
Semenjak hari yang dimana Ellen menceritakan masa lalunya yang kelam itu, aku semakin penasaran dengan apa yang di inginkan oleh kelompok itu. Beast apa yang tengah mereka cari, sampai-sampai mereka harus menindas Clan lain agar ikut serta dengan tujuan mereka yang sama sekali tidak ada kebahagian di dalamnya.
"Ahhh!" teriak Artizy sambil mengacak-acak kepalanya yang membuat rambutnya semakin tidak karuan.
Aku, Reznov dan Robin kebingungan ketika melihat Artizy berteriak.
"Kau ini kenapa?!" tanyaku yang kaget karenanya.
"Aku bingung, bagaimana menyembuhkan phobianya Ellen!" ujarnya lalu memasang wajah muram.
Robin menggaruk-garuk kepalanya dan mencoba ikut berpikir bagaimana cara menyembuhkan phobia milik Ellen. "Menurut buku yang pernah ku baca, menyembuhkan phobia itu tidaklah mudah dan apalagi ini phobia plus dengan trauma masa lalu yang pasti sudah menganggu mental milik Ellen."
Reznov mengangguk. "Betul apa yang dikatakan Robin. Selama ini, ia terlihat ceria namum ia menutupi rasa sedihnya, pasti Ellen sangat menderita."
"Namun ia masih dibilang beruntung, karena kedua orang tuanya masih lengkap. Ia masih punya orang yang ia sayangi di sekitarnya, semoga saja Mika dan Mr. Jack mampu mengobati phobia miliknya itu," ujarku mendoakan Ellen yang saat ini tengah melakukan terapi di dalam ruangan kesehatan di dampingi Mika dan juga Mr. Jack.
Karin dan Lumia berlari kearah kami berempat yang seperti gelandangan di luar ruangan kesehatan.
"Bagaimana kelanjutannya terapinya?" tanya Karin cemas.
Kami berempat menggeleng secara kompak.
Ini sudah lebih dari 2 minggu semenjak pertandingan itu, Ellen menjalani terapi secara teratur namun perkembangannya sedikit berkembang namun lambat. Wajah ceria Ellen mulai sedikit berkurang dari biasanya, dari yang biasanya ia suka menjahili Artizy dan menggoda Mika dengan memegang area dada milik Mika, kini ia banyak diam dan melamun.
Pintu ruang kesehatan terbuka, lalu Mika, Ellen dan Mr. Jack serta kepala dokter ruang kesehatan di sekolah keluar dengan dihiasi senyum di wajahnya mereka masing-masing.
Kami yang tengah menunggu langsung menghampiri mereka.
"B-bagaimana hasilnya?" tanya Karin dengan iris matanya yang membesar.
"Untuk sementara, Ellen tidak di izinkan untuk bertanding terlebih dahulu sampai mentalnya kembali untuk siap untuk bertarung lagi," ujar Dokter itu menjelaskan kepada kami semua.
Dokter itu berkata bahwa phobia Ellen bisa disembuhkan dan hanya memperlakukan waktu serta dorongan dari orang sekitarnya.
"Bapak yakin, nak Ellen akan sembuh. Bapak berjanji!" ujar Mr. Jack sambil menangis haru namun terpampang senyum di wajahnya.
Melihat hal itu kami hanya tertawa kecil sambil memasang senyum syukur di wajah kami.
...
"Ellen, syukurlah phobia yang kau miliki bisa disembuhkan. Aku sangat bersyukur!" ujar Karin.
Mika mengangguk sambil tersenyum kearah Ellen yang terlihat canggung.
"Ellen ... jika kau merasa takut sesuatu, aku bisa menjadi perisai untuk mu!" kata Artizy yang membuat semua orang termasuk aku tercengang dibuatnya.
Melihat kami yang terdiam, ia lantas panik.
"M-maksudku itu ...," ucap Artizy kebingunan memilah kata.
Ellen tersenyum manis ke arah Artizy yang membuatnya salah tingkah. "Terima kasih Artizy!"
Melihat Artizy yang salah tingkah membuat kami semua yang ada di sana tertawa lepas. Ellen pun juga ikut tertawa karenanya.
Kami pun berpisah untuk kerumah masing-masing, seperti biasa aku harus mengantar Mika sampai kerumah, dan baru aku bisa pulang kerumahku.
...※※※...
Di perjalanan pulang, aku dan Mika berbicara tentang pertandingan yang akan mendatang, yang dimana secara mengejutkan kelas 10B dan 10C harus tereliminasi setelah kalah dalam pertandingan grup melawan kelas 10E dan mereka pun kembali ke upper bracket.
