
Minggu-minggu telah berlalu dengan cepatnya, waktu pertandingan final hanya menghitung hari saja lagi. Latihan kami semua lebih dipusatkan untuk mengatur dan memanajemen stres, kebanyakan dari kami mengalami kekacauan dalam mengatur dan memanajemen stres bahkan sekarang kebanyakan dari kami di perintahkan untuk lebih banyak bermain-main dan melakukan hal yang benar-benar disukai ataupun memakan makanan yang disukai untuk menurunkan tingkat stres.
Aku juga terkadang mengalami gangguan-gangguan dalam memanajemen stres tapi untunglah ada Mika yang sering kali membantuku dengan senyumnya yang begitu manis itu.
"Muzzy, apa kau merasa adanya gempa berskala kecil akhir-akhir ini?" tanya Mika sambil memakan bekalnya.
"Aku tidak merasakan hal itu, apa benar ada gempa?"
Mika menggembungkan pipinya. "Iya benar, aku merasakannya. Saat malam hari tadi, tubuhku merasakan guncangan itu!"
"Hmm mungkin aku tidur terlalu pulas karena efek stres akhir-akhir ini hehe," sahutku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Ih aku serius ,Muzzy, tidak mungkin kan cuma aku saja yang merasakan getaran itu. Aku benar-benar merasakan hal itu, selain itu aku juga mendengar suara gemuruh seperti suara hewan tapi aku tidak begitu yakin!"
"Suara hewan?" tanyaku sambil mengerutkan dahiku.
Mika mengganguk pelan, aku memandang wajahnya dan melihat ke arah matanya, dari sini aku bisa melihat dari tatapannya itu sama sekali tidak ada kebohongan sama sekali didalamnya.
"Bagaimana suaranya?" tanyaku yang juga penasaran.
Dia meletakkan jarinya di depan bibirnya sambil mencoba mengingat suara dari hewan itu, sampai-sampai membuatnya memonyongkan bibirnya yang membuatnya telihat sangat lucu.
Aku mencubit pipinya sesekali karena gemesnya.
"Aduh sakit tau Muzzy, tunggu dulu aku masih mencoba mengingat suaranya,"
Selang 5 menit kemudia ia benar-benar tidak ingat dengan suara dari hewan itu. Namun ia sangat yakin itu adalah suara hewan dan bukan dari monster lagi pula kuil yang Mika tinggali memiliki pelindung atau kekai yang mana tidak mungkin para monster bisa masuk kedalam kawasan kuil tersebut.
"Hmm mungkin itu semua ada hubungannya dengan Seed of Life, Mika?"
Mika menatap wajahku dengan raut wajah sedih. "Aku merasa hewan itu seperti diganggu tidur panjangnya."
Aku mulai berpikir tentang perkataan paman Grey yang mengatakan bahwa ada kemungkinan beberapa Beast yang telah lama tertidur akan dibangkitkan kembali untuk di gunakan berperang sekali lagi dan Beast itu hanya akan bisa di kendalikan oleh orang-orang yang telah dipilih oleh Beast tersebut.
Di dunia ini, Legenda mengatakan bahwa ada 3 ekor Beast yang mana mereka memiliki kekuasaan masing-masing. Beast yang menguasai Lautan bernama Baruna, Beast yang menguasai Daratan bernama Arzetha dan yang terakhir Beast penguasa langit bernama Aakash.
Baruna adalah Beast yang menguasai lautan serta perairan yang ada di dunia ini, ia berbentuk seperti ikan paus raksasa berwarna biru gelap namun memiliki kaki sirip seperti layaknya seekor katak dan memiliki sirip layaknya seekor hiu. Paman Grey bercerita kepadaku besar ukuran tubuhnya, Baruna memiliki kurang lebih tinggi 8.5 meter dan berat 650 kg, kehadirannya selalu diiringi oleh hujan gerimis namun jika ia marah maka hujan itu akan berubah menjadi badai.
Arzetha yang artinya penguasa daratan, adalah nama dari seekor Beast penguasa daratan. Bentuk tubuhnya seperti seekor trenggiling namun memiliki gigi seperti seekor dinosurus T-rex dengan warna merah magma diseluruh tubuhnya, memiliki ukuran tubuh lebih besar dibanding Baruna yaitu dengan tinggi kurang lebih sekitar 30 meter dengan berat 10000kg/100 ton, berbeda dengan Baruna kehadiarannya diiringi dengan teriknya cahaya matahari sampai-sampai bisa membakar apa saja yang ada di sekitarnya.
