
Setelah semua pelajaran selesai, aku dengan buru-buru ingin pulang ke rumah karena Nala sudah pasti sangat kelaparan.
Tunggu sebentar ya Nala, aku akan segera pulang kerumah, batinku di dalam hati.
Saat aku berada di tempat loker sepatu, seorang siswi perempuan berambut hitam kebiruan lurus terlihat bingung, sepertinya dia tengah kehilangan sesuatu dan kelihatannya juga dia adalah salah satu anggota kelas 10 D karena ada lambang kelas di lengan bajunya.
"Apa kau kehilangan sesuatu?" tanyaku kepada siswi itu.
"I-iya, sepertinya aku kehilangan sepatuku atau sepatuku memang sengaja dihilangkan seseorang," sahutnya dengan wajah pucat.
"Jika tidak keberatan, aku bisa membantumu?"
"Apakah tidak masalah kau membantuku?"
"Tentu saja tidak masalah, kitakan memang diwajibkan untuk saling tolong menolong dalam kehidupan ini," sahutku sambil tersenyum.
Dia mengangguk lalu membalas senyumku, lalu kami mencari sepatu miliknya di sekitar loker sepatu, mungkin saja terselip. Selang 10 menit mencari akhirnya sepatu miliknya ketemu, memang benar ada yang menjahilinya karena sepatunya ada di atas loker sepatu. Mana mungkin sepatu bisa bergerak sendiri kecuali itu sepatu super.
"Akhirnya ketemu juga, terima kasih banyak ya!" ucapnya berterimakasih kepadaku sambil tersenyum.
"Sama-sama, lain kali lebih berhati-hati lagi ya! Jangan lupa untuk mengunci loker sepatumu," sahutku.
"Kalo begitu aku duluan ya, ada kucing yang harus aku beri makan," ujarku pamit lalu langsung berlari keluar sekolah.
"E-eh, padahal aku belum tau siapa namamu," ucapnya kecewa.
※※※
Aku bergegas pulang karena takut Nala kelaparan, aku tidak akan bisa hidup tanpa Nala kucing kesayanganku. Tanpa Nala siapa lagi yang akan menemaniku jika kakak pergi bekerja atau pergi ke suatu tempat.
Aku bergegas mengambil kunci rumah di saku bajuku dan sesegera mungkin membuka pintu rumahku.
Kreeek
"Nala ... aku pulang!" teriakku setelah membuka pintu.
Saat aku masuk ke dalam rumah, rupanya kakakku sudah pulang duluan.
"Eh Adikku sudah pulang rupanya, kenapa kau terlihat seperti orang yang habis dikejar-kejar sapi gila?" goda kakakku sambil menggendong Nala di tanganya.
"Huft kakak ini, aku lari-lari seperti ini karena ku kira kakak belum pulang dan Nala belum makan dari siang tadi,"
"Hehe kasihan sekali Adikku ini, pasti cape sekali ya. Maaf ya karena tidak sempat memberi kabar bahwa kakak sudah pulang," ucap kakakku sambil tertawa.
Aku mendekat ke arah Nala yang sedang di gendong oleh kakakku, lalu mengusap kepalanya.
"Bagaimana Kak, rapatnya?"
"Kakak benci mengatakan ini, tapi kita diperintahkan untuk lebih memperketat wilayah perbatasan antara manusia dengan para Monster,"
"Tetap semangat Kak, bagaimana kalo malam ini aku yang masak untuk menambah semangat Kakak," cetusku sambil tersenyum lebar.
"Wah ide yang bagus. Nala, Muzzy akan memasak untuk kita!"
"Meong!" Nala mengeong sambil mengibaskan ekornya yang menandakan dia begitu senang dan bahagia.
"Hehe enaknya kita makan apa ya?" tanyaku bingung mau memasak apa untuk malam ini.
Aku memang sudah biasa memasak karena sering di tinggal oleh Kakak bekerja, hampir setiap bulan Kakak selalu pulang lebih malam karena mengurus The Guardian. Mungkin sedikit aneh jika seorang laki-laki bisa memasak, tapi begitulah kenyataannya. Aku malah lebih suka memasak sendiri karena hasilnya pasti menurutku enak karena itu buatan tangan sendiri. Tapi kata kakakku dan Nala masakku sangat enak, hewan tidak bisa berbohong jika memang makannya enak mereka akan dengan lahap memakan makanan itu.
...
"Enak juga makanan yang kau buat Muzzy!" ucap kakakku setelah menghabiskan sepiring spaghetti dengan bakso(meatballs).
"Kakak ini bisa saja, padahal kan ini cuma spaghetti biasa," sahutku malu karena pujian kakakku.
"Nala saja makan dengan lahapnya tuh!" ucap Kakakku sambil menunjuk Nala yang sedang makan.
