
Another Pov
Heinrich hanya bisa merintih kesakitan karena tubuhnya dengan kuat terdorong dengan sangat kuat ke dinding-dinding akar yang di ciptakan oleh Karin.
"Kenapa akar-akar ini sangat kuat!" ujarnya yang mencoba untuk menggerakan tangannya namun usahanya sia-sia karena akar itu terlalu besar dan kuat.
Karin mengepal kuat tangan kanannya agar lilitan dari akar yang tengah menahan tubuh Heinrich semakin kuat. Mulai terdengar suara tulang yang remuk dan patah, bukan hanya suara tulang yang mulai patah dan remuk namun juga suara teriakan Heinrich yang meraung kesakitan bukan main.
Semakin Karin mengepal tangan kanannya semakin nyaring suara teriakan kesakitan Heinrich.
Kesadaran Heinrich sudah mulai hilang namun ia terus berusaha mencoba menjaga kesadarannya.
"Orang ini kuat juga!" lirih Karin.
Efek dari skill yang di ciptakan oleh Karin akhirnya berakhir. Tubuh Heinrich yang awalnya terlilit oleh akar-akar Karin akhirnya terlepas. Tubuhnya terhempas ke lantai dengan cukup kuat namun kesadarannya masih terjaga walaupun ia harus menderita karena menahan sakit yang amat kuat.
Tulang rusuknya kebanyakan sudah patah dan remuk, kedua tulang jarinya juga mengalami remuk. Untuk mengenggam senjatanya saja ia sudah tidak mampu lagi.
Namun tiba-tiba saja tubuh Heinrich bergetar dengan sangat kuat, ia mengalami kejang yang amat mengerikan.
"A-ada a-apa ddd-dengan ttt-tubuh kkku!?" tanya Heinrich terbata-bata
"itu efek Ghost Spores dari bunga-bunga yang kalian terjang di awal tadi!" jawab Karin berjalan mendekati musuhnya itu.
"Ghost Spores berbeda dengan Serbuk bunga pada umumnya, ia tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Di bantu dengan cahaya matahari dan cahaya lampu saja juga sangat sulit membedakan apakah itu Spores biasa atau Ghost Spores. Ghost Spores yang terhirup akan masuk ke dalam otak dan mulai bekerja dengan menganggu sistem aliran darah lalu menganggu saraf dan otot lalu berlanjut sampai seluruh tubuh mu di hancurkan olehnya!" Karin tersenyum lalu berjalan meninggalkan Heinrich yang hanya bisa berbaring pasrah sambil menunggu kematiannya.
Selang beberapa detik setelah Karin meninggalkan Heinrich. Ia dinyatakan kalah dan langsung di pindahkan oleh petugas kesehatan. Kondisinya sangat memprihatinkan karena matanya tetap terbuka walaupun ia dalam keadaan pingsan. Itu artinya ia sangat menderita dan mungkin saja meninggalkan trauma yang mendalam.
Karin langsung bergegas menuju Mika yang saat itu tengah bertarung dengan Narayan namun berkat efek Ghost Spores, tubuh gempal Narayan mulai oleng dan kehilangan keseimbangannya.
"A-apa yang terjadi padanya?!" tanya Mika sambil menahan darah yang keluar dari tangan kirinya. Luka itu ia dapatkan akibat pertarungannya dengan Narayan yang begitu sengit padahal.
"Ia terkena skill pasifku, sepertinya Ghost Spores sudah mulai menyerang saraf dan ototnya!" jawab Karin sambil mencoba menendang-nendang tubuh gempal Narayan.
"Aku merasa kasihan jika dibiarkan seperti ini, akan ku akhiri penderitaanmu!" ucap Mika.
"[Hand of Fate]!" rapal Mika lalu muncul sebuah cahaya dari atas langsung menyambar tubuh Narayan hingga tubuhnya hilang menjadi butiran debu.
Karin yang melihat hal itu bahkan membuat mulutnya terbuka. Ia tidak menyangka Mika memiliki skill yang amat mengerikan seperti itu. Bukan hanya Karin yang terkejut, tetapi seluruh anggota kelas dari 10F juga terkejut.
***
Aku tidak akan pernah membuat Mika marah, orang itu saja hilang seperti terhisap ke dalam lubang hitam, bagaimana dengan diri ku ini jika terkena skill itu! Batin Muzzy sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Setiap skill yang kuat pasti mempunyai efek samping yang kuat pula atau harga yang harus dibayar oleh si pengguna. Mika langsung kehabisan hampir seluruh energinya tubuhnya mulai terasa lemas dan untungnya ada Karin yang membantunya tetap berdiri.
