Mythical Rubick

Mythical Rubick
48 | Little to Close



Another Pov


Artizy masih mencoba membujuk Karin yang marah karena ulahnya sendiri yang ceroboh itu.


"Maafkan aku, Karin. Aku akan melakukan apapun asalkan kau jangan marah lagi!" bujuk Artizy sambil menahan langkah Karin yang mau menuju ujung lorong arena.


Karena terus menerus dibujuk akhirnya Karin menanggapi permintaan maaf Artizy namun ia membuat sebuah persyaratan kepada Artizy.


"Hah syarat?" tanya Artizy memiringkan kepalanya, ia kebingungan karena ucapan Karin.


"I-iya, besok temui aku di lobby hotel di pagi hari jangan telat, kau mengerti!?" Karin menunjuk wajah Artizy dengan telunjuknya.


Artizy mengangguk cepat tanpa pikir panjang karena merasa takut dimarahi lagi oleh Karin.


Karin tersenyum manis ke arah Artizy  lalu berjalan meninggalkan Artizy yang terlihat canggung hanya karena mendapatkan sebuah senyuman manis.


...


Seluruh penonton yang ada di dalam arena telah tidak sabar menanti pertandingan yang akan dilangsungkan, sampai-sampai membuat mereka bersorak meneriaki kelas yang mereka dukung.


"Aku suka disini, mereka mendukung kita!" ucap Artizy sambil melambaikan tangannya ke arah penonton yang mendukung kelas mereka.


"Ayo kalahkan mereka!" teriak Erina, menyemangati kelas 10F.


Para anggota kelas 10E juga mendapatkan sebutan yang meriah dari penonton ketika mereka mulai memasuki arena pertandingan.


"Ayo jangan sampai kalah!" teriak salah satu penonton.


"Ayo kelas E, nasib uangku ada di kalian!" teriak salah satu penonton pria bertindik di hidungnya.


Salah satu murid laki-laki berambut cokelat dari kelas 10E merasa sedikit kesal lalu berkata. "Sial mereka memasang taruhan kepada kita!"


Lalu seorang murid laki-laki berambut merah langsung menepuk pundak temannya tadi. "Sudah lah tidak perlu diambil pusing, hal itu sudah sering terjadi. Ayo cepat, Ibu Haruna sudah menunggu kita!"


...


Mr. Jack memberi masukan seperti biasa dan dengan gaya yang bisa dibilang anti mainstream untuk sebagian orang namun bagi Muzzy dan kawan-kawannya, hal itu adalah hal yang sangat biasa untuk mereka walaupun mereka masih merasa sedikit aneh.


Mr. Jack melakukan pose anehnya lalu berkata. "Jadi kali ini kalian harus menang agar bisa lanjut ke final, kalian ingin bukan ke final dan merebut kelas A untuk kalian!?"


"Tentu saja kami mau, Mr. Jack!" ucap mereka kompak.


"Bagus, sebentar lagi penentuan mode bertarung dan pemilihan pemain. Ayo kita buktikan kelas kita sangatlah salah dimata mereka yang pernah menertawakan kita!"


Bak di jilat lidah api, semangat berkobar di jiwa setiap anggota kelas 10F.


"F untuk Fantastik dan E untuk ..." ucap Artizy lalu terdiam, memikirkan kalimat yang akan ia ucapkan.


"Dan E untuk apa?" tanya Muzzy kebingunan.


Artizy menggaruk kepalanya. "Aku juga tidak tau hehe."


Muzzy memusut-musut dahinya seperti tengah menahan amarahnya untuk memukul kepala Artizy dan Reznov serta Robin malah menertawakan mereka berdua.


...


Mode pertarungan akhirnya ditentukan dan terpilihlah mode 2 vs 2 yang artinya akan ada 4 petarung di dalam arena.


Melihat hal itu, para anggota kelas 10F bersorak gembira namun kelas 10E menganggap ini adalah sebuah bencana yang akan mempersulit mereka.


