
Waktu terus berjalan seperti mana tugasnya, hiruk pikuk penonton masih saja terdengar jelas di telinga ini bahkan sampai ke ruang perawatan yang jaraknya sudah lumayan jauh dari lapangan arena.
Masih tersisa 10 menit lagi dari batas waktu yang telah diberikan oleh panitia pertandingan untuk menuju pertandingan yang menjadi akan jadi penentu, apakah kelas kami, 10F akan menjadi juara ataukah kelas 10D, yang akan memenangkan pertandingan ini dan memberi mereka harapan untuk kembali bertarung lagi. Semuanya akan terjawab dalam pertandingan nanti yang entah apa nanti yang terjadi, terkadang keajaiban bisa saja terjadi atau sesuai hal yang tidak di sangka-sangka mungkin pula terjadi.
Saat ini kesadaran Reznov sudah mulai kembali namun belum sepenuhnya, kondisinya cukup memprihatinkan, tubuhnya masih terbaring lemas di atas kasur. Tetapi kami semua belum boleh menjenguknya terkecuali Mr. Jack yang terlihat berbincang-bincang dengan Reznov.
Mr. Jack terlihat juga berterima kasih kepada semua perawat yang ada, begitu pula dengan kami semua.
"Reznov berpesan kepada Bapak tadi, ia mengatakan bahwa kalian semua harus terus bersemangat dan buktikan bahwa kelas kita bukan seperti yang mereka pikirkan. Jadi ayo kita kalahkan mereka!" ucap Mr. Jack kepada kami dengan penuh semangat.
Mendengar hal itu, membuat semangat kami yang semulanya agak luntur akhirnya kembali berkobar lagi.
Kondisiku sudah mulai membaik dan aku juga sudah siap menjadi assisten bertarung untuk teman-temanku kali ini. Doakan saja aku mampu memberikan yang terbaik walaupun aku juga sedikit gugup.
5 menit kemudian, kami semua sudah berada di pinggir arena. Teman- teman yang lainnya di perintahkan oleh Mr. Jack untuk melakukan pemanasan ringan sebelum pemilihan siapa yang akan bertarung di babak penentu ini. Aku memprediksi sepertinya Karin/Robin yang akan bertarung kali ini namun itu hanya prediksi yang hasilnya aku juga tidak tahu.
...
Pemilihan mulai di lakukan, kelas 10D mendapatkan bagian pemilihan pertama. Hal pertama yang aku rasakan adalah detak jantung menjadi lebih cepat, kurasa aku benar-benar gugup kali ini padahal tadi santai-santai saja.
Terpilihlah dua murid laki-laki yang mewakili kelas 10D. Anak murid pertama yang terpilih memiliki tubuh gempal, aku duga dia memiliki warrior bertipe Tank. Lalu anak murid selanjutnya berbadan kecil namun di wajahnya terlukis bekas luka yang cukup besar, mungkin dia pernah mengalami hal yang mengerikan atau mengalami kejadian traumatik dimasa lalu.
Selanjutnya, benar dugaanku. Karin terpilih menjadi starter dan di damping malaikat kelas kami, siapa lagi kalo bukan Mika yang senyumnya bisa membuat hati yang berapi-api langsung padam menjadi sejuk seperti baru di terpa angin dari surga.
"Ketua Karin! Mika! Ini catatan mereka," ujarku memperlihatkan kepada mereka berdua, catatan informasi kedua murid laki-laki tadi.
"Waaaa, mereka lawan yang kuat, Ketua Karin!" ucap Mika kepada Karin.
Karin menggigit ibu jarinya lalu berkata. "Memang benar mereka adalah lawan yang tangguh tapi kombinasi kita jauh lebih menguntungkan!"
"Ini akan menjadi pertarungan yang seimbang, terlebih salah satu dari mereka adalah pengguna Warriror dengan tipe Tank!" ujarku.
Wajah Mika berubah menjadi sedikit cemberut namun aku langsung memberinya semangat.
"Jangan cemberut seperti itu, kau kan juga sudah berlatih bersamaku. Percayalah bahwa kemampuan mu mampu mengalahkan mereka, Mika!" ujarku tersenyum sambil mengelus-elus kepalanya.
Mika hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
Aku memberitahu mereka apa saja yang aku tau tentang lawan, aku juga mengandalkan informasi-informasi yang ada untuk menemukan kelemahan dan kekurangan dari komposisi kedua lawan mereka.
