
Another POV
Flashback
16 tahun yang lalu
Seorang pria sedang berlari di sebuah koridor besar, dia nampak antusias dan sedikit gugup, dengan sekuat tenaga ia berlari lalu membuka pintu salah satu pintu dari banyaknya ruangan di sana yang di dalamnya tengah berkumpul beberapa orang dengan seragam The Guardian lengkap.
"K-kita dapat misi, teman-teman!" ucap pria tadi sambil mengatur napasnya.
Pria dengan topi fedora berlambang Clan Hunter terkaget-kaget karena ulah pria tadi.
"Kau ini bisa tidak jangan membuatku kaget, Shira!"
"M-maafkan aku Jesse, hanya saja ini sangat mendadak makanya aku tadi berlari dengan sekuat tenagaku," sahut Shira menggaruk kepalanya.
"Tidak apa, Shira. Lalu apa misi yang kita dapat?" sahut pria berambut hitam yang di lengan seragamnya terdapat lambang dua buah palu besar yang di silangkan lalu dibawahnya tertuliskan nama Grand Templar secara melengkung.
"Kita diperintahkan untuk menelusuri sebuah reruntuhan kuno oleh Jendral Elliot, Kapten MacTavish!"
Kidd MacTavish lalu tersenyum kepada Shira lalu menepuk pundak kawannya itu. "Terima kasih atas kerja kerasnya, sebaiknya kita bersiap-siap sekarang tapi dimana teman mu itu Jesse?
Jesse menggeleng. "Dari pagi tadi aku sudah tidak melihat Wilkes, mungkin dia tengah berdoa di gereja, tempat biasa yang dia kunjungi untuk melakukan doa-doa kepada tuhannya."
"Dia semakin aneh ketika kita mendapat misi saat itu!" ujar Shira sambil mengisi peralatan-peralatan ke dalam tasnya untuk misi yang di berikan Jendral Elliot.
Kapten MacTavish mengerutkan dahinya, ia mulai berpikir memang benar ada sesuatu yang aneh tentang Wilkes akhir-akhir ini.
"Maksud mu ketika kita menemukan artefak aneh yang tulisannya masih belum bisa di mengerti itu?" tanya Jesse lalu melepaskan topinya dan menggantungnya di belakang punggungnya.
"Artefak itu benar-benar aneh, tidak ada catatan apapun tentang tulisan yang ada di dalamnya. Bahasanya pun juga tidak bisa di pahami dan di terjemahkan!" sahut Shira.
Kapten MacTavish hanya diam dan mulai berpikir tentang apa yang akan terjadi jika artefak itu berhasil di terjemahkan, di dalam kepalanya ia hanya memikirkan hal-hal buruk sebentar lagi akan terjadi dan hal yang paling ia takutkan adalah kehancuran dunia ini.
"Jesse panggil Wilkes, aku dan Shira akan melapor dulu ke Jendral Elliot sebelum kita berangkat. Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan artefak itu," pinta Kidd MacTavish kepada Jesse.
※※※
Jesse berjalan menelusuri hutan kecil untuk menuju ke sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat banyak anak yatim yang di punggut oleh Wilkes.
"Hey Dek Lulu, dimana Wilkes?" panggil Jesse kepada anak-anak yang tengah bermain dengan riangnya.
Seorang anak perempuan berumur 8 tahun berlari kearah Jesse.
"Paman Wilkes sedang di dalam bersama dengan Kakak Sugumi!"
"Ah bocah itu, malah pacaran!" protes Jesse. "Biar Paman saja yang kesana, terima kasih Dek Lulu kau bisa lanjut bermain lagi."
Benar saja yang di katakan Jesse tadi, Jesse melihat Wilkes tengah berpelukan di bawah cahaya cermin gereja yang khas.
"Wilkes, simpan dulu mesra-mesraannya kita ada misi!"
Mendengar ada Jesse yang datang tiba-tiba, Wilkes dan Sugumi lantas kaget lalu melepaskan pelukan mereka.
"Aku tau kalian akan menikah tapi bisa tidak lakukan hal tadi di kamar saja, jangan lakukan di sini kau ini! Jika anak-anak yang kalian punggut tadi melihat bagaimana?"