"Sial kenapa harus seperti ini!" protes murid laki-laki berambut coklat.


Sambil menarik napas panjangnya, murid berambut merah itu mencoba memberi semangat kepada anggota kelasnya. "Apapun yang terjadi, kita harus terus berjuang. Kita sudah menunjukkan bahwa kita kelas yang tidak bisa diremehkan!"


Mesin pemilih pemain mulai berjalan dan memilih pemain dari kelas 10E yang akan bertandingan dan terpilihlah ketua kelas mereka, si anak berambut merah tadi dan juga anak berambut coklat yang memiliki tatapan cukup tajam.


"Ketua Ramze, kita terpilih!" ucap murid berambut coklat itu lalu berdiri dari duduknya sambil meregangkan tubuhnya.


Ramze mengangguk lalu juga ikut bmelakukan peregangan. "Aku tau, Hibiki. Ayo kita bersiap!"


Mesin pemilih pemain melanjutkan tugasnya untuk memilih siapa yang akan bertanding untuk kelas 10F dan terpilihlah Muzzy dan Robin.


※※※


"Aduh siapa yang akan menggantikan Muzzy kalo dia akan bertarung?" Karin panik memegang kepalanya.


"Biar aku saja ketua!" kata Maze berinisiatif mengajukan dirinya sebagai asisten bertarung.


Ketika anak-anak didiknya tengah kerepotan, Mr. Jack malah duduk-duduk santai di pojok kursi yang memang di sediakan untuk para anggota kelas yang bertanding sambil memakan kripik kentang milik Artizy yang beliau sita tempo hari.


"Tolong bantuannya Maze!" ucap Muzzy sambil memasang sebuah alat bantu pendengaran kecil ke telinganya begitu pula dengan Robin.


Dari kejauhan, Erina berteriak ketika melihat Muzzy akan bertarung. Erina melompat-lompat seperti seekor tupai yang sedang dalam mood baiknya.


"Kau sangat bersemangat sekali, sayang!" kata dokter Lute kepada Erina.


Erina melirik ke arah dokter Lute sambil memasang wajah bahagianya lalu berkata. "Tentu saja aku semangat, sudah lama aku tidak melihat Muzzy bertarung, sayang!"


Dokter Lute tersenyum lalu memandang Muzzy dari kejauhan dan mendoakannya. "Muzzy bertarunglah dengan seluruh kemampuan mu dan jangan sampai kalah!"


Another Pov end


Aku dan Robin terpilih sebagai warrior yang akan bertarung pada babak pertama ini. Sedikit gugup karena harus bertarung pertama namun aku harus bisa menyesuaikan diriku.


Mika mendekat ke arahku lalu memberikan sebuah jimat yang ia bawa dari rumah.


"Ini jimat keberuntungan yang aku bawa dari rumah, semoga keberuntungan berpihak pada mu, Muzzy!" ucapnya sambil menyerahkan jimat itu kepadaku.


Aku mengangguk dan mengambil jimat itu lalu berterima kasih kepadanya, ia juga tak lupa memberi semangat kepada ku dan juga untuk Robin. Walaupun sepertinya Robin juga terlihat menginginkan sebuah jimat dari Mika.


"Ayo Robin, kita perlihatkan kekuatan seorang kutu buku!" ucapku lalu melakukan tos kepalan tangan kepadanya.


Pertandingan akan dimulai 1 menit lagi. Aku dan Robin telah melakukan summon dan begitu pula dengan Ramze dan juga Hibiki.


"Si rambut merah itu pengguna warrior serangan jarak jauh atau Offensive Ranger sedangkan si rambut coklat itu memiliki warrior serangan jarak dekat atau Offensive Fighter!" ucap Maze lewat alat bantu yang ada di telinga kami.


"Aku punya rencana Robin!" cetusku lalu memberitahu apa rencana yang telah ku buat kepada Robin.


