
Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya layaknya seorang bangsawan di hadapan kami.
"Perkenalkan, nama saya Aldier, dan saya sudah mengenal anda berdua tuan Muzzy dan tuan Artizy!"
Mendengar hal tersebut aku menjadi semakin bingung dan juga terkejut, bukan hanya warrior ku saja yang ia ketahui namun namaku dan Artizy juga ia ketahui.
"B-bagaimana orang ini tau nama kita?" tanya Artizy sambil menodongkan pedang besarnya ke arah Aldier.
"Tentu saja saya mengetahui kalian berdua, tuan ku sangat mengagumi kalian. Bahkan kalian digadang-gadang menjadi penerus beliau untuk menyelamatkan umat manusia!"
"Kau gila, ini yang kalian sebut menyelamatkan umat manusia!" sahut Artizy yang amarahnya mulai mengebu-gebu.
Aku mulai bertanya-tanya siapa orang ini, apakah ia salah satu orang yang juga membuat kekacauan 10 tahun yang lalu dan juga kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini yaitu rekan Paman Wilkes yang kakakku katakan.
Artizy lantas berlari sambil menyeret pedangnya yang besar berniat untuk menyerang Aldier sambil berkata kepadanya . "Kekuatanku tidak akan pernah kalian manfaatkan untuk menjalankan hal konyol yang kalian anggap bisa menyelamatkan umat manusia itu!"
Lagi-lagi serangan yang di lesatkan Artizy begitu mudah di tahan olehnya.
"Bukalah mata anda tuan Artizy, bukannya selama ini anda yang saat ini membela mereka namun mereka masih saja menganggap anda sebagai seorang monster karena latar belakang keluarga mu itu?"
Artizy hanya berdiam lalu melancarkan serangan demi serangan yang terkesan hanya membuang-membuang tenang bahkan serangan yang ia luncurkan terlukis jelas bahwa ia hanya meluapkan emosi di tiap ayunan pedangnya itu.
"Selama ini kau selalu sendirian bukan, bahkan orang yang dulu menjadi teman mu sekarang menjadi jijik ketika melihat wajah mu berubah menjadi sosok itu!"
"Artizy, jangan terpancing apa yang dia bicarakan!" teriakku mencoba menenangkannya.
Kondisiku yang tidak memungkinkan untuk keluar dari Cube Shield memperparah keadaan. Aku hanya bisa berbicara dari dalam Cube Shield sambil mencoba membuatnya tenang. Aku berharap Artizy mampu mengendalikan dirinya agar tidak terpancing omongan orang tua itu.
Artizy lalu tersenyum. "Memang benar mereka jijik dan bahkan ada yang menghinaku sebagai monster, namun kau salah menilaiku."
Hanya dengan sekejap mata, ayunan pedang Artizy mampu mementalkan pria paruh baya itu.
"Aku adalah populer monster. Aku bukanlah seorang pahlawan tapi aku adalah seorang warrior, aku bukan bertarung hanya untuk orang yang mencintaiku namun aku juga bertarung untuk orang yang membenciku dan mengubahnya menjadi suatu keadilan!"
Entah apa yang merasuki anak satu itu, dia benar-benar terlihat berbeda.
"Sangat mengagumkan, tidak heran tuanku sangat menganggumi kalian berdua,"
Aldier melemparkan sebuah kertas lalu muncul sebuah portal.
"Sepertinya cukup sampai di sini saja tuan Artizy dan tuan Muzzy sekalian, kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat!" ucap Aldier lalu berjalan menuju portal yang baru saja ia ciptakan.
"Hilih kabur!" ejek Artizy sambil menancapkan pedangnya ke tanah.
Aku langsung terduduk lemas karena terlalu lama menggunakan skill Cube Shield, namun bayaran yang aku dapat adalah keselamatan seluruh orang yang ada walaupun kami gagal menyelamatkan beberapa orang yang nasibnya begitu malang.
Artizy lantas berlari ke arahku lalu membantuku untuk berdiri. "Omong-omong siapa dia itu, apa kau mengenalinya. Dia terlihat seperti sangat mengenali kita berdua."
Dengan napas yang masih terasa begitu berat aku menjawab bahwa aku juga tidak mengetahuinya sama sekali.
Artizy lalu melihat korban-korban yang ia bunuh hari ini. "Semoga aku tidak dipenjara karena hal ini!"
