Mythical Rubick

Mythical Rubick
32 | Ujian?



Setelah hari yang dimana kami semua menyaksikan pertandingan antara Putri Yasmin dari kelas 11 A dan Toni dari kelas 11 B, hampir seluruh murid di kelasku menjadi lebih rajin berlatih dan menambah wawasan mereka, percuma kuat dan mempunyai skill tingkat tinggi jika tidak mempunyai wawasan yang luas dan juga pengetahuan yang tinggi dalam pertarungan.


Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam namun aku masih tetap asik belajar untuk persiapan ujian tertulis, ya ujian tertulis. Ujian adalah hal yang sangat merepotkan bagi sebagian orang, apalagi bagi orang-orang yang mempunyai pemikiran selembar kertas tidak berpengaruh di masa depan.


Bagi mereka yang mempunyai pemikiran seperti itu artinya mereka memilih untuk hidup dalam kemunduran, kebanyakan manusia percaya bahwa manusia itu berevolusi dan menuju kepada kemajuan tetapi kenyataannya malah sebaliknya, yang ada sekarang adalah kita sebagai manusia hanya mengalami kemunduran dan kemunduran.


"Akh! Kenapa aku memikirkan mimpi itu lagi!" gumamku lalu mengacak-acak rambutku.


Akhir-akhir ini aku mendapatkan mimpi yang begitu membingungkan, Ya mimpi yang amat begitu membingungkan. Aku bermimpi bertemu dengan seorang pria misterius yang aku lupa menanyakan namanya.


Flashback on


"A-aku dimana?" ucapku sambil melirik sekeliling.


Tidak ada seorangpun disana, aku hanya menemukan pepohonan dan sebuah sungai kecil, saat itu aku seperti sedang berada di dalam hutan. Aku merasa pada saat itu bukan seperti sedang bermimpi, ketika aku mencoba untuk menyentuh air di sungai itu dan ternyata hal itu seakan-akan begitu nyata.


"Ini aneh?!" gumamku sambil memasukkan tangan ke dalam air sungai kecil itu.


Aku mencoba berjalan menyusuri sungai itu dan akhirnya menemukan sebuah taman bunga yang di penuhi oleh kupu-kupu yang terbang kesana kemari menghisap sari bunga dan menerbangkan serbuk sari.


aku memutuskan untuk mencoba berjalan lebih jauh lagi dan akhirnya aku menemukan seorang pria yang tengah duduk santai disebuah pondok kecil sembaring meminum secangkir teh. Dia memandang kearahku lalu tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Hallo Paman, selamat siang!" sapaku dari luar pondok kecil itu kepada pria itu tetapi dia seolah-olah tidak mendengarnya.


"Paman!?" panggilku dengan nada suara yang ditinggikan sedikit, mungkin dia sedang asik menikmati tehnya yang menjadikan dia tidak mendengar.


Aneh sekali, pria itu memandangku tetapi tidak menjawab sapaku tadi dan malah tersenyum sambil mengangkat cangkir tehnya ke arahku.


Ketika aku mencoba memasuki pondok itu sebuah penghalang muncul, aku seperti tidak di izinkan untuk memasuki pondok kecil itu. Aku yang orangnya suka penasaran terus memaksa masuk kedalam pondok itu dengan mencoba mendorong penghalang itu tetapi usahaku sia-sia, penghalang itu lebih kuat dari otot-otot lengan ini.


"Jika kau ingin memasuki pondok ini, tingkatkan kemampuan Cube of Arcane milik mu itu Nak!" ucap pria itu lalu kembali meminum tehnya.


Aku sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan pria itu, aku bertanya kepada pria itu apa maksud dari perkataannya tetapi lagi-lagi hanya sebuah senyuman yang diberikannya kepadaku.


Akupun terbangun dari mimpiku itu dan saat itu juga Cube of Arcane tiba-tiba keluar tanpa ku panggil, dia melayang dan memutar-mutar tubuhnya.


"Bagaimana kau bisa muncul disaat aku tidak memanggilmu?" gumamku lalu mengulurkan tanganku kearah Cube milikku itu.


Flashback off


※※※


Tersisa satu minggu lagi menuju ujian akhir semester, tetapi Mr. Jack malah tidak masuk hari ini karena ada rapat dadakan padahal di saat-saat seperti inilah peran guru sangatlah diperlukan.


"Tingkatkan ... Cube milik mu ...," gumamku sembaring memutar buku di tanganku.


