Mythical Rubick

Mythical Rubick
70 | Mercy and Punisher



3 bulan telah berlalu begitu saja, tanpa terasa aku dan teman-temanku sudah mulai memiliki jadwal pertarungan masing-masing.


Keadaan di sekolah akhir-akhir ini cukup menegangkan akibat para Elder terdahulu masih saja ikut campur dengan urusan sekolah. Para Elder terdahulu masih belum mengangkat para Elder yang harusnya diangkat tahun ini. Kyle merasa mereka belum layak karena belum mampu mengalahkan para Elder terdahulu.


Para calon Elder yang merasa mereka sudah layak akhirnya memutuskan untuk menantang Kyle beserta pendukungnya yaitu Kimi, Kelvin, Nene, Torrest, dan Alice. Gerakan mereka juga didukung oleh kepala sekolah yang berpikiran seperti yang Kyle pikirkan.


Selain mereka ber-6, ada 4 orang yang Kyle angkat menjadi pengikut dari gerakannya. Yang baru aku ketahui ia adalah murid baru dari kelas 10 bernama Yopaj. Rumor mengatakan ia berhasil mengalahkan salah satu dari lima anggota dari gerakan yang Kyle buat yang artinya anak itu begitu kuat dan berbahaya. Rumor ini juga di perparah dengan banyaknya anak-anak murid kelas 10 yang telah dikalahkan olehnya dan hal itu membuat Yopaj semakin ditakuti oleh banyak murid lainnya.


Ada beberapa murid kelas 11 yang berani menantangnya namun hasilnya diluar dugaan, ketika kami melawan mereka sewaktu dulu terasa begitu sulit, namun Yopaj hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk membuat mereka tersungkur dihadapannya.


"Yopaj, wonderkid milik Kyle benar-benar berbahaya!" ucap kak Zen kepada kami yang saat itu tengah asik duduk santai sambil menikmati makan siang.


"Memangnya apa hebatnya anak itu?" tanya Artizy sambil menelan roti isi dagingnya.


Kak Zen menyerahkan selembar kertas yang isinya adalah informasi mengenai murid laki-laki kelas 10 yang tertulis di kertas itu atas nama Yopaj.


Aku, Artizy, Robin dan Reznov terkejut bukan main ketika melihat dari statistik bertarungnya yang tertulis 100% winrate. Selain itu juga menurut informasi yang tertulis, warrior yang dimilik olehnya adalah Star Helios sang api suci dari Clan Hiperion. Kekuatan apinya berbeda dengan yang dimiliki oleh para warrior pengguna elemen api pada umumnya, terlebih dia mempunyai senjata yang bernama Hefaistos Blade. Senjata tingkat tertinggi dan paling langka untuk pengguna Star Hellios.


"Gila tuh bocah!" sarkas Artizy.


"Kalian semua akan melawan anak emas Kyle yang satu ini!" ujar kak Zen.


Kami berempat mengangguk-angguk secara kompak layaknya empat ekor anak kucing yang tengah mendengar induknya berbicara.


"Pendukung mereka semakin banyak karena mereka melakukan intimidasi kepada kelas-kelas yang tidak ingin mendukung gerakan mereka ini!" ucap kak Zen dengan kesal.


Kyle dengan Elder pengikutnya yang seharusnya sudah angkat kaki dari sekolah ini malah menambah durasi kekuasaan mereka dengan bantuan orang dalam tentunya. Kak Zen mengatakan bahwa mereka semua akan membuat sebuah pertandingan yang dimana para penentang diberi nama tim Mercy sedangkan tim dari kubu Kyle bernama Punisher. Kubu Mercy masih di isi oleh kak Zen sedangkan kak Moca dan kak Hunk menghilang entah kemana karena tidak pernah terlihat lagi di lingkungan sekolah. Kak Zen mengatakan mereka akan selalu siap jika di butuhkan.


Selain ke-3 Elder tadi, tim Mercy juga sudah menarikku dan juga Artizy karena kami berdua dijadikan MVP di akhir pertandingan tahun lalu.


"Tunggu dulu, apa kak Lily juga termasuk tim mereka?" tanyaku kepada kak Zen karena aku tidak mendengar kabarnya lagi.


"Lily? Dia tidak memihak ke siapa-siapa. Aku selalu ingin mengajaknya tapi dia berkata ia belum tertarik."


Tiba-tiba saja ponsel pintar milik Reznov dan Robin bordering, mengisyaratkan adanya pesan yang masuk.


Mereka berdua langsung terlihat sedikit kesal ketika membaca isi pesan elektronik tadi.


