Mythical Rubick

Mythical Rubick
39 | The Language of Flower



Another Pov


Flashback on


1 tahun yang lalu, disalah satu sekolah menengah pertama yang berlokasi di Distrik Borneo Water yang pada saat itu para murid dan guru tengah asik melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya.


Sebuah bel istirahat berdering yang menandakan untuk semua siswa serta guru pengajar harus menghentikan aktivitas belajar mengajar mereka dan memfokuskan diri untuk beristirahat sejenak.


Di dalam sebuah kelas, terlihat seorang anak perempuan dengan rambut berwarna hitam kebiruan beriris mata biru gelap tengah asik merapikan buku-buku pelajarannya dan ia dibuat kaget oleh teman sekelasnya yang duduk di sampingnya.


"Karin, ayo kita pergi ke kantin!" ajak siswi berambut biru itu.


"T-tunggu aku!" sahut karin bergegas memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tasnya.


...


Mereka berdua berjalan beriringan dan tengah asik membicarakan sesuatu, Karin hanya mendengarkan temannya yang terus bercerita tentang hal-hal yang tengah menjadi buah bibir di sekolahnya saat ini.


Ketika mereka berdua tengah berjalan di koridor sekolah menuju kantin, mereka berdua melihat keluar jendela dan melihat seorang siswa laki-laki satu angkatan dengan mereka tengah asik menyiram tanaman yang ada di taman sekolah.


"Malang sekali nasib orang itu, dulu aku satu kelas dengannya tapi semua orang menjauhinya karena dia berasal dari keluarga monster!" ujar anak perempuan itu memandang rendah anak laki-laki tadi.


Karin memandang anak laki-laki itu yang masih asik menyiram tanaman dengan senyum penuh kehangatan di wajahnya. "T-tapi dia terlihat seperti orang normal pada umumnya?"


Teman Karin itu pun menggelengkan kepalanya karena apa yang ia katakan tidak di percaya oleh Karin. "Dengar ya Karin, anak itu namanya Artizy dan kau tau ia berasal dari Clan Hunter, Clan Hunter itu terkenal dengan mereka yang bisa berubah menjadi sesosok monster yang amat mengerikan jika mereka meminum darah manusia!"


Siswi perempuan berambut biru itu memegangi bahu Karin dengan kedua tangannya lalu berkata. "Dia itu monster jadi jangan pernah mendekatinya, ini hanya saranku tapi walaupun wajahnya sedikit keren dan juga tampan jangan pernah mendekatinya, Ok!"


Karin hanya terdiam, dia sama sekali tidak mengerti kenapa Artizy yang terlihat sangat baik itu di jauhi begitu saja. Jauh berbeda dengan dirinya yang di perlakukan baik, padahal dia dari Clan Rose yang terkenal dengan warrior pemilik racun terkuat dan mematikan di dunia.


※※※


Keesokan harinya Karin mendapat piket untuk menyiram tanaman di taman sekolah, dia teringat sosok Artizy yang kemarin menyiram bunga-bunga di taman ini.


"Dia merawat bunga-bunga ini dengan sepenuh hatinya, aku bisa merasakannya!" gumam karin sambil tersenyum melihat bunga-bunga yang mulai bermekaran karena dirawat sepenuh hati oleh Artizy.


Ia bukan monster, merekalah yang monster sesungguhnya, bunga-bunga ini bernyanyi dengan gembira menyebut namanya, batin Karin.


Sejak hari itu, Karin selalu memperhatikan Artizy dari kejauhan sampai-sampai ia meninggalkan pertandingannya hanya untuk melihat Artizy, walaupun dari kejauhan ia tetap merasa sangat senang bahkan ia akhirnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.


...


"Karin, ada apa dengan mu? Akhir-akhir ini kau lebih sering memperhatikan taman sekolah, apa jangan-jangan kau tertarik dengan anak itu?!" tanya siswi berambut biru itu sambil menghentakkan tangannya ke atas meja Karin.


"H-hah, t-tidak kok Ayuni!" sahut Karin gagap berbohong kepada Ayuni, temannya.


Ayuni menghela napasnya. "Jangan pernah dekati anak itu atau kau akan kehilangan semua teman-teman mu, kau mengerti bukan?"


Karin mengangguk lemas, ia dilanda dilema. kebingungan menimpa diri Karin, ia bingung harus memilih tetap ingin mendekati Artizy dan mencoba akrab dengannya atau harus kehilangan seluruh teman-temannya yang sebenarnya hanya teman penuh kepalsuan itu.


Hampir semua teman Karin hanya memanfaatkan kehebatannya saja karena Karin terkenal akan kejeniusannya dalam mengelola energi, bisa dibilang Karin adalah pemilik energi terbanyak di sekolahnya.