Babak selanjutnya, kelas kami 10F akan berhadapan dengan kelas 10E yang baru saja berhasil naik kembali ke upper bracket sedangkan kelas 10A akan melawan kelas 10D.
"Sangat mengejutkan mendengar bahwa kelas 10B dan kelas 10C harus tereliminasi karena kalah dalam pertandingan grup dengan kelas 10E," ujarku sambil meminum sekotak kecil kopi susu.
Mika mengangguk. "I-iya padahal mereka adalah lawan yang sangat hebat saat melawan kelas kita, apa jangan-jangan mereka mengalami penurunan?"
"Mungkin mereka masih belum bisa menerima kekalahan ketika melawan kelas kita, jadi mental mereka tiba-tiba menurun dan alhasil kegagalan selalu menghantui mereka semua,"
...
Setelah selesai mengantar Mika pulang ke rumahnya, aku langsung bergegas pulang karena hari ini giliran aku yang memasak dirumah selain itu juga hari ini dokter Lute juga berkunjung kerumah yang katanya ingin membahas masalah pernikahan kakakku dan dia.
Pernikahan kakakku selalu saja tertunda karena pekerjaan kakakku yang padat dan terkadang dokter Lute juga mengalami pekerjaan yang padat karena terlalu banyak pasien yang harus ia rawat.
...
"Wah enak sekali masakkan mu Dik Muzzy!" ucap dokter Lute memuji masakkanku.
"Terima kasih, tapi Kakak lebih jago masak dari padaku loh. Mungkin berat badan Dokter Lute akan bertambah jika kalian berdua menikah nanti!"
Kakakku langsung terlihat malu-malu, ia benar-benar merubah sifatnya ketika bersama dokter Lute. Apa ini kekuatan cinta yang dikatakan oleh Reznov kala itu.
"Oh iya, bagaimana pertandingan mu Muzzy, apa berjalan lancar?" tanya Kakakku.
"Berjalan dengan sangat lancar kok Kak, walaupun aku belum terpilih menjadi starter tapi selebihnya berjalan dengan lancar!" sahutku sambil menyantap makan malam yang ku buat.
"Syukurlah kalo begitu, bagaimana dengan Mika apa ia baik-baik saja?"
"Oh iya, bagaimana hubungan kalian berdua? Apa makin lengket?" tanya dokter Lute juga.
"Dia baik-baik saja, hubungan kami sejauh ini ya seperti itu hehe," ujarku sedikit malu-malu menjawab pertanyaan mereka berdua.
Nala menggeong sambil mengibaskan ekornya ke kiri dan ke kanan.
"Jika ingin melakukan itu, usahakan menggunakan pengaman ya!" goda kakakku yang tidak tahu malu.
"Kakak ini apa-apaan, kami masih dibawah umur!" tepisku sambil melotot kearahnya.
"Ngomong-omong, pertandingan nanti akan di adakan di Kota Neo Korea apa Kakak dan Dokter Lute bisa kesana untuk menonton pertandingan kami?"
"Kebetulan aku sedang ambil cuti untuk beberapa hari, bagaimana dengan mu sayang?" tanya kakakku kepada dokter Lute.
Dokter Lute mengangguk. "Tentu saja, aku sudah lama tidak melihat Muzzy bertarung. Selain itu kita juga sudah lama tidak jalan-jalan."
"Kami berdua akan datang, buat kami berdua tercengang dengan keahlian mu itu ya!" ujar kakakku lalu mencium pipi dokter Lute.
Melihat mereka berdua bahagia juga turut membuatku bahagia walaupun suatu hari nanti aku akan tinggal sendiri dirumah ini dan hal itu kadang membuatku sedih tapi itulah kenyataan, hanya saja bagaimana kita yang menanggapinya.
...
Setelah makan malam selesai, kakakku dan dokter Lute langsung membahas tentang rencana mereka.
Aku sengaja keluar rumah agar tidak mengganggu mereka berdua dan berjalan di bawah cahaya rembulan dan sesekali memandangi bulan yang tengah bersinar karena pantulan sinar matahari.
Aku mengeluarkan ponselku dan mengirim pesan kepada Mika apakah ia sedang sibuk atau tidak.
Rupanya ia sedang latihan bersama ayahnya dan ayahnya menyuruhku untuk kesana.
Aku punya firasat buruk untuk hal ini.
...※※※...
"Muzzy, ayo latihan bersama!" ajak Mika setelah melihatku.
Aku mendekat kearahnya lalu memberi salam kepada paman Shira.
"Akhirnya kau datang juga, ayo kita sparing!"
Firasatku rupanya memang betul.
"Eh kok sparing, bukannya berlatih bersama!?"
