
Another Pov
Serangan tinju dari Rexzar yang mengarah langsung ke arah Blink dengan mudah dihindari oleh Blink. Baginya serangan kecil seperti itu hanya memerlukan 0,1% dari kecepatannya.
Setelah menghindar, saatnya Blink melakukan serangan balik dengan mengincar otot-otot lengan Rexzar.
Sayatan demi sayatan kecil yang memutuskan jaringan otot-otot lengan Rexzar namun dengan santainya Rexzar hanya tersenyum sambil menikmati setiap serangan yang di berikan oleh Blink.
"Tikus kecil rupanya kau cerdas juga. Kau memotong jaringan otot-otot lenganku agar aku tidak bisa memukul mu, hal itu adalah kesalahan yang fatal tikus kecil!" ujar Rexzar dengan wajah penuh percaya diri.
Luka yang di derita oleh Rexzar tiba-tiba langsung menyusut dan hanya dalam hitungan detik luka-luka itu sudah lenyap dari tubuhnya.
Blink yang melihat hal itu tetap diam seperti biasanya. Tidak ada rasa gentar ataupun takut di dalam diri Blink yang melihat musuhnya mampu melakukan regenerasi begitu cepat.
Kalila dan Dimna juga ikut mencoba menyerang Blink namun mereka lupa ada anggota tim metal lain yang menghalangi mereka.
Lynryd dengan kuatnya memukul tanah dengan sangat kuat yang membuat Kalila dan Dimna harus melompat ke udara namun siapa sangka itu adalah jebakan yang para tim metal buat, dengan mudahnya Linkin langsung meluncurkan serangan. Sejumlah drone yang memang di ciptakan untuk meledakkan diri langsung meledak ketika Kalila dan Dimna tengah mencoba menghindari serangan Lynryd.
"Kalila! Dimna!" ucap Rexzar yang terkejut dan tidak sempat untuk menyelamatkan kedua rekannya itu.
Senyum penuh percaya diri terlukis dari wajah Linkin namun itu tidak bertahan lama, serangan ledakan tadi sama sekali tidak berdampak buruk kepada Kalila dan Dimna. Mereka berdua malah tersenyum-senyum seperti anak kecil ketika melihat kembang api yang meledak di udara.
Kalila langsung meluncur ke arah Linkin dengan senjata Twilight Scythe miliknya dan mengayunkan sabit besar berwarna putih itu ke arah leher Linkin, dengan singgap Linkin menghindar mundur tetapi Kalila terus menerus mengincar Linkin seperti elang yang mengincar mangsanya dari atas.
Berbeda dengan Kalila, Dimna hanya terdiam dengan tatapan penuh amarah menatap Lynryd. Lynryd yang juga menatap Dimna dengan penuh keheranan.
'Ada apa dengan anak yang satu ini?' batin Lynryd.
Dimna mengambil ancang-ancang seperti ingin menyerang Lynryd dan benar saja dugaan Lynryd, anak itu langsung menyerang secara membabi buta sambil mengayunkan kesana kemari sambit besar berwarna hitam miliknya itu.
Ketika sabit besar itu mengarah secara vertikal ke kepala Lynryd, dengan kedua tangannya Lynryd menahan serangan itu namun diluar dugaan Lynryd, serangan itu begitu kuat bahkan tanah yang saat itu ia pijak harus amblas akibat kuatnya tekanan dari serangan Dimna.
'Gila, anak kecil ini mempunyai kekuatan setara dengan seekor Minator besar! Aku harus melakukan sesuatu!' batin Lynryd yang saat itu posisinya memang tidak terlalu menguntungkan.
Lynryd dengan sekuat tenaga mengadu kekuatannya dengan Dimna yang tubuhnya 2 kali lebih kecil darinya.
"Matilah kau botak!" ujar Dimna sambil terus menekan kuat senjatanya ke arah kepala Lynryd.
"Dalam mimpi mu bocah ingusan!" sahut Lynryd yang langsung mengangkat tubuh Dimna dengan mengangkat langsung dari senjatanya itu.
Tubuh Dimna langsung di lempar Lynryd ke arah kembarannya yang tengah asik bertarung dengan Linkin.
"A-aduh Dimna, apa yang kau lakukan?!" protes Kalila.
"A-aduh Kalila, aku dilempar oleh pria botak itu!" ujarnya memberitahu kembarannya.
