
Flashback on
Musim panas berjalan dengan sangat gembira karena ayah, ibu dan kakakku akhirnya bisa berkumpul lagi dari aktivitas padat mereka yang sangat tidak bisa di ganggu itu.
"Tidak adil!" teriakku yang kesal karena hanya Kakakku yang di latih oleh ayah.
"Kok teriak seperti itu?" tanya Ibu sambil menyentil hidungku dengan lembut.
"Tentu saja tidak adil, coba lihat Kakak, dia semakin kuat karena ayah selalu saja melatihnya dan lagi kenapa aku tidak punya pedang seperti Kakak!" ujarku meraju sambil memonyongkan bibirku.
Ibuku lalu memberikan sebuah es krim. "Ini pedang milik Muzzy."
Aku mengambil es krim itu lalu bertanya. "Ini bukan pedang, tapi es krim. Apa hubungannya pedang dengan es krim?"
Ibu lalu menatap langit sambil menceritakan sebuah kisah seorang anak laki-laki yang berasal dari clan besar namun ia memiliki tubuh yang kecil dan lemah.
"Anak laki-laki itu ia hanya memiliki senjata sebuah palu besar dan sangat berbeda dengan teman-temannya yang memiliki senjata seperti pedang, tombak, busur, dan banyak lainnya, ia adalah satu-satunya anak yang mempunyai senjata palu di dalam clan itu. karena tubuhnya yang kecil dan lemah, ia menjadi kesulitan untuk menggunakan senjatanya itu namun ia tidak pernah mengeluh dan bahkan ia sangat mencintai senjatanya itu sepenuh hati. Butuh waktu bertahun-tahun untuk ia mampu mengangkat palu itu dan sampai akhirnya ia berhasil menguasai senjata itu," kata ibuku menceritakan kisah itu sambil menyaksikan kakakku dan ayahku yang masih berlatih.
"Dan lihatlah sekarang, anak kecil yang bertubuh lemah dan kecil itu sudah menjadi pria besar dan kuat!" lanjut ibuku sambil tersenyum menatap ke arah ayah.
"Tapi apa hubungannya dengan cerita ibu itu dengan es krim ini?" tanyaku yang sudah hampir menghabiskan es krim yang ada di tanganku.
"Apapun senjata yang kita punya, itulah anugrah yang diberikan oleh pencipta kita. Senjata yang kita miliki layaknya sebuah es krim ini, ia mampu membuat orang bahagia atau mampu membuat orang sedih."
"Bahagia karena rasanya sangat enak dan sedih karena apa ibu?" tanyaku lagi karena masih tidak mengerti.
"Ketika kau tidak bisa memakan es krim ini, jadi perasaan apa yang kau rasakan jika itu terjadi kepada mu?"
"Tentu saja sedih, terlebih ketika es krim ini bisa saja membuatku sakit gigi!" ucapku lalu melahap habis es krim yang tersisa.
"Apa sekarang kau sudah mengerti?" tanya ibu sambil mengelus lembut kepalaku.
"Maafkan aku ibu!"
Ibu dengan sangat lembut berkata. "Kakak mu adalah anak pertama yang tugasnya melindungi keluarga ini dan suatu hari nanti ia akan menggantikan posisi ayah mu, maka dari itu ayah mu selalu melatihnya dengan intensif. Selain itu juga Ayah mu lah yang satu-satunya bisa melatihnya karena mereka memiliki tipe yang sama."
"Tapi bukan berarti Muzzy tidak mendapat kasih sayang ayah, bukannya minggu lalu Muzzy sudah diajari untuk mengendalikan energi oleh ayah?"
Aku pun mengangguk lalu memperlihatkan kepada ibu apa yang telah ayah ajarkan kepadaku.
Aku membuat Cube milikku melayang mengitariku, layaknya planet-planet yang mengelilingi matahari.
Ibuku lalu bertepuk tangan sambil memujiku yang entah kenapa aku merasa sangat senang dan juga malu di saat yang bersamaan.
"Ibu punya skill yang sangat cocok untuk mu, ini adalah skill yang membuat ayah mu jatuh cinta kepada ibu dulu ketika ibu masih menjadi seorang perawat," ujar ibuku sambil tersenyum.
Muncullah sebuah cahaya biru terang menyinari kami berdua yang tengah duduk di teras. Angin berhembus dengan sangat sejuk padahal cuaca saat itu begitu terik.
"Skill ini bernama Clarity!" ucap ibuku.
Tiba-tiba saja ayah dan kakakku sudah ada di sampingku sambil menikmati sejuknya aura yang dikeluarkan Clarity.
"Ah enaknya!" kata kami bertiga kompak yang membuat ibu tertawa bahagia.
