Mythical Rubick

Mythical Rubick
29 | Kunjungan ke Rumah Artizy



Sekitar jam 3 malam, aku terbangun karena suara bising dari lantai bawah rumahku. Aku mengira kakakku datang sendirian rupanya ada kakak Luceria yang mengantarnya pulang.


"Kakak sudah pulang? Eh ada Kak Luceria, terima kasih sudah mengantarkan Kakak pulang maaf selalu merepotkan mu, Kak Luceria," kataku sambil menggosok mataku yang masih terasa ngantuk.


"Tidak apa-apa kok, ini sudah jadi tugasku sebagai seorang asisten untuk mengantarkannya pulang. Lagi pula dia tadi sangat bekerja keras," sahut kakak Luceria.


Kakak Luceria bisa dibilang satu-satunya sahabat dan juga tangan kanan kakakku, dia juga sering mengurusku jika kakakku sibuk dengan urusannya. Dia orangnya sangatlah baik dan sangat menyukai anak-anak, bisa dibilang dia itu tipe ibu yang sempurna dan istri yang baik.


"Biar aku saja yang menggendong Kak Erina ke kamarnya!" ucapku lalu menggendong kakakku.


Aku berhenti saat ingin naik tangga untuk ke lantai 2 lalu memalingkan badanku. "Kak Luceria sebaiknya menginap saja untuk malam ini, tunggu sebentar ya nanti aku siapkan dulu kamarnya!"


Kak Luceria tersenyum lalu mengangguk.


Setelah dari kamar kakakku, aku bergegas merapikan kamar tamu yang sebenarnya itu adalah kamarku dulu. Beberapa menit kemudian aku memberitahu kak Luceria bahwa kamarnya sudah selesai dibereskan.


"Terima kasih, Dik Muzzy. Saat di markas tadi suasana sangat menegangkan sampai-sampai membuat kepalaku terasa sedikit sakit,"


Aku yang penasaran tentu saja bertanya ada apa gerangan.


"Ada masalah baru lagi ya, Kak Luceria?"


Sambil memasang raut wajah sedih kak Luceria bercerita bahwa ada kemungkinan konflik antara manusia dengan monster akan berlangsung lagi bukan hanya itu mungkin saja konflik antar manusia juga akan terjadi.


"Tolong jaga Kakakku ya Kak, Luceria. Dia pasti bertindak gegabah jika dia begitu bingung dan terkadang mengambil langkah yang beresiko tinggi untuk dirinya sendiri,"


"Kau tenang saja, Muzzy. Kakak mu akan selalu ku jaga, aku juga tidak akan pernah membuatnya kecewa,"


Aku tersenyum lalu mengantarkan kakak Luceria ke kamar tamu yang tadi sudah ku siapkan.


Karena sudah jam 4 pagi, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurku dan menghabiskan waktu untuk sedikit membaca sambil menunggu matahari terbit lalu bersiap untuk membuat sarapan. Aku tidak masuk  sekolah hari ini karena masih Golden Week atau bisa dibilang masih libur sekolah.


※※※


Setelah Membuat sarapan dan mandi, aku berniat membangunkan kakakku dan kakak Luceria tetapi niat ku untuk membangunkan mereka sirna ketika melihat mereka berdua yang tengah enak bermimpi jadi aku memutuskan untuk tidak menganggu mereka.


Jadi aku sarapan hanya ditemani oleh Nala yang juga ikut sarapan bersamaku, setelah beberapa menit sarapan. Aku terkejut handphoneku tiba-tiba berdering karena ada telpon yang masuk.


Nomor tanpa nama, siapa ya? Batinku di dalam hati.


"Halo?"


"Ini nomor handphonenya Muzzy bukan?"


"I-iya, ini siapa ya?"


"Ini aku, Karin!"


Hah! Ketua Karin, bagaimana dia bisa mendapatkan nomor handphoneku, batinku di dalam hati.


"Ketua Karin! Ada apa?"


"Apa kau hari jumat ini sibuk?"


Dalam benakku, aku sangat penasaran tapi firasatku mengatakan ada hubungannya dengan Si Kunyuk Artizy.


"Tidak, aku tidak sibuk Ketua Karin, kenapa memangnya?"


"Bagus, temani aku kerumah Artizy bersama Reznov. Tadi aku sudah menelponnya dan dia bilang iya, sebenarnya aku di ajak Artizy untuk berkunjung kerumahnya tapi kau tau aku sangat malu jika hanya berdua dengannya makanya aku ajak kau dan Reznov,"


Firasatku memang benar, mungkin ini akan sedikit merepotkan.


"B-baiklah aku akan ke sana, jam berapa kita berkumpulnya?"


