
Artizy bercerita bahwa ia mendengar bahwa ada sekelompok orang yang mampu mengambil warrior dari penggunanya secara paksa dan aku dibuatnya menjadi sangat penasaran. Hal itu benar-benar belum pernah ku dengar sebelumnya.
"Aku mendengar hal itu dari salah satu penonton yang menonton pertandingan tadi, ia berkata bahwa pedang yang di gunakan Mayumi saat bertanding tadi adalah pedang yang ia pernah lihat kemarin ketika ia sedang menonton pertandingan ilegal itu," ujar Artizy dengan wajah seriusnya.
"Nah maka dari itu kami bertiga ingin kesana dan melihat secara langsung apa rumor itu benar atau hanya bualan," ucap Robin sambil melepas kacamatanya.
"Jika hal itu benar terjadi, kita semua dalam bahaya!" Reznov memandangku dengan manik birunya itu.
Aku menelan ludahku dengan sangat berat, kepalaku mulai memikirkan hal-hal yang belum pernah terlintas dikepalaku. Seumur hidupku, aku belum pernah mendengar ada kemampuan warrior yang mampu mengambil warrior lain secara paksa. Warrior memang sebuah misteri yang sampai saat ini belum mampu di pecahkan oleh manusia, sistem warrior kebanyakan turun temurun atau istilahnya diwariskan oleh pengguna yang telah meninggal dunia.
Aku harus memberitahu hal ini kepada kakakku dan juga bertanya kepada paman Gray, batinku di dalam hati.
...
Sepanjang malam aku dibuat tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu aku khawatirkan, namun entah mengapa hatiku terus saja bertanya-tanya tentang hal itu.
Selain itu, aku juga memikirkan aura mengerikan yang membuat dadaku sangat sesak, dan semua hal itu membuatku merasa gila.
Dan akhirnya pagi pun datang, aku sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak dan akhirnya malah cuman bisa tidur selama kurang lebih 1 jam saja.
"Muzzy kau kenapa, kantung mata mu menjadi membesar?!" tanya Mika yang kaget kerena melihat kantong mataku seperti panda.
"Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak malam tadi," sahutku sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di piring.
"Tidak bisa tidur? Apa si Kunyuk Artizy tidurnya sangat berisik?" tanya Karin sambil memandangi Artizy yang membuat Artizy memasang wajah polosnya dan tetap terus melanjutkan sarapannya.
Aku menggeleng pelan. "Bukan karena itu, aku sudah biasa kalo soal suara Artizy ngorok, aku hanya sedikit gugup bagaimana final nanti jadinya aku malah kepikiran terus."
Aku beralibi agar mereka tidak curiga, aku berusaha menutupi rasa khawatir dan gelisahku sekuat dan semampuku namun terasanya sangat sulit sekali.
Sial aku benar-benar harus bertanya dengan paman Gray secepatnya, batinku dalam hati.
...
Beruntung hari ini di jadwalkan hanya jalan-jalan santai atau pun ingin seharian istirahat di hotel, jadi kami bebas ingin jalan-jalan berkeliling kota seharian penuh atau bersantai di fasilitas hotel yang telah disediakan untuk kami secara percuma atau gratis.
Namun ada hal yang sedikit membuat teman-temanku yang lain menjadi sedih, yaitu karena Mr. Jack tidak bisa memandu kami berkeliling kota karena ada pekerjaan yang harus di kerjakan begitulah kata beliau.
"Jadi kalian mau berkeliling kota?" tanya kakakku kepada kami yang kebetulan tengah berkumpul di lobby hotel.
Seluruh anggota kelas mengangguk dengan kompak.
"Baiklah biar aku yang jadi pemandu kalian hari ini adik-adik sekalian, ayo kita pergi adik-adik!" ajak kakakku kepada kami semua dengan penuh semangat.
Flashback on
Beberapa jam sebelumnya. Aku memberitahu kakakku tentang informasi yang aku dapatkan dari Artizy, Reznov dan Robin.
"Apa?!" Kakakku terkejut mendengar apa yang aku ceritakan tadi.
