Mythical Rubick

Mythical Rubick
24 | Aku Tidak Mencuri, Aku Hanya Meminjamnya!



"Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menggunakan skill itu di dalam clanku, tapi bagaimana bisa kau menggunakannya?!" tanya Ryuu yang terkejut melihatku yang mampu mengeluarkan sebuah skill Shield of Light.


Aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya, aku tetap fokus mengatur napasku agar kondisiku cepat memulih.


Secara perlahan efek perisai mulai memudar, sesuai rencanaku Ryuu masuk ke dalam perangkapku yang telah ku buat.


Tanpa basa-basi, aku langsung mengucapkan rapalan Skill milikku. "[Land of Cube], [Cube Off]!"


Beberapa Cube milikku yang tadi memang sengaja aku lempar dengan sembarang tanpa mengenai Ryuu melayang naik ke udara dan meledak seketika. Serangan itu menghasilkan daya ledak yang cukup kuat untuk menghancurkan tubuh manusia tetapi jika saja Ryuu tidak menggunakan gelang Nano tadi, kemungkinan besar dia sudah mengalami Stack.


Setelah debu akibat ledakkan itu mulai menghilang, aku berinisiatif mendekat kearah Ryuu agar memastikan bagaimana keadaannya.


Dengan amat perlahan namun pasti aku menyeret kakiku yang terluka dan sambil menahan rasa sakit karena serangan Ryuu tadi.


"B-bagaimana b-bisa?" tanya Ryuu yang terbaring lemah yang sudah tidak dalam kondisi Summoning.


"Kau mengira Cube yang aku lempar tadi sudah tidak berguna lagi, namun semua itu salah, aku hanya menonaktifkannya saja dan bisa saja aku mengaktifkannya lagi!"


Mendengar hal itu, Ryuu langsung tidak sadarkan diri dan aku di nyatakan menang dengan penuh luka di bentuk Warriorku.


Memang ketika berubah ke dalam bentuk manusia biasa lagi, luka-luka itu menghilang tetapi tubuh ini terkadang masih merasakan luka yang di timbulkannya. Untung saja gelang Nano tadi berfungsi dengan baik, jika tidak mungkin tubuh Ryuu sudah tidak berbentuk lagi dan mungkin saja Warrior yang dia miliki mati.


Jika Warrior yang ada di tubuh manusia mati, manusia itu akan kembali menjadi manusia biasa atau menjadi manusia normal pada umumnya. Tetapi jika manusia pemilik warrior itu mati maka Warrior yang ia miliki juga ikut mati.


Itu sudah menjadi hukum alam dan tidak bisa dipungkiri lagi. Manusia yang memiliki Warrior seperti layaknya memiliki 2 tubuh dalam 1 jiwa, jika tubuh Warriornya terluka maka tubuh yang 1 juga merasakan walaupun tidak ada bekas luka apapun hanya terasa seperti terluka.


Bayangkan saja jika tubuh Warriornya terpenggal maka tubuh yang satu akan merasakan seperti terpenggal juga. Pada zaman dulu ketika Warrior bertarung maka mereka akan saling bunuh membunuh, ketika Warriornya sudah terkalahkan maka mereka akan langsung membunuh manusia penggunanya juga.


Tetapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi, dengan adanya gelang Nano. Membuat Warrior dan penggunanya selamat walau tetap merasakan sakit yang di alami ketika bertarung.


※※※


Teman-temanku langsung bersorak gembira ketika Kapten Edward menyatakan bahwa akulah pemenang dari pertarungan tadi.


Artizy dan yang lain berlari ke arahku yang terduduk lemas karena sudah tidak sanggup lagi berdiri dengan kedua kakiku yang mulai terasa tidak bertenaga lagi.


"Kau hebat sekali sobat! Aku tidak menyangka kau bisa merencanakan strategi seperti itu," ucap Artizy sambil membantuku untuk berdiri.


Aku tertawa ringan melihat teman-temanku mengucapkan selamat kepadaku, tetapi entah mengapa saat itu Mika terlihat hanya diam tanpa mengucapkan apapun kepadaku.


Mika mengigit bibir bawahnya lalu berkata kepadaku. "Muzzy! Apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?"


Aku mengangguk dan terlihat kebingungan karena tingkah Mika yang begitu berbeda.


"Bagaimana bisa kau menggunakan skill pusaka milik Clanku, Muzzy? Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mampu menggunakan skill itu di clanku!" ucapnya sambil menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan.