"Jam 10 pagi, jangan terlambat! Atau kau akan ku gantung di tiang bendera! Kau mengerti?!"


"I-iya aku mengerti Ketua Karin,"


"Bagus, kalo begitu akan ku tunggu di depan komplek rumah Artizy. Maaf menganggu bye!"


Aku menutup mataku lalu memusut-musut dahiku, jika di pikir-pikir kenapa harus aku yang ikut juga. Karin bisa saja mengajak Ellen, Lumia dan Farah.


"Dasar Ketua Karin ada-ada saja!" gumamku sambil menggelengkan kepala lalu kembali menyantap sarapan, Nala saja sampai kebingungan dengan ekspresiku.


※※※


Pada hari jumat keberuntungan ada di pihak Karin, benar saja prediksi cuaca hari ini katanya cerah berawan. Jika saja cuaca di prediksi hujan mungkin Karin akan berubah ke mode iblisnya karena rencananya untuk mengunjungi rumah Artizy bisa-bisa gagal.


Aku memutuskan untuk sengaja datang lebih awal dari perjanjian karena aku tidak ingin di ceramahi oleh Karin.


Namun tidak di sangka-sangka rupanya Reznov lah yang lebih awal datang, dia sedang duduk di kursi taman dekat komplek rumah Artizy sambil memakan roti selai susu dan sebotol susu berukuran kecil.


Reznov melambaikan tangannya kearahku. "Comrade!"


Aku berlari kecil menghampirinya. "Ku kira kau akan datang terlambat Reznov. Sudah berapa lama kau disini?"


"Aku tidak ingin ketua Karin menjadi sosok Iblis mengerikan, aku sudah disini mungkin sekitar setengah jam yang lalu, oh iya kau ingin roti selai susu ini? Aku membawanya terlalu banyak dari rumah," ucap Reznov sambil menyerahkan roti selai susu miliknya.


Aku mengambil roti itu dan duduk di sampingnya. "Terima kasih, kelihatannya enak, selamat makan!"


...


Selang beberapa menit akhirnya Karin datang dengan baju kasualnya, Karin terlihat sangat berbeda ia berdandan seperti memperlihatkan sisi manisnya kepada Artizy.


"Kalian berdua sudah lama menunggu? Maaf ya aku terlambat," ucapnya sambil melihat jam tangannya.


"Kami juga baru beberapa menit yang lalu datang, benar bukan Muzzy?" kata Reznov berbohong.


"Iya, sebaiknya kita bergegas. Mungkin Artizy sudah menunggu!" ajakku kepada mereka berdua.


※※※


Akhirnya kami sampai di depan rumah Artizy yang sangat besar, ya karena ayah Artizy adalah ketua dari Clan Hunter tentu saja dia kaya raya.


"Wah besar sekali rumahnya!" kata Karin terpelonggak melihat besarnya rumah Artizy.


"Tulisan apa itu?" ujar Reznov menunjuk sebuah tulisan yang ada di atas pagar rumah Artizy.


"Kalo tidak salah itu adalah semboyan para Clan Hunter, coba kau lihat di setiap rumah di kompleks ini. Tulisan itu banyak tertulis di depan rumah mereka," sahutku sambil menunjuk ke rumah yang lainnya.


Mereka berdua melihat-lihat untuk mencari tulisan-tulisan itu.


"Wah benar, semuanya terlihat sama tapi itu artinya apa ya?" tanya Karin.


"Kau tau artinya, Muzzy?" sahut Reznov yang juga bertanya kepadaku.


"Kalo tidak salah itu dari bahasa Jerman," kataku sambil menggaruk kepalaku karena aku juga tidak begitu ingat.


Tulisan itu tertuliskan Sie sind Raubtiere und wir sind Jäger dan ditulis secara melengkung.


"Artinya Mereka adalah Pemangsa dan Kami adalah Pemburu," ujarku kepada mereka berdua.


Aku pun memencet bel yang ada di depan pagar rumah Artizy.


Selang beberapa detik kemudian, seorang wanita paru baya membukakan pintu pagar sambil tersenyum kearah kami.


Kami menunduk memberi salam dan beliau pun juga memberi salam kepada kami.


"Kalian pasti teman-temannya Artizy, bukan? Bibi sudah menunggu kalian, ayo masuk!" ajak beliau kepada kami bertiga.


Begitu kami masuk ke dalam rumah Artizy, isi rumah Artizy sangatlah mewah. Banyak sekali barang-barang yang bisa di bilang elegan dan terkesan classic.


"Terima kasih sudah mau berteman dengan Artizy ya. Bibi sebagai Ibunya Artizy terkadang sedih ketika dia bilang bahwa dirinya sering kesepian tapi sekarang alahkan bahagianya bahwa dia sudah mempunya teman yang baik seperti kalian," ucap syukur ibunya Artizy kepada kami.


