Mythical Rubick

Mythical Rubick
33 | Apa yang Harus Ku Lakukan?



Pria itu mengangkat 2 jarinya. "Pertama kau harus selalu berbuat baik kepada semua orang itu adalah hal yang paling penting yang harus di lakukan oleh seorang pengguna Mythical Rubick dan yang kedua kau harus mengetahui mengapa Cube of Arcane memilih mu sebagai tuannya!"


"Jika harus berbuat baik ke semua orang aku bisa melakukannya, tapi bagaimana caranya aku mengetahui mengapa Cube of Arcane memilihku ... kurasa itu hal yang mustahil!"


"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya, dia akan memberitahu mu nanti! Sepertinya waktu ku sudah hampir habis semoga beruntung Warrior muda!" ucap pria itu lalu berdiri sambil mengulurkan tangannya kepadaku.


"Hah? Habis? Apa kita akan bertemu lagi?" tanyaku sambil menjabat tangannya yang lebih besar dibanding dengan tanganku.


"Tentu saja kita akan bertemu lagi tapi mungkin dalam waktu yang tidak singkat! Ingat pesanku tadi maka kau akan menjadi semakin kuat dan kau akan mengerti kenapa Cube of Arcane memilih mu!"


Tiba-tiba saja tubuhku terasa terhisap ke dalam sebuah lubang dan ketika aku mencoba membuka mataku, aku sudah berada di kamarku lagi.


"Ah aku lupa menanyakan namanya, bodohnya aku!" ujarku sambil menepuk dahiku.


Berbuat baik dan mencari tau kenapa aku yang dipilih oleh Cube of Arcane.


Aku mengulurkan tanganku dan memanggil Cube of Arcane. "Rubick, boleh aku bertanya sesuatu?"


Cube of Arcane hanya bergerak mengganti tiap cube miliknya, layaknya sebuah Rubick yang tengah di mainkan seseorang.


"Kenapa kau memilihku?"


"Karena Tuan adalah manusia yang telah dipilih oleh Tree of life!" suara yang kudengar dari Cube of Arcane.


Aku terkejut bukan main, sampai-sampai terjatuh dari atas kasurku.


"K-kau bisa bicara!?"


"Tentu saja Tuan, perkenalkan nama saya Yui. Akhirnya saya bisa terhubung kedalam hati Tuan setelah sekian lama,"


"O-ok ... kau punya nama rupanya, wah sepertinya aku akan terkena serangan jantung," ujarku dengan ekspresi wajah tidak menyangka hal gila ini terjadi.


"Tapi saya lebih suka di panggil Tuan dengan nama Rubick, Tuan sering memanggilku Rubick ketika ingin melakukan Summon dan selalu berterimakasih ketika ingin berubah ke bentuk manusia lagi, Tuan orangnya sangat baik!"


"O-ok terima kasih banyak atas pujiannya, tapi kenapa hati kita baru bisa terhubung?" tanyaku sambil duduk bersila.


Yui melayang kesana kemari seperti biasanya. "Karena saya akan meningkat menjadi 3x3, rupanya saya memang sangat beruntung punya Tuan seperti anda. Saya sangat bahagia!"


Aku tersenyum karena entah mengapa mendengarnya berkata seperti itu membuatku bahagia.


"Syukurlah jika kau bahagia, tapi apa itu Tree of Life, Rubick?"


Dia memberitahu bahwa Tree of Life adalah sumber kehidupan dunia dan sumber dari keberagaman Warrior tetapi dia tidak mengetahui alasan kenapa Tree of Life memilih ku.


"Tree of Life berpesan kepada saya Tuan, bahwa saya harus selalu melindungi Tuan,"


Benar dugaanku kenapa dia selalu melayang mengelilingi tubuhku, dia berusaha agar aku tetap terjaga.


"Tapi Tuan, saya dulu pernah gagal melindungi Tuan ketika Tuan saat kecil, saya sangat menyesal Tuan!" ujarnya dengan nada sedih.


"Haha tidak apa, lagi pula jika hal itu tidak terjadi mungkin aku tidak akan bertemu dengan Mika,"


"Tuan sangat mencintai perempuan itu bukan, saya selalu tau isi hati Tuan hehehe,"


Aku tersenyum lebar kearahnya dan malam itu aku akhirnya mengerti kenapa dia memilihku, sekarang aku dan Rubick(Yui) secara tidak langsung terhubung jadi jika aku mencoba memanggilnya sisa memanggilnya lewat hati dan dia pun akan membalas panggilanku.


