Mythical Rubick

Mythical Rubick
73|Cult Personality



Harapan yang aku inginkan rupanya mengkhianatiku. Hal-hal buruk semakin banyak bermunculan, mulai dari simpatisasi Wilkes yang menganggap dia adalah pembawa kedamaian di dunia ini sampai pemerintahan dunia yang juga menjadi semakin kacau dan banyak terjadi konflik di dalamnya dari akibat ketamakan dan keegoisan beberapa pihak.


Hari ini aku dan Artizy tengah mengunjungi bazzar buku yang di adakan di tengah kota. Aku di telponnya pagi tadi dan ia langsung mengajakku untuk membeli beberapa buku disana.


"Satu bulan lagi kita akan melawan kak Kyle ya?" tanya Artizy sambil melihat-lihat buku yang ada di rak bazzar.


Aku meletakkan buku yang berjudul love is war lalu berkata kepadanya. "Kau terlihat khawatir, seperti bukan dirimu saja!"


"Bukannya khawatir,tapi aku hanya ingin ini cepat berlalu. Kita mengalahkannya dan menghancurkan sistem yang mereka bangun."


"Love is war hah?" lanjut Artizy bertanya karena melihat buku yang baru saja ku letakkan.


"Ya, kita akan mengalahkan mereka semua tenang saja kawan. Dibuku ini diceritakan cintalah yang membuat terlahirnya perang namun aku kurang sepakat dengan apa yang ditulis oleh penulis buku ini karena ia kurang menjelaskan secara langsung, jika kau yang membaca mungkin kau akan salah paham Artizy."


Dengan tatapan kebingungan Artizy bertanya lagi. "Lalu apa?"


"Memang benar, cintalah yang melahirkan perang tapi itu bukanlah cinta yang sebenarnya. Cinta yang berlebihan akhirnya melahirkan ketamakan, keserakahan, kesombongan, keegoisan, kebohongan dan semua itulah yang menimbulkan peperangan. Cinta yang sebenarnya selalu membawa kedamaian dan keindahan," ujarku.


Aku banyak sekali belajar dari paman Gray, ibu dan ayahku. Mereka mengajarkanku banyak sekali arti dari kehidupan yang sesungguhnya walaupun mereka semua telah tiada terkecuali paman Gray yang mempunyai keistimewahan.


Bazzar berjalan dengan sangat ramai, karena selain ada bazzar buku di bazzar ini juga mengadakan bazzar makanan dan juga ada konser kecil-kecilan dari penyanyi lokal.


"Makanan disini enak-enak!" ujar Artizy yang tengah memakan makanannya dengan lahap.


"Hmm tentu saja, mana mungkin orang menjual makanan yang tidak enak disini."


"Selain enak, makanan disini juga murah," sambungku yang juga tengah memakan makanan yang aku pesan tadi dari salah satu stand makanan.


Kami berencana untuk duduk-duduk dulu untuk menghabiskan makanan kami dan sambil mendengarkan lagu yang tengah di nyanyikan oleh seorang anak kecil perempuan. Ia bernyanyi sambil menari-nari dengan senyum bahagia, di depan anak itu bernyanyi terlihat seorang perempuan dewasa yang sepertinya ia adalah ibu dari anak yang tengah bernyanyi itu. Tergambar jelas bahwa ia merasa bangga di wajah perempuan dewasa itu terhadap anaknya.


Setelah anak kecil perempuan itu bernyanyi semua orang yang berada di bazzar langsung bertepuk tangan dengan meriah, namun tiba-tiba terdengar suara dentuman keras di arah parkiran mobil.


"Suara apa itu?" tanya Artizy sambil mengendus-endus mencoba mencium apakah ada sesuatu yang mencurigakan.


Semua mata teralihkan ke suara itu, banyak orang tua mencoba mengamankan anak-anaknya. Terlihat sebuah mobil tiba-tiba meledak yang membuat beberapa orang panik.


Aku tiba-tiba saja merasa ada yang tidak beres.