Rupanya wanita itu adalah ibunya, beliau mempersilahkan kami duduk untuk menunggu Artizy di ruang tamu. Beliau juga menjamu kami dengan makanan-makanan yang terlihat sangat enak.


Selain itu beliau juga bercerita bahwa ini pertama kalinya Artizy di kunjungi teman-temannya, karena dia dulu sangat tidak punya teman dan hanya berteman dengan piano dan biola.


Mendengar hal itu, Karin tiba-tiba meneteskan air matanya dan ibu dari Artizy juga menangis sambil menceritakan masa lalu Artizy. Perasaan aku dan Reznov saat itu campur aduk, sedih dan juga lapar karena dihadapan kami di hidangkan kue yang sangat enak. Jadi kami memutuskan untuk terus melanjutkan makan kue itu.


"Kami janji kok bibi, kami akan selalu menjadi temannya Artizy, benar bukan teman-teman!" sahut Karin sambil menyapu air matanya.


Lalu ibunya Artizy langsung memeluk Karin dan saat itu juga Artizy muncul, ia terlihat kebingungan karena melihat ibunya dan Karin sedang berpelukan sambil menangis.


"A-ada apa Ibu dan juga Karin, kok kalian berdua menangis sambil berpelukan?" ucap Artizy kebingungan.


Ibu Artizy melepas pelukannya perlahan dan lalu menyapu sisa air mata Karin lalu tersenyum kepadanya.


"Tidak apa-apa kok, ibu hanya senang kau sudah memiliki teman-teman. Kalo begitu ibu mau memasak dulu untuk makan siang kalian nanti, jadi bersenang-senang lah!" ucap ibunya Artizy sambil tersenyum lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.


Aku dan Reznov masih asik memakan kue yang di sediakan ibunya Artizy, sampai-sampai pipi Reznov menggembung karena memasukkan terlalu banyak kue di mulutnya.


Melihat kami seperti itu Karin langsung memberi tatapan yang menusuk sampai ke dalam jiwa kami berdua dan kami mengerti maksud dari tatapan itu dan lantas berhenti makan.


"Aku sangat senang kalian datang kesini, jadi sisa menunggu Ellen dan Mika deh," ucap Artizy sambil tersenyum.


"Eh Ellen dan Mika?" sahut Karin terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Artizy.


"Iya, kan aku mengundang teman-teman semua tapi Lumia, Maze, Farah, Robin, Crystalesia dan juga Sabrina tidak bisa datang," ucap Artizy sedikit cemberut.


"Memangnya kita akan melakukan apa?" tanya Reznov.


"Berburu!" sahut Artizy sambil tersenyum lebar.


"Hah?!" sahut kami kompak bertiga.


"Hahaha, tidak-tidak aku hanya bercanda. Aku cuma ingin menghabiskan waktu bersama kalian disini makanya aku mengundang kalian dan juga ayah dan ibuku juga ingin bertemu kalian!"


Tiba-tiba saja bel berbunyi, Artizy lantas langsung menuju pintu untuk membukakan pintu.


Raut wajah Karin sedikit berubah saat melihat Ellen datang, mereka berdua menatap satu sama lain seperti kucing yang sedang ingin berkelahi.


"Ayo silahkan duduk!" pinta Artizy mempersilahkan duduk Ellen dan Mika.


Aku merasakan aura aneh antara Ellen dan Karin, mereka duduk bersebelahan sedangkan Mika duduk di samping Reznov yang masih asik memakan kue.


"Muzzy, kau sudah lama datang?" tanya Mika.


"I-iya, Mika sekitar 15 menit yang lalu," sahutku.


Lalu aku meminta bertukar posisi dengan Reznov, agar aku bisa bersebelahan dengan Mika. Sebenarnya aku bukan bermaksud ingin berdekatan dengan Mika tetapi ada sesuatu hal yang aku ingin sampaikan kepadanya.


Reznov masih asik memakan kue sambil meminum jus jeruk. Aku menyuruh Mika untuk mendekatkan telinganya agar aku bisa membisikkan sesuatu.


"Mika, apa kau merasakan ada sesuatu di antara Karin dan Ellen?" bisikku kepada Mika sambil melihat kearah Ellen dan Karin yang sedang berbicara dengan Artizy.


"I-iya, aura yang kurang enak. Mereka sepertinya bersaing memperebutkan sesuatu!" balas Mika sambil berbisik lalu memasang wajah cemberut.


Aku mulai merasa ini akan menjadi masalah yang kompleks apalagi ini masalah cinta. Aku hanya berharap pertemanan kami semua tidak akan hancur karena hanya karena masalah ini.


-Tbc-