"Iya Kak, apa benar hal itu bisa saja terjadi?" tanyaku yang benar-benar penasaran.
"Aku memang pernah mendengar rumor seperti itu namun mengambil warrior orang lain di zaman sekarang ini, kurasa hal itu bisa saja benar. Terlebih ada beberapa kelompok yang saat ini tengah mengumpulkan kekuatan untuk melawan kita, umat manusia!"
"Apa kita hanya menunggu waktu mereka menunjukkan batang hidungnya?" tanyaku lagi.
Kakakku mengambil napas panjang lalu duduk di sebuah kursi panjang sambil menggenggam erat kedua tangannya. "Jika hal itu terjadi maka kau dan teman-teman mu akan bergabung di pasukan The Guardian, tapi jangan ceritakan ini kepada teman-teman mu!"
"B-baik Kak, kalo begitu aku pergi dulu, hari ini jadwal kami pergi liburan sampai 3 hari kedepan, apa Kakak akan lama berlibur disini?"
Kakakku menghela napasnya. "Hari ini adalah hari terakhirku cuti, jadi hari ini aku akan puas-puas berlibur di kota futuristik ini."
"Kalo begitu ikut kami saja, soalnya Mr. Jack tidak bisa mengawal kami karena ada urusan yang perlu di lakukannya!" ajakku kepada kakakku.
Flashback off
※※※
Another Pov
Setelah mendapatkan informasi yang mencurigakan dari Muzzy, Erina memanggil Sandman dan juga Blink yang sebenarnya selalu mengikutinya sejak hari pertandingan berlangsung.
"Sandman, aku punya misi khusus untuk kalian berdua, pergilah ke tempat pertarungan warrior ilegal dan cari tau orang yang berjubah hitam itu, kata anak-anak ada seseorang pernah melihatnya disana dan melakukan ritual pengambilan warrior secara paksa!" Erina berbicara lewat intercom kepada Sandman dan Blink.
"Di mengerti Jendral, kami akan berangkat secepatnya!" sahut Sandman.
Sandman memandang ke arah rekannya lalu mengangguk.
Blink hanya diam lalu meletakkan secangkir kopi yang ia minum tadi.
...
Disebuah gang kecil di sudut kota yang megah ini, terdapat sebuah arena dibawah tanah yang hanya orang-orang tertentu saja yang tau keberadaan arena tersebut.
"Lihat tempat ini!" ujar Sandman sambil memandang sekeliling.
"Neraka ditengah-tengah surga!" sahut Blink yang tengah menatap geram sesuatu di hadapannya.
Ia merasa sangat geram karena dihadapannya terdapat seorang pria paruh baya yang tengah menyewa seorang anak perempuan dibawah umur, alasan ia sangat geram bukan karena pria itu menyewa anak perempuan itu namun perlakuan yang pria itu berikan kepada anak itu yang membuatnya amat geram.
"Jangan lakukan hal bodoh disini, kita tidak bisa..."
Belum selesai Sandman berbicara, Pria paruh baya itu telah terbunuh dengan luka menganga di bagian leher karena sabetan benda yang amat tajam.
"Kau tidak apa, adik kecil?" tanya Blink kepada anak perempuan tadi yang kakinya bergetar dengan hebatnya karena melihat sesuatu yang mengerikan.
Anak perempuan itu hanya mampu mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun karena efek terkejut yang ia terima.
Sandman yang merasa iba langsung mengeluarkan dompetnya lalu memberikan sejumlah uang. "Ambillah ini dan berhentilah menjual dirimu, kau pasti punya mimpi yang ingin di raih bukan, untuk pria ini biar kami yang membereskannya, orang ini ada di daftar bounty hunter dan harganya lumayan!"
Pria tersebut pantas mendapatkan apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Tertulis disebuah buku bahwa pria tersebut telah melakukan hal-hal keji yang menjijikan dan juga sangat tidak manusiawi, selain menjadi predator sex dan juga pedofil, pria tersebut juga telah membunuh beberapa anggota kepala keluarga demi nafsu seksualnya. Ia juga banyak terlibat penjualan manusia atau lebih dikenal dengan istilah human trafficking.