"Ada sekelompok orang disana, bau mereka sangat aneh!" ujar Artizy


Sekelompok orang berjubah hitam berjalan berbaris-baris sambil bergumam-gumam aneh sambil diiringi dengan ledakan keras selanjutnya.


Semua orang dibuat ketakutan bahkan mulai banyak yang berlarian namun sebuah penghalang muncul secara tiba-tiba. Ada seseorang yang mencoba memegang penghalang itu namun hal mengerikan terjadi, tubuhnya langsung terbakar sampai hangus tak bersisa.


"Menunduk!" perintahku kepada Artizy.


Kami berlindung dibalik sebuah tembok kecil sambil mencoba mengintip apa yang terjadi.


"Lambang apa itu?" tanya Artizy kepadaku.


Sebuah lambang dengan gambar tengkorak dengan bola merah di dahinya.


"Dimana para AM?" tanyaku sambil mencari dimana pasukan kepolisian itu.


Seseorang dari perkumpulan sekte itu lalu menaiki panggung, ia mulai membuka jubahnya dan terlihat jelas sosok pria paruh baya.


"Salam manusia-manusia sekalian, perkenalkan kami Iudex!" ujar pria itu memperkenalkan nama dari kelompok mereka.


Pria itu lalu bergumam lagi seperti sedang memanjatkan doa-doa namun terdengar sangat aneh dan asing ditelingaku.


"KALIAN!!!!!" teriak pria itu yang membuat orang-orang menjadi semakin ketakutan.


"Kalian sangatlah beruntung, Nabi kami Son of Sun telah berbaik hati untuk mengajak kalian semua menuju sesuatu yang lebih indah. Jadi ikutlah bersama kami, Nabi kami adalah penyelamat bagi seluruh pengikutnya dan bagi siapa yang tidak mengikuti jalannya, kalian akan merasakan penyesalan yang teramat-amat pahit."


Pria itu berjalan pelan, mencoba merangkul seorang anak muda yang diwajahnya terlukis ekspresi penuh ketakutan dan kecemasan.


"Kita harus menghentikan mereka!" ujar Artizy.


Tanpa pikir panjang Artizy mencoba keluar dari persembunyiannya namun ditahan oleh ku yang menganggap hal itu bisa membahayakan dirinya dan juga penduduk yang tengah mereka Sandera.


"Jika kalian mengikuti kami, tidak ada rasa ada sakit, rasa takut, rasa cemas lagi yang kalian dapatkan hanyalah kebahagian karena kehadiran kami nyata untuk menyelamatkan kalian para manusia yang tersesat tipu daya di dunia ini!" ujar pria paruh baya itu.


"Apa kau mau mengikuti kami?" tanyanya kepada anak muda yang tengah ia rangkul layaknya seorang sahabat merangkul sahabatnya.


Dengan terbata-bata, anak muda itu menolak.


Anak muda itu meringis kesakitan sambil meminta tolong kepada setiap orang namun tidak ada yang berani menolongnya.


"Inilah bukti jika kalian menolak ajakan kami yang sudah berbaik hati untuk menyelamatkan kalian!" ujar pria paruh baya itu lalu memanjatkan doa bersama dengan pengikut kultusnya.


"K-kenapa orang itu bisa terbakar?!" tanya Artizy kepadaku.


"Warriornya, warriornya mempunyai kekuatan seperti itu!"


'Ini gila, apa yang harus aku lakukan. Salah langkah saja aku sudah benar-benar membunuh banyak orang yang tidak bersalah. Aku harus tenang,' ujarku di dalam hati.


Pria paruh baya itu lalu mencoba menyakinkan sekali lagi kepada semua orang disana tetapi karena mereka ketakutan mulut mereka menjadi membungkam enggan mengucapkan sepatah kata pun.


Pria paruh baya itu lalu menjentikkan jarinya yang membuat semua orang menjadi terhipnotis dan hampir saja Artizy juga terkena, beruntung aku segera melepaskannya dari hipnotis dari skill warrior yang pria paruh baya itu miliki.


