tak mengidap penyakit apapun. Karena, bagaimana jika tiba-tiba Sarah mati karena hal tadi? Tentu saja ia yang akan jadi tersangka pertama.
"Lalu dia kenapa Val?"
Pria bernama Val itu tersenyum kecil,"Kau harus membawanya ke dokter kandungan. Sepertinya dia sedang hamil."
"Apa?! Hamil? Apa maksudmu?" Alex benar-benar terkejut. Oh, lelucon macam apalagi ini?
"Apanya yang apa? Aku sudah mengecek keadaannya dan--"
"Kau serius?" Alex tak bisa menahan keterkejutannya, dia berjalan melewati Val, untuk melihat keadaan Sarah.
Disanalah dia, wanita itu masih tertidur, mungkin lelah. Alex berjalan pelan mendekatinya, apakah benar Sarah sedang hamil? Padahal baru saja tadi pagi mereka berbicara soal bayi.
"Sarah?"
Mata wanita itu tidak terbuka, membuat Alex berpikiran kalau Sarah memang masih tertidur. Ia duduk di pinggir ranjang, dan melirik Sarah yang masih tertidur pulas. Tangannya terulur untuk menyentuh perut Sarah yang belum membesar tapi gerakan tangannya terhenti di udara.
Bayangan masa lalu tentang ayah dan saudarinya membuat Alex takut seketika. Ia mengepalkan tangannya saat mengingat itu semua, tentu saja, Elle tetaplah bersalah karena telah menjadi penyebab kenapa ayah mereka ikut tewas akibat ledakan dalam restoran itu. Bukan hanya itu, Elle juga merebut semua perhatian kedua orangtuanya darinya.
"Alex, apa yang kau lakukan?"
Ia tersadar lagi dari lamunannya, ditatapnya Sarah yang terlihat kebingungan. Lalu perlahan Alex menarik kembali tangannya.
"Kau... Berhasil hamil," Katanya.
Sarah membuka bibirnya, ia merubah posisinya menjadi duduk lalu menatap perutnya sendiri. Jantungnya kian berdetak semakin kencang dan kencang.
"Benarkah?"
"Baru prediksi saja. Besok aku akan membawamu ke dokter kandungan."
"Lalu... Bagaimana jika bayinya--"
"Diamlah. Aku tak mau membahas hal itu lagi," Potong Alex. Sarah segera menatap Alex, ia memegang bahu pria itu cukup erat.
"Alex... Kumohon, jika bayi yang kulahirkan adalah perempuan, kau harus menepati janjimu," Balasnya.
"Untuk menikahimu? Oke. Itu tak masalah untukku, tapi jika ini tentang menerima bayi perempuan yang kau lahirkan, aku akan tetap mengatakan tidak."
...
A/n : up up upπππ