Kebahagiaan keluarga kami benar-benar terasa sangat bahagia. Ku harap perasaan ini akan selalu kurasakan.
Flashback off
***
Aku terbangun dari tidurku, air mataku tiba-tiba saja mengalir di pipiku.
"Tahun ini sendiri lagi!" gumamku lalu bangun dari posisiku sambil menyapu air mataku yang masih menempel di pipi.
Angin berhembus membunyikan lonceng angin yang ada di teras rumah. Suaranya begitu tenang namun terasa berbeda, setiap tahunnya begitu sunyi karena keluarga ini sudah tidak lengkap lagi.
"[Clarity]!" rapalku.
Muncul sebuah cube di atas tanganku. Cube itu mengeluarkan aura yang begitu nyaman namun tak senyaman Clarity milik ibuku.
Aku hanya bisa menghela napasku dengan sangat panjang lalu memandangi Clarity yang memancarkan sinar hijau.
Aku mengambil handphoneku yang ada di saku, lalu melihat ada buah pesan email dari Mika.
"Sore ini apa kau tidak sibuk? Rencananya aku ingin membuatkan sesuatu untuk mu!" begitulah isi email dari Mika dan sudah pasti aku jawab aku tidak sibuk dan bertanya dia mau membuat apa.
Tidak lama setelah aku mengirim email balasan itu, Mika langsung membalas.
Minggu ini adalah minggu terakhir aku libur, dan minggu depan sudah memasuki semester baru dan tak terasa aku sudah kelas 11 saja.
Di hari liburku ini, aku telah banyak melakukan kegiatan mulai dari berlatih layaknya seorang militer, jalan-jalan bersama keluarga Mika dan juga jalan-jalan dengan sahabat-sahabatku.
Kakakku masih sangat sibuk dengan pekerjaannya, para The Guardian dan pemerintahan dunia sampai saat ini belum mampu menemukan siapa pengkhianat yang telah membocorkan dan juga yang telah berani membuat mereka seperti keledai.
Omong-omong tentang buku yang ditemukan Robin, dengan sangat misteri lembaran tiap lembaran dari buku itu tiba-tiba saja menghilang layaknya sebuah pertikel-partikel kecil. Kami menduga ini semua perbuatan dari para Spirit karena hanya mereka yang mampu berbuat seperti itu, lambat laun Artizy dan Mika akhirnya mengingat bahwa mereka dulu pernah bertemu dengan Earth Spirit dan teman-teman yang lain pun mulai percaya bahwa mereka benar-benar bertemu dengan sosok Spirit yang sangat melegenda itu. Siapa pun yang telah bertemu dengan para Spirit artinya mereka adalah warrior pilihan yang artinya juga kami semua telah di pilih, begitulah kesimpulan yang kami buat.
Aku menyimpulkan bahwa semua ini ada hubungannya dengan Tree of Life dan buku itu ada di perpustakaan sihir yang ada di sekitar Tree of Life. Jawaban itu aku dapatkan ketika aku memasuki Tether Land dan melihatnya langsung namun aku tidak bisa membaca tulisannya karena tulisannya sama sekali tidak bisa dibaca.
Paman Grey bilang hanya orang-orang tertentu yang mampu membaca hal itu dan kurasa Robin adalah orangnya. Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah hanya Robin yang bisa membaca buku itu atau mungkin ada orang lain yang juga bisa membaca buku itu, dan semua pertanyaan itu masih belum ada jawabannya. Bahkan Tree of Life saja tidak mau menjawab pertanyaanku dan malah menyuruhku untuk mencari jawabnnya sendiri. Dasar pohon tua yang bisa bicara.
"Dunia penuh misteri, apakah hantu yang aku tinggalkan dibelakang ku mampu membawaku pulang!" gumamku lalu mulai berpikir untuk membersihkan rumah karena Mika akan berkunjung sore ini.
***
Another Pov
Disebuah ruangan yang cukup gelap, berkumpul beberapa orang. Mereka sepertinya tengah membicarakan hal yang teramat serius karena terlihat dari raut wajah mereka namun ada satu orang yang ekpresi wajahnya sangat dingin dan juga sangat angkuh dalam satu frame.
Mereka itu adalah ke-10 Elder namun ada satu kursi kosong yang tidak diisi seseorang, dia adalah Elder ke 2.
"Rencana ini gila! Kalian akan membahayakan semua murid-murid!" Bentak Zen mengenai rencana yang sedang mereka bahas.
"Ini akan berguna untuk masa depan mereka juga, jika mereka lemah maka mereka mati!" sahut Kyle dengan wajah datarnya.