Seluruh penonton bersorak bahagia namun ada juga yang merasa kecewa karena warrior yang mereka dukung kalah.
"10F! 10F! 10F!" sorak kompak penonton sambil bertepuk tangan.
Kelas 10F yang di anggap kelas paling lemah dan selalu diremehkan akhirnya menunjukkan siapa yang lemah dan pecundang.
Artizy langsung berlari bersamaan dengan anggota kelas lain menuju Mika dan juga Karin.
Tanpa pikir panjang, Artizy langsung memeluk Karin dengan erat sambil mengatakan bahwa dia sangat senang.
Mr. Jack terlihat tetap tenang namun sebenarnya saat ini beliau tengah menangis haru melihat akhirnya anak didiknya berhasil dan dinobatkan menjadi juara.
"Mr. Jack!" panggil kompak seluruh murid
"Terima Kasih banyak!!!!" teriak keras seluruh anak muridnya lalu berlari kearah beliau.
Mr. Jack tidak bisa lagi menahan air matanya dan akhirnya tumpah. Air mata bahagia penuh makna dan perjuangan itu menjadi tanda bagaimana kerja keras yang beliau lakukan terhadap anak didiknya selama ini.
Perjuangan kelas 10F sangatlah berat, bukan hanya mendapatkan diskriminasi oleh kelas lain. Bahkan mereka juga terkadang mendapat kalimat-kalimat yang kurang enak di dengar oleh seorang guru pengajar disana tetapi berkat Mr. Jack yang terus percaya kepada anak didiknya itu akhirnya ia bisa menunjukkan siapa yang mereka sebut kelas pencundang.
...
Mereka merayakan kemenangannya dengan sangat meriah disebuah rumah makan keluarga. Canda tawa menghiasai perayaan itu, bahkan Mr. Jack meminum banyak sekali beer sampai-sampai bicaranya saja sudah mulai melantur kemana-mana. Mulai membicarakan hal yang akan kami dapatkan sampai rahasia yang hanya beliau tau tentang diskriminasi kelas mereka.
Awalnya mereka marah namun akhirnya seluruh anak didiknya berterima kasih kepada Mr. Jack, jika bukan karena Mr. Jack yang melindungi anak-anak didiknya itu bisa di pastikan mereka pasti akan kesulitan dalam hal belajar dan juga bebas menggunakan fasilitas sekolah.
"Kurang ajar mereka, aku akan balas semua apa yang telah mereka lakukan kepada Mr. Jack. Lihat saja nanti! Aku akan menjadi Elder dan membuat sekolah ini bukan lagi tempat mengerikan seperti ini!" kata Artizy dengan wajah masamnya lalu seluruh anggota kelas bertepuk tangan mendengar apa yang ia katakan tadi.
"Berarti kau harus mengalahkan si nomor satu kak Kyle bukan!?" tanya Mr. Jack kepada Artizy.
Muzzy yang tengah minum mendengar hal itu membuatnya tersedak. "A-apa, kau ingin melawan kak Kyle sekali lagi?!"
"Tentu saja, untuk apa aku menjadi kuat kalo bukan untuk membela kebenaran. Setelah aku mengalahkannya aku akan mengalahkan mu, Muzzy!" ujarnya sambil tersenyum.
"Aku yang akan lebih dulu mengalahkan mu, Artizy!" sahut Muzzy, lalu mereka berdua tertawa bersama-sama.
...
Tak terasa hari sudah semakin malam, pesta perayaan pun telah berakhir dengan kalimat yang sangat membakar semangat seluruh anggota kelas 10F oleh Mr. Jack.
Mr. Jack juga berpesan kepada mereka untuk beristirahat total dan melakukan liburan untuk memulihkan seluruh mental anak muridnya itu.
***
Another Pov end
Pesta perayaan tadi sangat menyenangkan, aku belum pernah merasakan hal seperti itu. Rasa yang begitu menyenangkan, sangat hangat, dan penuh dengan aura positif. Aku hanya berharap kami akan selalu merasakan hal seperti ini dan tidak akan pernah berpisah namun mengingat bahwa tidak ada yang selamanya di dunia ini tetapi ini adalah memori yang tidak akan pernah kami lupakan.
"Pesta tadi sangat menyenangkan ya Muzzy, selain itu aku juga bertarung dengan sangat baik tadi!" Mika tersenyum sambil berjalan denganku. Kami juga bergandengan tangan saat ini, entah mengapa aku sudah tidak terlalu gugup lagi ketika mengandeng tangannya.
