
Semenjak pulang dari rumah Artizy, aku jadi terpikirkan apa yang telah di katakan oleh ayahnya tadi, terlebih tentang aktivitas aneh yang di lakukan oleh para Monster.
Aku merasa mereka sedang mencari sesuatu seperti dugaanku, sesuatu yang bisa membuat mereka menguasai dunia ini dengan kekuatan yang tiada batasnya. Pikiran itu muncul seperti sebuah kilasan di kepalaku dan membuatku terus bertanya-tanya, apa ini adalah sebuah pertanda bahwa akan adanya kehancuran lagi.
"Apa aku harus memberitahu Kakak atau tidak ya?!" Gumamku yang tengah berbaring di kasurku yang berdaya gravitasi cukup kuat.
Sebaiknya aku beritahu saja tentang apa yang di katakan oleh ayahnya Artizy, batinku di dalam hati.
Aku bangkit dari kasur dan langsung melangkah menuju ruang tengah, yang dimana kakakku sedang asik menyaksikan berita di malam hari di temani kucingku Nala.
"Kakak, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke Kakak!" ujarku yang berdiri di belakangan sofa.
"Biar Kakak tebak ... tentang perempuan, benar bukan?" sahut kakakku memalingkan kepalanya sambil tersenyum.
Aku menepuk dahiku lalu menggelengkan kepalaku perlahan. "Bukan, tapi ini tentang aktivitas aneh para Monster. Ayah Artizy, temanku yang dari Clan Hunter itu mempunyai pemikiran bahwasanya Clan Enigma lah dalang di balik ini semua tetapi beliau belum bisa membuktikannya!"
"Ah si paman Jesse itu. Tenang saja, Kakak mu ini sudah berpikir lebih jauh dari yang kau kira! Ada beberapa tersangka dan salah satunya ialah Clan Enigma, tapi keberadaan mereka masih menjadi tanda tanya, dimana mereka sekarang!?" kata kakakku dengan wajah serius.
"Apa perang mungkin akan terjadi lagi?" tanyaku sambil mengepal erat kedua tanganku.
"Bila kamu menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang!" sahut Kakakku sambil mengganti saluran tv.
Aku terdiam tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, kata-kata kakakku seperti menusuk ke dalan hati dan pikiranku, aku hanya ingin melindungi apa yang bisa aku lindungi.
※※※
Pada hari senin, aku kembali ke sekolah karena masa dari Golden Week telah berakhir, aktivitas belajar mengajar pun dilanjutkan seperti biasanya.
Mr. Jack memberitahu kami semua bahwa kami tidak akan bertarung dulu sampai akhir semester dan akan mulai bertarung ketika memasuki semester 2.
Semester ini kami dijadwalkan hanya akan mendapatkan pelajaran teori dan pelatihan fisik agar tubuh kami tetap terjaga kebugarannya dan lebih banyak pengetahuan mengenai pertarungan.
"Ah membosankan, aku sangat ingin bertarung," ucap salah satu murid di kelasku.
"Rupanya si pendiam, bisa berbicara juga?!" sahut Mr. Jack terkejut lalu tersenyum kearahnya.
Dia adalah Taka, teman sebangku Maze. Dia tidak terlalu banyak bicara dan terlihat misterius tapi sebenarnya dia orang yang ambisius, karena aku bisa merasakan aura yang terkadang ia keluarkan.
Taka berasal dari Clan Cloud, dia memiliki Warrior Shadow Ninja bertipe Offensive Fighter dengan senjata khasnya yaitu sebuah Awakened Chain Sickle.
"Oh Iya, bapak juga ingin menyampaikan bahwa sebentar lagi kalian akan mendapatkan ujian tertulis jadi kalian semua akan mendapatkan jam pelajaran tambahan, hohoho bapak sangat bersemangat sekali!"
Artizy yang mendengar hal itu langsung meletakkan kepalanya ke meja dengan lemas dan bergumam dengan bahasa yang sama sekali tidak ku mengerti.
"Apa yang terjadi pada mu, kawan! Tetap bersamaku Artizy!" kataku yang sedikit panik karena dia terus menerus-menerus bergumam dengan bahasa aneh.
Selain Artizy yang bersikap aneh, sebagian anggota kelas juga langsung lemas ketika mendengar hal itu. Benar saja, kebanyakan pengguna pelajar sangat membenci tes tertulis karena selain merepotkan, berpacu dengan waktu yang tidak bisa di hentikan dan juga soal tesnya terkadang sangat susah serta diluar ekspektasi itulah alasan mengapa para pelajar kurang menyukainya.
Saat keadaan gaduh membahas tes tertulis, Mr. Jack memberitahu bahwa siang ini akan ada pertandingan yang bisa kami saksikan. Di dalam pertandingan, para warrior diberi pilihan apakah menginginkan bertandingan terbuka atau tertutup.