Dan Beast yang terakhir, yaitu penguasa langit yang bernama Aakash. Aakash adalah penengah dari Baruna dan Arzetha yang terus menerus bertarung untuk mendominasi dunia ini. Tubuhnya berbentuk seperti Komodo namun memiliki hanya memiliki tangan dengan warna tubuh di donimasi warga hijau dengan tubuh penuh dengan pola tulisan bahasa kuno berwarna emas, Aakash memiliki tubuh yang lebih kecil dari pada Beast lainnya yaitu sekitar 7 meter saja dengan berat 200 kg. kehadirannya di dunia ini untuk menjaga keseimbangan di bumi ini.
Legenda mengatakan bahwa saat ini ketiga Beast itu tengah tertidur pulas karena sesuatu hal, Paman Grey memberitahuku bahwa Baruna saat ini tengah tertidur di dalam sebuah palung terdalam yang ada di bawah bumi sedangkan Arzetha tertidur di dalam gunung berapi yang teramat aktif sampai sekarang namun lokasinya sama sekali tidak diketahui oleh seorangpun, dan ujar paman Grey hanya Aakash yang benar-benar menjadi misteri sampai saat ini, banyak rumor yang berterbangan, ada yang menyebutkan Aakash sudah mati dan adapula yang mengatakan bahwa saat ini ia tengah tidur di Celestial Tower namun hal itu juga tidak diketahui oleh siapapun.
***
Di malam harinya aku bertemu dengan paman Grey di dalam alam bawah sadarku, lagi.
Namun kali ini pemandangannya jauh berbeda dengan biasanya, biasanya pemandangan yang ada selalu terlihat menyejukkan dan bahkan sangat indah namun kali ini untuk pertama kalinya aku bertemu dengan paman Grey ditempat yang seperti telah terjadi perang yang amat menggerikan.
"D-dimana kita paman?" tanyaku sambil melihat sekeliling.
Sejauh mataku memandang, aku hanya melihat genangan darah, potongan tubuh manusia, dan juga ratusan, bukan ratusan tapi jutaan mayat manusia tergeletak begitu saja di tanah. Suatu pemandangan yang membuat perutku mual bukan main.
Paman Grey tertunduk lemas sambil mencoba membenarkan posisi mayat anak kecil perempuan yang ada di hadapannya namun semua itu tidak bisa dilakukan karena saat ini kami berdua hanya roh saja dan tidak bisa memegangi apapun di sana.
"Kita saat ini ada di sebelum Chaotic Century berlangsung!"
"Manusia mencatatkan bahwa Chaotic Century lah perang yang paling menggerikan namun perang tetaplah perang, hasilnya selalu mengerikan!" lanjut paman Grey sambil menatap langit yang berwarna kehitaman.
Sambil menahan rasa mualku, aku terus berjalan sambil melihat pemandangan yang mungkin untuk semua orang adalah mimpi buruk manusia.
"Perang di zaman ini adalah perang yang dimana aku ditunjuk sebagai seorang Mytical Rubick dan memiliki tugas sebagai penengah dari Konflik berdarah ini!"
"Perang antar manusia?" tanyaku dengan suara lirih.
Sambil menutup kedua matanya, paman Grey mengangguk pelan. "Antar manusia dan juga monster, dan aku memihak salah satunya."
Paman Grey bercerita bahwa ia memihak kepada manusia yang ia percayai untuk melawan manusia dan juga pihak monster yang berkerja sama untuk memenangkan ideloginya yang menurut para manusia adalah sebuah tidak mungkinan. Ideologi yang dibawakan oleh pihak manusia dan monster adalah kedua pihak harus bisa hidup berdampingan satu sama lain.
"Hidup berdampingan?" tanyaku.
"ya, mereka memiliki idelogi seperti itu, namun aku salah. Aku telah memihak kepada pihak yang selama ini ku anggap benar,"
Aku memandang wajah paman Grey yang matanya mulai berkaca-kaca.
"M-manusia?" tanyaku yang seperti tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan.
"Manusia menganggap diri mereka adalah makhluk paling sempurna dan paling berkuasa di dunia ini, mereka tidak ingin sekalipun berdamai dengan para makhluk lain dan dengan bodohnya aku membela mereka dan mereka pula yang mengkhianatiku!" ujar paman Grey dengan wajah sedihnya.
Paman Grey menghela napas dengan amat panjang seperti menekan akan memori tentang penderitaannya.
Terbangun dari alam bawah sadarku, aku hanya bisa duduk diam sambil melihat keluar jendela dan melihat lampu jalanan yang menyinari jalan dimalam hari, sesekali ada mobil yang lewat dan terkadang ada suara kucing mengeong dan anjing yang mengonggong seperti mereka tengah berkomunikasi.
Terlintas ingatanku teringat akan perkataan Mika di hari itu.
"Kegelapan dan cahaya selalu berdampingan begitu pula dengan kematian dan kelahiran, kah?" gumamku bertanya pada diri sendiri lalu membaringkan tubuhku di atas kasur yang daya grafitasinya mulai berkurang.