"Sudahlah, aku tidak bisa menyerang anak kesayanganku maka dari pada itu aku menyuruh mu kesini!" sahut paman Shira sambil tersenyum.
Mau tidak mau aku harus bertarung praktik dengan paman Shira yang mantan anggota The Guardian.
"Ayah jangan keras-keras ya melawan Muzzynya dan Muzzy kalahkan Ayah ya!" ujar Mika berjalan ke samping lapangan.
Mendengar hal itu, paman Shira mulai mengeluarkan air matanya karena merasa anaknya telah berubah 180 derajat.
"K-kurang ajar kau Muzzy, walaupun aku telah mengakui mu tetap saja aku tidak rela anak semata wayangku kau rebut begitu saja!"
Aku benar-benar dibuat heran dengan pola pikir paman Shira. Aku merasa hal buruk akan datang lagi.
"Summon!" teriak paman Shira lalu keluarlah senjata katana yang bersinar terang.
"Itu Light Shirogami Katana, pedang itu bisa membelah apa saja bahkan udara sekalipun. Tuan harus hati-hati!" ucap Rubick di dalam benakku.
Senjata miliknya adalah senjata jarak dekat, aku hanya harus terus menjaga jarak dari jangkauan serangannya, batinku di dalam hati.
"Bantu aku Rubick, Summon!"
Cahaya hijau memenuhi kuil milik keluarga Mika.
"Aura yang Muzzy keluarkan lebih kuat dari biasanya!" kata Mika terkagum-kagum dengan aura yang ku keluarkan.
Kekuatan warrior milikku telah meningkat berkali-kali lipat karena latihan yang diberikan oleh paman Grey, namun aku tidak boleh berpuas hati dan harus terus berlatih serta berbuat baik kepada orang lain seperti yang dikatakan oleh paman Grey.
"Ayo Muzzy, serang aku!" pinta paman Shira sambil melakukan kuda-kuda bertarungnya yang sangat bad *** sampai-sampai aku juga ingin mengeluarkan pedang katana Black Dragon Fury namun ya ini juga hanya praktik jadi tidak perlu serius.
Aku meluncurkan serangan demi serangan ke arah paman Shira namun seranganku mampu di tepis dengan sangat mudah oleh beliau, padahal aku sudah mempercepat serangan milikku. Mantan anggota The Guardian memang tidak bisa di remehkan begitu saja.
Aku dibuat kewalahan padahal aku sudah mengecoh bahkan telah membuat trap peledak namun seakan-akan paman Shira tau dimana letak trap yang telah ku pasang.
"Apa hanya segitu kemampuan bertarung warrior mu!? Kau sangat berbeda dengan ayah mu dalam hal bertarung menggunakan warrior!" ujar paman Shira lalu dengan sangat cepat sudah berada di belakangku dan pedangnya tepat berada di leherku.
C-cepat sekali, lebih cepat di banding Ryuu saat itu, batinku di dalam hati.
"Bergerak sedikit saja, leher mu putus Muzzy!" ancam beliau kepadaku.
Mendengar hal itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa berkedip dan bernafas.
Aku menelan ludahku dan keringatku pun mengalir jatuh tepat di atas pedang milik paman Shira. "GG, Paman Shira!"
Paman Shira langsung memasukkan pedang miliknya kembali ke sarung pedangnya lalu berkata. "Ku akui, kau memang hebat dan juga cerdik namun itu semua tidak cukup untuk menjadikan kau hebat, Muzzy. Sepertinya kau harus lebih banyak bertarung lagi agar pengalaman mu meningkat!"
Melihat ku yang dikalahkan oleh paman Shira, Mika hanya tersenyum manis dan bertepuk tangan.
Paman Shira memandang Mika anaknya lalu berkata. "Tolong jaga anak kesayanganku itu, rupanya aku memang tidak salah memilih mu sebagai penganti Ryuu."
"M-maksud paman apa?" tanyaku kebingungan.
"Ketika aku melawan Ryuu, aku tidak pernah dibuat repot seperti saat melawan mu dan harus menggunakan seperempat kemampuanku!"
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum canggung kearah paman Shira dan paman Shira langsung mengacak-acak rambutku dengan tangan beliau yang mengingatkanku ketika ayah melakukan ini kepadaku.
"Kau merindukannya?" tanya paman Shira.
"Sangat merindukannya Paman, bagai pungguk merindukan bulan!"
"Aku juga sangat merindukan ayah mu, kenapa harus dia yang mengorbankan nyawanya dan bukan kami!" kata paman Shira dengan wajah sedihnya lalu berjalan menuju Mika yang masih tersenyum melihat kami berdua yang memang semakin akrab walaupun sering bersitegang.
...-Tbc-...