Mythical Rubick

Mythical Rubick
49 | Something's Really Wrong and it Feels Awful



Another Pov


Muzzy dan Robin masih bersembunyi dibalik cube yang di ciptakan oleh Muzzy untuk menghindari serangan meriam laser yang diluncurkan oleh Ramze secara membabi buta.


"Teruslah bersembunyi dan mati!" teriak Ramze yang masih terus menembakan serangannya.


Sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya Robin bertanya tentang apa yang di rencanakan oleh Muzzy tadi.


"Jadi apa rencana mu tadi?" tanya Robin.


"Aku akan melompat keluar untuk mengalihkan perhatiannya, kau serang dia dengan panah Mu itu!" sahut Muzzy yang juga menutup kedua telinganya karena suara ledakan meriam laser itu begitu kuat dan bisa membahayakan gendang telinga mereka berdua.


"Sial, kau ingin bunuh diri?!" tanya Robin.


"Tentu saja tidak bodoh, satu-satunya cara hanya itu. Aku tidak ingin mati dengan dengan gendang telinga yang pecah!"


Senjata milik Ramze mengalami overheat dan energi miliknya juga sudah hampir habis karena serangan tanpa pikir panjang yang ia lakukan tadi.


Muzzy mengintip melalui cela cube yang bentuknya sudah tidak karuan lagi dan sudah tidak bisa disebut kubus lagi.


Melihat Ramze yang tengah mengistirahatkan senjatanya, Muzzy langsung tidak menyia-yiakan kesempatan emas itu untuk melompat keluar dari persembunyiaan dan langsung meluncurkan serangan demi serangan ke arah Ramze.


Karena terkejut Ramze tidak bisa lagi menghindari serangan Muzzy dan akibatnya jet yang ada di punggungnya terkena serangan Muzzy dan mengalami kerusakan yang cukup parah.


"Kurang ajar kau bocah kubus!" maki Ramze yang mencoba mengendalikan jetnya yang sudah tidak bisa dikendalikan seperti biasa lagi.


"Sekarang, Robin!" teriak Muzzy memperingati Robin.


Robin melompat keatas udara dengan bantuan cube milik Muzzy sebagai pijakannya.


"Rasakan kemurkaan angin! [Turbulent Arrow]!"


Dengan kekuatan dorongan angin yang sangat cepat sebuah anak panah dilesatkan oleh Robin lalu menembus dada Ramze.


Tubuh Ramze langsung terjatuh dengan sangat cepat karena tertarik gaya gravitasi bumi.


Tubuhnya harus mengalami sakit yang teramat sakit, selain menahan sakit karena terkena panah mematikan milik Robin, ia juga harus menderita karena jatuh dari ketinggian. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah istilah yang cocok untuk menggambarkan keadaan Ramze saat ini.


"Cih, aku meleset!" gumam kesal Robin karena panah yang ia lepaskan meleset dari sasaran.


Sasaran yang Robin maksud adalah jantung dari Ramze namun serangan tadi hanya menggores sedikit jantung miliknya.


Robin menarik busurnya lagi dan berniat untuk menembakkan anak panahnya sekali lagi ke arah kepala Ramze untuk menghentikan penderitaannya.


Tetapi Muzzy langsung menghentikan niatan kawannya itu karena Muzzy menganggap ia sudah tamat dan tidak mungkin bangkit dan melawan lagi.


"Dia sudah kalah, kita hanya perlu menunggu saja jadi simpan tenaga mu itu," ujar Muzzy lalu memandang Ramze yang tengah sekarat di tengah arena.


Ramze perlahan mengangkat kepalanya dan melihat kedua musuhnya yang tengah menunggu ia untuk mengakhiri Summonnya.


Ramze memuntahkan darah yang lumayan banyak lalu mencoba berkata kepada mereka berdua. "Jika aku kalah ... maka ... kalian juga harus kalah, [Kaboom]!"


Sebuah ledakan bunuh diri dilakukan oleh Ramze.


Ledakan yang diciptakan Ramze 2 kali lebih kuat dari ledakan yang Muzzy ciptakan, getaran yang dihasilkan oleh ledakan ini saja sampai-sampai terasa ke luar arena yang padahal sudah dilengkapi sistem anti Warrior.


