
Setelah malam yang cukup menegangkan di hari itu, akhirnya kami semua di anggap berhasil dan dinyatakan resmi menjadi Warrior setelah mendapatkan KLW.
Kami semua bersorak gembira karena tidak ada satupun dari anggota kelas kami yang gagal dan kamipun dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan KLW.
"Sakuya! Hima! Terima kasih banyak sudah bekerja keras waktu itu!" ucapku sambil menjabat tangan mereka berdua.
"Sama-sama Muzzy, kau ketua yang hebat!" sahut Sakuya.
Hima juga mengatakan hal yang serupa kepadaku, aku sangat senang mendengar kepuasan mereka ketika aku memimpin mereka. Padahal, itu adalah pengalaman pertamaku dalam memimpin sebuah kelompok, tapi lumayan juga sih rasanya bisa menjadi ketua.
Kami semua diberikan waktu 7 hari untuk bersenang-senang dan berlibur oleh Kapten Edward sebelum pulang kembali ke sekolah masing-masing.
Another POV
Ryuu berjalan mendekat kearah Mika yang saat itu sedang membersihkan tempat makan setelah sarapan pagi, dia mendapat piket hari ini padahal dia tadi bersama dengan Lumia dan Farah, tetapi dia menyuruh mereka berdua untuk ke lapangan dan ikut bersama yang lainnya untuk merayakan keberhasilan mereka semua karena telah mendapatkan KLW.
"Mika!" panggil Ryuu.
Mika meliriknya lalu tersenyum manis seperti biasa yang dia lakukan setiap hari.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Ryuu duduk disamping Mika yang tengah asik membersihkan meja makan.
Mika mengangguk. "Boleh, mau bicara apa, Ryuu?"
Ryuu diam tanpa mengeluarkan sepatah kalimat apapun, hal itu membuat Mika bertanya-tanya.
Ryuu memandang wajah Mika. "Akhir-akhir ini aku lihat kau semakin dekat saja dengan Muzzy, apa kau menyukainya?"
Mika terkejut mendengar hal itu, lalu Mika tersenyum manis kearahnya. "Apa kau masih ingat, dulu aku pernah cerita bahwa ada seorang anak laki-laki yang pernah menyelamatkanku itu?"
Ryuu mengangguk. "Iya aku masih ingat, memangnya kenapa Mika?"
"Hehe anak laki-laki itu, rupanya Muzzy!" sahut Mika sambil menopang dagunya lalu tersenyum riang.
Mendengar hal itu Ryuu menundukkan kepalanya kebawah, dadanya begitu terasa sakit. Dia sangat mencintai Mika tetapi Mika mencintai orang lain.
"Kenapa kau sedih Ryuu? Bukannya dulu kau juga menginginkan bertemu dengan orang yang telah menyelamatkanku itu!?"
"I-iya aku turut senang kok hehe,"
Perasaan Ryuu saat itu campur aduk, ada rasa senang dan sedih tetapi di dominasi rasa sedih karena dia merasa memiliki kesempatan yang sedikit untuk mendapatkan Mika.
"J-jadi kalian sudah pacaran?" tanya Ryuu memandang Mika.
Mika menggeleng perlahan. "Belum, tapi aku sudah tau isi hati Muzzy dan kami juga sama-sama tau perasaan satu sama lain."
"Jika kalian tau perasaan satu sama lain kenapa kalian tidak jadian saja!" ucap Ryuu dengan nada suara yang tinggi.
"Kenapa kau tiba-tiba marah, Ryuu!?" tanya Mika yang terlihat sedikit kesal karena Ryuu tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi.
Ryuu berdiri lalu meninggalkan Mika begitu saja, dengan perasaan penuh amarah di dalam hatinya dia ingin menantang Muzzy berduel 1 lawan 1.
"Akan ku hancurkan anak itu, tidak akan ku biarkan dia mengambil Mika begitu saja!" gumamnya sambil melihat Muzzy yang tengah berada di lapangan.
Another POV end
Sambil berjalan dengan penuh amarah, Ryuu mendekat kearahku yang saat itu sedang berbincang dengan Artizy,Sakuya dan Hima.
"Muzzy!" teriak Ryuu memanggilku.
Dia mendorong tubuhku tanpa aku tau alasannya kenapa dia begitu marah.
"Apa-apaan kau ini Ryuu?" tanyaku karena merasa diriku memang tidak bersalah.
Melihat ada keributan Mr. Jack dan ibu guru Mikado menuju kearah kami saat itu. Artizy langsung mendorong tubuh Ryuu agar menjauh dari ku.
"Ada apa ini, Nak Muzzy?" tanya Mr. Jack
Aku menggeleng karena benar-benar tidak tau apa-apa. "Tidak tau Mr. Jack, tiba-tiba saja dia datang dan langsung berteriak lalu mendorong badanku."
Tidak lama kemudian Kapten Edward mendekat kearahku lalu tersenyum, senyumnya itu membuatku kebingungan apa maksud dari senyum itu.