"Aku setuju dengan Zen, mereka hanya anak-anak yang manis!"
Hunk tanpa berbicara sepatah kata langsung keluar dari ruangan itu. Lalu di ikuti oleh Moca yang wajahnya menunjukkan bahwa apa yang mereka para Elder pikirkan adalah kesalahan yang teramat fatal.
"Aku keluar dari sini! Jika kalian memang ingin menjalankan rencana itu sampai akhir masa jabatan ini. Aku yang akan menentang kalian di baris depan!" ancam Zen lalu keluar dari ruangan itu.
"Mereka hanya bertiga, ingin melawan kita yang bertujuh ini?" ucap angkuh Kelvin sambil memamerkan otot-ototnya yang besar itu.
"Dengan mereka atau tanpa mereka bertiga, rencana kita tetap akan berjalan!" kata Kyle sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya.
...
"Bisa-bisanya mereka merencanakan hal seperti itu!" gumam kesal Zen sambil berjalan menuju ruangannya untuk membereskan seluruh benda-bendanya.
Ya dia memutuskan untuk berhenti menjadi Elder karena semua kebusukan yang para Elder lakukan. Ia benar-benar tidak habis pikir apa yang telah Elder rencanakan. Seorang Elder harusnya menjadi penjaga dan pembimbing para penerusnya agar terjaga keseimbangan namun kelihatannya Elder yang sekarang telah berubah 180 derajat.
Ketika asik membereskan benda-benda miliknya, pintu tiba-tiba saja terbuka.
Moca dan Hunk yang tadinya juga ikut keluar dari rapat memutuskan mengikuti jejak rekannya Zen dengan keluar dari Elder. Walaupun Hunk tidak terlalu banyak bicara namun dia punya ideologi seorang kesatria yang kuat, dimana ia menjunjung tinggi keadilan. Berbeda jauh dari Moca, ia hanya mempunyai pemikiran bahwa seluruh adik-adik kelasnya adalah adiknya sendiri yang harus di bimbing dan disayangi.
"Walaupun kita sudah menentang rencana mereka, mereka pasti akan tetap terus menjalankan rencana mereka itu apapun yang terjadi," ucap spontan Hunk kepada mereka berdua.
Moca hanya bisa menghela napas panjangnya, tetapi Zen mempunyai rencana untuk mengagalkan rencana para Elder.
"Aku punya rencana, bagaimana ke-6 Elder yang tersisa melawan kelas yang menang di pertandingan kemarin, aku melihat potensi mereka terlebih Artizy dan Muzzy. Mereka sangat berbakat!" cetus Zen dengan percaya diri.
Wajah Moca lalu berseri-seri dan juga di mulutnya keluar air liur ketika mendengar Muzzy dan Artizy. "Ah mereka berdua, Artizy dengan wajah tampannya yang garang lalu Muzzy yang manis, seandanya aku perempuan aku mau dijadikannya budak mereka berdua!"
Hunk yang mendengar hal itu hanya menatap Moca dengan tatapan datar dan lalu berkata dengan sedikit bumbu sarkas. "Sepertinya kau harus ke dokter, Moca dan tolong katakan kepada dokter itu untuk memeriksa kepala mu itu apakah ada kecacatan atau kelainan."
Zen lalu tertawa ringan sambil mengelengkan kepalanya.
Another Pov end
Pikiranku yang semulanya hanya berpikir bahwa hanya Mika seorang yang datang kerumah untuk memasakkanku sesuatu rupanya salah besar. Seluruh teman-temanku malah berkumpul, mulai dari Si Kunyuk Artizy, si tukang makan Reznov, si kutu buku Robin, ketua Karin, Lumia, dan juga Ellen.
"Rumah mu begitu nyaman, Muzzy!" puji Karin yang sejak dari tadi melihat-lihat sekeliling.
Kucingku tiba-tiba saja keluar dari kamar kakakku lalu duduk di atas sofa ruang tamu.
"Jadi ini yang namanya Nala, wah dia lucu sekali!" ucap Lumia sambil mengelus-elus Nala.
"Kucing itu penuh tipu daya! Jangan terbuai oleh bulu-bulunya yang lembut itu Lumia atau kau akan di gigitnya sepertiku!" ujar Artizy sambil mencoba meniru kucing ketika ia tengah marah.
Artizy sudah beberapa kali kerumah ku dan dia selalu saja di gigit dan juga dicakar oleh Nala, berbeda dengan yang lainnya, Nala malah lebih ramah dan ingin di manja-manja.
"Kucing saja kau ajak berkelahi dasar keledai!" protes Karin lalu memukul kepala Artizy dengan majalah milik kakakku.
-Tbc-