"Muzzy!" teriak Mika, bisa dilihat dari wajahnya rasa khawatir dan tidak percaya apa yang baru ia lihat.


Dokter Lute melirik ke arah Erina yang tengah tersenyum bahagia melihat ledakan besar itu padahal adik kesayangannya ada di tengah ledakkan itu.


"Apa kau tidak khawatir dengan Muzzy?" tanya Dokter Lute kepada Erina sambil melindungi matanya karena efek ledakan tadi menerbangkan debu dan pasir.


"Khawatir untuk apa?" tanya balik Erina.


"Dulu aku pernah bercerita bukan dari sekian banyaknya perisai yang lawanku ciptakan dan hanya 1 perisai yang sampai saat ini tidak pernah bisa ku hancurkan walaupun dengan serangan mematikanku sekalipun!" lanjut Erina melirik dokter Lute dengan senyumnya.


Mendengar hal itu dokter Lute melihat kembali ke arah arena yang masih tertutup debu yang berterbangan.


"Dan orang itu..." kata dokter Lute sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.


※※※


Debu yang berterbangan sudah mulai menghilang dan mulai memperlihatkan dua bayangan samar-samar.


"Muzzy, adikku yang paling aku sayangi!" ucap Erina, memberitahu siapa orang yang tidak pernah ia bisa kalahkan dalam urusan menahan serangan bahkan serangan mematikan milik Erina yang sangat berbahaya sekalipun, mampu di tahan Muzzy.


Flashback On


"Latihan kali ini, aku tidak akan menahan lagi!" kata Erina sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang adiknya, Muzzy.


"Bring it on!" tantang Muzzy kepada kakaknya Erina.


Erina mulai menyerang dengan sangat cepat sampai-sampai derasnya hujan mampu ia hindari.


"[Blood Moon Slash]!" rapal Erina sambil menyatukan kedua pedangnya yang membuatnya menjadi seolah-olah menjadi sebuah lingkaran.


Erina menerjang maju kearah adiknya.


"[Cube Shield]!" teriak Muzzy merapalkan sebuah skill perisai ditengah gemuruh kilat yang memancar.


Sebuah kubus tembus pandang berwarna hijau gelap melindungi tubuh Muzzy.


Sayatan demi sayatan terus menerus mengenai perisai kubus itu, bahkan tanah yang berada di sekitarnya menjadi terbelah dan kondisinya sangat memprihatinkan.


Serangan yang amat mematikan bagi Erina sendiri mampu di tahan dengan sangat sempurna oleh adiknya sendiri, Muzzy. Serangan itu bahkan sama sekali tidak menggores perisai itu.


"A-apa, serangan itu bahkan mampu menghancurkan perisai paling kuat milik Jendral Elliot!" ucap Erina yang masih terkejut.


Flashback Off


"Sampai kapan kau melindungi kepala mu itu, Robin!" ejek Muzzy yang melihat rekannya yang masih menunduk sambil melindungi kepalanya.


Robin secara perlahan membuka matanya dan alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa ia selamat dari maut.


"S-sejak kapan kita berada di perisai milik mu ini?" tanya Robin yang masih terlihat bingung.


"1 detik sebelum ledakkan!, jika persekian detik saja aku terlambat merapal skill tadi kita pasti sudah menjadi ayam panggang yang tidak karuan lagi bentuknya!" ujar Muzzy sambil tertawa kecil.


Robin terduduk lemas lalu tertawa ringan sebelum membaringkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lemas itu.


Muzzy dan Robin dinyatakan menang dan kelas 10F berhak mendapatkan poin atas kemenangannya.


...


Kelas 10F terus menerus menghasilkan poin, di babak kedua kombinasi Lumia dan Karin sangatlah memukau penonton. Lumia dan Karin menggabungkan serangan semburan api yang sangat panas milik Lumia ditambah dengan serangan lilitan akar tumbuhan milik Karin yang terus menerus menghisap energi milik musuh yang mengenainya menjadikan mereka unggul dan lawan pun mengakui kekalahan mereka.


Begitu pula dengan babak terakhir, kombinasi Reznov sang Admiral dengan Crystalesia sang prajurit naga begitu menakutkan.