Teman-temanku juga menatap ke arahku, mereka juga pasti penasaran kenapa aku bisa menggunakan skill itu.


Mau tidak mau akupun bercerita bahwa dulu aku pernah melihat sebuah pertandingan antar Warrior dan melihat seseorang dari Clan Shaman menggunakan skill itu.


"Setelah aku melihat pertandingan itu, aku hanya terkagum-kagum karena skill itu begitu kuat dalam menahan serangan apapun,"


Aku menggaruk pipiku. "Tanpa aku sadari, aku mengulurkan tanganku ke arah Warrior tadi yang sedang menggunakan skill Shield of Light dan seketika sebuah Cube muncul di hadapanku."


"Sebuah Cube?" tanya Karin memiringkan kepalanya.


"Iya sebuah Cube, aku juga awalnya kebingungan ada apa dengan Cube milikku bisa muncul pada saat itu. Aku yang penasaran lalu menyentuh Cube itu dan ..."


Entah mengapa di dalam Cube itu berisikan informasi penuh seputar skill itu, aku yang saat itu tengah menyentuh Cube milikku itu tiba-tiba merasakan skill itu sudah masuk kedalam memoriku. Seakan-akan aku telah mengusai skill itu tanpa harus melakukan latihan terlebih dahulu.


Mendengar hal itu mereka semua terdiam.


"J-jadi intinya itu kemampuan Pasif Warrior mu, Muzzy!?" tanya Mika lalu memegang tanganku.


Aku mengangguk pelan. "Aku menyebutnya Spell Steal, t-tetapi aku tidak mencuri, a-aku hanya meminjamnya!"


"Wow! aku belum pernah mendengar hal itu!" ucap Artizy.


"Jadi kau bisa menggunakan skill siapa saja begitu bukan?" tanya Ellen berdecak pinggang.


Aku menggeleng. "Aku tidak tau, sampai sekarang aku masih belum mengerti bagaimana menggunakan skill pasif itu!"


Sampai saat ini pun aku masih kebingungan kenapa hal itu bisa terjadi, pasif Mythical Rubick yang aku ketahui baru 3 yaitu Aura Detect, Transform (membuat suatu benda dari Cube) dan yang terakhir Spell Steal.


※※※


Setelah makan malam, aku merasa semakin canggung berbicara dengan Mika karena aku merasa menggunakan skill pusaka keluarganya tanpa izin atau bisa dibilang aku telah mencuri walaupun tidak secara langsung.


Aku mengajaknya untuk berbicara di dekat kolam dan syukurnya dia menerima ajakanku.


"M-mika apa kau marah kepadaku?" tanyaku dengan wajah memelas.


Belum sempat Mika menjawab pertanyaanku, aku langsung memegang kedua tangannya dan meminta maaf duluan.


"Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencuri skill itu,"


Melihatku yang begitu ketakutan malah membuatnya tertawa.


Aku kebingungan kenapa dia tertawa, lalu Mika memegang erat tanganku yang membuat hatiku semakin berdetak kencang.


Mika menggelengkan kepalanya. "Muzzy, aku tidak marah kok. Tetapi aku hanya minta kepada mu untuk menggunakan skill itu untuk kebaikan ya! Karena skill itu memang di ciptakan untuk melindungi jadi tolong gunakan skill itu dengan bijak!"


Mendengar hal itu Mika tersipu malu, tanpa sadar aku meletakkan tanganku di pipinya yang begitu lembut.


"Apa kau punya alasan untuk bertarung, Muzzy?" tanyanya lalu duduk di tepi kolam.


Aku memandang kearah langit yang di penuhi bintang. "Tentu saja ada!"


Mika tersenyum. "Apa itu, jika aku boleh tau!"


Aku menunjuk ke arahnya sambil menyentil hidungnya. "Kau! Alasanku bertarung hehe"


Mika memandangku dan wajahnya berubah menjadi memerah. "B-bodoh, kau selalu saja suka membuatku malu!"


Aku tertawa ringan. "Haha tapi aku serius, kau memang alasanku bertarung sekarang!"


Tiba-tiba saja Mika mencium pipiku. "Kalo begitu, ayo kita bertarung bersama-sama!"


Aku yang terkejut hanya bisa memegang pipiku yang tadi di cium Mika sambil mengangguk.


"Janji?" ucapnya sambil mengangkat jari kelingkingnya.


