
Kring ...
Bunyi bel panjang berbunyi yang menandakan pelajaran telah selesai untuk hari ini. Aku memasukkan buku-buku pelajaran yang ada di mejaku ke dalam tas sambil memperhatikan teman-temanku yang juga sibuk membereskan mejanya masing-masing.
"Sekian untuk hari ini ya anak-anakku sekalian, jangan lupa hati-hati dijalan saat pulang kerumah dan ingat, siapkan persiapan kalian untuk pusat pelatihan minggu depan!"
"Iya Pak!" ucap kami kompak.
"Iya apa!?" tanya Mr. Jack lagi.
"Iya Mr. Jack, kami mengerti!!!"
Mr. Jack tersenyum lalu beranjak pergi dari kelas, lalu berlari seperti ninja di serial Naruto.
"Muzzy, apa kau akan menyiapkan persiapan untuk pusat pelatihan hari ini?" tanya Artizy.
"Iya, aku akan menyelesaikannya hari ini. Bagaimana dengan persiapanmu?"
"Hari ini aku mau bermain game saja, ada game yang harus aku tamatkan!"
"Terserah kau lah Artizy, tapi sebaiknya kau persiapkan secepatnya atau kau akan kena marah Mr. Jack atau lebih buruk lagi dimarahi oleh Karin," ancamku.
Tubuh Artizy mengigil. "T-tenang saja aku pasti menyelesaikannya setelah aku menyelesaikan gameku."
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, ini anak memang tidak jera-jera.
Mika menghampiriku sambil membawa selembar kertas, sepertinya itu adalah daftar apa saja yang harus di persiapkan untuk pusat pelatihan minggu depan.
"Ini daftarnya, Muzzy!" ucapnya tersenyum.
"Wah makasih banyak Mika, maaf merepotkanmu. Rupanya cukup banyak juga ya apa saja yang harus di persiapkan!"
"Sedia payung sebelum hujan, Muzzy! Walaupun yang di persiapkan ada banyak mungkin saja benda-benda itu berguna saat di pusat pelatihan nanti," sahutnya sambil mengangkat jari telunjuknya.
"Hehe benar juga, baiklah aku akan menyiapkannya hari ini juga. Terima kasih banyak ya Mika," ujarku tersenyum.
Baru beberapa langkah menuju pintu kelas, Mika menarik tasku.
"Whooa ... ada apa Mika?"
"Jika tidak keberatan, boleh aku ikut bersamamu?"
Kenapa dia berbicara malu-malu seperti itu, membuat hatiku berdebar-debar saja, batinku didalam hati.
"B-boleh kok Mika, tapi apa kau tidak di marahi ibumu atau ayahmu jika pulang telat?"
Mika menggelengkan kepalanya. "Tidak kok, nanti aku akan Kasih kabar kepada mereka lewat SMS atau telpon."
"Baiklah, ayo kita berangkat. Aku tidak mau kau pulang terlalu larut,"
Mika mengangguk lalu mengikuti langkahku, ia berjalan di belakangku sambil tersenyum bahagia. Sepertinya dia terlihat senang, syukurlah kalo dia senang.
※※※
Kami berjalan bersampingan seperti layaknya sepasang kekasih yang tengah bahagia karena bisa menghabiskan waktu berdua.
"Tunggu dulu, apa ini terlihat seperti sedang berkencan?" tanyaku sambil menggaruk kepalaku.
Wajah Mika memerah seperti buah apel yang matang dengan sempurna. "Hehe aku tidak tau, bagaimana menurutmu, Muzzy?"
Melihat reaksi Mika seperti itu membuatku ingin menggodanya.
"Anggap saja ini kencan yang tidak di rencanakan," ujarku sambil tersenyum lebar.
Mika memukul lenganku, lalu memalingkan wajahnya karena malu dan aku tertawa melihat reaksi imutnya itu.
"Bodoh ...," gumamnya pelan.