Mendengar mereka berdua malah berdebat, membuat Lynryd dan Linkin tercengang dan bingung. Baru pertama kali mereka menyaksikan musuhnya berdebat bodoh dengan rekannya padahal situasi saat ini tengah begitu kacau.
"Kalila bodoh!"
"Dimna bodoh!"
"Kau yang bodoh!"
"Bukan, kau yang bodoh!"
"Mereka berdua memang bodoh," ucap kompak Lynryd dan Linkin.
"APA YANG KALIAN KATAKAN?!" ucap kompak Kalila dan Dimna yang terlihat marah akibat ucapan dari Lynryd dan Linkin.
Tubuh Kalila dan Dimna tiba-tiba mengeluarkan aura pembunuh yang cukup membuat seorang prajurit kelas atas merinding.
Kalila dan Dimna langsung berlari sambil menyeret kedua senjatanya ke arah Lynryd dan Linkin, Lynryd berhasil menangkis serangan Kalila namun berbeda dengan Linkin yang terkena serangan Dimna, walaupun ia sudah berhasil menangkis tetapi kuatnya serangan Dimna tak mampu untuk di tahan oleh Linkin yang memang tidak mempunyai pertahanan kuat.
"Linkin!" teriak Lynryd ketika melihat rekannya yang terkena serangan sabetan sabit besar Dimna.
"Linkin is down! Linkin is down!" lanjut Lynryd sambil mendekat ke arah Linkin yang tengah menahan sakit akibat luka di bagian dadanya.
Linkin mencoba menyemprotkan semacam cairan penyembuh ke bagian dadanya agar mempercapat regenerasi.
Mendengar hal itu, Sandman dan Blink langsung mengeluarkan kekuatannya agar bisa menyelesaikan pertandingan mereka masing-masing.
"Sepertinya salah satu teman mu itu bakal pulang nama!" ejek Rexzar kepada Blink yang dibalas Blink dengan beberapa serangan.
"[Shadow Slash]!" rapal Blink.
Tubuh Rexzar langsung tersayat-sayat dengan sangat cepat, tubuh Blink menyatu dengan bayangan dan udara yang membuatnya tak bisa disentuh oleh Rexzar.
Tubuh Rexzar yang kekar dan keras itupun tumbang begitu saja, tubuh Rexzar kembali normal dan ia hanya bisa pasrah terhadap hidupnya itu. Ketika Blink ingin langsung mengeksekusinya, Sandman langsung memerintahkan mereka untuk mundur karena kondisi Blink yang semakin memburuk.
"Mungkin angin memberikan mu ampun saat ini, tetapi nyawa mu itu tidak akan pernah merasakan kedamaian lagi. Kita akan bertemu lagi!" ucap Blink dengan tenang lalu berlari menuju Linkin dan Lynryd.
"Sepertinya salah satu rekan mu juga tumbang?" ejek Sandman kepada Ruxio.
Ruxio terlihat sangat kesal karena ia sama sekali tidak pernah merasa di rendahkan seperti ini oleh lawannya sebelumnya.
Kalila yang melihat kesempatan emas itu langsung berlari mengambil koper hitam itu dan Dimna mencoba untuk menyerang Linkin sekali lagi namun usahanya kali ini di hadang oleh Blink yang langsung menyerang punggung Dimna yang membuatnya mengerang kesakitan.
"Orang ini lagi!" protes Dimna lalu menatap Blink dengan matanya yang penuh dengan amarah itu.
Blink memutar-mutar senjatanya, itu adalah gesture meremehkan yang sangat berguna untuk menghancurkan pikiran musuhnya.
Kalila yang merasa dirinya aman karena telah berhasil merebut koper hitam tadi rupanya perasaan itu salah besar, ia dihadang oleh Lynryd dan tubuh kecilnya itu langsung terkena pukulan keras Lynryd.
"[Rapid Blast]!" rapal Lynryd, sebuah pukulan telak di perut kecil Kalila yang membuatnya harus memuntahkan beberapa cairan yang ada di dalam tubuhnya.
Koper yang ada di tangannya itupun terlepas dan jatuh kembali ke tanah, tanpa membuang-buang waktu Lynryd bergegas meraih koper itu kembali.
"Aku ambil kembali koper ini bocal kecil!" ejek Lynryd kepada Kalila yang masih tidak kuasa menahan sakit di perutnya.
