
Mika POV on
Flashback on
Aku berjalan sambil bergandengan tangan bersama bibiku, kami berdua menyusuri festival musim panas di malam itu, festival berjalan dengan sangat meriah layaknya festival pada umumnya. Tetapi semua berubah ketika sekelompok monster tiba-tiba muncul melewati semak-semak di samping area festival itu berada.
Darah berceceran di mana-mana, tangis dan teriakan menjadi satu, menciptakan suatu ketakutan dan kengerian yang amat mengerikan.
Aku yang terpisah dari bibiku ketika mencoba lari, orang-orang juga ikut berlarian ke sana kemari untuk menyelamatkan dirinya, layaknya semut yang kehilangan arah.
"Bibi!" teriakku sambil menangis.
Saat aku berlari, kakiku tiba-tiba tersandung dan akupun terjatuh, tetapi untungnya ada seorang anak laki-laki berambut hitam dengan iris mata berwarna coklat menghampiriku dan mencoba menolongku.
"Kau tidak kenapa-kenapa kan?" tanya seorang anak laki-laki yang sepertinya seumuranku.
Anak lelaki itu mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun, aku hanya bisa mengangguk dan tidak bisa berkata-kata lagi karena saking takutnya.
Dia menggandeng tanganku dan kami berdua lari dari kejaran monster-monster jelek itu. Tetapi belum sampai kami keluar dari area festival, langkah kami terhenti karena di cegat monster sekelompok monster.
Saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa, tangan dan kakiku gemetaran karena takut. Tetapi anak laki-laki itu sama sekali tidak takut dan gemetar, dia memposisikan dirinya seperti siap bertarung melawan para monster tersebut.
"Aaaa!" teriak monster itu sambil berlari kearah kami.
Belum sempat Monster itu mendekat, kepala mereka sudah terpenggal akibat sabetan pedang seseorang. Sosok perempuan muda tiba-tiba ada di hadapan kami, dia bergerak sangat cepat sampai-sampai aku tidak melihat pergerakannya.
"Jangan bengong saja Dik! Cepat lari dari sini, biar Kakak yang akan menahan mereka untuk kalian," ucap perempuan itu kepada kami.
Rupanya perempuan muda tadi adalah Kakak dari anak laki-laki yang sedang menggandeng tanganku ini, dia terlihat sangat kuat dan hebat. Dengan menggunakan dua pedang yang bersinar layaknya bulan purnama, perempuan muda itu mengalahkan para Monster dengan sangat mudah.
Aku berlari bersama anak laki-laki itu tetapi naas sebuah anak panah mengarah kepadaku dan ...
"Awas! Aaaa!" teriak anak laki-laki itu lalu mendorongku agar terhindar dari anak panah itu.
Anak panah yang mengarah ke arahku malah mengenai anak laki-laki itu, sebuah luka goresan mengenai punggungnya dan membuat luka yang cukup lebar.
Aku gemetaran ketakutan. "A-apa kau tidak apa-apa?"
Sambil menahan rasa sakit dia tersenyum kepadaku. "A-aduh sepertinya hanya luka gores, aku tidak apa-apa!"
Saat seperti ini aku tidak bisa membantunya dan malah hanya bisa menangis.
Slash
Monster yang tadi menembakkan anak panah itu langsung terpenggal kepalanya karena sayatan oleh perempuan muda tadi.
Dia berlari kearah kami berdua dan aku hanya bisa menangis dan terdiam melihatnya menahan sakit.
"Apa kau tidak apa-apa Dik?"
"Hanya luka gores kecil tidak a...,"
Belum selesai anak laki-laki itu bicara, ia jatuh pingsan dan melihatnya seperti itu tanganku dan kakiku semakin gemetaran. Di kepalaku hanya ada ketakutan dan ketakutan, aku mendekat kearahnya mencoba membangunkannya.
"B-bangun ... hiks bangun!"