"Hah? Apa kau katakan tadi Mika?"
Mika tiba-tiba berlari lalu membalikkan badannya. "Ayo cepat kejar aku!"
"Eh ... tunggu Mika!"
...
Akhirnya kami sampai juga di pusat perbelanjaan di Distrik Borneo Water setelah menaiki bus selama 20 menit.
Pusat perbelanjaan GoldenRod, itulah nama dari pusat perbelanjaan yang sangat besar ini. Bangunan yang bentuknya seperti kapsul besar dengan warna putih yang mendominasi serta garis garis emas yang membuat bangunan ini sangat mencolok. Bangunan ini juga mempunyai 8 lantai, disetiap lantainya memiliki tema atau dagangan yang berbeda.
"Wah ... sudah cukup lama aku tidak pergi kesini. Terakhir aku kesini waktu kelas 8 SMP itu pun karena aku ingin membeli konsel game," ucapku kagum sembaring melihat sekeliling pusat perbelanjaan itu.
"Ayo kita masuk, Muzzy!" ajak Mika.
Sudah sangat lama sekali aku tidak berjalan-jalan dan ini adalah pengalaman pertamaku berjalan-jalan dengan perempuan. Ini membuat hatiku berdebar-debar, tidak biasanya aku seperti ini.
"Kita harus membeli apa terlebih dahulu, Mika?"
"Hmm sebaiknya kita membeli alat WarriorNav terlebih dahulu, apa kau punya benda itu, Muzzy?"
Aku mengeluarkan benda itu di ranselku. "Ini bukan bendanya, Mika?"
"Mmm kurasa WarriorNav mu ini sudah rusak, Muzzy dan lagi milik mu itu sudah sangat ketinggalan zaman," ujarnya melihat WarriorNav milikku.
"Hehe maaf aku kurang paham soal masalah ini," sahutku sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
...
Kami pun naik ke lantai 3 untuk membeli WarriorNav, di lantai 3 pusat perbelanjaan ini menjual berbagai peralatan ataupun kebutuhan para Warrior.
Kami memasuki toko yang bernama WarrMart, ini pertama kalinya aku memasuki toko itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan perempuan di toko itu.
"Kami sedang mencari WarriorNav, di bagian mana ya?" tanyaku, karena Mika yang tadi berjalan di depan sekarang malah tiba-tiba berada di belakangku.
"Ada di bilik ke 3 dari sini, silahkan ikuti saya!"
"Terima kasih banyak, ayo Mika kau ini kenapa?"
"A-aku malu," ucapnya sambil memegang tali ranselku.
Sepanjang jalan menuju bilik ke 3, Mika tidak melepaskan pegangannya dari tali yang ada di ranselku.
"Silahkan dipilih, misalnya ada yang di tanyakan, mas dan mbaknya bisa tanyakan ke saya!" ucap pelayan perempuan itu sambil tersenyum lalu melangkah menjauh.
"Mika, pelayannya sudah pergi! Kau sekarang tidak perlu malu-malu lagi,"
Pelayan tadi mungkin paham kondisi si Mika yang terlihat malu saat ada orang lain di sekitarnya.
"Hmm, beneran tidak ada lagi?"
"I-iya tidak ada lagi, Mika!"
Kami memilah dan memilih mana WarriorNav yang cocok untukku dan akhirnya selang 15 menit mondar-mandir seperti hachi yang mencari ibunya, aku berhasil menemukan yang menurutku cocok denganku.
WarriorNav berwarna hitam, dengan garis berwarna hijau terang. Bentuknya seperti GPS tetapi memiliki lebih banyak fitur khusus dan hanya seorang warrior yang boleh membeli WarriorNav ini.
"Wah pilihan kamu bagus sekali, Muzzy!"
"Pastinya hehe, tetapi harganya lumayan mahal, coba lihat!"