Dengan sepenuh tenaga Kalila mencoba bangkit, ia pegang erat sabit besarnya itu. Ia mantapkan niat membunuhnya agar tercipta kekuatan yang besar.
"Dimna, ayo kita bergabung!" ajak Kalila.
Dimna yang tubuhnya sudah terluka-luka hanya bisa mengangguk dan mereka pun melakukan ritual penyatuan tubuh.
Para anggota Metal mencoba menghentikan namun entah bagaimana, ada perisai kuat yang melindungi Kalila dan Dimna.
Ritual penggabungan jiwa itupun berhasil, tubuh mereka benar-benar telah bergabung. Dengan memegang dua buah sabit besar berwarna putih dan hitam, tubuh Kalila dan Dimna mengeluarkan aura yang lebih kuat dari sebelumnya.
"A-apa-apaan orang itu, bagaimana bisa mereka bergabung seperti itu?!" tanya Lynryd sambil menyaksikan kedua lawannya yang entah bagaimana menggabungkan jiwa mereka menjadi satu.
Dimna dan Kalila yang telah menjadi satu, tanpa memberi aba-aba langsung menyerang Lynryd yang membuatnya amat terkejut.
Dengan kesempatan menangkis serangan milik Dimna dan Kalila yang sangatlah kecil, Lynryd tetap berusaha meminimalisir setiap serangan yang ia terima.
Namun salah satu dari kedua sabit besar milik lawannya itu mengenai pundaknya.
Lynryd mengeram kesakitan namun ia berhasil memukul mundur Dimna dan Kalila walaupun serangan yang ia lancarkan berhasil di tahan oleh mereka.
Ketika Blink ingin membantu Lynryd, terbukalah sebuah portal yang membawa pasukan bantuan. Mau tidak mau, Blink harus melawan mereka semua dan membunuh mereka semua.
Layaknya seorang penari yang berhasil menghindari tiap tetesan hujan, Blink dengan tenaga yang sudah hampir terkuras habis berhasil menumbangkan musuhnya satu persatu, kepala demi kepala telah berhasil ia potong dari tempatnya.
Sehebat apapun Blink, Blink hanyalah manusia biasa yang memiliki batas kemampuan. Ada beberapa serangan musuh yang berhasil mendarat ditubuhnya yang menambah buruk keadaan.
Pertarungan yang sengit itu hanya bisa di saksikan oleh Sarah, ia ingin membantu namun apalah daya, ia hanya seorang manusia biasa tanpa kemampuan warrior.
...
Potral pun akhirnya tertutup dan pasukan bantuan itu telah berhasil di sapu bersih oleh Blink namun kondisi Blink cukup memprihatinkan. Terdapat banyak sekali luka sayat di tubuhnya dan juga di bagian punggungnya ada beberapa anak panah yang masih menancap.
Sama halnya dengan Sandman, ia juga kewalahan dan ini adalah kali pertama ia mengalami hal seperti ini. Pertarungan yang seimbang antara Luxio dengan Sandman berakhir dengan mereka sama-sama terdiam lemas sambil menatap satu sama lain.
"Prajurit seperti mu tidak layak membela manusia yang penuh kedustaan dan kebohongan itu!" ucap Luxio kepada Sandman.
"Memang betul manusia mempunyai sifat seperti itu tetapi, tidak semua manusia penuh kedustaan dan kebohongan seperti yang kau ucapkan, jelek!" sahut Sandman sambil membersihkan luka yang mengalir di sisi bibirnya.
Tanpa di sadari, koper hitam telah berhasil di curi kembali oleh Dimna dan Kalila. Dimna dan Kalila yang sebelumnya telah bergabung menjadi satu tetap bisa di buat kerepotan oleh Lynryd tetapi mereka berhasil mengalahkannya dengan membuat Lynryd tidak sadarkan diri. Ada niatan untuk membunuhnya namun Dimna dan Kalila lebih memprioritaskan untuk mengambil koper hitam itu karena kondisi mereka juga sudah lumayan babak belur.
Luxio tersenyum sambil mencoba menjaga keseimbangannya lalu berkata kepada Sandman. "Kita akan bertemu lagi, Kapten Sandman!"
Luxio tidak lupa membawa salah satu kawannya yang telah dikalahkan oleh para pasukan Metal tadi dan mereka pun pergi memasuki sebuah portal yang dibuat oleh Dimna dan Kalila yang tubuhnya masih menjadi satu.
-Tbc-