Mythical Rubick

Mythical Rubick
3 | Menjadi Satu



"Baiklah ... Bapak akan membagikan kelompok untuk kalian, di mulai dari ...," ujar Mr. Jack kepada kami semua sambil memegang absen kelas.


Satu persatu murid di kelasku telah mendapatkan kelompoknya masing-masing.


...


"Anggota terakhir dari tim Charlie adalah Robin (Gale Breaker [Glory of Siam Bow], dari Clan Wind Archer)!" ucap Mr. Jack sambil menulis di selembar kertas.


Mendengar Robin tidak satu tim dengan kami, Artizy dan Reznov hanya bisa memasang wajah kecewa di wajah mereka.


"Tidak Comrade ... bagaimana kita bisa dipisahkan, kau telah berjanji akan selalu bersama kami!" ujar Reznov dengan sedikit bumbu drama layaknya sinetron pada umumnya.


"Gagal deh rencana membuat Wombo Combo kita," ucap Artizy kecewa.


"Semoga beruntung teman-teman, jaga diri kalian! Kita pasti akan bertemu lagi nanti jadi tenang saja," tutur Robin memberi semangat kepada kami bertiga.


"Kau juga Robin, jaga dirimu dan kalian berdua bisa tidak jangan lebay seperti itu!" sahutku berwajah datar melihat kelakuan Artizy dan Reznov yang sedikit lebay.


※※※


"Baiklah selanjutnya, tim Delta yang di isi oleh Karin, Ellen, Lumia, Mika, Reznov, Artizy, lalu bocah kubus Muzzy. Kalian menjadi tim Delta, silahkan berkumpul dan diskusikan bersama siapa yang akan jadi pemimpin di tim kalian, jika sudah selesai kalian segera menuju ke lapangan, mengerti?" kata Mr. Jack kepada kami bertujuh.


Kami semua mengangguk dan berkumpul di mejaku sambil mendiskusikan siapa yang layak menjadi pemimpin dari tim kami.


"Anu ... jadi siapa ya yang mau jadi pemimpin tim jika berkenan silahkan saja," tutur Mika dengan suara lembutnya.


"Bagaimana kalo ak ...," sahut Artizy dengan percaya diri.


"TIDAK! ...," potong kami berlima dengan kompak.


"Kalian ini belum selesai aku berbicara sudah ditolak saja!"


"Oy Bocah kubus apa kau punya saran?" ejek Ellen kepadaku sambil meminta saran.


"Bisakah jangan memanggilku Bocah Kubus, aku punya nama loh Ellen, namaku Muzzy M-U-Z-Z-Y," ujarku sedikit kesal karena dipanggil bocah kubus.


"Ya ya ya, terserahlah," ujar Ellen sambil memutarkan bola matanya.


"Aku sarankan bagaimana Karin saja yang jadi ketua tim, menurutku dia punya karakteristik seorang pemimpin yang baik. Bagaimana dengan kalian, apakah kalian setuju-setuju saja?"


"Kalo aku setuju saja Comrade," jawab Reznov setuju dengan saranku.


"Aku setuju saja, bagaimana denganmu Ellen?" sambung Lumia bertanya kepada Ellen.


"Ya ya baiklah aku setuju, daripada harus menjadikan Artizy sebagai ketua tim, ini jauh lebih baik," sahut Ellen dengan tatapan datarnya sambil mengejek Artizy.


"Kau memang kejam Ellen huhuhu," kata Artizy dengan wajah yang cemberut.


"Bagaimana menurutmu Mika? apa kau setuju Karin menjadi ketua tim kita?" tanyaku kepada Mika.


"Eh ... kalo aku setuju saja hehe," jawabnya dengan senyum manisnya yang bisa membuat orang lupa diri.


"Ok berarti semua sudah setuju ... bagaimana Karin apa kau siap menjadi ketua tim ini?"


"Hey, aku tidak di tanya?" potong Artizy sambil memasang wajah cemberut.


"TIDAK PERLU! ...," ucap kami dengan kompak kecuali Mika yang tidak ikut mengejek Artizy.


"Huhuhu kalian sangat jahat teman-teman," ujarnya sambil merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan kinderjoy oleh orang tuanya.


"Haha jangan di ambil hati Artizy, tapi kau akan aku jadikan wakil ketua," ucapku supaya dia berhenti merengek-rengek.


"Hehe akhirnya," ujarnya sambil tersenyum riang karena senang.


"Apa kau sudah senang Artizy?" tanya Karin kepada Artizy.