"Meong!" Nala mengeong sembaring mengibaskan ekornya dari kanan ke kiri.
"Haha Nala lucu sekali kamu, tapi terima kasih Kak atas pujiannya," ujarku tertawa melihat tingkah lucu Nala.
Setelah membereskan perlengkapan yang tadi digunakan untuk makan malam, aku duduk-duduk santai di depan sofa ruang tengah sambil mengelus-elus Nala.
"Geser dong, Kakak juga mau duduk!" pinta Kakakku sembaring menyalakan Televisi.
"Mau menonton acara tv apa, Kak?"
"Memangnya Kakakmu ini menonton apa?
"Anime atau mungkin Kamen Raider hehe,"
"Sembarangan, itumah tontonan kamu, Kakak mau nonton sinetron dong!" sahut Kakakku sambil memukul remot ke kepalaku.
Aku tertawa kecil sambil memegang kepalaku yang baru saja dipukul menggunakan remot. "Hehe bercanda Kak, yasudah aku mau ke kamar dulu. Nala kau mau ikut?"
"Meeong!" Nala menggelengkan kepalannya.
"Eh kok tidak mau sih?"
"Haha Nala kan juga penyuka sinetron, ayo nonton bersama Kakak ya Nala!" sahut kakakku sambil mengelus kepala Nala.
"Meooong!" Nala mengeong sambil mengibaskan ekornya.
Aku hanya tertawa melihat tingkah Nala yang begitu lucu, aku pun naik ke lantai 2 untuk ke kamarku yang sangat aku sukai.
Kreeek
Kamar dengan tema biru gelap di hiasi dengan aksesoris bintang di atap kamar dan aksesoris awan di dindin kamar membuat suasana di dalam kamar seperti berada di langit yang di penuhi bintang-bintang.
Kamarku dipenuhi oleh buku-buku, hampir disetiap rak buku yang aku miliki sudah hampir dipenuhi oleh buku-buku, aku mulai tertarik membaca sejak masuk di bangku sekolah dasar alasannya sederhana, karena dulu aku jarang punya teman lalu aku mulai berteman dengan huruf dan tulisan. Sejak hari itu hariku dipenuhi dengan huruf dan tulisan.
※※※
Aku membuka bajuku di depan cermin di kamarku, lalu berbalik untuk melihat luka yang dulu pernah menggores kulit punggungku.
Flashback on
9 tahun yang lalu saat umurku masih menginjak usia 7 tahun, saat itu aku dan Kakakku sedang berada di sebuah festival musim panas yang ramai di Distrik Mikatasa (sekarang telah bergabung dengan Distrik Borneo Water, Letaknya di timur Distrik).
Festival itu berjalan meriah dan sangat menyenangkan, banyak sekali orang yang ikut merayakan festival ini. Mulai dari kalangan anak-anak, muda-mudi, sampai orang dewasa ikut memeriahkan festival itu.
Tetapi semua berubah menjadi teriakan dan hiruk pikuk.
"AAAAAAA!" teriak seorang perempuan muda.
"M-monster ... b-bagaim-mana m-mere-eka bisa m-masuk ke w-wilayah m-manusia?" ucap seorang lelaki parubaya terbata-bata karena ketakutan.
Monster itu adalah Goblin, mereka Monster yang bodoh tetapi mereka tidak bisa dikategorikan sebagai Monster yang lemah.
Para Goblin itu tersenyum melihat kerumunan manusia yang memang menjadi santapan mereka dan mulai menyerang secara bersama-sama.
Teriakan ketakutan dan cipratan darah menjadi tontonan yang sangat mengerikan saat itu.
"Kakak!?" teriakku.
Aku mulai ikut berlari bersama orang-orang disekitarku.
"Cepat panggil AM!(Anti Monster)" perintah seseorang kepada temannya.
Saat aku berlari ada seorang anak perempuan yang seumuran denganku terjatuh di hadapanku.
Aku mencoba membantunya bangun. "Ayo ikuti aku, kita lari dari sini!"
Dia hanya mengangguk sambil menangis karena ketakutan setengah mati, semua orang juga pasti ketakutan jika hal seperti ini tejadi.
Tapi langkahku dengannya harus terhenti ketika sekelompok Goblin mencegat kami, mereka berjumlah 10 dengan pisau dagger dan panah kuno.
Sial! Apakah ini akhir dari hidupku? Mati di tangan sekelompok Monster jelek yang menghisap liurnya saja tidak bisa, batinku dalam hati.
Slash
Tiba-tiba saja beberapa dari Goblin tadi kepalanya terpisah dari badannya.
"Kakak!" ucapku terkejut
"Jangan bengong saja, ayo kalian lari! Kakak akan menahan mereka untuk kalian," perintah Kakakku sambil berpaling melihat kami berdua.
Aku mengangguk lalu menggenggam tangan anak perempuan itu, kami berlari menuju keluar area festival tetapi ....