Bukan hanya itu, Karin juga memiliki keistimewaan yang dengan sangat mudah menghisap energi milik lawannya dan memilik skill tingkat tinggi yang walaupun ia masih berumur sangat muda.


Flashback off


"Jika kau mengenalnya dari SMP, kenapa kau tidak berteman akrab sejak bertemu dengannya di SMK ini?!" ujar Ellen menggenggam erat kedua tangannya karena kesal mendengar bahwa Karin sudah lama kenal dengan Artizy.


Karin memandang ke atas langit malam yang dipenuhi bintang kala itu lalu berkata. "Aku tidak punya keberanian untuk akrab dengannya pada saat itu namun sekarang aku sudah berubah, aku akan membayar kesalahanku di masa lalu dan aku akan akrab dengannya!"


Ellen memandang Karin lalu memalingkan pandangannya, dia hanya berpikir bahwa Karin telah membohongi dirinya sendiri.


"Aku yang pantas untuknya, aku juga sama sepertinya! Kau tidak pernah tau bagaimana rasanya kesepian dan tidak dipedulikan orang lain!" Ellen protes kepada Karin dan menjelaskan bahwa ia lebih pantas dibanding Karin.


Karin memandang Ellen dengan senyum kecil di wajahnya. "Ya aku memang tidak tau rasanya kesepian, tapi aku tidak akan pernah membuatnya kesepian lagi!"


Kalimat itu membuat hati Ellen menjadi sakit tidak karuan, di satu sisi ia ingin memiliki Artizy dan di sisi lain ia juga ingin membantu Karin dekat dengan Artizy.


Another Pov end


※※※


Akhirnya liburan semester telah berakhir dan aku harus kembali kepada aktivitas bersekolahku lagi.


Ada hal yang aneh dengan Artizy setelah mendapat ciuman dari Karin dan Ellen, ia jadi lebih banyak diam apa lagi ketika berbicara dengan Karin dan Ellen.


Begitu juga dengan Karin dan Ellen, ketika melihat wajah Artizy mereka seperti membuang wajah mereka agar tidak bertatap langsung dengan Artizy.


Saat aku, Artizy, Reznov dan Robin tengah berjalan menuju kelas setelah istirahat pertama, kami melihat seorang Elder yang tengah berdiri di depan kelas kami, mengapa kami tau bahwa ia adalah salah satu anggota Elder, ya karena para Elder memiliki seragam yang berbeda dengan murid biasa.


Anggota Elder itu mempunyai rambut berwarna coklat kehitaman dengan mata berwarna biru sapphire, ia juga membawa sebuah buku di tangannya dan buku itu entah apa isinya.


Dia tersenyum kearah kami ketika kami berempat sudah berada di hadapannya.


"Kau pasti Artizy, bukan?" tanya Elder itu sambil menunjuk Artizy.


"Aku ingin menawarkan sesuatu untuk mu!" ujar Elder itu sambil tersenyum.


"Menawarkan sesuatu?" tanya Artizy kebingungan sambil melirik aku dan yang lain.


"Ah maaf aku lupa memperkenalkan nama, Namaku Zen, Elder ke-3 dari kelas 12 A!"


Kami berempat terkejut bukan main, rupanya seorang Elder ke-3 mau bertemu dengan kelas F yang terkenal karena di anggap kelas gagal.


Perasaan aneh muncul di hatiku, Elder yang satu ini memiliki aura yang berbeda dengan kebanyakan Elder lainnya. Rubick-chan juga memberitahuku bahwa orang ini berbeda, ia terlihat sangat ramah.


"Jadi Kak Zen ingin menawarkan sesuatu yang seperti apa kepadaku?" tanya Artizy.


Zen tersenyum lalu berkata. "Aku ingin menawarkan kepada mu sebuah jabatan, maukah kau Artizy menjadi penerusku sebagai Elder?"


"HAH!" sahut kami berempat kompak tidak percaya apa yang kami berempat dengar.


"Haha, kenapa kalian sangat terkejut. Elder di sekolah ini memiliki tradisinya sendiri yaitu memilih calon penerusnya sendiri ya walaupun orang yang telah dipilih harus bertarung lagi untuk memperebutkan 10 kursi yang tersedia," sahut Zen tertawa melihat kami yang kebingungan.


"T-tapi kenapa aku yang Kak Zen pilih, kenapa bukan yang lainnya saja?" jawab Artizy yang terlihat semakin kebingungan.


"Aku melihat kau bertanding ketika aku sedang berada di pantai minggu kemarin, dan aku sangat tertarik dengan ideologi yang kau bawakan. Sebenarnya menurutku kau tidak pantas berada di kelas F dan seharusnya berada di kelas A. Jadi bagaimana, kau mau menerima tawaran dariku?" tanya Zen kepada Artizy tetapi Artizy seperti ragu untuk menerimanya, sangat terlihat jelas di wajahnya bahwa ia sedang mengalami dilema besar.


