
Alex menghela napasnya, ia lalu berjongkok ke arah Calyria lalu menarik dagu wanita itu hingga ia mendongak padanya,"Kau apakan sahabatku? Dengar ya, jika aku mendengar kalau salah satu sahabatku terluka karena kau, kupastikan hidupmu berada dalam neraka," Ancamnya. Ia berkata serius, bukan hanya untuk menakut-nakuti Calyria. Alex sudah muak dengan tingkah wanita ini ditambah dia begitu serakah dengan kehidupannya.
"Alex, kau tidak mengerti! A-aku melakukan ini karena aku mencintaimu dan aku ingin kita seperti dulu," Calyria meraih kaki Alex lalu memeluk kakinya erat. Ia bahkan rela membuang harga dirinya hanya untuk Alex. Semua orang benar, Calyria adalah wanita ular. Alex terkadang bingung, kenapa dulu ia bisa sampai mencintai bahkan berniat untuk menikahinya sedangkan para sahabatnya membenci Calyria karena tingkah wanita itu? Beruntunglah pernikahan mereka gagal.
"Cal, aku tidak mencintaimu lagi. Dan sungguh, aku lebih memilih untuk kehilangan nyawaku dibanding harus kembali bersamamu. Jadi lupakan dan berhentilah sebelum aku yang akan memaksamu."
Alex pun melepas tangan Calyria dari kakinya dan melangkah keluar. Hari sudah gelap, tadi ia berjanji untuk menjemput ibunya dan Sarah di salah satu pusat perbelanjaan Toronto. Scott membukakan pintu untuk Alex lalu melambai padanya, oh rasanya drama ini sungguhlah menarik.
"Jadi Calyria, seperti kata Alex, lupakan semuanya dan berhentilah. Kau tentu tak mau kan kejadian seperti selingkuhan mu waktu itu kembali terulang?" Ucap Scott.
Calyria bergidik seketika, ia merasakan kalau kulitnya merinding. Oh tentu saja, siapa yang bisa melupakan bagaimana Alex melampiaskan kemarahannya beberapa tahun yang lalu? Ia bahkan masih bisa merasakan tatapan Alex yang seperti seorang psikopat waktu itu.
"Jadi turuti saja oke? Semua demi kebaikan Alex dan kau sendiri," Timpal Jake. Lalu mereka memanggil seorang penjaga untuk membawa Calyria pergi dari kantor Alex sebelum dia kembali membuat onar disini.
...
Marilyn menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas yang ia bawa. Dia duduk di salah satu bangku bersama Sarah disampingnya dengan tenang,"Alex bilang dia sudah dalam perjalanan kemari. Kita tunggu dia dulu disini," Ucapnya. Sarah hanya mengangguk, matanya melirik kantung belanjaan yang cukup banyak. Entahlah, Marilyn mungkin bosan dengan lembaran-lembaran uang di dalam dompetnya hingga ia rela menghabiskan ratusan ribu dollar hanya untuk berbelanja. Wanita itu merasa tak enak karena Marilyn mengeluarkan banyak uang untuk belanjaan yang mahal ini.
"Nanti jika memungkinkan, aku ingin ikut memeriksakan kandungan mu Sarah. Aku penasaran dengan cucu-cucuku," Pintanya. Sarah meraih tangan Marilyn lalu mengangguk,"Tentu saja Mom. Kau berhak untuk itu," Balasnya.
Lama mereka berbincang hingga akhirnya Alex pun menampakkan dirinya diantara orang-orang yang berlalu lalang di pintu besar itu. Sarah selalu merasa gugup saat berada dekat dengan pria itu, sejak malam dimana ia menyatakan cintanya, dia merasa semua tak lagi sama. Alex tetaplah Alex yang sombong, tapi Sarah tau kalau ada yang berbeda dari pria itu.
"Untung kau datang tidak lama. Mom sebenarnya sudah meminta Cole untuk menjemput disini jadi berhubung kau sudah datang, aku sebaiknya pulang bersama Cole saja. Hati-hati dijalan ya," Marilyn memeluk Sarah dan Alex bergantian lalu ia pun pergi ke arah lain hingga tak terlihat lagi di pandangannya.
Alex melirik kantung belanjaan yang berada di bawah kursi, ibunya selalu saja berlebihan.
"Apa yang kalian beli?"
"Uhm, hanya pakaian bayi dan ibumu memaksaku untuk membeli beberapa pakaian ibu hamil," Jawabnya. Alex tak menanggapi itu lagi, dia lebih memilih untuk membawa semua belanjaan Sarah lalu mengajak Sarah untuk segera pulang.
"Kenapa tak pergi belanja denganku saja?" Tanyanya ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Sarah memainkan jemarinya, Alex menatapnya hingga membuat dia semakin terjebak di dalam aura kegugupan yang kentara.