Aku melirik ke arah kalender yang ada di meja belajarku dan melihat lingkaran merah yang menandakan hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota kelasku.
"Sebaiknya aku harus fokus dulu dengan pertandingan final yang tersisa 2 hari lagi!"
Aku memejamkan mataku dan perlahan-lahan memasuki dunia mimpi yang tiada hentinya.
...
Keesokan harinya kakakku terlihat sangat muram, wajahnya menandakan stres yang sangat menekan batinnya sampai-sampai aura yang dikeluarkannya berwarna hitam pekat.
"K-kakak baik-baik saja?" tanyaku sambil menyantap roti bakar untuk sarapan pagi ini.
Kakakku hanya diam dan terus melanjutkan memakan sarapannya namun sesekali menatapku. Tatapan itu seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Muzzy!"
"Ada apa Kak?"
"Di dalam final nanti, tolong berhati-hatilah jangan sampai dirimu dan Rubick-chan terluka!"
"Iya Kak, aku akan berhati-hati. Apa Kak akan menonton pertandingannya?"
Kakakku meletakkan cangkir kopinya yang masih mengeluarkan uap panas.
"Sepertinya Kakak mu ini tidak bisa melihat pertandingan final mu, akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat. Ditambah lagi isu tentang peperangan antara manusia dan monster mulai memanas lagi!" ucap kakakku sambil menghela napasnya tanda kecewa.
Aku melirik ke arah tv yang tengah menayangkan berita tentang aktivitas monster yang mulai kembali lebih aktif dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya.
"Apa kakak sudah tau siapa dalang dibalik semua ini?"
Kakakku mengangguk pelan. "Orang itu teman lama dari ayah kita, Muzzy!"
Aku terbatuk-batuk mendengar hal itu.
"Hah?! Teman lama ayah?"
Kakakku mengangguk lalu meminum kopinya kembali.
"Organisasi mereka sangatlah besar dan berbahaya, Muzzy. Bahkan ada indikasi bahwa salah satu anggota mereka ada di dalam sekolah mu saat ini!"
Aku menggigit bibir bawahku sambil mencoba berpikir, jika memang benar ada indikasi bahwa salah satu anggota mereka itu ada di dalam lingkungan sekolahku, jelas jawabannya hanya ada satu, yaitu para Elder atau bahkan para guru yang ada di sekolahku itu.
"Muzzy, kau pernah mendengar tim Metal bukan dari satuan The Guardian milikku?"
Aku berkata iya padahal aku memang benar-benar tidak terlalu ingat apa itu tim Metal yang kakakku sebutkan tadi.
"Kau kenal Sandman bukan?" tanya kakakku lagi.
Aku mencoba mengingat-ingat siapa Sandman itu dan yang telintas adalah pria botak berbadan besar.
"Pria botak itu bukan, Kak?"
Kakakku memasang wajah datar. "Bukan, itu Lynyrd!"
"Oh sekarang aku ingat Kak!"
"Nah Sandman itu berhasil menemukan salah satu anggota organisasi mereka dan melakukan introgasi kepadanya. Tujuan organisasi itu bukan hanya menguasai dunia dan seluruh isinya, yaitu dengan menguasai kekuatan yang ada di alam saat ini!"
"Kekuatan alam saat ini?" tanyaku kebingunan.
Di dalam benakku banyak spekulasi bermunculan, mulai dari kekuatan Tree of Life, Seed of Life, bahkan spekulasi kekuatan dari warrior milikku.
"Saat ini mereka sudah menemukan Blue Ord yang artinya mereka bisa saja membangunkan kembali Beast penguasa lautan serta perairan di dunia ini!"
"Baruna, Sang Beast Paus Penguasa lautan itu?!" tanyaku terkejut.
"Apa jadinya jika mereka memiliki Beast itu untuk melawan kita, kekuatannya sebanding dengan salah satu The High Table saat ini. Tapi bawahanku sudah bergerak untuk mencari dimana lokasi itu berada, semoga kita bisa mencegah perang gila ini!"
Selera makanku tiba-tiba saja menghilang, air liurku saja terasa sangat pahit dari biasanya. Susu yang rasanya sudah manis saja, berubah rasa seperti pahitnya obat.
Aku menjadi penasaran apa yang dilakukan para The High Table saat ini, harusnya mereka yang turun tangan karena mereka adalah pemilik gelar warrior terkuat di dunia saat ini.
Aku juga memikirkan seberapa beratnya beban kami, para Seven Knight yang telah terpilih ini. Apa kami bisa bertahan atau kami akan jatuh, semua ini masih menjadi sebuah pertanyaan yang belum ada jawabannya untuk saat ini.