"Hei, aku juga terlibat!" ujarku
Lalu kami berdua tertawa bersama.
...
Candaan kami sebelumnya, benar-benar terjadi. Pihak AM mau tidak mau memasukkan kami ke penjara sementara sebelum di jemput oleh pihak keluarga masing-masing tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.
"Aku dipenjara karena menolong orang banyak, wah sungguh keadilan yang tiada tara. Aku manusia paling bahagia di sel tahanan ini!" gumaman Artizy yang entah sudah berapa lama ia terus saja mengoceh.
"Diam lh, mengoceh pun tidak bisa membuat mu keluar dari sini!" sahutku sambil membaca buku yang baru aku beli.
"Bukannya kau sendiri yang menyetujui semua ide gila ini, tangan kita sudah berlumpur jadi hadapi saja. paling-paling lisensi kita ditahan karena telah melanggar atau kita medapatkan hukuman sosial di usia muda kita ini," sambungku.
Artizy tertunduk lemas, "Peraturan sialan!"
Kepala sipir pun datang di damping seorang perwira wanita.
"Atas nama Artizy dan Muzzy, penangguhan kalian sudah di bayar. Kalian bisa keluar sekarang namun ada orang yang ingin bertemu kalian."
"Siapa?" ucap kami berdua dengan kompak lalu menatap satu sama lain.
Aku menebak kemungkinan besar itu kakakku tapi mungkin saja tebakanku tidak tepat.
Kami berdua memasuki ruang introgasi dan di dalamnya terdapat seorang pria yang familiar di mataku.
"Paman Sand!" ujarku mengenali pria yang tengah duduk di ruang intrograsi.
"Halo Muzzy, kelihatannya kau sudah besar sekarang ya!"
Artizy dan paman Sandman menatap satu sama lain karena mereka berdua belum mengenal satu sama lain.
Aku berinisiatif untuk memperkenalkannya kepada paman Sandman.
"Artizy ini paman Sandman dan paman Sandman ini Artizy."
"Dari perawakan mu itu menggambarkan sekali kau anggota clan Hunter, anak dari Jesse Barbatov sang beast!" ucap Paman Sandman sambil tersenyum
"B-bagaimana paman bisa tau, apa anda salah satu orang gila tadi?!" sahut Artizy mengambil kuda-kuda seperti bersiap menyerang.
"Like father like son hah, aku disini malah memburu orang yang kau sebut gila itu."
Paman Sandman lalu mengeluarkan beberapa foto lalu meletakkannya di depan kami berdua.
"Kalian pasti sudah tau nama mereka, mereka menyebut gerakan mereka dengan nama Ludex. Gerakan ini di pimpim oleh Aldier, dia adalah mantan pimpinan batalion 98 di pasukan AM."
Kami berdua mengangguk lalu Artizy menunjuk sebuah lambang yang ada di salah satu foto.
"Bukan kah ini lambang clan Enigma?"
"Clan Enigma sudah dinyatakan lost sama seperti para Monk, tidak ada yang tau lokasi mereka saat ini!" sahutku.
"Keberadaan clan Enigma memang saat ini sangat tidak diketahui namun untuk para Monk kami pasukan elit mengetahui mereka tengah berada dimana. Rahasia keberadaan mereka hanya beberapa orang saja yang mengetahui demi keselamatan umat manusia," ujar paman Sandman.
"B-benarkah itu!? Apa kami bisa bertemu mereka?" ucap Artizy dengan penuh semangat dan ketertarikan seperti sifat aslinya.
"Jika kalian di takdirkan mungkin saja, kesampingkan dulu hal itu. Kita akan membahas orang yang bernama Aldier ini, apa yang kalian dapat dari dia?"
Aku dan Artizy menatap satu sama lain.
"Dia mengatakan bahwa nabi yang mereka agungkan menginginkan kami berdua untuk menyelamatkan umat manusia dan menjadi penerusnya, hanya itu yang kami dapatkan dari orang ini!" ujarku sambil terus bertanya-tanya siapa nabi yang orang itu agungkan dan bagaimana mereka jadi bisa mengetahui kami berdua.
"Apa kalian ada mendengar ia menyebutkan nama wilkes?" tanya paman sandman kepada kami berdua.