"Hehe iya, 10.000 £. Apa kau punya uang sebanyak itu, Muzzy?"
Aku menggangukan kepalaku. "Iya aku punya tabungan hehe."
Setelah selesai membeli WarriorNav, Mika dan aku bersama-sama membeli peralatan yang lain. Tingkah Mika selalu saja jika ada orang lain yang belum terlalu dia kenal mendekat, dia pasti membelakangiku lalu memegang tali ranselku.
Hampir 2 jam kami berdua berkeliling pusat perbelanjaan GoldenRod yang membuat perut kami dan tenaga kami terkuras, rupanya berbelanja membutuhkan tenaga yang banyak juga.
※※※
"Kita makan dulu yuk, aku sedikit lapar. Bagaimana dengan mu, Mika?" tanyaku sambil memegang perut.
"Hmm aku juga sedikit lapar dan haus, sebaiknya kita istirahat dulu. Aku tau restoran yang enak di pusat perbelanjaan ini!"
Kami pun berangkat menuju restoran yang kata Mika makanan disana enak dan tempatnya juga nyaman.
Sebuah restoran keluarga yang lumayan ramai karena juga hari ini bukan hari libur jadi orang-orang tidak terlalu banyak disini.
Aku memesan sebuah Ricebox yang ditaburi beberapa potong ayam dan segelas soda, sedangkan Mika, ia memesan sebuah Crépe spesial dan segelas Ice Tea.
"Mika, kenapa kau hanya memesan sebuah Crépe?"
"Hmm sebenarnya aku tidak di izinkan untuk pergi jalan-jalan setelah sekolah, misalnya aku memesan makanan yang berat maka saat makan malam aku akan makan sedikit, otomatis ayahku jadi tau bahwa aku makan diluar," ujar Mika memasang muka cemberut.
"Hmm keluarga mu ketat juga ya peraturannya, tapi jika kau di marahi karena kita jalan-jalan seperti ini. Aku akan tanggung jawab dan memberi penjelasan kepada ayahmu,"
Tanpa sadar perkataanku ini pasti membuat Mika salah paham tapi ya sudahlah perutku lapar lanjut makan saja.
Mika hanya tersenyum lalu lanjut memakan makanannya, aku juga segera menghabiskan makananku.
Setelah selesai makan aku membuka tas belanja milikku dan mengambil WarriorNav milikku.
Aku menekan tombol aktif lalu alat itu bersuara. "Selamat datang di WarriorNav, silahkan isi nomor induk Warrior anda!"
Aku terkagum-kagum melihat benda itu, entah kenapa aku sangat antusias dengan benda yang sebenarnya aku sudah pernah mempunyainya tetapi WarriorNav milikku yang dulu tidak mengeluarkan suara seperti ini.
Setelah memasukkan nomor induk Warrior milikku, muncul identitas lengkapku. Mulai dari nama, alamat, tempat tanggal lahir, dan yang pasti identitas ayah, ibu dan Kakakku.
"Silahkan letakkan jari jempol tangan anda di sini!"
Aku meletakkan jari jempol tangan kananku di Pad yang ada di WarriorNav itu, lalu cahaya scan seperti mesin photo copy menyinari jari jempolku.
"Akses di terima, selamat datang Muzzy MacTavish!"
Mika tersedak mendengar hal itu. "Hah? Apa yang alat itu tadi bilang, Muzzy?
Sial aku harus beralasan apa, jika dia tau mungkin dia akan menjauh karena aku sudah tidak mengatakan yang sebenarnya, batinku.
"E ... tidak ada apa-apa kok Mika, mungkin kau salah dengar!"
"Hmm mukamu itu mencurigakan sekali, mana lihat WarriorNav mu?" ujarnya mau mengambil WarriorNav dari tanganku.
Dengan segera aku menemukan ide yang sangat brilian yaitu berbohong.
"Lihat ada Artizy di sana!" sahutku sambil menunjuk ke luar restoran itu.