Anak perempuan itu berterima kasih lalu berlari ke sebuah gubuk reot yang di dalamnya terdapat anak kecil perempuan yang tengah berbaring lemas karena sakit.
Blink serta Sandman mengikutinya dan hati mereka benar-benar tersayat melihat keadaanya yang cukup menyedihkan.
"Ini benar-benar neraka di dalam sebuah surga!" ucap kesal Sandman.
Setelah membantu anak perempuan itu untuk membawa anak perempuan yang lebih kecil itu ke sebuah klinik kesehatan, mereka berdua kembali menelusuri gang kecil itu.
"Ayo mampir dulu!" ajak seorang perempuan dengan pakaian minimnya.
Di depan pintu masuk mereka digeledah oleh seorang penjaga dan ditanyai ada urusan apa.
"Kami kesini untuk bertemu dengan Snake Eye, kami ingin membahas tentang perdagangan manusia!" ucap Sandman mencoba mengelabui penjaga itu.
Penjaga itu menatap dengan penuh curiga kepada mereka berdua karena wajah mereka yang terlihat tidak familiar namun Sandman berhasil menyakinkan penjaga itu.
"Baiklah, tapi berikan aku satu orang ya. Aku ingin yang umurnya sekitar 20 tahun tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, ukuran dadanya pas ditanganku!" ucap penjaga itu sambil memasang wajah mesumnya yang menurut Blink sangatlah menjijikan, beruntung ia masih sanggup menahan pedangnya itu tetap di dalam sarungnya jika tidak, penjaga ini sudah pasti bernasib sama dengan pria paru baya di awal mereka memasuki kawasan ini.
"Tentu saja kau akan mendapatkan bagian juga," Sandman semakin berusaha menyakinkan dengan kharismanya yang hebat.
Penjaga itu membukakan pintu. "Dia ada di ruang kerjanya, selamat berbisnis teman!"
"Terima kasih banyak," ujar Sandman lalu mereka berdua masuk kedalam dan langsung menuju lift untuk menuju kebawah tanah.
※※※
"Kali ini jangan lakukan hal seperti tadi, Blink. Apapun yang kau lihat jangan lakukan hal bodoh,"
"Tangan kita sudah kotor, untuk membersihkan dunia yang kotor ini!" jawab Blink yang sepertinya tidak sependapat dengan kaptennya.
Sandman menghela napasnya. "Aku tau, kita bekerja dalam kegelapan untuk menyelamatkan umat manusia, sudah berapa banyak manusia yang kita bunuh sejauh ini hanya untuk membuat dunia ini tetap bersih dan kita yang menjadi kotor?"
"Aku sudah tidak menghitung setelah korban ke 20!" sahut Blink.
"Tangan kita benar-benar kotor, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan dunia hanyalah ini!" kata Sandman dan Blink kembali ke mode diamnya.
Lift terbuka di sebuah lorong yang gelap nan dingin, hanya ada beberapa penjaga lengkap dengan senjata laras panjang dan juga beberapa wanita penghibur yang terbaring lemah tanpa sehelai kain menutup tubuh mereka, bukan hanya itu mulut mereka juga terlihat seperti mengeluarkan beberapa cairan yang entah apalah apa itu namanya.
Melihat hal itu Blink hanya bisa diam, urat-urat di sekitar kepalanya mulai memperlihatkan jati dirinya yang menandakan ada sesuatu yang tengah di pendam.
"Tahan dulu, apa mau kalian berdua kesini?" tanya Pria berkacamata hitam yang terlihat bodoh karena ruangan disini lumayan gelap.
Sandman dengan santai menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh pria berkacamata itu.
"Apa kau masih tidak percaya? Bagaimana bisa kami hanya berdua disini tanpa senjata dan juga keahlian apapun bisa berbuat yang bisa saja membunuh kami berdua. Ikat pinggang kami saja ada di depan pintu masuk apalagi handphone kami!" Sandman dengan cantiknya berargumen.
Pria berkacamata itupun mulai menurunkan kecurigaannya dan mempersilahkan masuk.
Mereka berdua pun berjalan maju, berniat memasuki ruangan Snake Eyes.