"Iya sangat menyenangkan, tadi Mr. Jack minumnya sangat banyak sampai-sampai beliau bicaranya jadi sedikit aneh tapi biasanya beliau juga berbicara yang aneh-aneh. Ku harap kita akan selalu merayakan seperti itu. Latihan mu yang keras itu membuahkan hasil, terima kasih atas kerja kerasnya tadi!" sahutku sambil tersenyum kepadanya lalu memberinya hadiah yaitu sebuah mengelus di atas kepalanya.
Ia hanya tersenyum sambil menahan rasa malu tapi itu yang membuatnya semakin imut.
"Muzzy juga sudah berusaha keras tadi, jadi terima kasih banyak atas kerja kerasnya!" ujarnya lalu juga ikut mengelus kepala ku tetapi ia harus menjingkitkan kakinya karena tinggi badanku lebih tinggi dibanding dia.
"Hehe, aku sedikit lengah tadi. Aku harus lebih hati-hati lagi lain kali!" ujarku lalu kembali melanjutkan mengantarkan Mika sampai ke rumahnya atau kuilnya.
Mika memutar tubuhnya kebelakang sambil tetap terus berjalan lalu berkata. "Karena Muzzy tadi lengah dan pingsan, berarti aku dong yang menang!"
Aku tersenyum canggung dibuatnya. "Hehe, i-iya Mika yang menang."
Mika menghentikan langkahnya lalu meletakkan jarinya telunjuknya di dagu, kuharap dia tidak memikirkan hal-hal yang di luar dari kemampuan ku seperti membelikannya sebuah rumah atau memberikannya seorang anak. Wait kenapa malah aku memikirkan hal-hal seperti itu.
"Aku ingin digendong!" ujarnya sambil menarik-narik lengan bajuku.
Aku mendengarnya meminta hal sederhana itu pun tertawa ringan lalu membungkukkan badanku kebawah untuk menggendongnya.
Tubuhnya begitu ringan, dia melingkarkan erat lengannya di leherku lalu membisikkan sesuatu yang membuat tubuhku merinding.
"Hmm i-iya sangat empuk!" ucapku sedikit malu-malu.
Lalu dia berbisik lagi dan membuatku hampir kehilangan keseimbangan. Untungnya aku kembali berhasil mengendalikan keseimbanganku, perempuan memang suka jahil rupanya.
"Mika, jangan lakukan itu lagi. Aku takut kita akan jatuh nanti," ujarku yang entah kenapa merasa deg-degan.
Mika hanya tertawa lalu menekan pipiku dengan jari telunjuknya. "Lagi pula jika hal itu terjadi, Muzzy pasti menangkapku duluan agar aku tidak jatuh!"
"Tentu saja!" sahutku sambil tersenyum kepadanya.
...
Tidak terasa kami sudah ada di depan kuil/rumah Mika, karena hari sudah malam jadi sudah tidak ada bus yang beroperasi jadi mau tidak mau kami tadi harus berjalan kaki. Walaupun jarak antara restoran tadi dengan rumah Mika lumayan jauh tetapi aku tidak ada merasa kecapean, mungkin karena kekuatan dari perasaan kami berdua yang membuat kekuatan tubuhku menjadi lebih kuat.
Another Pov
Emeralia dan beberapa prajurit wanitanya menemui tuannya Wilkes. Mereka seperti hendak melaporkan sesuatu yang sangat penting karena langkah mereka begitu cepat dari biasanya.
"Tuan Wilkes, lokasi Baruna telah di temukan!" ujar Emeralia sambil membungkukkan tubuhnya seperti seorang kesatria yang memberi hormat kepada rajanya.
"Kerja bagus Emeralia!" puji Wilkes lalu berjalan mendekat kearahnya.
"Saat ini Baruna berada di kota reruntuhan Tatas, tetapi ada sebuah penghalang yang amat kuat, akibatnya kita kehilangan beberapa anggota kita karena mencoba menerobos penghalang itu!"
"Sepertinya kita harus menunggu lagi, tetapi itu tidak menjadi masalah! Peperangan sebentar lagi akan pecah dan kita akan menguasai dunia ini. Persiapkan pasukan untuk menyerang distrik Borneo Water!" ujar Wilkes lalu kembali duduk ke singgasananya yang di atasnya terdapat bola Kristal yaitu Blue ord dan Red ord.
"Baik Tuan!" ucap Emeralia diikuti oleh prajurit wanita lainnya. Mereka langsung meninggalkan ruangan itu.
Wilkes tertawa sambil memandangi keluar jendela. Pikirannya sudah bukan miliknya lagi, di dalam tubuhnya, ia sudah mati dan digantikan oleh perasaan amarah dan rasa benci yang teramat dalam dan sangat mengerikan, dan ia telah lama membuang sisi kemanusiaannya.
-Tbc-