
Another Pov
Dimna dan Kalila tengah menikmati sarapan mereka sambil berbincang-bincang mengenai bocah kubus bernama Muzzy yang hal itu membuat telinga Mayumi berubah menjadi merah bak disengat oleh seekor lebah. Mendengar pujaan hatinya dibicarakan tentu saja menimbulkan efek penasaran yang membuatnya memberanikan diri untuk menanyakan kepada mereka berdua kenapa harus membicarakan sosok Muzzy.
"Kalian sudah tau tentang Muzzy?" tanya Mayumi
Mereka berdua mengangguk.
"Sampai sejauh mana?" tanya Mayumi lagi.
"Sampai mana ya, Dimna?"
"Iya sampai mana ya, Kalila?"
Di dalam hati Mayumi berkata. Menganggap mereka berdua benar-benar bodoh.
"Kami belum tau banyak, memangnya dia itu seperti apa jadi sangat di incar oleh tuan Wilkes?" tanya Dimna sambil di iringi anggukan khas anak kecil kembar ketika salah satu kembarannya berhasil membaca pikirannya juga.
"Dia itu lebih dari hanya sekedar target biasa yang sering di bicarakan oleh tuan Wilkes, dia adalah kunci dari semua yang tengah di bangun oleh tuan Wilkes saat ini!" sahut seseorang yang datang dari sebuah ruangan.
Dia adalah kepala pengasuh anak-anak yang ada di tempat penitipan anak-anak kurang beruntung yang Wilkes tampung. Wanita itu bernama Noel, dia juga salah satu tangan kanan Wilkes yang sangat berbahaya. Mungkin terlihat tugasnya hanyalah mengasuh anak-anak namun ia juga yang melatih anak-anak disini. Anak-anak akan diberikan sebuah suntikan serum pendorong kemampuan warrior yang berkedok imunisasi. Memang benar imun mereka langsung meningkat, mereka jadi jarang terkena penyakit bahkan kekuatan mereka bisa berkembang jauh lebih cepat pada anak pada umumnya.
Contoh anak yang paling berhasil adalah Dimna dan Kalila, selanjutnya adalah Mayumi.
Mayumi adalah anak paling tua dari semua keseluruhan anak-anak ditempat itu. Namun sebenarnya Mayumi adalah satu-satunya anak yang selamat dan berhasil bertahan dari suntikan imunisasi tersebut.
Para ilmuan yang Wilkes bayar akhirnya berhasil memperbanyak dan memberikan resepnya kepada Wilkes dan tentu saja bayaran yang para ilmuan itu ialah kematian untuk mereka semua. Wilkes begitu bahagia dan juga sedih dalam bersamaan, bahagia karena ia berhasil menemukan serum pendorong dan sedih karena anak-anaknya harus mati begitu saja dan beruntung baginya Mayumi tidak mengingat apa-apa bahkan ia di susupi sugesti bahwa teman-teman yang lain telah pergi karena telah menemukan keluarga sambung di luar distrik.
"Ah bibi Noel, selamat pagi!" sapa Mayumi kepada Noel.
"Selamat pagi, Mayumi. Ayo habiskan sarapan mu dan bergegaslah bersekolah, dan untuk kalian berdua. Dimna dan Kalila, hari ini jadwal kalian untuk membersihkan halaman belakang jadi jangan kabur lagi, kalian mengerti?!" tegas Noel kepada Dimna dan Kalila.
Mereka berdua hanya bisa mengangguk, wajah mereka seperti anak yang takut di marahi oleh orang tuanya terlebih seperti anak yang takut dimarahi oleh ibunya.
Noel tersenyum lalu berkata. "Syukurlah, tapi jika kalian melarikan diri lagi. Kalian berdua tidak akan mendapatkan jatah makan malam untuk 1 bulan penuh!"
...
Another pov end
Hari demi hari telah berlalu begitu cepat, para warrior yang mengikuti seleksi untuk memasuki tim Mercy perlahan sudah mulai terlihat. Kebanyakan dari mereka tiba-tiba saja tidak hadir ketika dijadwalkan bertarung, kondisi penonton pun terkadang hanya beberapa saja yang menonton. Aku menduga ini semua perbuatan Kyle dan rekan-rekannya namun mereka bermain bersih dengan memanfaatkan ketakutan murid-murid untuk menggunakan mereka sebagai kambing hitam atau hanya sekedar alat untuk menggagalkan rencana tim Mercy yang dibuat oleh kak Zen untuk menentang pemikiran Kyle yang menginginkan para murid untuk melakukan pertandingan sudden death.
Sudden Death adalah konsep yang sering digunakan dalam pertandingan Warrior illegal, siapa saja yang berhasil mengalahkan lawannya berhak atas nyawa lawannya tersebut. Kak Kyle berpikir hanya itu satu-satunya cara untuk mengeluarkan potensi kehebatan masing-masing warrior tapi kak Zen melihat hal itu bukanlah sebuah cara yang manusiawi melainkan hanyalah sekedar permainan penghibur bagi Kyle sendiri yang pikirannya sudah tidak waras lagi.