"I-iya-iya maaf!" ucap Wilkes sedikit kesal karena di ganggu. "Tunggu aku ya Sugumi, tolong jaga anak-anak! Aku berangkat dulu," Wilkes lalu mencium Sugumi dan memeluknya sekali lagi.
Jesse memutar kedua matanya ke atas karena melihat Wilkes lagi-lagi bermesraan dengan Sugumi.
...
"Kalian akan masuk ke dalam bangunan itu dan periksa apa yang ada di dalamnya, tapi aku mendengar rumor yang beredar bahwa di sana terdapat banyak Monster di dalamnya jadi berhati-hatilah kalian!" ujar Jendral Elliot melakukan briefing kepada Shira dan Kapten MacTavish.
Jesse dan Wilkes akhir sampai ke ruangan dan langsung ikut briefing mengenai misi tadi.
"Wilkes, aku minta kepada mu untuk lebih fokus lagi terhadap misi ini karena misi ini penting untuk mencari tau apa yang sebenarnya artefak yang kita dapatkan tempo hari yang lalu!" pinta Jendral Elliot.
Jendral Elliot adalah Jendral yang tegas dan juga bijaksana dalam menyelesaikan masalah tapi entah kenapa jika dihadapan Wilkes ia menjadi sangat berbeda.
"Baik Jendral, sebaiknya kita mulai saja misinya!" ujar Wilkes lalu tersenyum licik.
Kapten MacTavish merasa ada yang salah dengan rekan satu timnya ini, dia seperti sudah merencanakan sesuatu.
Seluruh anggota tim sudah keluar dari ruangan terkecuali Kapten MacTavish dan Jendral Elliot.
"MacTavish, tolong awasi Wilkes! Aku merasa ada yang tidak beres dengan kepalanya!" pinta Jendral Elliot lalu ia berdiri kearah jendela, memandang keluar menyaksikan seorang anak angkatnya yang dulunya begitu manis sekarang mulai berubah.
"Baik Jendral, Aku juga merasakan hal yang sama seperti apa yang anda rasakan!" sahut Kapten MacTavish.
...
"[Double Slash]!" rapal Shira lalu melakukan gerakan menerjang maju dan mundur yang membuat puluhan monster yang berbentuk seperti pohon itu terpotong-potong tubuhnya.
"Aku juga tidak mau kalah dari bocah Clan Shaman ini, [brutal Shot]!" sahut Jesse mengeluarkan Pistol besarnya lalu menembakkan dengan membabi buta ke depan.
Saat Kapten MacTavish dan Shira serta Jesse sedang asik bertarung menghabisi seluruh Monster yang ada di sekitar mereka, Wilkes meninggalkan mereka bertiga dan berjalan masuk ke dalam bangunan reruntuhan kuno itu.
Dia sangat terobsesi dengan artefak kuno tersebut sampai sampai membuatnya sedikit gila.
Dia meraba-raba setiap ukiran yang ada di dinding bangunan reruntuhan, sambil sesekali tersenyum puas seakan-akan dia bisa membaca apa yang tertulis di ukiran itu.
"Sumber kekuatan ... adalah milik Tree of Life...," Wilkes terlihat terkejut setelah membaca salah satu dari banyaknya ukuran tadi, ia tersenyum licik, dirinya merasa puas dan sebentar lagi ia akan menyelesaikan pembalasan dendamnya.
Ketika prajurit yang tertinggal tadi akhirnya menemukan Wilkes yang masih asik meraba seperti layaknya membaca huruf Braille.
"Woy Wilkes, apa yang kau lakukan?!" Jesse kesal karena hanya dia yang tidak membantu tadi.
"K-kenapa kau tersenyum aneh seperti itu?!" Shira mengangkat senjatanya dengan gemetaran kearah Wilkes yang tengah tersenyum aneh.
"Wilkes apa yang terjadi padamu!?" tanya Kapten MacTavish dengan suara lantangnya.
"Aku benci menjadi lemah dan di remehkan orang lain, Kapten MacTavish. Si anak emas ayahku. Jendral yang otaknya tidak memikirkan anaknya sama sekali." geram Wilkes lalu ia menatap Kapten MacTavish dengan penuh amarah. "Seharusnya yang menjadi Kapten adalah aku, yang seharusnya mendapatkan penghormatan adalah aku, seharusnya semua orang berterima kasih kepadaku yang telah berhasil menyelamatkan semua orang dari para monster yang semua orang takuti!"