Pertama, anak berbadan gempal itu sangatlah lambat, sedangkan anak yang satunya kecepatannya hanya mencapai rata-rata namun aku tidak tau apakah dia mempunyai skill yang mampu meningkatkan kecepatannya.
Kedua, anak yang berbadan gempal itu mempunyai senjata yang bisa dibilang unik yaitu seperti alat yang ada di Dozer. Lalu anak yang satunya memiliki senjata tombak kapak atau sering disebut dengan Halberd.
"Mereka memiliki jarak serang dekat, namun tetap waspada!" saranku kepada Mika dan Karin.
Mereka berdua mendengarkan saran-saranku dengan sangat seksama tetapi aku juga tidak selalu memberi saran, terkadang Karin sendiri yang memberi masukan lalu aku hanya menambah-nambah beberapa saran, sedangkan Mika hanya mengangguk-angguk.
***
Another Pov
Hanya tersisa 1 menit lagi sebelum hitung mundur jalannya pertandingan dimulai. Kedua belah pihak sudah saling mendapatkan informasi-informasi dari masing-masing lawan mereka.
Murid laki-laki berbadan gempal yang bernama Narayan ingin melawan Mika, dengan modal senjata yang bisa menyapu apa saja yang ada di hadapannya ia mempunyai kepercayaan diri yang besar.
Sedangkan anak murid satunya lagi bernama, Heinrich ingin melawan Karin. Ia juga mempunyai kepercayaan diri yang tinggi karena merasa warriornya sangat mampu menandingi warrior milik Karin, bukan saja menandingi namun juga mampu mengalahkan Karin sendiri.
"Ayo kita lakukan ini Narayan!" ajak Heinrich lalu melakukan tos kepalan tangan kepada Narayan.
Heinrich dan Narayan melangkah menuju tengah lapangan yang menandakan mereka sudah siap.
"Cek, cek, cek!" ucap Muzzy mencoba mengecek apakah alat bantu komunikasi yang ada di telinga Mika dan Karin berfungsi dengan baik.
"Sangat jelas, mohon bantuannya Muzzy!" sahut Karin, sambil memberi gesture bahwa alatnya sangat berfungsi.
"I-iya sangat jelas sekali Muzzy, mohon bantuannya ya, Muzzy!" sahut Mika sambil memberi senyum kepada Muzzy yang saat ini berada di sisi lapangan.
"Ingat pesanku tadi, murid bertubuh gempal atau bernama Narayan itu pemilik dari warrior Transforter bertipe Tank dengan senjata Dozer Pusher. Warrior dengan senjata ini sangat berbahaya karena mampu menyapu musuhnya dari atas arena!"
"Sedangkan Heinrich memiliki warrior Reenactor bertipe Offensive Fighter dengan senjata Halberd of Bran's, senjata ini adalah gabungan kapak dengan tombak, menusuk dan menghancurkan adalah kekuatan tersendiri dari senjata miliknya jadi berhati-hatilah karena aku sangat yakin dia akan menggunakan 100% potensi dari senjatanya dan warriornya itu untuk melawan kalian berdua!" lanjut Muzzy yang mengingatkan kembali informasi lawan dari Mika dan Karin.
Tidak lama kemudian, hitung mundur sudah mulai dilakukan bersama-sama. Bukan hanya penonton tapi juga seluruh komponen yang ada di arena.
Ketika hitungan mencapai angka 1, Karin langsung membuat arena di sekitarnya di tumbuhi akar-akar pohon yang ukurannya cukup besar untuk menghalangi serangan dari Narayan dan kawannya itu, selain menumbuhkan akar-akar besar, Karin juga menumbuhkan beberapa bunga yang amat cantik namun itu bukanlah bunga cantik biasa.
"Perempuan itu pintar juga!" satir Narayan yang kesal karena tidak bisa mengoptimalkan senjatanya.
"Tentu saja ia pintar, ia itu ketua kelas dan lagipula ia juga pemilik warrior yang bisa dibilang merepotkan!" sahut kawannya Heinrich sambil tersenyum melihat ke arah musuhnya berada saat ini.
Sesuai dengan strategi yang Muzzy, Karin dan Mika buat. Karin dan Mika hanya akan menyerang jika mendapatkan peluang emas, satu-satunya cara untuk menyerang mereka adalah menyerang melewati depan tetapi itu adalah umpan agar mereka melewati bunga-bunga yang telah di tumbuhkan oleh Karin.