Serangan pedang bergerigi yang dilapisi kekuatan ombak milik Reznov dengan mudah membuat lawan merasakan kengerian dari lautan. Begitu pula dengan Crystalesia yang sudah mulai mampu mengendalikan bentuk naganya walaupun belum dalam bentuk naga 100%, tubuhnya masih dalam bentuk manusia namun ia memiliki ekor, tanduk bahkan sayap seekor naga Balaur.


Ditengah kegembiraan kelas 10F terdapat hal mengerikan yang baru saja keluar dari portal di dekat ruangan mesin arena, dua orang mulai keluar dari portal itu.


※※※


"Tuan Wilkes!" sapa Mayumi lalu membungkukkan badannya.


Mayumi tersenyum kearah tuannya, Wilkes.


"Kerja bagus, Mayumi!" Wilkes memuji Mayumi lalu memusut kepalanya dengan sangat lembut.


"Apa disini kita akan mengambil Seed of Life itu, Tuan?" tanya Emeralia kepada tuannya, Wilkes.


Wilkes menggelengkan kepalanya. "Saat ini kita tidak bisa mendekati Seed of Life. Pohon tua itu baru saja memilih The Guard untuk melindungi sang kunci dan sang suci dan terlebih lagi The Guard itu adalah anak dari Jesse sang Demon Hunter, kawan lamaku yang bodoh itu!"


"Kalo tidak salah namanya Artizy, ia pemilik warrior Demon Hunter bersenjatakan sebuah pedang besar dan juga sebuah pistol yang besar!" Mayumi memberitahu nama Artizy dan juga senjata yang ia miliki.


"Rondo dan Rhapsody! Senjata dengan tingkat kesulitan tinggi. Anak itu hebat juga mampu mengendalikannya" sahut Emeralia memuji Artizy.


...


Dada Mika tiba-tiba terasa sangat sesak.


"Ada apa Mika?" tanya Karin khawatir melihat Mika menahan sakit dibagian dadanya.


"Tidak tau, tiba-tiba saja dadaku terasa sakit dan sesak sekali!" lirih Mika menahan sakit.


Perasaan mengerikan apa ini, aura ini sangatlah membuat dadaku terasa sakit dan sesak. Perasaan penuh dendam, kekecewaan, dan rasa sakit ini sangatlah mengerikan, batin Mika didalam hatinya.


Begitu pula dengan Muzzy, Muzzy juga merasakan apa yang Mika rasakan saat ini.


"Muzzy kau kenapa, sobat?" tanya Artizy yang melihat sobatnya mengeram kesakitan dibagian dadanya.


Aura mengerikan apa ini, di penuh kebencian dan kegelapan yang amat pekat, batin Muzzy di dalam hatinya.


...


Erina yang tadinya berwajah bahagia tiba-tiba tatapannya berubah menjadi tatapan serius miliknya, ketika ia mulai merasakan adanya aura yang sangat gelap yang sangat aneh.


Aura ini!, dari mana asalnya?, batin Erina.


Erina berlari keluar dari kursi penonton dan langsung mengeluarkan senjata miliknya.


"Twins!" Erina memanggil kedua senjatanya dan berlari menuju arah dimana aura gelap itu berasal.


...


"Mayumi pergilah, kita sepetinya akan kedatangan tamu spesial!" perintah Wilkes kepada Mayumi.


Mayumi hanya mengangguk lalu beranjak pergi dari tempat itu dengan cepat.


Tak lama kemudian Erina datang di tempat pertemuan mereka itu.


"Siapa kalian berdua?!" tanya Erina lalu mengacungkan kedua pedang kembarnya ke arah Emeralia dan Wilkes.


Wilkes yang saat itu masih mengenakan tudung membuat Erina tidak mengenali wajahnya.


"Halo Jendral Erina MacTavish!" sapa Wilkes.


"S-siapa kau, bagaimana kau tau namaku?!"


Belum sempat menjawab pertanyaan dari Erina, Erina langsung menanyakan beberapa hal lagi.


"Kalian bukan manusia biasa, CEPAT JAWAB PERTANTAANKU. SIAPA KALIAN DAN APA MAU KALIAN DISINI!?"


