Mythical Rubick

Mythical Rubick
21 | Find You!



Hari demi hari telah berlalu, detik demi detik telah berdetik tetapi aku masih tetap belum mendapatkan jawaban mengapa teman-temanku bisa kehilangan ingatannya, selain itu aku juga dibuat galau oleh Ryuu dan Mika yang akhir-akhir ini terlihat lebih akrab dari biasanya.


Aku menghela napas panjang lalu beranjak pergi ke arah pohon di dekat taman dan membaringkan tubuhku di bawahnya, angin berhembus lembut dan terasa begitu nyaman siang ini.


"Apa kau sedang ada masalah dengan latihan mu, Nak Muzzy?" tanya Mr. Jack.


Aku terkaget-kaget karena ku kira semua orang masih berada di lapangan, karena jadwal hari ini masih sama dengan minggu-minggu sebelumnya yaitu peningkatan kekuatan skill.


"Ah Mr. Jack! Hmm tidak ada hanya saja ada sesuatu yang saya pikirkan," sahutku tersenyum.


Mr. Jack lalu duduk di sampingku. "Sesuatu? Hmm sebaiknya ceritakan saja kepada Bapak, mungkin Bapak bisa membantu meringankan pikiran mu!"


Mendengar hal itu, aku jadi ingin menanyakan masalah Earth Spirit itu tetapi pasti Mr. Jack akan menganggapku berhalusinasi saja.


"Hmm ... sebenernya saya sedang memikirkan apa Element yang Warrior saya miliki hehe," ujarku berbohong padahal aku sedang memikirkan masalah lain.


"Hmm kau tau Nak Muzzy! Warrior di dunia ini masih terdapat banyak misteri di dalamnya, Bapak saja masih banyak pertanyaan mengenai keberadaan mereka, untuk apa kita memiliki kemampuan Warrior ini dan lainnya,"


Aku menatap beliau dan beliau tersenyum kepadaku lalu mengelus-elus kepalaku yang membuat rambutku semakin acak-acakan.


"Jika kau ingin semakin kuat dan semakin kuat lagi, kau harus percaya kepada Warrior mu Nak Muzzy. Warrior yang kau miliki sangat unik dengan senjata yang unik pula, sebuah kubus yang melayang-layang di belakang mu dan terkadang berputar-putar di sekitar mu seakan-akan ia mencoba melindungi mu dari segala ancaman yang ada,"


Perkataan Mr. Jack persis seperti ayahku dulu, beliau juga mengatakan bahwa Cube of Arcane berputar-putar serta melayang-layang mengitariku seakan-akan dia menjagaku dari ancaman apapun.


Aku tersenyum lalu berdiri dari dudukku sambil membersihkan belakangku yang sedikit kotor. "Terima kasih banyak Mr. Jack atas motivasinya, apa yang Bapak katakan membuatku menjadi lebih bersemangat!"


Beliau tertetawa ringan lalu menunjukkan kedua jempol tangannya. "Bagus! Itu baru anak muridku yang hebat, ayo kembali ke lapangan dan temui teman-teman mu!"


Aku mengangguk lalu menundukkan kepalaku untuk berterima kasih kepada beliau.


※※※


Mika dan yang lain terlihat cemas saat melihatku kembali ke lapangan.


"Muzzy! Dari mana saja kau?" tanya Mika sambil memasang wajah cemberut.


"Ah tadi aku ke kamar kecil, maaf lama ya hehe," sahutku sambil tersenyum ringan.


Artizy menepuk pundakku. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan sobat, tapi jangan bersedih ya!"


Aku kebingungan karena perkataannya dan membuat kepalaku bertanya-tanya ada apa gerangan.


Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepenggal kata pun.


Artizy, Reznov, Karin, Robin, Ellen serta Lumia saling tatap menatap seperti ragu untuk mengucapkan sesuatu.


"Anu Muzzy...," ucap Karin lalu berdiam diri.


Membuat suasana semakin runyam adalah Mika yang terlihat sedih seperti dia ingin menangis.


"Ini soal Mika Comrade!" Kata Reznov tersenyum sedih.


Ada apa dengan Mika, apa Ryuu berbuat sesuatu yang diluar batas atau apa ini, batinku di dalam hati.


"Maaf Muzzy, tapi Mika su...," kata Karin terpotong.


"Ayolah jangan terpotong-potong bicaranya, aku semakin penasaran!" sahutku sedikit kesal karena ulah mereka.


"Mika sudah memiliki calon tunangan dan calon tunangannya itu adalah Si saus tartar Ryuu!" sahut Artizy menguncang-guncang tubuhku.


Mika memandangku sambil menahan air matanya yang seperti mau mengalir keluar.


"Ah ... aku sudah tau itu!" sahutku dengan tatapan biasa saja.


Mendengar hal itu mereka semua terkejut.


"HAH!?" Ucap mereka kompak.