Biasanya Warrior yang memilih pertandingan terbuka adalah para warrior yang ingin pamer kekuatan atau terkesan memprovokasi calon lawannya tapi ada juga yang memilih terbuka untuk menghibur karena pertarungan yang disuguhi biasanya sangat sengit dan mengesankan.
"Siapa yang akan bertanding, Mr. Jack?" tanya salah seorang murid dikelas kami.
"Lihat saja nanti, kalian juga akan tau sendiri. Dari pada nanya mulu, sebaiknya kita langsung menuju Arena 5 karena di sana tempat bertandingnya!" sahut Mr. Jack dan langsung berlari keluar kelas.
Mau tidak mau kami semua harus menonton pertandingan itu, sebenarnya aku sangat malas tetapi mau bagaimana lagi jika tidak ikut maka Karin akan menghukum kami yang tidak ikut menonton.
※※※
Note : LB mengganti kelas para Elder yang sebelumnya ada sebagian masih kelas 11 menjadi kelas 12, sesuai dengan namanya Elder berarti tetua ya berarti harus berpengalaman jadi LB putuskan memasukkan mereka ke kelas 12 semuanya dan para calon Elder ada di kelas 11.
Seluruh siswa dan siswi kelas 10 ikut menonton pertandingan ini, rupanya para guru-guru wali kelas mereka juga memerintahkan seluruh anak muridnya untuk menonton.
Seperti biasa terjadi diskriminasi antara kelas A-F, para kelas lain mendapatkan tempat duduk yang enak sedangkan kami hanya mendapatkan tempat duduk yang biasa-biasa saja.
"Inilah yang membuatku ingin sekali mengubah sistem di sekolah ini!" geram Artizy sambil melihat para kelas A yang mendapat ruangan khusus.
"Iya, lihat saja mereka mendapatkan makanan gratis dan juga ruangan ber AC," sahut Reznov iri melihat para kelas A mendapatkan makanan gratis.
"Bersyukurlah kalian berdua, untung saja kita mendapatkan tempat duduk dan tidak berdiri sepanjang pertandingan," ucap Robin yang masih asik membaca novel.
Aku duduk bersebelahan dengan Mika yang terlihat sangat bersemangat dan di sampingku juga ada Artizy yang masih kesal karena perbedaan tempat duduk.
"Sudah lh Artizy, berhentilah marah-marah," ujarku menepuk pundak Artizy.
"Benar itu Artizy, sebaiknya kita nikmati saja pertandingan hari ini. Mungkin saja kita bisa belajar banyak dari pengalaman menonton, betul bukan Muzzy?" ujar Mika tersenyum kepada kami berdua.
"Apa yang dikatakan Mika ada benarnya Artizy!" sahutku membenarkan apa yang dikatakan Mika tadi memang benar.
"Prepare for battle!" suara pengumuman untuk mempersiapkan pertandingan.
Hari ini ada banyak pertandingan tetapi hanya Arena 5 yang di buka untuk umum, sisanya pertandingan tertutup dan yang akan bertarung adalah antara salah satu anggota kelas 11 A dan salah satu anggota kelas 11 B.
Gerbang timur dan gerbang barat mulai terbuka secara perlahan, memperlihatkan siapa yang akan bertanding.
"I-itu tuan Putri Yasmin dari Clan Saladin!" ujar Farah sambil menunjuk ke arah Putri Yasmin yang keluar dari gerbang Timur.
Clan Saladin adalah salah satu clan yang termasuk dari 10 besar Clan Fundamental.
Sedangkan dari gerbang barat keluar seorang murid laki laki berkacamata kotak, yang sepertinya dia bukan dari Clan manapun karena tidak ada lambang Clan di seragamnya.
Para panitia pertandingan memberitahu beberapa informasi kepada para pemula yaitu para kelas 10 yang menonton pertandingan ini, mereka memberitahu beberapa peraturan penting dalam pertandingan yaitu bertarung dengan sportif, tidak ada batas waktu bertanding dan jika sudah tidak mampu bertarung lagi diperbolehkan untuk menyerah. Peraturan yang sangat simple seperti itu tetapi membuat Artizy tidak mengerti.
Aku dan yang lain hanya tertawa ketika dia mengucapkan pertanyaan seperti itu.
"Hey aku serius teman-teman!" tepisnya sambil berdiri membalikkan badan ke arah kami semua.
※※※
Another POV
Pertandingan antara Putri Yasmin dari kelas 11 A dan Toni dari kelas 11 B akan segera dimulai. Putri Yasmin berasal dari Clan Saladin sang penguasa Middle East pemilik dari Warrior Desert Blader bertipe Offensive Fighter dengan senjata Double Blades Badar's .
Sedangkan Toni tidak berasal dari Clan manapun, dia memiliki Warrior Tinker bertipe Semi Offensive Fighter dan Semi Offensive Ranger bersenjatakan sebuah pistol bernama Red Ruby Glock dan sebuah Robot besar bernama Robo Bolt. Mereka berdua sama-sama rank nomor 1 di kelas mereka masing masing.