"Sepertinya anak panah tadi mengandung racun!" ujar perempuan muda itu.
Aku terus menguncang-guncang tubuh anak laki-laki itu supaya dia bangun, sedangkan Kakak perempuan itu tetap bertarung sendirian.
"[Full Moon Spin],"
Kakak perempuan itu terbang ke arah bulan dan langsung memutarkan kedua pedangnya seperti gasing yang berputar dengan cepat.
Sekejap mata tubuh para monster itu tiba-tiba terpotong menjadi dua, hampir semua monster yang tadinya berjumlah banyak, sekejap mata hanya tersisa beberapa ekor dan mereka terlihat sangat ketakutan.
"Beraninya kalian membuat Adikku terluka! Aku akan membunuh kalian semua!" teriak perempuan muda tersebut sambil berlari kearah Monster yang tersisa.
Sama seperti tadi, monster-monster itupun seketika sudah tidak bernyawa lagi, setelah mengalahkan monster yang tersisa ia langsung berlari kearah kami. Aku membaringkan anak laki-laki itu di pahaku dan sesekali menguncang tubuhnya.
Para Anggota AM(Anti Monster) berdatangan pada saat itu.
"Sergeant Erina!" ucap salah satu anggota AM(Anti Monster) tersebut.
"Kalian terlambat! Lihat apa yang kalian lakukan, banyak korban yang berjatuhan dan Adikku juga sampai terluka seperti ini!"
"Maafkan kami Sergeant, saat kami mencoba masuk ke area festival ada semacam dinding penghalang yang membuat kami tidak bisa masuk ke sini,"
"Hah? Itu tidak mungkin!"
"Benar itu Sergeant!" sahut anggota lain dari AM(Anti Monster).
Perempuan itu hanya terdiam, dia mungkin sedang memikirkan sesuatu.
"Sudah lah, semua sudah aku atasi tetapi coba sisir sekitar area sini dan obati masyarakat yang menjadi korban! Kalian mengerti!"
"Mengerti Sergeant!"
Perempuan muda itu mendekat ke arahku dan tersenyum manis kepadaku. "Apa kau baik-baik saja Adik kecil?"
Aku mengangguk lalu dia memelukku.
"Syukurlah kalo begitu," ucapnya bersyukur.
"Apa dia baik-baik saja?" tanyaku tentang anak laki-laki itu.
"Tentu saja, dia anak yang kuat jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Kakak perempuan itu.
Setelah lukanya di bersihkan oleh para anggota AM anak itu dibawa ke rumah sakit dan itulah perpisahan kami berdua, sejak hari itu aku selalu mencari anak laki-laki itu.
Flashback off
※※※
Aku terbangun dari mimpiku, mimpi yang sudah sering muncul akhir-akhir ini dan semakin hari mimpi itu semakin sering muncul ketika aku mulai bertemu dengan Muzzy. Dia sangat mirip dengan anak laki-laki yang dulu pernah menyelamatkanku.
"Mmm ... Mimpi itu lagi, apa ini tanda bahwa orang itu ada di sekitarku. Jika memang benar dia adalah Muzzy, aku jatuh cintai dengan orang yang tepat," gumamku sambil tersenyum.
Aku segera bangun dari tempat tidur dan merapikannya terlebih dahulu. Setelah semua sudah di rapikan, aku segera menuju dapur untuk melakukan aktivitas rutinku yaitu memasak.
"Ibu, enaknya hari ini masak apa?"
"Bagaimana kalau kita masak Kari, Ibu sudah lama tidak makan Kari,"
"Wah ide yang bagus Ibu!"
...
Setelah selesai memasak aku segera mandi dan bersiap siap untuk sarapan lalu berangkat sekolah.
Ayah hanya diam sambil tetap membaca koran paginya, sedangkan Ibu, Nenek dan Kakekku memberi salam dan semangat kepadaku.