Kami melakukan janji kelingking sambil tersenyum seperti layaknya sepasang kekasih yang tengah berjanji sehidup semati.


※※※


Selama 7 hari kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi Distrik Kingstone di pandu oleh Ms. Anna yang selaku guide kami.


Mulai dari jalan-jalan ke pusat penelitian Warrior, mencicipi makanan khas dari Distrik Kingstone, bermain-main di pantai dan berkemah di dekat danau Roasted Lake.


...


"Hari ini jadi hari terakhir kita ya di sini," ucap Karin dengan wajah yang terlihat sedih.


Tidak terasa sudah hampir 3 bulan kami meninggalkan rumah dan melakukan pelatihan di tempat ini, pusat pelatihan Jack Daw.


"Setelah ini Golden Week ya?" tanya Artizy sambil menyandarkan bahunya ke kursi.


"Iya, apa kau punya rencana?" sahutku sambil memakan mie cup yang di buat oleh Mika dan yang lain.


"Mungkin aku akan mengasah kemampuanku lagi dan mulai berlatih teratur, aku tidak mau kalah dari mu sobat!" ujarnya menatapku dengan tatapan tidak puas.


Berbeda dengan Artizy. Karin, Lumia dan Ellen akan pergi berbelanja saat Golden Week sedangkan Reznov dan Robin katanya mereka berdua akan ikut latihan bersama Artizy.


"Mika kau tidak ada rencana saat Golden Week?" tanyaku.


Mika menggeleng. "Tidak ada, memangnya kenapa Muzzy?"


Bagus ini kesempatanku, aku berpikir akan belajar berenang saat Golden Week. Jika dengan Mika, dia tidak akan menghinaku karena aku tidak bisa berenang.


"Hmm nanti aku kasih tau ya lewat Email!"


...


Singkat cerita kami kembali ke Distrik Borneo Water, sebelum pulang kami semua bersalam-salaman dan saling meminta maaf satu sama lain dengan anggota kelas dari cabang Distrik Java Hill.


Ryuu terlihat malu-malu ketika ingin bersalaman denganku dan dia meminta maaf atas semua perbuatannya yang telah ia lakukan kepadaku. Dia juga berjanji akan menantangku lagi suatu hari nanti dan aku mengiyakan hal itu karena aku tau maksud dan tujuannya kenapa dia menantangku bertarung lagi.


"Selamat datang Adik kesayanganku!" ucap Kakakku sambil memelukku di depan pintu.


"Sesak Kak!" sahutku dalam pelukkannya yang erat.


Kakakku malah tertawa lalu dari dapur Nala berlari dan langsung melompat ke arahku.


"Wahh Nala, kau merindukanku ya!" kataku sambil memeluknya.


"Meow...," Nala Menggeong.


"Dia hampir setiap hari selalu masuk ke kamar mu, dia sangat merindukan mu," kata Kakakku tersenyum manis sambil mengelus-elus Nala yang tengah aku pegang.


Lalu dengan bangga aku menunjukkan KLW milikku kepada Kakakku dan kami merayakannya dengan makan-makan, ya walaupun hanya dengan makan-makan biasa tetapi rasanya seperti berkumpul satu keluarga penuh.


Setelah melakukan perayaan, aku masuk ke kamarku yang telah lama aku tinggalkan, 3 bulan itu adalah waktu yang cukup lama untuk seseorang yang tidak suka menunggu.


"Ah kangennya!" gumamku sambil berbaring di atas ranjang.


Aku teringat ingin memberi pesan email kepada Mika, aku melihat jam di handphoneku dan waktu masih menunjukkan jam 10 malam.


Semoga saja Mika belum tidur, batinku dalam hati.


Setelah mengirim pesan email, beberapa saat kemudian dia membalas bahwa dia mau mengajariku berenang dan aku disuruh menghadap kepada ayahnya terlebih dahulu untuk meminta izin.


Perasaanku saat itu adalah antara senang dan juga takut, senang karena ini adalah kencan pertamaku dan takut karena harus menghadap kepada ayah Mika yang kata Mika begitu tegas.


"Aku akan berusaha keras dan melakukan yang terbaik!" gumamku.


Sambil membayangkan Mika di balut baju renang, aku berguling-guling di atas ranjang dan tanpa sadar terjatuh ke bawah.


"A-aduh, sebaiknya aku bersihkan pikiran kotorku dengan membaca," gumamku sambil menahan sakit akibat fantasi gilaku tadi.


-Tbc-