Aku mendekat kearah Mika lalu meminjamkan sapu tanganku untuknya. "Lihat apa yang kalian lakukan, Mika jadi mau menangis!"


Rupanya apa yang ku lakukan di lihat oleh Ryuu, dan yep lagi-lagi masalah terjadi. Kali ini Ryuu sudah sangat keterlaluan dia mendorongku sampai aku terjatuh, lalu memukul wajahku.


Buk...


"Menjauh dari Mika! Dia itu calonku!"


Aku masih di terduduk di tanah sambil membersihkan darah yang mengalir di sisi bibirku. "Aku tidak bisa menjauhi Mika!"


Mendengar hal itu membuat Ryuu semakin naik pitam lalu mencengkeram bajuku. "Apa katamu?!"


Artizy dan Reznov lantas langsung ingin memukul Ryuu dari belakang tapi aku memberi isyarat tidak usah.


Aku menatapnya seakan-akan aku sama sekali tidak takut dengan ancamannya. "Tentu saja aku tidak bisa menjauh dari Mika karena, Mika adalah ..."


Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Mika menarik tubuh Ryuu lalu menampar wajah Ryuu dengan telapak tangannya.


Plak...


"Aku membenci mu, Ryuu!" ucap Mika lalu pergi dari lapangan sambil menangis.


Melihat hal itu aku hanya diam, padahal aku baru saja ingin mengatakan bahwa Mika adalah anak yang dulu pernah aku tolong dan anak itu adalah cinta pertamaku.


Ryuu beranjak dari posisinya dan kembali ke barisannya sambil mengepal erat kedua tangannya.


"Karin! Lumia! Ayo kita kejar Mika!" Ajak Ellen.


Mereka bertiga berlari mengejar Mika dan Artizy membantuku untuk berdiri.


"Apa kau tidak apa-apa sobat?" tanya Artizy.


Aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya lalu berjalan menuju tepi lapangan dan masuk ke dalam gedung pusat pelatihan.


※※※


Saat makan malam pun aku tetap diam tanpa mengeluarkan sepenggal kalimat pun. Entah kenapa aku menjadi semakin kepikiran untuk menjauhi Mika, aku merasa tidak enak dengan Mika karena ulahku hubungannya dengan Ryuu menjadi renggang.


"Sudahlah Muzzy, dari tadi kau sama sekali tidak bicara sedikit pun!" ujar Artizy sambil menyantap makan malamnya.


"Hmm ... aku hanya merasa tidak enak saja, sebaiknya aku harus minta maaf kepada Mika," sahutku sambil mengaduk-ngaduk nasi di piringku dengan sendok.


Setelah makan malam aku hendak menemui Mika tetap dia bersama dengan Ryuu, sepertinya mereka sudah berbaikan dan itu membuat hatiku sakit.


"Oy Muzzy! Kau sudah tidur?!" tanya Artizy.


Aku tidak menjawab dan berpura-pura sudah tidur.


"Hmm ... sepertinya Comrade Muzzy sudah tidur, sebaiknya kita juga ikut tidur jangan sampai dia terganggu," ajak Reznov untuk tidur lalu membereskan kartu remi yang tengah mereka mainkan.


Sekitar jam 10 malam, aku keluar dari kamar lalu berinisiatif untuk pergi ke tepi kolam di dekat taman, mungkin disana aku bisa lebih tenang.


"Bulan yang indah," gumamku memandang bulan purnama yang tengah bersinar dengan sangat cantik.


Aku melangkah dengan santai sambil sesekali menghela napas.


"[Light of Justice]!" teriak seseorang perempuan di pinggir kolam yang suaranya bergema karena suasana yang sunyi.


Sebuah cahaya memancar seperti beberapa pisau yang di lempar layaknya bumerang, seperti itulah skill yang aku lihat tadi.


Ada seseorang? Siapa ya?, batinku dalam hati.


Aku mencoba mendekat tetapi awan menutupi cahaya bulan yang mengakibatkan penglihatanku berkurang untuk melihat siapa perempuan itu, aku perhatikan dia memegang sebuah tongkat dan sebuah buku melayang di depannya.


Perempuan itu terlihat sedang mengatur napasnya, mungkin karena dia terlalu banyak menggunakan energi Warriornya, makanya dia terlihat kelelahan.


Secara perlahan awan yang menutupi bulan mulai berlalu menjauh, perempuan itu menatapku dan kami berdua saling tatap menatap sekarang.


"Muzzy!?" panggil perempuan itu kepadaku.


Aku pun akhirnya melihat wajahnya dan rupanya dia adalah Mika.


"M-mika, apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini di pinggir kolam?" tanyaku sambil mendekat ke arahnya, lalu mengeluarkan Cube of Arcane.


"Haaa ... a-aku sedang l-latihan," sahutnya sambil mengatur napas.


Aku mengeluarkan sebuah skill untuk meregenerasi energi Warrior miliknya. "[Clarity]"


Sebuah cahaya biru keluar dari sekitar Cube milikku, warna hijau dari Cube of Arcane berubah menjadi biru muda terang.