"Awas ... aaaaa!"
Sebuah anak panah menggores punggungku.
"A-apa kau tidak a-apa-apa?" tanyanya kepadaku.
"A-aduh sepertinya hanya luka gores tapi aku tidak apa-apa," sahutku kepadanya.
Kakakku langsung membunuh Goblin yang menembakkan panah tadi yang mengenai punggungku.
"Apa kau tidak apa-apa adik?"
"Hanya luka gores aku tidak a ...,"
Tubuhku tiba-tiba lemas, rupanya anak panah tadi yang menggores punggungku mengandung racun. Aku langsung terjatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri.
Saat aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit dan Kakakku terlihat sangat sedih.
"Syukurlah kau sudah siuman, maafkan Kakak tidak bisa melindungimu, Muzzy?"
"Kakak sudah melindungiku, tetapi hal yang tidak terduga terjadi, terima kasih banyak Kakak, sudah mengkhawatirkan ku," sahutku sambil tersenyum lebar.
Kakak hanya tersenyum sambil mengelus kepalaku lalu mencium keningku, aku juga bertanya bagaimana anak perempuan yang aku tolong saat kejadian itu. Kata kakakku bahwa dia di selamatkan oleh para AM (Anti Monster), lalu keluarganya menjemputnya. Keluarga dari anak perempuan tadi memiliki lambang Clan berbentuk Kucing dengan lonceng kuil, kurang lebih kakakku menjelaskan seperti itu.
Aku hanya bisa bersyukur mendengar dia tidak kenapa-kenapa, rasanya sangat bangga dan bahagia ketika berhasil menyelamatkan nyawa seseorang. Jadi aku mengerti perasaan ayah saat dia menyelamatkan rekan-rekannya.
Flashback off
※※※
"Bagaimana dia sekarang ya? Semoga dia baik-baik saja sekarang," gumamku sambil tersenyum.
Setelah kejadian itu kakakku memutuskan untuk pindah ke Distrik Borneo Water, karena distrik ini jauh lebih aman dan tenang walaupun kakakku harus pindah dinas kerja.
Saat kejadian itu umur kakakku masih berusia 16 dan masih berpangkat MSG (Master Sergeant), walaupun dibilang sangat muda Kakakku memang sangat hebat, dia lulus lebih cepat dengan mengikuti kelas Akselerasi.
Sekarang umurnya baru menginjak usia 25 tahun dan dia sudah menjabat sebagai Jendral pasukan The Guardian. Berbeda jauh dengan adiknya, saat ini aku berusia 16 tahun dan hanya seorang pelajar biasa dengan statistik Warrior yang bisa dibilang rendah sekali. Aku hanya memiliki overall statistik terbawah atau bisa di bilang kategori F, jauh berbeda dengan kakakku yang memiliki overall statistik kelas puncak atau kategori S.
Aku memandang keluar jendela dan mulai berpikir tentang kejadian yang 9 tahun yang lalu terjadi. Aku merasa ada yang janggal dengan kejadian tersebut, seakan-akan kejadian tersebut memang sengaja di lakukan oleh seseorang.
Pasti ada seseorang yang melakukannya, tidak mungkin para Goblin itu bisa masuk melewati Kekai yang dibuat oleh para AM (Anti Monster), batinku di dalam hati.
Sejak saat itu juga keamanan dan kekuatan Kekai diperkuat dan diperketat dari sebelumnya, dikabarkan kejadian itu menelan korban yang cukup banyak yaitu sebanyak 78 orang.
Sampai saat ini, kejadian itu masih menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat, banyak yang mempertanyakan mengapa hal tersebut terjadi. Aku hanya menyakini bahwa kebenaran akan terungkap apapun yang terjadi.
-Tbc-
Pojok Fyi
● Goblin adalah Monster yang biasa ditemukan di lembah-lembah berdekatan dengan hutan, mereka hidup berkelompok dan memiliki teritorial sendiri. Monster ini memiliki tingkatan sampai 8, semakin tinggi tingkatan mereka maka semakin kuat pula mereka.
Monster ini walaupun bodoh tetapi mereka mempunyai insting yang kuat dan penciuman yang tajam.
● Kekai adalah sebutan untuk penghalang yang dibuat dengan menggunakan Skill Warrior bertipe apa saja, untuk para AM (Anti Monster) Skill Kekai adalah Skill wajib yang harus di kuasai dan ini adalah salah satu syarat untuk menjadi seorang AM (Anti Monster).
Jika Monster mendekat atau menyentuh Kekai, mereka akan terpental atau tersengat aliran listrik yang kuat. Semakin kuat Kekai yang di ciptakan semakin kuat juga aliran listrik yang di pancarkan.
Kekai tidak memiliki efek kepada manusia dan hewan maupun tumbuhan.