"Sangat senang, ayo teman-teman keluarkan semangat dan seluruh tenaga kalian. Kita akan menjadi tim yang paling ditakuti semua orang," jawabnya dengan penuh semangat.


"Baiklah semua ... ku harap kita bisa berkerjasama dengan baik," harap Karin sambil memandang kami semua.


※※※


Kami bersama-sama segera bergegas menuju lapangan dan saat kami tiba para Elder juga ada di podium bersama kepala sekolah.


"Lihat mereka ... seperti babu saja!" ejek Artizy kepada para Elder.


"Shttt! Artizy diam!" perintah Karin dengan tatapan mengerikan layaknya serigala yang lapar kepada Artizy.


Artizy terlihat panik akibat tatapan Karin. Aku dan Reznov hanya bisa tertawa melihat kejadian itu, Artizy terlihat seperti domba yang ketakutan karena tatapan dari serigala yang kelaparan.


Kepala sekolah memberi sambutan seperti biasa, pria paruh baya berkepala plontos itu dengan tatapan percaya diri memberi beberapa kalimat sambutan kepada kami.


"Selamat pagi menuju siang Warrior-warrior mudaku!"


"Selamat pagi pak!" sahut semua murid yang ada.


"Kali ini bapak akan memperkenalkan satu persatu dari kesepuluh Elder yang ada di sekolah ini, baiklah kita mulai dari no. 10 silahkan ...," kata beliau sambil mempersilahkan Elder ke-10 maju ke podium.


Dengan bermuka datar seperti tidak ingin menunjukkan ekspresinya, Perempuan berkacamata bulat seperti kacamata seorang penyihir dengan rambut yang dikepang ke samping berjalan mendekat podium.


"Halo ... perkenalkan namaku Kimi dari kelas 12 A, aku adalah Elder ke-10," ucapnya tanpa ekspresi sedikitpun seperti layaknya robot.


Semua yang ada di lapangan bertepuk tangan, lalu Elder ke-9 yang memiliki tatapan suram melangkah maju ke arah podium, laki-laki berbadan besar dengan otot yang seperti mau meledak dari tubuhnya sendiri itu memperkenalkan dirinya.


"Yo ... jangan banyak basa basi langsung saja. Aku Kelvi si Barbarian dari kelas 12 A, jika kalian berani-berani menentangku maka akan aku hancurkan tubuh kalian sampai kalian tidak akan pernah merasa apa yang namanya hidup!" ujar Kelvin sembaring memberi ancaman kepada kami semua.


"Kau kira aku takut!" teriak Ellen geram karena ancaman dari si Kelvin.


Selanjutnya Elder ke-8, yang satu ini terlihat seperti pria periang dengan tatapan optimis dengan rambut yang tersisir rapi layaknya orang kantoran pada umumnya atau manusia normal pada umumnya.


Sambil melampaikan tangannya dengan lemah lembut layaknya perempuan. Elder yang satu ini benar-benar terlihat aneh. "Halo adik-adik, kalian semua manis-manis. Perkenalan nama Kakak, Moca dari kelas 12 B"


"Aku merasa mau muntah!" ujar Reznov sambil menutup mulutnya karena merasa mulai di panggil manis.


Elder ke-7 melangkah maju dengan badan kecilnya sambil menggendong sebuah boneka beruang kecil, dia memiliki rambut tipis nan halus dengan potongan rambut sebahu lalu dikepang dua menambah yang keimutan dari Elder yang satu ini.


Dengan rambut yang terurai akibat angin yang berhembus sambil memasang senyum manisnya Elder ini memperkenalkan namanya. "Hallo semua ... perkenalkan namaku Nene dan beruang ini namanya Nana, aku dari kelas 12 B."


Sontak hampir semua yang berada di lapangan bersorak gembira karena dirinya.


"Manisnya!" teriak salah satu murid.


Banyak murid yang benar-benar berubah menjadi sekelompok hyena yang kelaparan hanya karena mendengar suaranya yang begitu imut.


Artizy menutup kedua telinganya. "Aku benci keributan, apa imutnya suaranya? Suara seperti itu tidaklah imut!"


Aku juga ikut menutup kedua telingaku. "Aduh ribut sekali!"


Selanjutnya Elder ke-6, pria muda dengan rambut pirang melangkah maju ke depan podium. Diapun mulai memperkenalkan dirinya.


"Halo kalian para bocah-bocah amatir, aku Torres Elder ke-6 dari kelas 12 A," ejeknya kepada semua murid di lapangan.