"Aaaahh, kepalaku mendadak menjadi sedikit pusing. Aku tadi melihat pria berjubah hitam yang dibelakangnya begitu banyak cahaya yang menyilaukan, aku kira aku sudah mati!" ujar Artizy sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Persetan dengan kepalaku yang pusing ini, kita harus segera melakukan sesuatu!" sambung Artizy lalu memanggil pedangnya yang besar itu.


Aku menahan tangan Artizy yang tengah memegang Rondo lalu berkata. "Apa kau siap untuk menjadi seorang pembunuh?"


Artizy seperti tidak senang mendengar pertanyaanku itu lalu ia berkata. "Lalu kita hanya menunggu para AM yang entah kemana mereka saat ini dan menyaksikan kengerian ini? Setelah para AM datang mungkin orang-orang itu akan membunuh seluruh orang disini, Muzzy!"


"Kita punya peraturan, ingat itu. Kau ingin dihukum?"


"Persetan dengan peraturan yang ada!"


"Aku mengerti apa yang kau pikirkan Artizy tapi apa kau yakin, kita benar-benar akan mengotori tangan kita. Mereka pasti akan mencoba membunuh kita jika melawan," ujarku sedikit berdebat dengannya.


"Do or die!" ujarnya sambil memanggil Rhapsody miliknya.


Akupun langsung mengeluarkan Cube of Arcane, walaupun aku enggan membunuh tetapi ini benar-benar harus aku lakukan, seperti yang dikatakan oleh Artizy lakukan atau mati. Terlihat bodoh namun tidak ada pilihan lain.


...


Aku dan Artizy membuat sebuah rencana, aku akan berpura-pura menyerahkan diri lalu membuat sebuah kubah perisai untuk melindungi para penduduk sedangkan Artizy akan melakukan perburuannya.


"Aku akan memberi tanda dengan memuji nabi mereka, kau lakukan sisanya. Aku akan melindungimu dari dalam kubah itu," ujarku.


Artizy mengangguk.


"Berhati-hatilah kawan!" ujar Artizy memperingatiku untuk berhati-hati.


Skenario kami pun dimulai, aku menyamar dan menyerahkan diri kepada mereka.


Pria paruh baya itu menatapku sambil tersenyum karena aku berkata ingin mengikuti ajaran nabi mereka, dia memberikanku sebuah jubah yang mereka kenakan. Selain aku, ada beberapa orang yang juga ikut karena merasa terpaksa pastinya sedangkan mereka yang tidak ingin ikut bergabung dikumpulkan dan akan menjadi persembahan kepada nabi mereka, begitulah ujar pria paruh baya yang aku anggap dia itu sudah benar-benar tidak waras.


Aku diperintahkan untuk melanturkan pujian kepada nabi mereka, Son of Sun dan akupun melakukan apa yang mereka perintahkan.


"Terpujilah Nabi Son of Sun!" ujarku


'Selamat berburu Artizy' batinku di dalam hati.


Dengan secepat Artizy menyerang beberapa anggota kultus itu, karena mereka kebanyakan bukanlah warrior dengan mudah Artizy membunuh orang-orang itu.


"Cube Shield!" teriakku merapalkan skill.


Sebuah kubus muncul melindungi para penduduk dan melempar para anggota kultus itu.


"Mytical Rubick rupanya, tidak heran aku merasakan kehadiran mu sejak dari tadi!" ujar pria paruh baya itu sambil menatapku dengan tatapan penuh amarah.


'Bagaimana orang ini bisa tau tentang warrior yang aku miliki!' batinku.


Artizy mengayungkan pedang besarnya dari arah belakang pria paruh baya itu namun pria paruh baya itu dengan mudah menangkis serangan Artizy dengan sebuah buku.


"Cih!"


'Tuan, itu Book of Punish!'


"Hati-hati Artizy, dia pengguna warrior Warlock!" teriakku dari dalam perisai.


"Sepertinya saat ini aku tengah beruntung bisa bertemu dengan The Key dan The Guard dalam satu paket. Tuan Wilkes akan sangat senang!" ujar pria paruh baya.


-Tbc-