Artizy mulai membuka mulutnya dan ingin berkata tapi kak Zen langsung berkata kepadanya. "Tenang saja, kau bisa memikirkannya terlebih dahulu tapi aku sangat berharap kau bisa menerimanya. Aku ingin kau mengubah sistem busuk di sekolah ini dengan kemampuan mu itu!"


Artizy memandang kak Zen lalu mengangguk. "Baiklah Kak Zen, aku akan memikirkannya. Terima kasih banyak atas tawarannya."


Kak Zen berpamitan dan melangkah pergi dari depan kelas kami.


※※※


"Sobat, bagaimana menurut mu tawaran tadi?" tanya Artizy yang memutar-mutar pulpen di tangannya.


Aku yang tengah asik menulis pelajaran menghentikan aktivitasku lalu memandang Artizy yang duduk di sampingku. "Entahlah, tapi tawaran tadi sangat menarik menurutku. Jangan terlalu dibebani, jika kau sangat ingin menendang bokong si nomor 1 kenapa tidak kau ambil saja tawaran itu, lagi pula jika kau bisa berkuasa di sekolah ini maka kau bisa menghentikan ketidak adilan ini bukan?!"


"T-tapi aku tidak sekuat yang Kak Zen harapkan," sahut Artizy lemas.


"Bukannya kita berdua sudah sepakat akan mengalahkan orang itu bersama-sama, apa kau lupa?"


Mata Artizy membesar bersamaan dengan senyum lebar yang muncul di wajahnya. "Kau benar, maaf sobat. Aku hanya terlalu takut."


Aku menepuk pundaknya sambil mengangguk. "Kau bisa mengandalkanku, sebaiknya kita fokus belajar dulu dan bertambah kuat setiap detiknya bukan begitu?!"


Artizy mengangguk dengan cepat lalu segera melanjutkan menulis pelajaran yang tengah di tulis oleh Mr. Jack di papan tulis.


...


Belajar mengajak telah selesai tapi tiba-tiba saja Mr. Jack meminta waktu kami sedikit karena ada yang ingin di sampaikan katanya.


"Seperti yang bapak dulu bilang, bahwa kalian akan bertarung di semester ke 2 ini. Bapak ada informasi penting untuk kalian!" ujar Mr. Jack mengeluarkan beberapa lembar kertas.


Sontak seisi kelas bersemangat mendengar apa yang ingin di sampaikan oleh Mr. Jack.


"Muzzy, kita berdua akan bersinar di Arena nanti!" ujar Artizy sambil tersenyum lebar.


Mika membalikkan badannya kearah kami berdua lalu berkata. "Apa kalian berdua bersemangat, Muzzy? Artizy?"


"Tentu saja Mika!" jawab Artizy


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kearahnya. Mika terlihat sangat bersemangat sama seperti yang lainnya, aku dan Mika sebenarnya ketika liburan semester kemarin selalu berlatih bersama di malam hari. Mungkin dia ingin menunjukkan hasil latihannya selama ini.


"Sistem bertarung lagi-lagi dirubah oleh pihak Elder, tidak ada pertandingan perorangan dan sekarang malah di ganti dengan pertandingan antar kelas, jadi kalian akan memperebutkan kelas dengan bertarung. Jika kalian bisa menjuarai pertandingan ini dan menjadi juara maka kalian akan mendapatkan kelas A dan jika kalian tereliminasi maka kalian akan mendapatkan kelas F,"


"Mr. Jack, maksudnya semua anggota kelas akan bertarung dengan semua anggota kelas lainnya, apa seperti itu?" tanya Maze.


"Tidak, peserta akan dipilih secara acak melalui mesin pengacak. Setiap pertandingan akan di mainkan 1 vs 1, 2 vs 2, dan tag team yang di isi 3 orang atau lebih di setiap kelas, itu semua akan diacak oleh mesin acak," jawab Mr. Jack.


Selanjutnya Mr. Jack  menuliskan di papan tulis jadwal bertarung yang akan kami hadapi minggu depan. Ada sistem upper dan lower yang akan dilakukan.


Kelas 10A vs Kelas 10C


Kelas 10D vs Kelas 10E


Kelas 10B  vs Kelas 10F


Melihat jadwal itu hatiku berkata bahwa akan terjadi sesuatu yang menarik, apalagi mendengar adanya sistem upper dan lower bracket yang pastinya bisa membuat kejutan.


-Tbc-


Pojok Fyi


● Upper bracket dan Lower bracket adalah sebuah sistem pertandingan yang mana jika suatu tim atau seseorang kalah maka ia akan jatuh ke lower bracket dengan para siapa yang kalah dan akan melakukan pertandingan sekali lagi untuk naik ke upper bracket.