"Tingkatkan apa Muzzy? Kau sedang ada masalah ya dengan sesuatu hal?" tanya Artizy.


Aku menggeleng cepat. "Tidak ada, hanya saja ada beberapa pertanyaan didalam kepalaku yang tidak bisa ku jawab."


"Pertanyaan tentang pelajaran ya? Bukannya kau itu cerdas, masa tidak bisa menjawab sih!" ejek Artizy.


"Bukan itu!" sahutku berwajah datar.


Artizy menggaruk pipinya. "Hehe terus pertanyaan apa yang membuat mu bingung?"


Aku jadi teringat bahwa Artizy adalah Warrior paling kuat di kelasku ini mungkin dia tau tentang peningkatan warrior.


"Artizy, apa Warrior mu itu pernah mengalami peningkatan?"


"Tentu saja pernah, setiap Warrior mempunya peningkatannya masing-masing. Dulu peningkatanku itu ada di pedangku, dari pedang yang pendek menjadi pedang besar seperti sekarang. Memangnya kau tidak pernah mengalami peningkatan pada Warrior mu, Muzzy?"


Jika di pikir-pikir selama ini aku tidak pernah mengalami hal seperti itu, Cube of Arcane milikku memang bisa berubah-rubah bentuk sesuai perintahku walaupun hanya beberapa bentuk saja yang bisa ia tiru tetapi untuk peningkatan kurasa belum pernah.


"Sepertinya aku belum pernah merasa ada peningkatan, tapi jika senjata yang berubah-ubah Cube milikku memang sering berubah-ubah karena itu memang kemampuannya," ujarku menggaruk kepala karena sedikit pusing.


"Berarti mungkin saja Warrior mu itu sudah mengalami peningkatan tetapi kau tidak menyadarinya!" sahutnya.


"Tapi ..."


Tapi pria di dalam mimpiku itu berkata aku harus meningkatkan Cube of Arcane milikku, ku harap bisa bermimpi itu lagi dan bertemu dengan pria itu.


"Tapi apa?" tanya Artizy.


Untung saja bel istirahat berbunyi jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan Artizy.


"Sudah waktunya istirahat, sudahlah aku tidak ingin kepalaku semakin panas Artizy, kita ke kantin aja!" sahutku sambil merapikan buku-buku yang ada dimeja.


※※※


Hari ujian pun telah tiba, hampir seluruh siswa dan siswi di kelasku sedang sibuk menjawab soal demi soal. Aku melirik ke arah Artizy yang ketiban sial, karena dia berada di kursi paling depan dan dihadapannya adalah pengawas ujian. Guru pengawas dengan kumis yang amat tebal, beliau bernama Bapak Sam. Bapak Sam adalah guru wali kelas dari kelas 10B, beliau mempunyai motto yang sedikit unik dan aneh, semakin tebal kumis seseorang berarti semakin berwibawa juga orang tersebut.


Artizy mencoba membalikkan kepalanya ke arahku dengan wajah menyedihkan, tetapi baru bergerak sedikit Pak Sam membuat suara batuk yang disengaja.


Semoga beruntung sobat, batinku di dalam hati.


Soal demi soal telah ku jawab dan sengaja beberapa soal aku salahkan karena ya bisa berbahaya jika aku mendapatkan nilai yang tinggi, bukan karena aku nanti di curigai curang tetapi aku hanya tidak ingin namaku menjadi pusat perhatian di dinding pengumuman nanti.


...


"Ah sial ..., tadi soalnya sangat sulit sampai sampai aku harus melempar penghapusku untuk menjawab!" Artizy dengan bangganya memamerkan kebodohannya.


"Artizy, aku tidak menyangka kau itu begitu jenius!" satir Robin menggelengkan kepalanya.


"S-sebaiknya kau belajar lebih giat lagi, Artizy!" pinta Mika sambil tersenyum kebingungan.


Ellen menatap wajah Artizy dengan tatapan tajam. "Aku tau kau itu kuat tapi..."


Ellen menghela napasnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kalian tidak pernah mencoba hal itu?" tanya Artizy dengan senyum khasnya.


Kami dengan kompak menepuk dahi kami dan mulai berpikir bahwa dia benar-benar Kunyuk.


...


Setelah makan malam, aku langsung melanjutkan belajar untuk ujian besok. Besok adalah pelajaran yang paling aku benci, aku bukan satu-satunya yang membenci pelajaran itu tetapi mungkin sebagian orang amat membenci pelajaran itu.


