
Hari demi hari terasa begitu cepat berlalu, bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali aku melihat hangatnya senyum Mika.
Hari-hari yang aku lalui sudah tidak bisa dibilang hari-hari seperti anak muda pada umumnya, ketika para anak muda asik dengan bermain bersama teman-temannya, menghabiskan waktu dengan kekasih mereka atau hal-hal yang mereka sukai namun hal itu tidak sama dengan ku yang sekarang sudah mendapatkan sebuah lencana yang artinya tanggung jawabku semakin besar.
“Ayo bangun! Bukankah kalian berdua warrior terbaik yang ada di distrik ini?” teriak Kapten Sandman kepadaku dan Artizy yang tengah kehabisan napas akibat terus menerus mengeluarkan skill.
“K-kuat sekali, bahkan semua skillku berhasil ditahan begitu saja,” ucap Artizy dengan napas yang sudah sangat tidak teratur lagi.
‘Sudah lebih dari 1 jam, tapi tidak ada satupun serangan yang berhasil kami lancarkan. Pria ini diluar dugaanku, tidak salah kakakku selalu mengandalkannya,’ batinku dalam hati.
Kami berdua hanya bisa terbaring lemas di tanah yang kondisinya sudah bisa dibilang membutuhkan anggaran tahunan pemerintah untuk dilakukan perbaikan.
“Ayo bangun, kadet HammerFall! kadet Rammstein. Ini baru pemanasan, aku bahkan belum menyerang kalian berdua dan kalian sudah tepar seperti ini, dan kalian menyebut diri kalian warrior?” perintah kapten Sandman sambil mengejek kami berdua.
Karena kami tidak bergerak sama sekali, kapten Sandman akhirnya mengijinkan kami untuk beristirahat dan mengakhiri sesi latihan yang lebih intens dari pada pelatihan dulu di pusat pelatihan Jack Daw.
…
Aku menenggelamkan kepalaku dan memikirkan bagaimana keadaan Mika dan yang lain, karena mereka pasti tengah khawatir dengan keadaan kami.
Another Pov on
Meanwhile Mika dan teman-teman lainnya tengah bersenang-senang menghabiskan waktu libur sebelum pertandingan 10 vs 10.
Mereka tengah menonton film horror bersama.
“Muzzy dan Artizy katanya mendapatkan pemusatan pelatihan yang berat di sana,” ujar Mika sambil memakan cemilan dan tetap fokus menonton film.
“Artizy si bodoh itu tidak pernah mengirim pesan ataupun menelponku, apakah Muzzy mengirimkan pesan atau kabar kepada mu Mika?” sahut Karin yang wajahnya terlihat kesal sambil membanting handphonenya.
“Hehe setiap malam dia terus mengirimkan beberapa pesan kok, dan katanya mereka hari besok sudah di izinkan untuk pulang,” ucap Mika sambil menunjukkan isi pesan dari Muzzy yang membuat Karin menjadi iri sekali.
Karin lalu memukul-mukul bantal yang tengah ia pegang sambil terus bergumam.
“Sudahlah lebih baik kita lanjut saja nontonnya,” ujar Ellen yang di ikuti anggukan Robin yang terlihat tegang dan Reznov yang tengah asik makan tanpa menghirukan film yang tengah mereka tonton.
Another pov end
“Hey lihat Artizy, mereka tengah asik menonton film,” ucapku menunjukkan foto yang baru saja dikirim Mika.
“Mana?”
Tiba-tiba raut wajah Artizy berubah seperti orang yang benar-benar tengah kebakaran jenggot. Ia lantas melompat mencari tasnya dan mengacak-acak isi tasnya seperti seorang pencuri yang mencari uang di sebuah tas yang isinya penuh dengan barang-barang tidak berguna.
“Ada apa dengan mu?”
Sambil memegang kepalanya ia menjawab. “Aku lupa mengirim pesan kepada Karin!”
“Bagaimana ini Muzzy?! aku bisa mati kena cincang!”
“Bilang saja handphone mu tercebur di dalam wastafel ketika kau mencuci muka, mungkin itu alasan yang bagus?” ujarku, karena aku adalah pembohong yang kurang baik jadi itu adalah alasan yang mungkin saja masuk akal.
Artizy lalu memegang tanganku seolah-olah aku berhasil membawanya kesebuah taman kebahagiaan.
“Kau memang sahabatku, aku berhutang nyawa kepada mu Muzzy!” ucap Artizy dengan mata yang berbinar-binar.
…
Sekitar sore menjelang malam, aku dan Artizy tengah berkumpul dengan seluruh anggota Metal lainnya. Dengan tambahan kami berdua anggota metal menjadi 7 orang dan kami adalah prajurit paling muda yang ada di dalam tim.
“Jadi dimana donatnya?” tanya Artizy dengan bodohnya.
Aku menatapnya sambil keheranan karena siang tadi dia sudah makan seperti orang yang tidak makan berbulan-bulan.
Kapten sandman hanya bisa menepuk dahinya sambil bergeleng-geleng, letnan blink hanya diam sambil menatap tajam ke arah nona Sarah dan Artizy yang tengah asik melahap donat, sedangkan anggota lain sersan Lynyrd dan sersan Linkin hanya bisa tertawa melihat kelucuan kedua anggota barunya itu dan aku hanya bisa terdiam melihat kombinasi tim Metal yang terkenal tidak pernah gagal dalam misi apapun namun rupanya di isi oleh orang-orang yang sifatnya random sekali.