"Apa kau tidak takut, kulit mulus seorang putri seperti mu lecet?" ejek Toni yang berada di hadapannya saat ini.
"Aku ragu, mungkin kacamata mu itu yang akan lecet, oh atau mungkin robot mu itu akan ku jadikan koleksi patung di rumahku," sahut Yasmin tersenyum pahit.
"Summon!" teriak mereka berdua.
"Mari kita lihat siapa rank 1 yang paling hebat di angkatan kelas 11!" ujar Yasmin sambil mengangkat senjatanya ke arah Toni.
Toni tertawa kecil lalu muncul robot raksasa yang membawa senjata sebuah pedang bermata gergaji. "Tentu saja aku dan Bolt yang akan memenangkan pertandingan ini!"
"10 second to Battle!" suara pengumuman yang mulai menghitung mundur pertandingan yang di ikuti oleh para penonton.
"9"
"8"
"7"
"6"
"5"
"4"
"3"
"2"
"1"
"Battle has begin!"
Toni dan Robo Bolt langsung berlari menuju Putri Yasmin yang sudah sigap menghadang mereka, dengan sangat cepat Putri Yasmin menghindari serangan bertubi-tubi milik Toni layaknya angin gurun yang menerbangkan pasir.
"Hebat!" Artizy terkagum-kagum oleh gerakan Putri Yasmin.
"B-bagimana bisa dia menghindari setiap serangan itu padahal serangan tadi sudah pasti kena!" kata Reznov kebingungan dengan gerakan lincah dari Putri Yasmin.
"Hanya itu kemampuan mu dan Robot jelek mu itu?" ujar Putri Yasmin tersenyum puas karena telah berhasil membuat Toni kewalahan, padahal baru beberapa menit bertanding.
Putri Yasmin berlari sambil memegang erat pedangnya kearah Toni yang masih mengatur napas karena sudah mulai kehabisan energi.
Toni tidak tinggal diam, ia mencoba menembakkan beberapa peluru kearah Putri Yasmin, tetapi tembakan itu semuanya sia-sia dengan sangat mudah Putri Yasmin menangkis dan menghindar.
Dengan secepat angin Putri Yasmin menyayat perut Toni.
Toni mengeram kesakitan, ia menahan rasa sakit dengan menekan luka sayatan dengan tangan kirinya.
Putri Yasmin memalingkan tubuhnya lalu memandang Toni yang tengah tersungkur. "Sebaiknya kau menyerah saja!"
Toni bangkit dengan sekuat tenaga yang tersisa, tubuhnya bergetar karena menahan luka yang ia derita. Toni memandang Putri Yasmin lalu mengangkat tangan kirinya keatas.
"Aku tidak akan menyerah! [Black Massive Missile]!" teriak Toni dengan lantang.
2 buah rudal sebesar 1 meter keluar dari belakang tubuh Robo Bolt dan langsung mengarah Putri Yasmin dengan cepat.
Putri Yasmin melompat mundur jauh ke belakang lalu mengangkat kedua pedangnya keatas. "[Sand Storm]!"
Sebuah badai pasir tercipta di dalam Arena yang membuat penonton bersorak. Suasana menjadi sangat tidak karuan dan beberapa saat kemudian terjadi ledakan yang sangat besar di dalam Arena.
"A-apa yang terjadi?" tanya Artizy yang berdiri dari duduknya.
Tidak berlangsung lama badai pasir itu mulai menghilang dan memperlihatkan dua orang yang terlihat sama-sama tak kuasa menahan kakinya tetap tegap berdiri dan satu robot yang sudah tergeletak dengan kerusakan yang sangat parah.
Tubuh Toni dipenuhi luka sayat sedangkan Putri Yasmin mengalami luka yang cukup serius di bagian punggungnya, terdapat luka yang sangat besar akibat terkena serangan rudal milik Toni.
"S-setelah sekian lama akhirnya ada seseorang yang bisa menghancurkan Robot kesayanganku!" ucap Toni lalu kehilangan keseimbangannya dan jatuh tersungkur.
"Kau benar-benar membuat kulitku lecet, kau memang kurang ajar!" balas Putri Yasmin lalu juga ikut tersungkur.
Pertandingan di anggap seri karena tidak ada petarung yang berhasil bertahan.
"Putri Yasmin membuat sebuah badai pasir lalu bertarung di dalam badai itu, dia sangat hebat tetapi Kak Toni sudah menembakkan rudal besarnya yang sudah menargetkan Putri Yasmin. Mereka berdua memang hebat!" puji Muzzy sambil bertepuk tangan karena pertandingan yang sangat sengit tadi.
"Jadi itu kekuatan para calon Elder!? Aku harus bisa melampaui mereka semua!" ujar Artizy mengepal kedua tangannya.
-Tbc-