Artizy mengepal kedua tanganya. "Kurang ajar si pirang itu! Akan kubuat dia menderita suatu hari nanti!"


Orang ini berbahaya, itulah aura yang kurasakan. Terpancar aura kelicikan di diri Elder yang satu ini.


"Dia orang yang berbahaya Artizy sebaiknya kau menjauh darinya, jika kau merasakan auranya mungkin kau akan tau," ucapku memperingati Artizy betapa bahayanya Elder tersebut.


Mika terlihat bergemetar sepertinya dia juga merasakan apa yang aku rasakan.


Aku memalingkan posisiku menghadap Mika yang berada di sampingku. "Mika kelihatannya kau juga merasakan aura negatif dari Elder tadi, bagaimana menurutmu Mika?"


"Kau rupanya bisa merasakan aura seseorang juga ya Muzzy! Menurutku dia orang yang berbahaya, aku melihat banyak hal negatif di sekitarnya. Semoga saja kita tidak pernah berurusan dengan Elder ini!" jawab Mika dengan raut wajah cemas.


Aku mengangguk kepada Mika. "Semoga saja Mika"


※※※


"Bapak punya kabar buruk untuk kita semua! Rupanya para Elder ke-5,4, dan 3 sedang tidak berada di sekolah. Mereka saat ini sedang menyiapkan acara PLS untuk kalian semua di Turtle Island. Jadi kita langsung saja ke Elder selanjutnya yaitu ke-2," ujar kepala sekolah berkepala plontos itu.


Lalu anak perempuan berambut putih layaknya salju menuju podium di sambut teriakan para murid-murid laki-laki yang terpesona akan kecantikannya, bisa dibilang mungkin dia adalah perempuan yang sempurna di mata murid-murid yang mengaguminya.


"Wah ... cantik sekali!" ujar salah satu murid di dekatku.


"Halo semua perkenalan namaku, Lily dari kelas 12 A. Kalian adalah adik-adikku mulai dari sekarang, maka dari itu kami sebagai Elder akan melindungi dan memberi bimbingan agar kalian menjadi Warrior yang hebat di masa depan nanti!" ucapnya sambil menebar senyum yang membius banyak murid laki-laki.


Seketika hampir semua yang berada di lapangan berteriak, bukan hanya murid laki-laki saja yang tergila-gila akan kecantikan Elder yang satu ini akan tetapi murid perempuan juga ikut terpesona akan kecantikannya.


"Makin ricuh saja disini, apa cantiknya coba dia hanya punya rambut seputih salju!" ejek Lumia sambil mengerutkan jidatnya.


"Iya benar itu Lumia, dia lebih mirip es serut yang di kasih sirup di atasnya!" sahut Ellen ikut mengejek Lily si Elder ke-2 dengan berwajah kesal.


"Sudah-sudah tenanglah kalian berdua," ujar Mika mencoba menenangkan mereka berdua.


"Kali ini si nomor satu ...," ujar Karin sambil menatap podium.


"Orang yang ku incar ada di balik podium itu," ujar si kunyuk Artizy dengan tatapan yang tajam.


Muncul lah si sosok Elder nomor 1, dia adalah anak dari kepala sekolah berbadan cukup tinggi dengan tatapan angkuh dengan mantap melangkah maju, pria dengan rambut lurus berwarna hitam. Dia pun memperkenalkan dirinya.


"Lihat si bodoh itu sombong sekali, dari cara dia melangkah saja aku sudah tau bahwa dia itu berengs*k!" ejek Artizy dengan kesal.


Dan sekali lagi Artizy mendapat tatapan mengerikan dari Karin. "Shtt! jangan sampai orang lain mendengar dasar bodoh, kau ingin kita jadi bulan-bulanan massa di sini!"


Artizy memalingkan mukanya sambil tertawa kecil.


"Tuan muda!" teriak salah satu murid.


"Pangeran Warrior kita telah datang," teriak salah satu murid lagi.


Suasana semakin berisik karena kehadiran Si Elder ke-1 ini, kericuhan antara menyukai dan tidak menyukai menjadi satu.


"Salam Bibit-bibit Warrior yang akan menjadi penerus kami, perkenalkan Namaku Kyle Elder ke-1 di Sekolah kejurusan Warrior Distrik Borneo Water," ujarnya sambil melambaikan tangan.


Itukah Elder ke-1 di sekolah ini, dia punya aura yang sedikit aneh. Aku harap, aku tidak berurusan dengan dirinya.


Elder ke-1 telah selesai memberi sambutannya dengan memberikan sedikit penjelasan bagaimana peraturan-peraturan yang ada di sekolah.