Aku tau ayah tidak suka aku masuk ke sekolah kejuruan Warrior karena dia tidak menginginkan aku seperti Kakaknya dulu sewaktu beliau masih kecil. Dulu Kakak dari ayahku terbunuh ketika bertarung melawan monster dan teman-temannya tidak ada yang membantu, terbunuh dalam pertarungan adalah suatu aib ketika kau adalah salah satu anggota Clan ternama.
Sejak hari itu ayah tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi terhadap anggota keluarganya, itulah mengapa aku tidak di izinkan bertarung dan membuat statistik bertarungku menjadi rendah.
Ayah selalu menekankan ku untuk belajar tanpa harus menjadi seorang Warrior tetapi kejadian 9 tahun yang lalu membuatku tidak bisa membiarkan orang-orang yang ada dihadapku terluka.
Aku ingin menggunakan Warriorku untuk membantu orang-orang, itulah alasanku bertarung. Aku ingin menjadi lebih kuat lagi agar bisa membantu orang-orang.
Sesampainya aku di halte bus dekat sekolah, aku bertemu Muzzy, seorang anak unik yang memiliki Warrior aneh dengan senjata yang bisa dibilang tidak biasa yaitu sebuah kubus berwarna hijau.
"Muzzy!" sapaku.
"Mika, selamat pagi!" ucapnya dengan tersenyum, walaupun dia terlihat tidak berekspresi tetapi sebenarnya dia orangnya sangatlah baik.
"Hehe selamat pagi! Apa kau sudah selesai menyiapkan barangmu untuk pusat pelatihan minggu depan, Muzzy?"
"Belum 100% sih, aku masih bingung harus membawa apa saja untuk pusat pelatihan nanti. Apa persiapanmu sudah selesai?" tanyanya sambil meminum sekotak kopi susu.
"Persiapanku semua sudah selesai dan sisa persiapan mental saja lagi,"
"Benar juga ya, mental harus dipersiapkan juga ya hehe," ucapnya tersenyum.
Lalu kami berdua tertawa bersama sambil berbincang-bincang sedikit mengenai pusat pelatihan yang akan di adakan di Distrik Kingstone.
Sesampainya di dalam kelas, Karin dan Ellen sibuk memarahi Artizy yang lupa membawa buku catatan sedangkan Reznov berbincang-bincang dengan Crystalesia mengenai persiapan pusat pelatihan.
"Mika, apa kau sudah menyelesaikan persiapanmu untuk pusat pelatihan?" tanya Lumia.
"Sebenarnya sudah semua tetapi sisa persiapan mental saja," ucapku sambil tersenyum.
"Hmm bagus lah, Oy Muzzy bagaimana denganmu?"
"Jangan tanya dia, dari mukanya saja sudah pasti dia belum menyiapkan apapun," sahut Robin sambil membaca sebuah buku novel ringan.
"Kau meremehkan ku Robin, tentu saja aku sudah menyiapkan tetapi belum 100% hehe," ucapnya sambil menunjukkan giginya.
"Tetap saja itu belum selesai dalam artian kau belum menyiapkan," sahut Lumia bermuka datar.
Muzzy hanya tertawa sambil menggaruk rambutnya sedangkan Robin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Muzzy, jika kau tidak keberatan bagaimana kalau aku bantu untuk menyiapkan persiapanmu?"
"Benaran nih Mika! Tentu saja aku tidak keberatan, tolong ya bantu aku! Aku benar-benar bingung harus membawa apa saja,"
"Nanti aku buatkan daftarnya untukmu ya, Muzzy!"
"Lumia juga mau!" ucap Lumia sambil melompat-lompat.
"Robin apa kau juga mau?" tanya Muzzy.
"Aku tidak sepertimu, aku sudah menyelesaikan malam tadi," Robin tersenyum lebar sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Sabrina dan Farah mendekat kearah kami.
"Kalian sedang membicarakan apa sih Mika, Muzzy, Robin, Lumia?" tanya Sabrina.