"Lagi-lagi lawanku tidak hadir," ucap Reznov sambil menancapkan lagi pedangnya ke lantai arena.
"Ini benar-benar tidak aneh, tidak mungkin seseorang seperti kak Toni kabur dari pertandingan pentingnya," ujar Lumia yang di wajahnya terpampang jelas tanda tanya besar.
"Jelas ini ulah Kyle bajingan itu!" sahut Reznov sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kau tidak bisa menuduh begitu saja tanpa bukti nyata."
"Jelas sekali ini ulah dia, Muzzy!" sahutnya lagi.
Aku juga berpikir seperti itu tapi kakakku selalu memberitahu untuk tidak menuduh seseorang tanpa bukti kuat. Hal pertama yang kau harus lakukan adalah mencari kepingan bukti lalu menyusunnya menjadi sebuah rangkaian sampai akhirnya kau berhasil mendapatkan bukti yang jelas.
"Bagaimana kabar pertandingan Ellen?" tanya Artizy sambil melihat ke sebuah layar monitor besar yang tengah menayangkan pertandingan Ellen berlangsung.
...
Another pov
Pertandingan Ellen jauh lebih sengit dibanding ketika ia melawan lawannya ketika ia masih kelas 10 tahun lalu.
Melawan murid kelas 12 yang memiliki lebih banyak jam terbang malah membuatnya semakin bersemangat, bertarung selama 20 menit lebih telah menunjukkan bahwa betapa sengitnya perlawan dari kedua warrior mereka bertarung sambil membawa kehormatan warrior mereka masing-masing.
Ellen sekarang telah berkembang menjadi mesin penghancur yang jauh lebih kuat dibanding ketika ia masih dikelas 10. Latihan yang rutin ia lakukan membuahkan hasil yang membuatnya mampu mengalahkan seorang Reznov dan Robin namun ia tidak pernah menang melawan Artizy yang itupun akhirnya menjadi targetnya, yaitu mengalahkannya dan membuatnya babak belur karena dulu pernah membuatnya jatuh cinta.
Dengan mengayunkan kapaknya secara vertikal, kemenangan akhirnya diraih oleh Ellen.
"Itu baru Ellen yang ku kenal!" sorak gembira Karin di bangku penonton.
"Wah Ellen hebat sekali!" puji Mika sambil bertepuk tangan sambil sesekali melambaikan tangannya ke arah Ellen yang juga melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
***
Muzzy dan kawan-kawannya berkumpul untuk merayakan kemenangan Ellen dan Reznov disebuah restoran keluarga.
"Ayo kita bersulam untuk kemenangan Ellen!" ujar Karin sambil mengangkat gelas minumannya ke atas lalu di ikuti oleh semua kawan-kawannya.
"Bersulam!" ucap mereka kompak.
"Tapi kenapa hanya Ellen yang dirayakan, kan aku juga ikut menang hari ini?" tanya Reznov yang wajahnya sedikit sedih.
"ttapi kan..."
"Sudah-sudah, ayo bersulam untuk kemenangan Reznov juga!" potong Ellen sambil tersenyum bahagia.
Dengan air mata yang mengalir bahagia Reznov langsung berterima kasih kepada Ellen sambil diiringi tawa dari kawan-kawannya.
Another pov end
Kami semua tertawa bersama-sama sambil menikmati nikmatnya hidangan yang kami pesan. Artizy yang terlihat malu-malu karena harus duduk bersampingan dengan Karin membuat suasana juga menjadi semakin asik dan menyenangkan.
"Bagaimana kondisi mu, Mika?" tanyaku yang duduk di sampingku.
Ia tersenyum seperti biasa lalu berkata. "Aku sudah tidak apa-apa lagi, tapi agak masih terasa sakit ketika aku harus mengangkat sesuatu yang agak berat."
Mika mengalami kekalahan ketika ia harus melawan Putri Yasmin. Bahunya mengalami cidera ringan yang membuatnya tidak di izinkan untuk bertarung untuk sementara waktu sampai bahunya benar-benar pulih. Pertarungan mereka berdua bisa dikatakan hampir seimbang namun pengalaman yang lebih banyak di dapatkan oleh Putri Yasmin anak kelas 12 yang juga digadang-gadang akan menggantikan sosok ayahnya yang menjadi ketua Clan Saladin itu tidak bisa dianggap remeh.
"Syukurlah, sebaiknya jangan memaksakan diri dulu. kau harus perbanyak istirahat dibanding harus ikut bersama kami yang jadwal latihannya juga banyak."