Rencana yang akan kami lakukan adalah kami bersama-sama akan menyerang salah satu terlebih dahulu sebelum mengalahkan yang satunya lagi, jawabannya simple 2 lawan 1 jauh lebih kuat.


Kombinasi yang akan kami gunakan adalah aku berperan sebagai perisai untuk menangkis, menghalangi dan menahan segala serangan musuh sedangkan Robin akan berperan sebagai pemberi kerusakan atau istilahnya adalah Damage Dealer.


Pertandingan pun di mulai diiringi dengan sorak gembira para penonton.


"Senjata macam apa itu?!" tanya Robin lalu menarik busurnya untuk menembakkan anak panah sihir miliknya kepada Ramze.


Ramze menghindar dengan mudah berkat bantuan jet yang ada di punggungnya.


Tiba-tiba saja Hibiki mendekat ke arahku sambil memutar senjatanya yaitu sebuah Nunchaku.


Aku menahan serangannya dengan cube milikku dan mencoba mendorongnya mundur.


"Sesuai dengan rumor yang beredar, si bocah kubus Muzzy pemilik pertahanan terkuat kuat di kelas 10F!" puji Hibiki kepadaku.


Sekitar 10 detik aku dan Hibiki beradu kekuatan rupanya kekuatanku jauh lebih unggul.


Tubuh Hibiki akhirnya tidak kuat menahan dorongan yang ku berikan melalui cube.


"Tuan, berhati-hati lah dengan Nunchaku itu!" ujar Rubick memperingatiku.


"Senjata itu memiliki efek pengeras yang cukup merepotkan!" lanjut Rubick.


Aku melirik ke arah Robin yang masih asik berbalas serangan dengan Ramze.


"Robin kita harus kalahkan pemilik Nunchaku ini terlebih dahulu!" perintahku.


"Ada apa dengan pemilik Nunchaku itu?" tanyanya lalu menghindari serangan Ramze yang tengah terbang dengan bantuan jet yang ada di punggungnya.


Hibiki mulai menyerangku lagi dan sesekali aku menahan serangannya dengan cube ku. Dia benar-benar merepotkan.


Semakin kuat serangan yang ia tahan maka Nunchaku itu pula semakin memiliki serangan yang kuat, namun jika serangan yang di hasilkan melebihi batas ketahanan dari senjata itu maka senjata itu akan kehilangan kemampuannya, batinku dalam hati.


※※※


Aku mencoba sesekali mengganggu Ramze dengan menembakkan beberapa cube ke arahnya dan benar saja itu sangat berguna.


Ramze terkadang menembakkan leser itu hampir mengenai kawannya sendiri yaitu Hibiki yang tengah melawanku.


"Ketua, apa yang kau lakukan!?" tanya Hibiki yang serangannya gagal karena harus menghindar dari serangan temannya sendiri.


Ini kesempatan ku, batinku di dalam hati.


"Robin sekarang!" teriakku.


Robin langsung menembak dua anak panahnya ke arah Hibiki yang tengah lengah.


Kedua anak panah itu langsung mengenai dada Hibiki.


Tubuh Hibiki ambruk seketika, namun untuk memastikannya tidak bangun lagi aku meledakkan 4 buah cube milikku yang sudah ku letakkan di area sekitar tubuhnya tadi.


Ledakkan besar terjadi di sisi arena, tubuh Hibiki sudah tidak jelas lagi bentuknya dan hanya menyisakan kepala dan juga bagian badan, tangan dan juga bagian kaki sampai paha sudah tidak ada lagi karena terkena serangan ledakan cube milikku.


Ia pun berubah menjadi manusia normal kembali.


"HIBIKI!" teriak Ramze.


"Beraninya kau melakukan itu kepada Hibiki!" lanjut Ramze yang terlihat sangat geram.


Sesuai rencanaku, Ramze yang terlihat tenang langsung mendadak kehilangan akal sehatnya dan menembakkan peluru lesernya secara membabi buka kearah kami.