"Tunggu dulu, kenapa yang satu ini selalu diam?" Pria berkacamata itu mencegat Blink dengan menahan bahunya dengan lengannya yang penuh tatto.
"Dia sedang sariawan, tolong jangan buat dia kesakitan, makan saja susah apalagi berbicara, teman," sahut Sandman dengan logat Scotlandianya yang cukup kental.
Pria itu melepaskan tangannya dari bahu Blink lalu mempersilahkan mereka berdua masuk.
Pintu tertutup dan bisnis pun dimulai.
Sambil menghisap sebuah cerutu Snake Eyes tengah duduk santai di kursi kerjanya.
Ruangan yang gelap karena tertutup sinar matahari ini adalah tambang emas dan juga ladang minyak miliknya yang sudah membuatnya sangat kaya raya.
Snake Eyes melirik ke arah Sandman yang tengah membenarkan dasinya yang sedikit miring.
"Siapa kalian berdua, aku baru pertama kali bertemu dengan kalian?" tanya Snake Eyes dengan sinis.
"Perkenalkan namaku Roach, dan ini asistenku ia bernama Koma dan maaf jika dia tidak banyak bicara, karena mulutnya tengah bermasalah,"
Snake Eyes mengangkat salah satu alisnya. "Hah bermasalah?"
Sandman mendekatkan kepalanya lalu berbisik kepada Snake Eyes. "Kau tau teman, Sariawan!"
"Hmm, perbanyak minum air dan jauhi makanan berminyak!" saran Snake Eyes yang terlihat sudah tidak terlalu curiga lagi.
"Jadi keperluan kalian apa datang ke sini?" lanjut Snake Eyes bertanya.
Blink membuka sebuah koper yang tengah ia bawa ke hadapan Snake Eyes.
Berkilo-kilo gram obat-obat terlaran dan beberapa lembar kertas didalam koper itu.
"Apa ini?"
"G-13. Kualitas teratas, di kemas dengan sangat steril. Lalu kertas itu adalah list perempuan yang bisa kau beli!"
Snake Eyes hanya tertawa ringan lalu kembali menghisap cerutunya.
"Jika hanya perempuan, aku sudah punya banyak sekali dan mereka sudah tergila-gila dengan hal-hal seksual!"
Sandman tersenyum lalu mengambil kertas itu untuk ia baca. "Kebanyakan dari perempuan punya mu itu adalah keturunan campuran bukan, namun aku mempunya 1 keturunan asli!"
Bak tersengat listrik, Snake Eyes langsung meletakkan cerutunya di asbak. "Apa kata mu? Keturunan asli?"
Sandman tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya keturunan murni dari Indonesia, yang sudah sangat langka!"
Alangkah senangnya Snake Eyes mendengar hal itu dan rencana Sandman dengan Blink telah memasuki tahan final.
Sandman menyerahkan kertas itu dan tanpa rasa curiga sedikitpun Snake Eyes mengambil kertas itu.
Raut wajah Snake Eyes berubah drastis, keringat dingin mulai keluar di pori pori kulitnya.
Tangannya mencoba meraih sebuah telpon namun telpon itu tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian.
Sadar dirinya terancam, Snake Eyes mulai berteriak minta tolong kepada anak buahnya yang ada di luar namun seluruh anak buahnya telah dibunuh dengan mudah oleh Blink.
Sejak ia mulai terpancing akan bisnis fiktif dari Sandman, Blink sudah bergerak dalam kegelapan.
"Aku hanya ingin beberapa informasi dan kau bebas melanjutkan bisnis mu ini!" ujar Sandman sambil melepas dasinya lalu tersenyum ke arah Snake Eyes.
Tubuh Snake Eyes bergetar hebat seperti seorang yang tengah terkena stroke. "A-apa itu?"
Blink mengeluarkan sebuah foto di sakunya dan menancapkan sebuah pisau di foto itu.
"Katakan siapa dia!?" tanya Sandman dengan nada tenang namun berat bagi Snake Eyes.
...-Tbc-...
Halo semua, kayanya chapter ini sangat dark jadi tolong yang merasa tidak kuat jangan di paksakan ya hehe