"Ah ini Muzzy belum menyelesaikan persiapan untuk pusat pelatihan minggu depan," sahut Lumia.
"Eh kok aku yang jadi sasaran, aku sudah menyiapkannya walaupun belum 100%,"
"Muzzy itu sama saja kau belum menyelesaikannya bukan?" ucap Farah.
Muzzy langsung menatap dingin kami semua, saat itu dia bertingkat sangat lucu, walau tatapannya datar tetapi dia tidak bisa menutupi kelucuan dirinya.
"Sudah-sudah jangan menggoda Muzzy terus kasihan dia," ucapku sambil tersenyum.
"Betul itu, aku setuju dengan Mika, di sini hanya Mika yang baik kepadaku. Dasar kalian ini," ucapnya sambil menjulurkan lidahnya kearah Robin dan lainnya.
Melihat reaksi Muzzy yang terkesan lucu mereka tertawa dan Muzzy juga ikut tertawa bersama. Aku hanya tersenyum sambil memandang muka Muzzy.
"Kau memang mirip sekali dengan anak laki-laki itu, Muzzy!" gumamku pelan.
"Hah, apa yang kau katakan Mika?"
"Tidak ada apa-apa," ucapku sambil tersenyum lalu duduk di bangku yang ada di hadapannya.
Artizy datang dengan wajah sedih dan rambut acak-acakan.
"Kau kenapa sobat?" tanya Muzzy kepada Artizy yang datang seperti habis bertarung dengan badak dan tertusuk duri kaktus.
"Aku kena marah sama Ellen dan Karin, padahal hanya Karin yang memarahiku tetapi tiba-tiba Ellen juga ikut memarahiku,"
Muzzy hanya tertawa melihat Artizy yang terlihat kusut akibat dimarahi habis-habisan.
"Yang sabar ya Artizy," ujarku sambil tersenyum kepadanya.
"Terima kasih Mika, boleh aku minta senyumnya sekali lagi,"
"Hah? Boleh-boleh saja kok!" sahutku tersenyum
"Wah silau men, senyum Mika selalu bersinar-sinar!"
"Jangan suka memanjanya Mika, nanti kau akan di marahi Ellen atau Karin," ucap Muzzy kebingunan melihat tingkah teman sebangkunya Artizy.
Aku hanya tersenyum melihat dua sejoli ini saling mengobrol dan berargumen, tidak lama kemudian bel pun berbunyi.
Mr. Jack hari ini menggunakan baju yang bisa dibilang cukup unik yaitu baju seperti elvis dengan kerah terbuka untuk menunjukkan bulu dadanya yang membuatku sedikit geli dengan kacamata hitam yang cukup besar.
"SELAMAT PAGI anak-anakku sekalian! Hari ini Bapak akan mengajarkan sejarah mengenai Warrior, jadi siapkan kuping kalian dan catat apa yang ada di papan tulis, kalian mengerti!"
"Selamat pagi Mr. Jack, kami Mengerti Pak!" sahut kami kompak.
"Bagus, Bapak suka semangat kalian!"
Ellen tiba-tiba memalingkan tubuhnya dan menyerahkan buku catatan kosong untuk Artizy.
"Ini untukmu bodoh, lain kali jangan ketinggalan lagi!"
"Wah, terima kasih Ellen! Iya, aku tidak akan ketinggalan buku catatan lagi," kata Artizy sambil tersenyum.
Aku dan Muzzy hanya tersenyum melihat mereka berdua. Ada banyak pertanyaan dalam kepalaku dan yang paling menonjol adalah, apakah Muzzy adalah anak yang menolongku dulu 9 tahun yang lalu. Aku sangat yakin bahwa dialah orangnya, orang yang selama ini aku cari-cari dan yang selama ini menjadi alasanku untuk menjadi kuat dan terus menjadi Warrior.
Mika POV off
-Tbc-