"Ini ide ibumu. Tadinya aku tak berniat untuk kemanapun," Jawabnya kemudian.
Alex hanya menggumam. Ia lalu mengendarai mobilnya menjauhi bangunan besar di belakangnya untuk bisa cepat pulang.
...
Calyria duduk di depan meja riasnya dengan mata yang membengkak. Gara-gara kemarin, ia sukses menangis semalaman. Dilihatnya barang-barang yang berjatuhan atau lebih tepatnya yang ia lempar semalam. Semua itu membuatnya terlihat makin menyedihkan.
"Mom, aku lapar."
Calyria menatap berang pada seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil memegang perutnya yang kelaparan. Sejak malam tadi ia belum mendapatkan makanan karena ibunya pulang dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Dasar anak sialan! Pagi-pagi sudah merepotkan ku! Sudah kubilang jika kau lapar, makan apa saja yang ada di dalam kulkas!" Bentaknya. Anak itu tertunduk takut, ia menangis lalu pergi meninggalkan ibunya yang tengah diselimuti emosi.
Kesialan Calyria tak sampai disana saja, ia lalu hamil dan pria yang menjadi selingkuhannya tak bertanggungjawab dengan pergi begitu saja.
"Ah sialan!" Teriaknya kencang. Calyria tidak rela dan tidak akan pernah membiarkan Alex dimiliki oleh wanita manapun selain dirinya. Calyria akan membuat Alex menikahinya. Ya, dia akan menjebak pria itu dengan menggunakan putranya sebagai alat.
Ia menarik napas dalam-dalam lalu membulatkan tekadnya. Untuk saat ini, semua orang mulai kembali berspekulasi kalau Alex menjalin hubungan kembali dengannya. Hal itu sedikit menguntungkannya.
"Stefan! Stefan kemari!"
Anak lelaki tadi berlari ke kamar ibunya dengan sebuah pengharapan. Ia mendekati Calyria dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Kau mau bertemu ayah?"
"Aku punya ayah?"
"Tentu saja. Ayah yang kaya raya, kau akan menyukainya. Aku akan membawa mu bertemu ayah nanti, jadi bersikaplah sesuai dengan apa yang aku katakan. Apa kau paham?" Titahnya.
Mata coklat anak itu mengangguk senang. Ia tidak pernah bertemu ayahnya dan tidak pernah tahu bagaimana rupa ayahnya itu, jadi Stefan benar-benar bahagia jika nanti ia bisa bertemu dengan ayahnya.
Berbeda dengan Stefan, Calyria malah menampakkan senyum jahatnya. Ia akan mendatangi Alex disaat yang pas lalu dia akan membuat pria itu menyerah padanya.
Di lain tempat, sepasang manusia tengah berpelukan mesra di atas ranjang dan telanjang. Pria itu sesekali mencium pundak Sarah lalu mengusap perut wanita itu dengan gerakan abstrak.
"Alex hentikan! Sebaiknya lekaslah mandi dan bersiap-siap. Kau bilang hari ini pekerjaanmu banyak kan?"
Alex menggeleng,"Tidak. Aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk pergi," Jawabnya. Ia kembali memejamkan matanya sambil memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
"Kau tak paham. Jika seperti ini terus, aku bisa semakin mencintaimu Alex."
Mata biru pudarnya terbuka seketika. Alex merenggangkan sedikit pelukannya lalu menarik pelan dagu Sarah agar ia bisa bertatapan dengan wanita itu,"Kenapa kau mencintaiku? Apa karena aku punya uang? Atau kau berniat untuk berbuat buruk?"
Sarah mengerutkan dahinya. Ia tak suka ini, dia tak suka ketika Alex berkata hal negatif tentang dirinya. "Aku tak mencintaimu karena uang atau apapun yang kau pikirkan. Aku memutuskan untuk mencintaimu ya karena hatiku telah memilih. Kau pria pertama untukku Alex dan kau ayah dari bayi-bayiku. Tak ada salahnya kan kalau aku jatuh cinta padamu?"
"Tentu saja salah. Aku tak pernah berniat untuk menikahi wanita manapun. Jadi keputusan untuk mencintaiku adalah salah. Aku tak mau kau semakin berharap pada sesuatu yang akan membuat dirimu mati secara perlahan," Jawabnya.
"Jangan. Kumohon, kau punya kuasa atas tubuhku, reputasiku, kehidupanku. Namun jangan hatiku, biarkan perasaan ini tetap menjadi milikku Alex. Jangan paksa aku untuk melepasnya juga."
Alex menatap nanar pada wanita ini. Dia tidak mengerti, kenapa Sarah bisa sampai seperti ini hanya karena mencintainya? Apakah pemikiran tentang Sarah selama ini salah? Haruskah ia mengikuti saran Zack dengan memberikan kesempatan untuk Sarah dan perasaannya?
...
A/n : komen yang banyak buat lanjut ya😍 thank you ❤️