Aku jadi teringat peringatan kakak yang mengatakan bahwa semua kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini di sebabkan oleh Wilkes dan pengikutnya yang sama gilanya dengannya.
"Ya, dia mengatakan bahwa tuan Wilkes akan senang mendengar karena dia bertemu dengan kami berdua tapi kami masih bertanya-tanya siapa Nabi mereka itu?" jawabku.
"Artinya ada dua orang berbeda?" tanya Artizy.
"Bisa jadi, tapi jika benar ini akan menjadi masalah serius karena mereka sudah berani muncul kepermukaan!" jawab paman Sandman.
Setelah lama berbincang-bincang akhirnya aku dan Artizy menghirup udara segar yang tidak segar-segar juga sih karena sudah malam.
Lampu-lampu jalanan sudah menerangi dari setiap sudut kota yang indah ini, suara gemercik air dari sungai-sungai kecil menemani kami dalam perjalanan pulang.
"Apa yang kau lakukan jika besok adalah akhir dari kedamaian yang kita rasakan saat ini bro?" tanya Artizy sambil memandang langit kota.
Aku menghentikan langkahku lalu memandang ke sebuah taman bermain dan membayangkan taman bermain itu hancur berlumuran darah akibat peperangan.
"Mungkin aku akan menikahi Mika dan menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengannya sampai hari itu tiba," ujarku mengatakan sesuatu yang konyol sambil tertawa ringan.
"Lalu bagaimana dengan mu, Artizy?" lanjutku bertanya kepadanya.
Ia menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku tidak tau. Mungkin aku hanya akan mencoba menyelamatkan sebanyak-banyaknya orang tapi jika hal itu terjadi dipihak mana kau akan berjuang, Muzzy?"
Di dalam hatiku bertanya-tanya kenapa ia bisa mengucapkan hal itu dan menanyakan itu kepadaku.
"Tentu saja aku akan membela yang benar walaupun harus mengotori tangan ini dan itulah tugas kita bukan!" jawabku sambil menepuk pundaknya.
"Apa kau takut aku terpengaruh oleh orang-orang seperti mereka?"
"B-bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin melawan mu atau bahkan membunuh mu. Aku lebih baik di bunuh oleh sahabatku sendiri dibanding aku membunuhnya."
"Aku tidak akan pernah mengkhianati sahabatku sendiri, kau sudah seperti saudaraku sendiri walaupun kita berbeda darah tapi itu bukanlah sesuatu masalah!" jawabku lalu kami berdua tertawa bersama-sama.
...
Setelah aku sampai dirumah, tentu saja aku mendapat ceramah yang luar biasa dari kakakku namun ia juga tidak melarangku untuk bertindak seperti itu tadi karena memang keadaannya sangat terdesak jadi mau tidak mau aku harus bertindak walau akhirnya aku dan Artizy berujung masuh tahanan dan KTW kami benar-benar disita untuk sementara.
"Kakak tidak melarang mu tapi lebih ke khawatir karena mereka menyatakan ketertarikan kepada kalian berdua. Terlebih mereka sudah mengetahui nama dan warrior kalian berdua!" ucap kakakku.
"Kami tau konsekuensinya kak, kami tidak bisa hanya bersembunyi juga selamanya."
Kakakku meletakkan kopinya, sambil menghela nafasnya.
"Artinya kalian sudah siap membunuh, sudah berapa nyawa yang kau bunuh hari ini Muzzy?" tanya kakakku dengan tatapan seriusnya.
"Belum, hanya Artizy yang membunuh hari ini tapi aku juga berlibat!"
"Belum? Artinya kau akan membunuh suatu hari nanti apa kau benar-benar siap?"
Aku hanya terdiam, hatiku sama sekali belum bisa mencabut nyawa seseorang. Aku mengalami kegundahan, ini tidak boleh terjadi sampai berlarut-larut, aku harus bisa mengambil pilihan.
"Jika itu untuk menyelamatkan banyak orang, aku siap kak walaupun harus mengotori tangan ini dan berubah menjadi monster!"
Kakakku mengeluarkan sebuah lencana dari sakunya dan melemparkannya kepadaku.
Aku kebingungan apa maksud kakakku ini, tertulis di lencana itu Metal dengan ukiran petir di sekitarnya.
"Selamat bergabung dalam Tim Metal, Privet Muzzy atau nama nickname mu sekarang Privet HammerFall!"