"dugaanku benar, pantas saja aku mempunyai firasat yang buruk pagi tadi!" ucap Robin sambil memperlihatkan isi pesan itu kepada kami.


Isi pesan itu adalah pemanggilan kualifikasi untuk bergabung dengan tim Mercy. Para warrior yang dipilih adalah rekomendasi tiap kelas namun sepertinya kebanyakan guru telah banyak mendapatkan intimidasi makanya hanya beberapa kelas saja yang mengirimkan utusannya.


...


Sesampainya di kelas, suasana kelas rupanya tengah heboh karena kelas kami adalah kelas yang lumayan banyak mengirim perwakilannya. Sebanyak 10 warrior dari keselurusan anggota kelasku diberikan rekomendasi oleh Mr. Jack untuk masuk tim Mercy. Mr. Jack sudah beberapa kali bercerita bahwa ia mendapatkan ancaman jika kelasnya tetap mengirim perwakilan dengan jumlah yang banyak namun kita tau sendiri Mr. Jack bukanlah orang yang lemah dan beliau punya keteguhan hati yang besar. Selain itu beliau juga sudah muak dengan para pihak sekolah yang seenaknya saja kepada guru dan juga murid.


"Ayo rebut kemenangan lagi anak-anak semua, kita harus meruntuhkan pondasi orang-orang tamak itu!" ujar Mr. Jack berapi-api membakar semangat kami semua sambil mengejek pihak sekolah yang padahal tempat kerjanya itu.


Kelasku mengirimkan orang-orang terbaiknya seperti Reznov, Robin, Karin, Lumia, Ellen, Maze, Taka, Crystalesia, Sabrina dan tentu saja bidadari kelas kami Mika.


"Mika, semoga berhasil ya. Aku mendukung mu!" ucapku kepadanya yang langsung dibalas dengan anggukan dan senyum manis dari wajahnya itu.


Setelah pemilihan perwakilan selesai, bel pulang sekolah pun berdering. Kami memberi hormat dan berterima kasih kepada Mr. Jack sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja ada keributan ketika aku dan teman-temanku berjalan menuju gerbang sekolah.


Rupa-rupanya ada dua anak perempuan kembar tengah beradu mulut dengan salah satu murid kelas 12.


"Sepertinya mereka dari sekolah swasta," ucap seorang murid laki-laki yang juga ikut menyaksikan perselisihan antara mereka bertiga.


Ketika aku menatap anak kembar tadi tiba-tiba saja aku merasa merinding bukan main dan ketika mata kami saling bertatapan mereka berdua langsung tersenyum dan langsung pergi begitu saja.


"Woy jangan lari!" teriak murid perempuan itu.


Ketika ia mencoba menahan pundak salah satu anak kembar tadi, dengan hanya sekejap mata saja murid perempuan tadi sudah terpental ke sebuah tong sampah dan tentu saja dengan mulut yang terbuka dan mata yang sudah menjadi putih karena tak sadarkan diri.


Mendengar ada keributan di daerah tadi, para AM divisi keamanan (Kepolisian dalam bentuk warrior) menuju tempat perkara yang membuat suasana di sana langsung begitu ramai.


Aku yang melihat hal tadi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kami semua hanya bisa terdiam dan mulai berpikir, itukah musuh-musuh diluar sekolah, begitu kuat dan cepat.


Beruntung murid perempuan tadi baik-baik saja, hanya saja ia harus beristirahat sekitar 3 minggu sampai kondisi fisiknya benar-benar pulih.


"Sepertinya dia bakalan gagal ikut kualifikasi," ucap salah satu murid laki-laki kelas 12.


Aku melihat Reznov seperti menelan ludahnya dengan sangat berat seakan-akan ada ganjalan di tenggorokannya.


...


"Ini diminum dulu kopi susunya kak!" ujarku sambil meletakkan secangkir kopi susu untuk membuat rileks kakaku.


"Terima kasih, Muzzy. Hai Nala, lama tidak bertemu," sahut kakaku lalu menyapa Nala yang langsung naik ke atas meja makan.


Kakakku sambil mengelus bulu-bulu Nala yang lembut dan ia bercerita banyak kepadaku.


Mulai pengkhianat di dalam AM sendiri sampai pengkhianat di pemerintah dunia saat ini. Semua cerita yang kakakku ceritakan langsung aku cerna dan kujadikan sebuah diorama dan benar saja dugaan ku selama ini. Pengkhianat selalu ada di dalam pemerintah dunia dan juga dalam AM sendiri.