Matematika, itulah nama mata pelajaran yang akan diujiankan besok. Bukan karena aku tidak bisa menghitung ataupun tidak mengerti rumusnya tetapi tekanan yang di ciptakan oleh ujian matematika itu yang membuatku tidak nyaman. Kalian pasti bertanya kenapa, jawabannya karena di saat itu semua orang di ruangan ujian mengeluarkan aura yang begitu tidak nyaman dan itu sangat mengganggu konsentrasiku.


"Hmm ini jawabannya B," gumamku sambil mencoba menjawab soal latihan.


Entah kenapa mataku saat itu begitu berat, dari pada kepalaku menjadi sakit karena menahan ngantuk jadi aku memutuskan untuk tidur sebentar lalu melanjutkan belajar lagi nanti.


Baru beberapa menit aku tertidur, aku merasa sesuatu yang aneh akan terjadi dan benar saja dugaanku, aku kembali bermimpi seperti sebelumnya.


Aku mencoba membuka mataku perlahan dan merasakan tubuhku yang tengah berbaring di rerumputan di tengah hutan.


Entah kenapa kali ini aku tidak sendirian di dalam hutan, aku melihat sekeliling dan menyaksikan aku tengah dikelilingi oleh bermacam-macam hewan.


"Wah ada rakun merah, lucunya!" ujarku lalu mencoba menyentuh kepala rakun merah itu.


Mereka sangat jinak dan sangat bersahabat kepadaku, lalu datang pria yang dulu pernah ku temui di pondok kecil di dalam mimpiku yang lalu.


"Selamat datang kembali Nak Muzzy!" sapa pria itu kepadaku.


"Paman orang yang dulu duduk di pondok itu bukan? Bagaimana bisa paman bisa keluar dari pondok itu, bukannya kemarin aku tidak bisa masuk kedalam?"


"Bukannya sudah ku bilang kau harus meningkatkan kemampuan Cube of Arcane milik mu itu!"


"Tapi aku tidak mengerti maksud paman, bagaimana caranya meningkatkan Cube of Arcane, tidak ada satupun informasi mengenai senjata itu dan lagi bagaimana paman tau aku pemilik senjata Cube of Arcane!?" protesku.


"Haha dasar bocah, aku juga pengguna Mythical Rubick dan senjataku Cube of Arcane. Sepertinya memang benar mereka sudah menghapus semua tentang catatan Mythical Rubick, dasar mereka manusia tidak tau diri, membuatku kesal saja!"


"Hah? Mereka siapa? Kenapa Mythical Rubick dihapuskan?" tanyaku sambil menyampingkan kepalaku karena kebingungan.


Pria itu lalu menggaruk kepalanya. "Aduh bocah ini satu-satu bertanyanya, aku jadi kasihan kepada mu. Sepertinya kau adalah generasi tersulit."


Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih, kepalaku penuh dengan pertanyaan.


"Paman tolong beritahu aku, apa maksud semua ini!"


Pria itu duduk sambil menyandarkan dirinya di perut beruang coklat yang tengah duduk di sampingku. "Seperti yang kau lihat, kita memiliki Warrior yang sama dan senjata yang sama. Biar ku beritahu kau satu hal bahwa Mythical Rubick berbeda dengan Warrior lainnya yang dimana penggunanya hanya 1 orang di setiap generasi dan kau adalah penerusku."


"Lihat Cube milikku ini, dia berwarna biru dan lihat berapa ukurannya?" lanjut pria itu sambil memperlihatkan Cube of Arcane miliknya.


"4x4! Tapi Cube milikku hanya 2x2?" jawabku lalu mengeluarkan Cube of Arcane milikku.


"Yep betul sekali dan warna milik mu juga hijau, kau tau artinya apa?" tanya Pria itu sambil menunjuk kearah Cube milikku yang melayang-layang.


"Hijau ... berarti alam?" jawabku ragu.


"Hahaha rupanya bocah yang satu ini lumayan cerdas, ya benar sekali hijau yang Cube milik mu itu mengartikan Nature atau kekuatan alam!"


"Jadi bagaimana caranya aku bisa meningkatkan Cube of Arcane, paman?"


Pria tadi tersenyum lalu menengadahkan kepalanya ke atas, ia menyaksikan dedaunan yang tengah menari-nari karena hembusan angin yang sejuk sekali.


-Tbc-