"Nah itulah para Elder yang ada, mohon maaf jika mereka tidak lengkap di lain kesempatan bapak akan perkenalkan sisanya. Untuk hari ini kalian para murid-murid baru bapak, di persilakan pulang untuk kegiatan besok. Besok kalian akan berangkat ke Turtle Island untuk kegiatan PLS, besok datang paling lambat sekitar pukul 10 pagi jika terlambat bapak beserta rombongan harus meninggalkan dan yang terlambat akan dianggap keluar dari sekolah ini, Kalian semua mengerti?!" ucap kepala sekolah.


"Mengerti pak!" sahut semua murid.


※※※


Sesaat setelah acara di lapangan tadi kami berkumpul di dekat gerbang sekolah untuk membicarakan sesuatu.


"Besok bagaimana kalo kita saling jemput-menjemput satu sama lain supaya memperkuat jalinan hubungan antara anggota di kelompok kita! Bagaimana setuju tidak kalian semua?" cetus Karin sambil tersenyum-senyum riang.


"Hmm ide yang bagus Karin!" sahut Reznov dengan logat khas Rusianya.


"Kalo aku sih setuju saja, bagaimana denganmu, Muzzy?" tanya Artizy kepadaku.


"Aku setuju saja sih, tapi rumahku di Blok Cotton kalo kalian dimana?"


"Kalo rumahku berada di Blok Scale," jawab Artizy.


"Berarti kita sama Comrade Artizy, rumahku juga di Blok Scale," sahut Reznov.


"Kalo begitu Artizy dengan Reznov. Aku, Ellen dan Lumia di Blok River Lulut, Berarti Mika dengan Muzzy," Cetus Karin.


"Kuilku memang dekat dengan Blok Cotton, tapi apa tidak masalah untuk Muzzy menjemputku?"


"Aku tidak masalah sih, kuilmu itu di perbatasan Blok Cotton dengan Blok Silk bukan?"


"Iya betul, yang ada patung kucing besar itu, kau pasti melihatnya nanti,"


"Baiklah besok aku akan ke rumahmu sekitar pukul 8 pagi Mika!" ujarku sambil mengangkat tasku ke pundak.


"Baguslah semua sudah mendapat teman untuk saling menjemput, ayo kita pulang dan ingat persiapkan semua hal untuk kegiatan besok teman-teman!" ucap Karin sambil menunjukkan jempolnya.


※※※


Aku pulang bersama-sama dengan mereka bertiga, Reznov, Robin dan Artizy.


"Aku lapar nih ...," ujar Artizy sambil memegang perutnya.


"Aku juga, bagaimana kalo kita ke mini market dulu beli makanan!" cetus Robin ikutan memegang perutnya.


"Kalian saja yang ke mini market, aku akan tunggu di luar saja soalnya aku sudah membawa bekal," ujarku sambil mengeluarkan bekal makan siangku di dalam tas.


"Comrade kita sama ... aku juga membawa bekal hehe," sahut Reznov sambil menunjukkan kotak bekalnya juga.


"Wah kalian enak sekali bisa dibuatkan bekal kalo aku tidak! Makan aja sering sendiri kalo di rumah!" ujar Artizy sambil memasang cemberut.


"Keluargamu memang selalu sibuk ya Artizy?"


"Yaaa begitulah, ayahku seorang ketua Clan jadi dia jarang ada di rumah sedangkan ibuku menjadi wakil ketua jadi ibuku juga sering tidak berada di rumah, walaupun keinginanku selalu di


berikan dan dipenuhi aku tetap merasa masih kesepian dan kekurangan kasih sayang," jawab Artizy sambil menendang sebuah kaleng soda bekas di dekatnya.


"Sudah-sudah tidak usah sedih, ayo kita makan sama-sama tapi tunggu dulu ya, aku mau membeli mie cup di super market hehe," sahut Robin.


"Betul itu Artizy, kau tidak perlu sedih kawan. Sekarang kita akan makan bersama-sama. Betul bukan Muzzy?" ujar Reznov agar Artizy tidak sedih lagi.


"Betul sekali Reznov, ini makan saja bekalku jika kau mau jadi kau tidak perlu beli makanan lagi!"


"Wah beneran nih, makasih banyak Muzzy! Kau memang sobat terbaikku," ujarnya sambil tersenyum sambil ngiler melihat isi bekalku.


Kamipun makan bersama-sama sembari bercanda ria, di depan mini market itu.


-Tbc-