"Sadar lah kau Wilkes, kau hanya anak angkat Jendral Elliot. Beliau hanya kasihan kepada mu saat kau masih kecil, orang tua aslinya telah lama mati saat kau masih kecil!" teriak Jesse sambil mengacungkan pistol besarnya kearah Wilkes.
"Apapun yang kau rencanakan Wilkes, itu semua tidak ada hasil apapun. Kau hanya akan membuat orang lain menderita!" tegas Kapten MacTavish yang berusaha menenangkan suasana.
"[Master of Puppet]!" rapal Wilkes.
"Kurang ajar kau, Wilkes!" teriak amarah Jesse.
Akibat rapalan itu, dia berhasil mengendalikan seluruh monster yang ada di sekitarnya, sambil tersenyum puas Wilkes berjalan meninggalkan mantan rekannya tadi yang telah ia khianati.
"Dengan aku semakin kuat, hidupku dan Sugumi akan menjadi kekal abadi, aku akan menghidupkan kembali Sugumiku yang telah mati dengan kekuatanku!"
Rupanya Sugumi yang selama ini ada hanyalah boneka hidup yang diciptakan oleh Wilkes. Sugumi meninggal dunia saat dia berjuang melawan penyakit yang ia derita sejak ia lahir.
※※※
Flashback on
"Semoga operasinya berhasil, nanti setelah itu kita akan makan makanan kesukaan mu ya, Sugumi!" ucap Wilkes memberi semangat kepada kekasihnya Sugumi.
Tapi naas, operasi yang di lakukan gagal karena kesalahan tim medis saat operasi berlansung.
Mendengar hal itu Wilkes seakan mati. "T-tidak mungkin hal ini terjadi...,"
Tanpa basa basi Wilkes membunuh para dokter yang menangani Sugumi dan juga membunuh seluruh perawat yang ikut terlibat. Ruangan rumah sakit yang tadinya putih bersih berubah menjadi merah pekat.
Disanalah ambisi untuk menjadi kuat Wilkes terlahir, dulu ia adalah orang yang teramat sangat baik tapi semua berubah ketika harapan telah lenyap dari sisi hatinya.
Flashback off
※※※
Wilkes berjalan menyusuri tiap koridor yang ada di dalam reruntuhan kuno itu dan akhirnya ia menemukan sebuah pintu batu besar yang di tengah pintu itu terdapat lukisan kubus-kubus berwarna-warni melayang di sekitaran seorang pemuda yang tengah memandang sebuah pohon raksasa yang sangat rindang.
"Terkunci? Tapi itu tidak masalah karena aku akan menerobos masuk!" ucap Wilkes lalu mengeluarkan senjatanya yaitu sebuah buku bernama Book of Leak's.
Saat Wilkes mulai mencoba memaksakan pintu itu terbuka, sebuah Cube berwarna hijau tiba-tiba menyerangnya dan membuatnya tersungkur karena serangan itu.
"Mythical Rubick! Kau memang Warrior yang berbeda daripada warrior lainnya," ucap Wilkes yang masih menahan sakit di perutnya.
Dari kejauhan Kapten MacTavish, Shira dan Jesse mulai mendekat ke arah Wilkes.
Jesse berteriak sambil berlari. "Pengkhianat, akan ku keluarkan isi perut mu itu!"
"Wilkes, hentikan semua rencana gila mu itu!" ujar Kapten MacTavish.
Melihat keadaan yang tidak memungkinkan ia untuk menang, Wilkes mencoba melarikan diri tetapi dengan cepat Shira berada di hadapannya.
Tapi keajaiban terjadi, Cube tadi yang menerjang masuk ke tubuh Kapten MacTavish dan membuatnya tidak sadarkan diri.
"Aku telah memilih anak laki-laki mu yang tengah di kandung oleh istri mu, dia adalah anak pilihan dari Tree of Life!"
Kata-kata itu yang di dengar oleh Kapten MacTavish sebelum dia kehilangan kesadarannya.
-Tbc-