"Kau ingin berduel dengannya?" tanya Kapten Edward kepadaku.
Aku tidak menjawab lalu memandang Ryuu yang mengepalkan kedua tangannya seperti ingin menantangku.
"Kau takut hah, Muzzy!?" teriak Ryuu mengintimidasiku.
"Jika kau ingin bertarung, aku akan memberikan izin. Terima atau kau akan selamanya di anggapnya sebagai pengecut olehnya?" ucap Kapten Edward menepuk pundakku.
Mendengar hal itu, jika di pikir-pikir seandainya aku tidak menerima tantangannya maka mungkin dia akan semakin mendekati Mika dan aku pun tidak bisa melindunginya tapi jika aku bertarung, aku ragu salah satu dari kami mungkin akan mengalami pengalaman pahit.
Sempat berdiam terlebih dahulu, namun akhirnya aku menerima tantangan dari Ryuu dan kami akan bertarung di tengah lapangan di wasiti oleh Kapten Edward.
Entah kenapa saat aku menerima tantangan Ryuu, semua orang di lapangan malah bersorak gembira seperti sangat ingin melihat pertarungan.
Another POV
"Ellen! Cepat panggil Mika, beritau bahwa Muzzy dan Ryuu akan bertarung di lapangan. Aku ragu seperti mereka bertarung bukan karena masalah sepele tetapi karena mereka memperebutkan Mika!" pinta Karin kepada Ellen.
Ellen langsung berlari ke dalam gedung pusat pelatihan dan sesegera mungkin dia menuju ruang makan untuk menemui Mika.
Untung saja saat itu Mika sudah selesai piket dan mau menuju lapangan.
"Mika ... Muzzy! Mika, Muzzy!" ucap Ellen sambil mengatur napas.
Mika kebingungan dan juga khawatir karena Ellen yang berkata setengah-setengah. "Ada apa dengan Muzzy?!"
Sambil menepuk pundak Mika, Ellen menjelaskan bahwa Muzzy akan bertarung dengan Ryuu dan mereka sepertinya terlihat sangat serius.
Mendengar hal itu Mika langsung berlari menuju lapangan dan melihat Muzzy dan Ryuu sudah berhadap-hadapan. Mereka sudah siap bertarung layaknya Apex Predator yang memperebutkan rantai makanan teratas.
Another POV end
※※※
Sebelum pertarungan antara aku dan Ryuu, kami berdua diberikan sebuah gelang Nano yang berfungsi untuk melindungi kami agar tidak terbunuh ketika bertarung.
"Baiklah, kalian berdua sudah siap?" tanya Kapten Edward kepada ku dan Ryuu.
Kami berdua mengangguk dan Kapten Edward memberikan aba-aba untuk kami.
"Mulai!" teriak Kapten Edward.
"Summon!" teriak Ryuu.
"Baiklah Rubick bantu aku, Summon!" ujarku.
Ryuu mengacungkan pedang katananya yang bersinar-sinar dan mengeluarkan semacam serbuk putih layaknya serbuk peri. "Kau akan ku buat menderita dengan Shine Akantor Katana Milikku ini!"
"Kita lihat saja nanti, coba saja hentikan aku!" sahutku.
Tanpa basa basi Ryuu langsung berlari ke arahku dan segera menebaskan pedang katananya kearahku. Namun aku berhasil menghindarinya dengan melompat mundur dan meluncurkan beberapa Cube kearahnya.
Ctank ctank
Cube milikku berhasil di tangkis olehnya.
"Lambat!" teriak Ryuu berlari dengan sangat cepat.
C-cepat sekali, fokus Muzzy jangan sampai lengah tetap fokus pada Blind Spot milikmu, betinku di dalam hati.
Tiba-tiba saja Ryuu sudah berada di belakangku. "[Quick Slash]!"
Dengan refleks tubuhku langsung menunduk dengan sendirinya dan segera berguling kesamping.
Tadi itu hampir saja, bagaimana dia bisa secepat itu, batinku di dalam hati.
"Muzzy! Semangat!" teriak Artizy dan yang lainnya.
Aku melihat kearah mereka dan melihat Mika dengan tatapan khawatirnya.
Melihatnya berekspresi seperti itu, aku lantas memberi senyum kepada Mika lalu dia membalas senyumku itu.
Aku berjalan dengan santai sambil menembakkan beberapa Cube ke arah Ryuu.
"Kau hanya buang-buang tenaga mu saja, dasar lemah!" ujar Ryuu.
Ryuu menghunus pedangnya kearahku tetapi berhasil ku tahan dengan Cube milikku.
Ryuu mengira Cube milikku hanya 1, padahal aku sudah membelah Cube menjadi 2 dan menyembunyikannya di belakang tubuhku.
Aku tersenyum. "[Shot Cube]!"