"Kau sangat berbeda dengan ayah mu yang selalu tenang di setiap situasi!" ucap Wilkes membandingkan Erina dengan kawan lamanya kapten Kidd MacTavish.


Ayah?!, orang ini mengenal ayah?, batin Erina.


"Emeralia, jangan sampai terbunuh olehnya, aku pergi duluan. Sampai jumpa lagi Rin-chan!" ucap Wilkes lalu kembali masuk ke portal.


Hah Rin-chan!, dia tau panggilan saat aku masih kecil, siapa orang ini?!, batin Erina.


"Jadi kau orang yang di tambang tua itu!" ucap Erina kepada Emeralia.


Tubuh Emeralia masih tertutup bayang hitam yang membuat Erina tidak mengenali kawan lamanya itu yang telah lama hilang.


"Erina, lama tidak bertemu!" ucap Emeralia lalu melangkah secara perlahan menuju cahaya dari lampu yang mulai berkedip-kedip akibat efek portal yang mereka ciptakan.


Alangkah terkejutnya Erina ketika melihat wajah dari Emeralia.


"Mera, kau kah itu!?" tanya Erina yang seperti tak percaya.


Pikiran dan emosi Erina menjadi tidak karuan, pikirannya kacau dan emosi di dalam dadanya meluap-luap seakan ingin meledak.


Matanya terfokus kepada wajah teman lamanya yang juga kawan seperjuangannya.


"Rupanya k-kau masih hidup!" ucap syukur Erina, matanya mulai mengeluarkan air mata bahagia namun di dadanya terasa sesak karena tidak menyangka temannyalah yang telah melakukan hal seperti ini.


"Ya, aku masih hidup dan Tuanku lah yang memberikan ku kekuatan agar tetap bisa hidup tanpa harus menjadi seseorang yang lemah!" ucapnya dengan nada angkuh.


"A-apa maksud mu, Mera?"


"Kalian meninggalkanku dan membiarkanku hampir mati karena monster jelek bermata satu itu! Seandainya saja Tuanku tidak datang menolongku, mungkin aku tidak akan pernah ada di hadapan mu!" teriak Emeralia.


"Aku dan teman-teman tidak pernah meninggalkan mu, kami semua mencari..."


"Bohong, kalian semua hanyalah pembohong yang berkedok persahabatan!" potong Emeralia meninggikan suaranya lalu mengacungkan pedang bermata dua miliknya.


"Mera..." Erina memandang teman lamanya dengan tatapan penuh emosional, rasa sedih, bahagia, bahkan kecewa menjadi satu.


Disaat lampu yang menerangi mereka mulai berkedip lagi, di saat itu pula mereka berdua saling menyerang satu sama lain.


Sebuah suara khas logam ketika bertemu tercipta.


"Akulah orang yang pertama kali akan membunuh mu, Mera!" ujar Erina yang tengah menahan serangan Emeralia.


Emeralia hanya tertawa lalu berkata. "Dalam mimpi mu!"


...-Tbc-...


Halo semua akhirnya LB kembali lagi, apa kabar kalian semua? Semoga sehat-sehat selalu dan semuanya saat ini tengah berbahagia ya.


LB mau mengucapkan terima kasih atas semua doa kalian kala itu, Alhamdulillah sekarang kota LB tinggali yaitu Banjarmasin sudah bangkit dan pulih kembali walaupun di daerah LB masih banjir tapi tidak terlalu parah seperti sebelumnya.


LB cuman mau mengingatkan kepada semua dan juga kepada diri LB sendiri yaitu kita gak boleh mencemarkan lingkungan di mana kita tinggal, bumi udah memberikan apa yang kita butuhkan jadi mari kita jaga bersama-sama bumi kita tercinta ini. Mulai aja dulu dari diri sendiri seperti jangan buang sampah sembarangan maka itu sudah menjadi salah satu usaha menyelamatkan bumi kita. Kita manusia tidak akan pernah menang ketika melawan alam, jadi sayangi alam seperti kita menyayangi diri sendiri ^_________^


Ok deh itu aja dari LB, sampai jumpa di chapter selanjutnya ya, Bye bye (^∇^)ノ