Tapi ia malah menjawab kalo dia tidak ikut latihan, kami semua tidak akan mendapatkan makanan karena Mika lah yang selalu membuatkan kami semua makanan setelah kami berlatih.
"Sepertinya aku tidak akan bisa mengalahkan tuan Putri yang satu itu," sahut Robin sambil meletakkan gelasnya.
"Dia yang menjadi lawan mu dipertandingan selanjutnya bukan?" tanya Artizy.
Robin mengangguk lalu menghela napasnya. Ia bukannya menyerah begitu saja namun kekuatan warrior yang di miliki oleh Putri Yasmin lah yang membuatnya berpikir ratusan kali untuk melawannya. Warrior yang dimiliki Robin lemah ketika harus berhadapan dengan Sand Storm milik Putri Yasmin, mulai dari pandangan sampai pendengarannya tidak berfungsi maksimal ketika ia terjebak di dalam Sand Storm milik Putri Yasmin.
"Tenang saja Robin, aku yakin kau pasti bisa mengalahkannya!" ujar Artizy yang mencoba mengangkat semangat Robin yang juga di ikuti oleh kawan-kawan yang lain.
Robin tersenyum lalu berkata. "memangnya aku pernah bilang aku sudah kalah?"
"Nah itu baru semangat!" sahut Artizy sambil mengacak-acak rambutnya yang hampir saja membuat kacamata Robin terjatuh.
...
Setelah mengantar Mika kembali ke rumahnya, aku berniat untuk mampir dulu ke super market untuk membeli beberapa makanan ringan untuk di simpan dan juga makanan untuk Nala yang sudah hampir habis.
Setelah membeli banyak makanan dan juga makanan untuk Nala, aku melewati sebuah taman yang terlihat ada dua orang anak kecil, anak yang satu terbaring lemas di salah satu kursi taman sedangkan satunya lagi duduk lemas di ayunan taman.
Aku yang melihat bayangan mereka berdua sudah pasti yakin bahwa mereka bukanlah hantu anak-anak yang suka mengganggu dan suka bermain-main di taman ketika malam hari.
"Kalian berdua tidak apa-apa?" tanyaku kepada mereka berdua yang dijawab hanya dengan gelengan kepala.
Aku mendengar suara perut mereka yang berbunyi menandakan perut mereka tengah kosong. Aku mengambil beberapa bungkus kue kesukaan ku dan kakakku dan tak lupa pula aku membelikan mereka beberapa botol air minum dari mesin vending minuman yang ada di dekat taman.
Mereka berdua langsung memakan kue itu dengan lahap.
"Siapa nama kalian berdua?" tanyaku sambil menyaksikan mereka terus melahap memakan kue yang ku beri tadi dan sesekali meminum air yang juga aku berikan kepada mereka.
"Dimna!"
"Kalila!"
Ujar mereka berdua bergantian menyebutkan nama mereka. Rupanya mereka adalah anak kembar, pantas saja ketika aku melihat wajah mereka, mereka begitu mirip satu sama lain hanya saja pita yang di gunakan kedua anak kembar ini warnanya berbeda satu dengan yang lainnya.
Dimna mengenakan pita berwarna hitam sedangkan Kalila mengenakan pita berwarna putih.
Aku duduk disamping mereka berdua sampai mereka akhirnya menghabiskan makanan yang aku berikan tadi.
Mereka berdua tersenyum lalu mengucapkan terima kasih sambil menundukkan kepalanya kepadaku yang membuatku sedikit malu dan tidak enak walaupun mereka masih anak-anak tetap saja aku merasa tidak enak.
"Hehe sama-sama, ngomong-ngomong dimana rumah kalian dan dimana orang tua kalian, apa mereka tidak khawatir kalian tidak pulang, inikan sudah malam loh?"
Dimna menggeleng lalu Kalila yang menjawab pertanyaanku.
"Kami dari kecil sudah tidak punya orang tua."
Mendengar mereka tidak punya orang tua, aku merasa ada kemiripan yang terjadi antara aku dan mereka berdua. Mereka sudah sekecil ini harus kehilangan orang tuanya, aku tidak habis pikir bagaimana mereka berdua bisa bertahan dari kejamnya dunia ini.
"Aku turut sedih, tapi apa kalian punya rumah?" tanyaku penasaran.
Kali ini Kalila yang mengangguk dan yang menjawab adalah Dimna.
"Kami tinggal di sebuah yayasan sosial di Blok dekat sini."
"Lalu kenapa kalian tidak pulang kesana, pasti ibu asuh kalian saat ini tengah cemas?"
Mereka berdua hanya diam sambil menatap satu sama lain, mereka terlihat bingung dan juga takut dimarahi.
"Kalian mau aku antar, buat jaga-jaga saja?" ujarku menawarkan untuk mengantarkan mereka berdua pulang kembali kerumah mereka.
Dengan penuh semangat mereka berdua menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.