"Aku menyebut strategi ini dengan strategi kura-kura!" ucap Muzzy dengan bangga layaknya seorang Jendral yang berhasil mempresentasikan strateginya kepada kepala negara.
***
"Kita serang lewat depan saja!" ujar Narayan.
Narayan pun langsung melakukan ancang-ancangnya. Ia seperti banteng yang hendak menanduk lawannya tanpa berpikir panjang dan hanya menggunakan emosinya saja.
"Tunggu dulu, Narayan!" ucap Heinrich menghentikan ancang-ancang Narayan.
"Apa kau tidak melihat bunga-bunga yang ada di depan akar-akar besar itu?" lanjut Heinrich.
"Ah itu pasti hanya bunga biasa! Biar ku ratakan dengan senjataku ini!"
"Kurasa itu ide yang buruk Narayan, begini saja ...." Heinrich lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Narayan. Ia membisikkan rencana untuk mampu menyerang dari pertahanan Karin dan juga Mika.
Narayan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia setuju dengan semua rencana yang di buat oleh Heinrich.
Narayan lalu kembali mengambil ancang-ancangnya namun kali ini Heinrich berada tepat di atas senjatanya milik Narayan.
"Apa yang mereka rencanakan!?" tanya Muzzy sambil memperingati Karin dan Mika.
Narayan mulai berlari dengan sangat kencang, bahkan membuat lantai arena bergetar karena kuatnya kekuatan dari larinya.
Pertanyaan Muzzy akhirnya terjawab ketika Maze memberitahunya. Rupanya mereka menggunakan strategi kavaleri yang dimana Heinrich sebagai ujung tombak untuk menghancurkan apa saja yang ada di depannya dengan kekuatan dari senjatanya Halberd of Bran's.
Bunga-bunga nan indah itu hancur berkeping-keping akibat dari terjangan mereka. Menerbangkan serbuk-serbuk berwarna kuning yang terlihat mengkilap jika terkena sinar matahari ataupun cahaya lampu.
"Mika menghindar!" ucap Karin lalu melompat menghindar dari serangan Kavaleri dari Narayan dan Heinrich.
Narayan tertawa puas ketika berhasil menembus pertahanan dari Mika dan juga Karin.
Heinrich langsung melompat sambil mengarahkan ujung tombak kapaknya itu ke arah Karin, namun dengan sigap Karin menahan serangan itu dengan akar-akar yang keluar dari lantai Arena.
"Tunggu dulu, kau ini bukannya anak dari Shira sang The Sentinel Hero bukan?" tanya Narayan kepada Mika.
Mika yang binggung kenapa lawannya harus bertanya terlebih dahulu sebelum menyerangnya hanya bisa mengangguk sambil tetap menjaga jarak serang dari Narayan.
"Wah, jika aku mengalahkan anaknya apakah aku bisa menjadi seperti dia!" ucapnya lalu mengangkat senjatanya keatas.
Serangan Narayan hanya mengenai lantai Arena, serangan itu bahkan membuat bedu berterbangan dan hal itu langsung di manfaatkan oleh Mika untuk menyerang Narayan.
"[Light of Justic]!" rapal Mika mengeluarkan skill serangannya.
Terdengan dentuman keras namun tidak di iringi oleh suara kesakitan atau rintihan, malahan Mika hanya mendengar suara tertawa.
"Hahaha, tadi itu sangat menggelikan. Serangan seperti itu tidak bisa mengancurkan Rock Solid milikku yang keras apakah itu yang di ajarkan oleh ayah mu?!" pancing Narayan sambil menggaruk perutnya yang terkena serangan Mika tadi.
"Jangan terpancing dengan apa yang ia katakan Mika, tetap fokus dan cari titik kelemahannya!" ujar Muzzy memberikan arahan di radio.
Pertarungan Karin dengan Heinrich juga tidak kalah menegangkan. Akar-akar yang diciptakan Karin sama sekali bukan tandingan dari senjata milik Heinrich yang kuat dan juga mematikan.
"[Giant Root]!" rapal Karin menciptkan sebuah akar raksasa yang menerjang lurus ke arah Heinrich.
Tubuh Heinrich langsung terseret dan akhirnya terbentur ke arah dinding-dinding akar yang telah dibuat oleh Karin.
Penonton langsung bersorak gembira, mulai terdengar sorak-sorak memberi semangat kepada kelas 10F. perlahan namun terus menerus sorak-sorak itu terdengar dan akhinya mulai bergema nyaring di dalam Arena.
...-Tbc-...