"[Hyper Beam]!" teriak Ramze.


Aku dan Robin dengan cepat menghindari serangan mematikan itu.


Serangan itu memiliki efek kerusakan yang sangat tinggi.


"Hampir saja!" ucap syukur Robin yang berhasil menghindari serangan tadi.


Serangan tadi butuh waktu untuk meluncurkannya, mungkin itu adalah kesempatan bagi kami, batinku.


Aku menciptakan banyak cube untuk Robin berpijak dan melompat untuk bertarung dengan Ramze namun efeknya aku harus kehilangan banyak energi yang membuatku harus bersembunyi dan mengaktifkan skill Clarity milikku untuk memulihkan kembali energiku.


"Energiku terkuras habis!" gumamku yang berlindung di salah satu Cube milikku.


"[Razor Wind]!" rapal Robin lalu menembakkan sebuah anak panah yang tak terlihat yang berubah menjadi angin ribut.


Serangan itu hanya menggores pelipis Ramze karena ia berhasil menciptakan sebuah perisai nano.


"A-apa!?" Robin terkejut karena serangannya sama sekali tidak berdampak banyak padahal serangan itu sangatlah berbahaya bagi siapa yang ada di dalam angin itu, tubuh orang itu secara perlahan akan tersayat sebuah pisau kecil yang dibentuk dari angin.


"Itu Nano Shield, salah satu skill pertahanan miliknya!" ujar Maze lewat alat bantu itu.


Efek Clarity milikku sudah mulai memudar dan aku juga sudah merasa cukup dengan energi yang telah aku dapatkan kembali.


Aku melompat bak seorang spesial agen yang menembakkan pistolnya dengan gaya terbang kesamping.


"[Cube Blast]!" rapalku lalu menembakkan cube ke arah Ramze.


Sebuah ledakan tercipta tatkala seranganku bertemu dengan Nano Shield milik Ramze.


Sekuat apapun pertahanan Ramze, akhirnya pertahanan itupun hancur karena serangan bertubi tubi dari kami berdua.


Ramze terlihat frustasi dengan gangguan yang selalu aku lancarkan.


Itu memang sesuai dengan apa yang aku rencanakan dengan Robin, aku berperan sebagai tameng dan juga sebagai pengganggu konsentrasi musuh. Aku lebih suka menyebutnya rencana lempar batu sembunyi lari.


"Mati lah kalian berdua, [Canon Beam]!" teriak Ramze diiringi dengan serangan yang membuat kami harus berlindung di balik Cube milikku.


"Sekarang apa!?" tanya Robin sambil menutup ke dua telinganya.


"Tunggu sebentar, aku sedang berpikir!" sahutku sambil menutup kedua telingaku karena serangan Ramze yang terus menerus menembakkan serangan meriam leser miliknya.


"Cepatlah, kubus-kubus ini tidak akan bertahan lama!" Robin mendesakku karena cube yang kami gunakan untuk berlindung bentuknya mulai tidak seperti sedia kala lagi.


"Aku punya ide!" cetusku kepada Robin.


...-Tbc-...


Halo semua disini LB mau ngasih tau bahwa LB bakal Hiatus untuk sementara waktu sampai bencana alam yang ada di wilayah LB yaitu Banua tercinta Kalimantan selatan pulih, BTW LB saat ini sedang ada di pengungsian karena rumah yang LB huni terkena dampak banjir ミ●﹏☉ミ


LB mau ngucapin terima kasih dan tolong kepada teman-teman diluar sana LB minta tolong untuk doa agar semua kembali pulih dan buat yang udah meluangkan waktunya buat baca cerita ini LB juga mau ngucapin terima kasih, LB gak bosan-bosannya buat berterimakasih kepada kalian, kalian The Real MVP (╥﹏╥)


Sampai jumpa di chapter atau update berikutnya, Bye-bye dan keep safe (•‿•)