"Istirahatlah dulu jangan paksakan energi Warrior mu sampai terkuras habis! Oh iya kenapa kau melalukan latihan secara diam-diam, Mika?" ujarku lalu duduk di sampingnya.


Dia tersenyum lalu menyampingkan rambutnya. "Aku merasa kurang percaya diri saat di lihat banyak orang dan lagi kenapa kau akhir-akhir ini seperti menjauh dariku?"


Aku memegang kepalaku lalu memandang bulan. "Hmm ... aku hanya tidak ingin menggangu kau dengan Ryuu, itu saja!"


"Bohong!"


Aku menatapnya lalu tersenyum sedih. Sebenarnya aku menjauh memang karena beberapa hal selain aku cemburu melihat Mika dekat dengan Ryuu dan soal Earth Spirit itu yang membuatku pusing.


"Maaf, aku hanya sedang bingung!" sahutku.


Efek dari skill Clarity milikku mulai pudar dan cahaya hijau kembali bersinar di sekitar Cube of Arcane.


Mika memandang ke arah bulan. "Bulannya cantik bukan?"


"Iya sangat cantik, M-mika ada sesuatu yang aku ingin tanyakan kepadamu,"


"Hmm apa itu?"


"Kau ingat bukan saat aku yang kelelahan dan harus beristirahat lebih awal pada hari itu,"


Mika mengangguk. "Iya aku ingat, saat kau ingin menceritakan sesuatu itu bukan?"


Aku mengangguk lalu tersenyum. "Dulu 9 tahun yang lalu, aku pernah menyelamatkan seorang anak perempuan. Saat itu sedang ada festival musim panas tetapi ada suatu insiden yang sangat mengerikan dan sampai saat ini aku selalu mencarinya, aku hanya ingin tau bagaimana keadaanya saat ini dan apa dia masih ingat denganku atau tidak."


Mendengar perkataan ku itu Mika terdiam, bola matanya fokus tertuju padaku. Air matanya mulai ingin mengalir keluar.


"Muzzy!"


Perasaanku memberitahu bahwa anak itu adalah Mika, yang saat ini sedang berada di hadapanku.


"Jadi selama ini kita sudah bertemu hiks," kata Mika yang air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


Mika langsung memelukku. "Dugaanku selama ini rupanya benar, kenapa kau tidak bicara sejak awal bahwa kau adalah anak laki-laki itu hiks!"


Aku tidak bisa berkata-kata lagi, tanpa sadar tanganku melingkar ke tubuh Mika. "Maafkan aku, aku juga merasa bahwa anak perempuan itu kau Mika tapi aku takut untuk mengatakannya."


"Bodoh, aku selama ini mencari mu!"


"Ah maaf, tapi aku bersyukur rupanya kau sudah tumbuh menjadi perempuan cantik dan hebat seperti sekarang," sahutku lalu menghapus air mata dari pipi lembutnya.


Entah kenapa hatiku merasa sangat lega dan beban-beban yang tadi ada di pikiranku sekarang lenyap, Mika tetap tidak melepaskan pelukannya dan itu membuatku Malu.


Ribuan kunang-kunang berterbangan di sekitar kami berdua, membuat suasana menjadi lebih indah. Cahaya bulan dan cahaya kerlap-kerlip kunang-kunang membantuku mendapatkan momen romantik bersama Mika.


Di dalam hatiku aku tidak akan melepaskan Mika ke Ryuu, this mean war itulah ada yang ada di benakku.


Mika melepaskan pelukkannya lalu tersenyum manis ke arahku, ah dia sangat manis.


"Apa bekas luka itu masih membekas di punggungmu, Muzzy?"


"I-iya, entah kenapa lukanya tidak pernah pudar. Seolah-olah tubuhku tidak menginginkan hal itu hilang dari diriku,"


"B-boleh aku melihatnya?" ucapnya malu-malu.


Aku mengangguk lalu berbalik dan mengangkat bagian belakang bajuku untuk memperlihatkannya.


Sambil memegang bekas luka milikku. "Wah memang masih ada, apa kau mau aku hilangkan bekas luka mu ini, Muzzy?"


"Kurasa itu tidak perlu, ini adalah tanda bahwa aku dulu pernah menjadi seorang pahlawan walaupun aku nya pingsan," sahutku tertawa lalu menurunkan bajuku.


Dia tersenyum lalu mencium pipiku yang membuatku sangat terkejut.


"Mulai sekarang tolong lindungi aku ya pahlawanku!" ujarnya sambil tersenyum bahagia.


-Tbc-


Pojok Fyi


● Warrior memiliki energinya, sama seperti tubuh manusia jika Warrior kelelahan maka dia tidak akan bisa mengeluarkan Skill. Jika seorang pengguna Warrior terus memaksakan energi milik Warriornya maka Warrior tersebut bisa saja mengalami Stack.