※※※


Suasana ruangan menjadi sangat dingin dan terasa begitu menekan sama seperti yang ku duga sebelumnya. Para siswa dan siswi di ruanganku hampir semuanya mengeluarkan aura yang begitu tidak enak dan yang paling parah adalah Artizy yang mengeluarkan aura pemburunya.


"Itu jawabannya B, Tuan!"


Aku juga tau, Rubick. Tolong jangan ganggu konsentrasiku, ujarku berbicara dengan Rubick di dalam hatiku.


"Mika itu auranya sangat nyaman sekali ya Tuan, sangat hangat. Hampir seperti milik Tuan!"


Dari kemarin memang hanya Mika yang tetap mengeluarkan aura hangat, sepertinya dia tidak merasa tertekan dengan semua ujian ini.


Setelah selesai ujian untuk hari ini, aku mencoba menyapa Artizy yang masih termenung memandang papan tulis yang tertulis jangan berisik sedang ada ujian.


"Sepertinya dia tertekan Tuan, apa Tuan ingin menggunakan Skill Clarity untuk menenangkannya?"


Benarkah itu? Ku kira selama ini Clarity hanya meregenerasi energi pengguna Warrior, sahutku di dalam hati.


Aku mengeluarkan Cube of Arcane dan mengaktifkan skill Clarity di hadapan Artizy. "[Clarity]."


Artizy terlihat lebih rileks dan mulai menghilangkan aura pemburunya.


"Wah nyaman sekali, tidak ku sangka kau punya skill seperti ini, Sobat!"


"Hmm Clarity milik Muzzy sangat nyaman, aku jadi teringat malam itu!" sahut Mika yang rupanya sedari tadi berada di sampingku.


Reznov dan Ellen lalu ikut mendekat untuk merasakan sensasi relaksasi yang di keluarkan oleh skill Clarity milikku.


"Apa tadi kau kesulitan, Muzzy?" tanya Reznov.


"Tidak terlalu tapi kurasa aku akan dapat nilai di atas KKM, ada sebagian soal yang kurasa sulit untuk di jawab," ujarku padahal aku sengaja menyalahkan beberapa soal agar aku tidak menjadi sorotan.


Aku dan Mika hanya bisa terdiam dan saling tatap-menatap.


"Comrade Ellen, mereka itu sedang di mabuk asmara jadi wajar saja mereka melakukan itu!"


"I-itu apa?" jawab aku dan Mika kompak.


"Iykwim!" ucap Reznov tersenyum licik.


Seketika wajah Mika berubah menjadi merah seperti tomat, aku hanya menggelengkan kepalaku karena kesalahpahaman ini.


"Hehe Tuan Nakal!"


Aku tertawa kecil lalu mengelus kepala Mika. "Biarkan mereka berpikir seperti itu, paling juga nanti mereka penasaran dengan apa yang terjadi."


Saat pulang sekolah, aku dengan aktivitas baruku yaitu mengantarkan Mika pulang. Oh iya setiap hari aku juga menjemput Mika dan wajib mengantarkannya pulang dengan selamat dan setiap hari pula aku bertemu dengan ayah Mika yang selalu menatapku dengan tatapan yang bisa membuat orang takut setengah hidup sampai-sampai membuat orang yang ingin berkunjung ke kuil malah ketakutan.


"Nak Muzzy, Bagaimana kabar Kakak mu itu?" tanya ayah Mika sambil memegang payung karena cuaca sedang sangat panas.


"Dia baik-baik saja, tapi akhir-akhir ini dia lebih sering di markas karena ada beberapa masalah," sahutku sambil menggaruk kepalaku.


Ayah Mika menutup matanya lalu memandangiku. "Kau itu memang mirip sekali dengan Ayah mu!"


Ayah Mika rupanya adalah salah satu teman ayahku dulu, dia dulu satu tim saat menjadi The Guardian. Bukan hanya itu saja, ayah Mika rupanya menjadi anak buah ayahku. Beliau jadi tau aku adalah anak dari Kid MacTavish karena ia menanyakan soal keluargaku dan aku menjawab dengan jujur bahwa aku sekarang tinggal dengan kakakku yang bernama Erina MacTavish.