“Kita akan membahas masalah donat atau masalah yang sedang akhir-akhir ini terjadi?” tanya kapten Sandman kepada nona Sarah dan Artizy.
Mereka berdua hanya tersenyum sambil menelan habis donat yang mereka makan lalu pembahasan pun dimulai.
“Dari seluruh kasus yang ada, kasus terakhir di daerah keliling benteng adalah kasus yang paling aneh karena terlihat banyak sekali monster yang tiba-tiba menjadi agresif padahal mereka dikenal monster yang tidak membahayakan,”
“Sapi?” tanya Artizy ketika melihat monster yang memang sangat mirip dengan hewan sapi.
“Bukan sapi, Artizy. Itu monster Bos Taurus mereka lebih besar dari sapi pada umumnya namun mereka sangat jinak,” jawab nona Sarah sambil menunjukkan foto dan profil dari monster itu.
Kami semua menduga ini ulah para kultus aneh yang terakhir kami temui dengan Artizy, karena mereka dengan mudah mengendalikan manusia dengan kekuatannya.
Aku berasumsi kekuatan yang dimiliki oleh nabi mereka itulah yang dapat memanipulasi pikiran manusia dan dapat mengendalikan manusia dengan sangat mudah, bayangkan jika ia adalah pengguna Mythical Rubick mungkin dunia ini sudah tidak seperti sekarang. kekuatan Mythical Rubick begitu kuat tergantung penggunanya, saat ini aku masih pengguna level 3 karena Rubick yang aku miliki masih 3x3.
“Untuk sementara kita akan terus mengawasi daerah keliling benteng dan terus mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, sebelum aku tutup pembahasan ini ada yang ingin memberi saran atau hal lain? kadet Hammerfall atau Rammstein?”
“Bagaimana kalau kami saja yang pergi kesana?” usul Artizy
“Kadet Rammstein, itu adalah hal yang berani tapi tindakan yang sangat bodoh. Apakah kau lupa bahwa mereka juga mengincar mu?” sahut sersan Lynyrd sambil mengeluarkan asap cerutu dari mulutnya.
“Benar itu Artizy, itu sama saja kita memancing mereka ke sana. Kita tidak bisa membahayakan warga sipil karena disana adalah kawasan peternakan.”
“Lalu kita hanya diam disini?”
“Aku sudah mengirim beberapa intel kesana, kita hanya menunggu hasil kerja mereka untuk sementara waktu. Kalian berdua juga akan kembali ke sekolah untuk melakukan pertandingan bukan?”
Kami berdua mengangguk pelan sambil menelan ludah kami sendiri, bahkan tidak terpikir oleh kami berdua bahwa kami benar-benar akan bertarung dan dilatih langsung oleh kapten Sandman yang akan sangat membantu kami dalam mengalahkan para Elder yang semena-mena itu.
“Baiklah, pembahasan selesai. Sekali lagi kami ucapkan selamat bergabung dalam tim Metal, kadet Hammerfall dan kadet Rammstein!”
Kami berdua memberi hormat kepada kapten Sandman.
“Siap kapten! Mohon bimbingannya!”
…
Aku dan Artizy kembali dipulangkan ke rumah masing-masing untuk sementara waktu karena kami juga masih statusnya sebagai pelajar yang artinya kami berdua masih diwajibkan untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya namun dengan pengawasan ketat tim Metal, di dalam tubuh kami di tanah semacam alat pelacak agar memudahkan memantau kami jika terjadi hal-hal yang diluar rencana.
Di dalam perjalanan pulang, aku melihat beberapa gambar yang dikirim oleh Mika lewat smartphone milikku yang sudah membantuku dalam ha-hal ini.
‘Apakah aku bisa menjaga dan melihat senyum ini lagi suatu hari nanti?’ batinku dalam hati.
Bukannya aku berpikir atau berprasangka buruk, tapi peperangan sudah begitu dekat dan hal-hal sepert itu tidak akan pernah terjadi lagi. Hal-hal indah sebentar lagi akan menghilang dan di isi oleh kengerian perang yang selalu ingin dihindari oleh para veteran perang.
‘Memikirkannya saja aku sudah tidak sanggup!’ batinku lagi sambil menghela napas yang cukup panjang.
“Apa yang sedang kau pikirkan anak muda kau terlihat begitu muram?” tanya supir taksi yang mengantarku.
“Eh?” ujarku kaget.
“Dari tadi kelihatannya kau sedang bertarung dengan pikiran mu sendiri, apa yang sedang kau pikirkan anak muda?”
“Tidak ada apa-apa kok pak, cuman sedang memikirkan sesuatu saja.”
“Apa pun itu, jangan biarkan pikiran menelan mu bulat-bulat seperti itu atau kau akan tenggelam dalam pikiran mu sendiri. Seberat apapun itu kita jangan pernah menyerah dengan pikiran kita, kita manusia memang mudah sekali takut dengan masa depan atau sesuatu yang akan datang, biarkan itu menjadi misteri,” ujar pak supir yang mungkin sudah berumur karena dari apa yang diucapkannya begitu dalam maknanya.
Aku tersenyum lalu berterimakasih kepada beliau karena ucapan beliau membuatku sedikit tenang walaupun memang betul apapun yang ada di depan masihlah misteri dan biarkan misteri itu datang dengan sendirinya kita manusia hanya bisa memperbaiki atau memperparah keadaan ketika masa depan itu datang