Mika yang mendengar hal itu langsung teralihkan perhatiannya dan langsung mencari-cari dimana Artizy yang sebenarnya dia tidak ada di sana.
Meanwhile Artizy
"Hacih! Sepertinya ada yang sedang membicarakan diriku," Artizy bersin lalu menggelengkan kepalanya dan lanjut bermain game Sekiro.
※※※
Melihat Mika yang masih sibuk mencari-cari Artizy, aku berinisiatif memakan Crépe miliknya dari tangannya langsung.
Mika terkejut melihat aku memakan Crépe miliknya langsung dari tangannya, lalu mukanya berubah menjadi memerah seperti buah ceri.
"Hmm rasanya enak dan juga manis, apa rahasianya ya?" tanyaku sambil mengunyah.
Mika memukul-mukul bahuku dengan tangannya dan aku hanya tertawa kecil melihat reaksi imutnya itu.
Setelah selesai membayar, kami memutuskan untuk pulang dan aku memberitahu Mika bahwa aku akan mengantarkannya sampai kedepan rumahnya.
Di dalam bus Mika hanya duduk sambil tersenyum-senyum kecil sembaring melihat ke arah jendela.
...
Sesampai di depan muka gerbang rumah Mika yang juga kuil, rupanya ada Ibu Mika yang sedang menyapu halaman kuil beserta dengan anggota kuil lainnya.
Aku memberi salam lalu berpamitan dengan Mika dan juga berterimakasih kepadanya karena sudah menemaniku mempersiapkan untuk persiapan pusat pelatihan minggu depan.
"Terima kasih banyak Mika, kau sudah menemaniku untuk menyiapkan ini semua. Sekali lagi terima kasih,"
"Hehe sama-sama, lagi pula aku juga senang membantu mu, Muzzy!"
Rambut Mika terurai karena hembusan angin, sambil membetulkan rambutnya Mika terlihat sangat cantik.
Melihat aku tidak terkedip membuat Ibu Mika mendekat lalu, menyapaku.
"Hayo ... Nak Muzzy tidak berkedip melihat kecantikan anak ibu yang satu ini!"
Mendengar ibunya berkata seperti itu, membuat wajah Mika memerah lalu dia memberi salam dan langsung masuk ke dalam kuil.
"Terima kasih ya, nak Muzzy sudah menghantarkan Mika ke rumah. Jika kau mau, Bibi sudah setuju jika kalian menjalin hubungan walaupun Bibi baru beberapa kali bertemu dengan mu tetapi Bibi percaya kau bisa menjaga Mika dengan baik," ucap Ibunda Mika sambil mengedipkan satu matanya.
Aku hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalaku karena kebingungan harus berkata apa kepada Ibunya Mika.
-Tbc-
Pojok Fyi
● WarriorNav (Warrior Navigator) adalah sebuah alat bantu saat Warrior ada di alam liar, alat ini memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tetapi harus masuk ke saluran yang sama, selain itu juga memiliki fungsi sebagai petunjuk arah atau GPS.
WarriorNav sangat dibutuhkan oleh pengguna Warrior apalagi Warrior pemula.
Perusahaan yang menciptakan WarriorNav sama dengan yang menciptakan WarriorDex.
● WarrMart adalah sebuah toko khusus yang menyediakan semua peralatan bagi para warrior.
● Negara di dunia ini sudah tidak ada lagi dan di gantikan dengan distrik-distrik, manusia di seluruh dunia saat ini bekerjasama untuk membangun kembali dunia pasca perang. Perang antar manusia lah yang mengakibatkan negara-negara menjadi lenyap dan digantikan dengan distrik. Walaupun sudah sepakat untuk membangun ulang dunia, manusia tetap saja memiliki egonya lalu terjadilah perang-perang yang telah banyak menghancurkan distrik dan perang yang paling parah saat ini adalah perang Chaotic Century.