Aku jadi teringat Paman Grey yang juga pernah dikhianati oleh pihak manusia yang haus akan kekuasaan dan juga harta.


Kebiasaan manusia ketika merasa sudah berada di atas tuhan, mereka akan melawan tuhan bahkan membunuh tuhan itu sendiri demi kepuasaan mereka. Tapi mereka akan merasakan kekosongan ketika semua hal itu telah jadi lalu mereka akan menghancurkan satu sama lain dan akhirnya kehancuran pun tiba.


Setelah selesai bercerita, aku langsung menyiapkan air hangat di kamar mandi untuk kakakku.


Sambil menatap air yang terus terisi di bathtub terbesit mimpi-mimpi aneh yang akhir-akhir ini terus terulang-ulang seperti sebuah peringatan yang sampai saat ini aku tidak mengetahui apa maksud dari mimpi itu.


"Apa kamar mandinya sudah siap, dik?" tanya kakakku.


"Sudah kak!"


...


Membaringkan kepalaku di kasur sambil menenggelamkan wajahku ke bantal lalu terbesit senyum yang terasa tidak asing di dalam mimpiku, senyuman itu persis seperti yang terlukis diwajah anak kembar ketika aku pulang dari sekolah tadi.


"Siapa mereka itu?" gumamku bertanya dalam keheningan malam.


Another Pov


Flashback on


"Dimna, ini kan sekolahnya si Mayumi itu."


"Iya Kalila, sepertinya begitu. Lihat mereka!" tunjuk Dimna kepada seorang murid perempuan kelas 12.


Merasa tidak nyaman karena telah ditunjuk oleh Dimna tadi, anak murid tadi pun mendatangi mereka berdua dengan raut wajah penuh kecurigaan.


"Apa yang kalian lakukan di sini, kalian bukan anak sekolah ini bukan?!" ujar anak murid tadi dengan nada suara cukup tinggi yang mengundang amarah Dimna dan Kalila.


"Kami tidak ada urusan dengan mu, kambing!" ejek Kalila.


Lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena melihat reaksi anak murid tadi yang sedikit terkejut karena tidak bisa berkata-kata lagi karena di ejek oleh dua anak kecil.


"A-APA KATA MU!?" geram murid tadi. Wajahnya merah karena penuh amarah.


Melihat keributan, murid-murid yang tengah ingin pulang kerumahnya masing-masing langsung terpindahkan fokusnya ke titik keributan tadi.


Adu mulutpun tidak dapat dihindarkan dan bodohnya lagi si murid perempuan itu yang seharusnya lebih dewasa pemikirannya malah tidak sedikitpun mau mengalah dan malah ikut tersulut amarahnya.


Merasa perhatian terpusat kepadanya, anak murid itu malah dengan penuh percaya diri mengejek Dimna dan Kalila namun perhatian Dimna dan Kalila telah berpindah.


Sorot matanya menuju sosok ke Muzzy yang juga melihat mereka, adegan saling tatap pun terjadi bak sinetron India.


Dimna dan Kalila yang tau itu adalah sosok Muzzy yang menjadi target mereka tersenyum puas bahkan bisa dikatakan senyum mereka berdua seperti senyum penuh kebahagian karena telah berhasil mencapai tujuan mereka.


Mereka belum pernah melihat Muzzy dan hanya mendengar sosoknya saja, setelah mereka melihat Muzzy secara langsung, mereka sadar bahwa orang yang menjadi target bos mereka rupanya adalah hanya seorang anak biasa, bertubuh tidak terlalu tinggi dan gaya rambut yang biasa-biasa pula tetapi wajahnya cukup keren.


Setelah mereka melihat Muzzy, Dimna dan Kalila ingin melangkah pergi dari gerbang sekolah namun anak murid tadi seperti tidak terima ia di biarkan begitu saja.


Ketika anak murid tadi menahan bahu Dimna, dengan cepat ia meluncurkan pukulannya dengan tangan kecilnya itu ke ulu hati si murid tadi.


"Lemah sekali!" ejek Kalila lalu mereka berdua tertawa kecil sambil berlari menuju gang kecil yang lumayan gelap karena tertutup gedung gedung di sampingnya.


Flashback off


Another Pov end


...-TBC-...


Halo semua LB balik lagi, maaf telat up karena LB punya kesibukan lain seperti Kuliah dan lainnya. Ngomong-ngomong terima kasih banyak udah mampir ya walaupun kayanya emang udah sepi banget tetapi LB tetap ingin berterima kepada siapa saja yang telah membaca cerita amatiran ini.


Hope you enjoy guys, see yaaa (^∇^)ノ♪