Cube milikku yang tersembunyi tadi membelah dirinya dan menerjang layaknya peluru shotgun dan langsung mengenai seluruh tubuhnya yang membuat Ryuu terlempar cukup jauh.
Walaupun sudah terkena seranganku, Ryuu tetap bisa bangkit dengan luka yang cukup serius.
Ryuu berdiam seperti memfokuskan energinya ke satu titik yaitu pedangnya.
Tubuh Ryuu mendadak bersinar dan aura yang dikeluarkannya juga bertambah kuat.
Dengan sekejap mata, Ryuu tiba-tiba sudah berada di hadapanku dan pedangnya langsung menebas lengan kananku yang membuat darahku mengalir keluar.
Sambil menahan sakit, aku mencoba tetap bertahan dari serangan kilat milik Ryuu. Saat itu aku benar-benar tidak bisa berkutik dari setiap serangan Ryuu, layaknya diriku membiarkan diri ini tersayat-sayat.
Melihat aku penuh luka, Ryuu lantas berbicara sambil mengambil kuda-kuda untuk kembali menyerang lagi. "Menyerah saja sebelum kau benar-benarku hancurkan!"
"Sebaiknya kau pikirkan dirimu sendiri jagoan!" sahutku sambil menutup luka yang ada di bagian lengan kananku yang lumayan parah dari semua luka milikku.
"Kalo begitu persiapkan dirimu!" teriak Ryuu.
Tiba-tiba saja Mika berteriak sangat lantang. "Muzzy! Jangan kalah!"
Entah kenapa tubuhku tiba-tiba saja seperti dialiri energi yang sangat besar dan tiba-tiba saja mental Ryuu turun akibat teriakan Mika itu.
Ini adalah kesempatanku!, batinku di dalam hati.
"[Cube Blast]!" rapalku.
aku menembakkan puluhan Cube layaknya sebuah mini gun kearah Ryuu.
Tiba-tiba Ryuu berteriak. "[Flash Ignite]!"
Sebuah serangan cahaya layaknya lengkungan terbang menuju kearahku, menembus serangan Cube Blast milikku yang saat itu tengah aku keluarkan.
Ryuu menghindari dengan sangat mudah ke arah samping, sedangkan aku tidak bisa menghindari serangan miliknya.
"[Shield of Light]!" teriakku mengeluarkan sebuah perisai cahaya.
Boom ...
Untung saja aku berhasil mengeluarkan skill perisai sebelum skill milik Ryuu tadi mengenaiku, terlambat beberapa detik saja mungkin aku sudah terkapar.
"Shield of Light?! Bagaimana bisa kau menggunakan Skill itu?!" tanya Ryuu keheranan melihat skill perisai yang aku keluarkan.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan hanya diam.
"Hanya anggota dengan penguasaan Warrior tingkat tinggi di Clanku yang bisa menggunakan skill itu! Jadi bagaimana kau bisa menggunakannya?!" tanyanya sekali lagi.
Another POV
Mika dan yang lainnya terlihat tegang karena melihat pertarungan yang begitu sengit dari Muzzy dan Ryuu.
Sesaat setelah Muzzy mengeluarkan skill Shield of Light, Mika terkejut bukan main. Tentu saja dia terkejut, hanya pengguna Warrior dengan keahlian tingkat tinggi saja yang mampu mengeluarkan skill itu dan lagi skill itu adalah skill pusaka yang di miliki oleh clan miliknya.
"Muzzy! Bagaimana kau mengeluarkan skill itu?" tanya Mika yang terkejut.
"Skill itu yang dulu menyelamatkanku loh Mika!" ucap Artizy terlihat senang dan bangga karena temannya berhasil menangkis serangan Ryuu tadi.
"Memangnya ada apa dengan skill itu, Mika?" tanya Reznov yang terlihat penasaran dengan ekspresi terkejutnya Mika.
"Hanya Warrior tingkat tinggi yang bisa menggunakan skill itu di dalam clanku, skill itu ..." potong Mika sambil fokus menatap Muzzy yang tubuhnya di lindungi sebuah perisai cahaya.
"Adalah skill pusaka milik Clanku!" lanjut Mika.
Mendengar hal itu, Artizy dan Reznov terdiam. Seolah-olah mereka tidak percaya apa yang mereka dengar dari Mika.
Mereka berdua langsung menatap Muzzy yang kelihatannya sudah kehabisan energi.
"Muzzy! Sebenarnya Warrior mu itu seperti apa?" ucap Artizy.
Another POV end
-Tbc-
Pojok Fyi
● Setiap Clan memiliki skill pusakanya tersendiri. Skill pusaka adalah skill yang dijaga turun temurun dan hanya Warrior tingkat tinggi yang mampu menggunakannya.
● Gelang Nano adalah sebuah alat yang di ciptakan untuk melindungi pengguna dan Warrior itu sendiri agar tidak terjadi kematian saat bertarung. Walaupun gelang itu tidak bisa melindungi penggunanya dari cidera atau istilahnya Stack.