Sontak saat itu beliau terkejut bukan main sampai-sampai memuntahkan teh yang sedang ia minum, entah kenapa ikatan ayahku dan ayah Mika juga terhubung kepada kami berdua.


"Paman aku pulang dulu, selamat siang!" kataku lalu membungkukkan badan.


Ayah Mika hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


※※※


Ketika aku sudah di dalam kamar dan mencoba untuk beristirahat sebentar, tiba-tiba saja Cube of Arcane keluar dengan sendirinya lalu mengeluarkan cahaya yang sangat terang.


"Rubick kau kenapa?" tanyaku sambil menutup mataku karena silaunya cahaya yang dikeluarkan oleh Cube of Arcane.


"Saya akan meningkatkan kekuatan Cube of Arcane Tuan!"


Cahaya yang menyilaukan mataku perlahan menghilang dan ketika aku mencoba membuka kedua mataku secara perlahan, aku malah seperti di dalam sebuah ruangan yang di penuhi oleh Cube berwarna-warni.


"Di mana aku?" gumamku bertanya.


"Sekarang kekuatan Cube of Arcane milik mu sudah menjadi semakin kuat, gunakanlah untuk kebaikan dan ingat kau adalah The Key!" ucap seseorang dengan suara yang serak-serak basah.


Tubuhku seperti menerima kekuatan baru, aku mencoba memanggil Rubick dan dia sekarang sudah menjadi Cube 3x3.


"Lihat Tuan sekarang saya sudah semakin kuat!"


"Bukan hanya kau saja, tapi kita yang semakin kuat!" sahutku tersenyum sambil melihat Rubick yang tengah melayang di telapak tanganku.


Tanpa sadar aku kembali ke kamarku, rupanya tadi aku masuk kebawah alam sadarku.


"Rubick, maksimal peningkatan mu itu sampai sejauh mana?"


"Kata Tree of Life saya bisa meningkat sampai 10x10 tapi sejauh ini pemilik Cube of Arcane hanya mampu meningkat menjadi 4x4, yang dimiliki oleh paman Grey generasi sebelum Tuan,"


"Jadi nama paman yang kita temui itu Grey, tapi tunggu kenapa hanya paman Grey yang mampu sampai 4x4 sisanya kenapa tidak?"


Rubick bercerita bahwa kebanyakan pengguna Warrior Mythical Rubick hanya mampu sampai 3x3 lalu mereka mati karena suatu hal.


"Mati karena suatu hal? Tapi bagaimana dengan paman Grey apa dia mati karena bertarung atau apa?"


"Paman Grey mati karena jantungnya mengeras, mengeras karena apa saya kurang tau Tuan. Tapi ada yang mengatakan ini semua karena ulah perempuan, perempuan memang membahayakan!"


Jika di pikir-pikir Rubick juga seorang anak kecil perempuan, tapi dia sendiri malah ah sudahlah.


Dari pada aku memikirkan yang belum pasti, lebih baik aku belajar untuk ujian besok.


...


Semua ujian semester telah selesai, aku sedang mencari namaku di kertas pengumuman nilai yang tertempel di mading sekolah. Rupanya sesuai dugaanku aku berada di posisi 11, aku bersyukur tetap lulus dengan nilai yang tidak terlalu rendah dan tidak juga terlalu tinggi.


Yang mengisi 10 besar tentu saja Karin, Robin, Maze, Mika, Crystalesia, Reznov, Farah, Sabrina dan urutan ke 10 adalah Ellen. Ellen mendapat contekan dari Mika makanya dia mampu masuk 10 besar.


Aku melihat Robin dan Reznov yang tengah bersedih, mereka sedih karena Artizy.


"Sudahlah, kalian sudah berusaha dengan keras," ujarku mencoba memberi semangat kepada mereka berdua.


"Kami sedih bukan karena nilai ujian ini tapi karena metode anak yang satu ini!" ucap mereka kompak sambil menunjuk Artizy yang tengah memakan roti isi daging.


Aku tertawa melihat mereka seperti itu, kalian pasti bertanya siapa peringkat nomor 1 di ujian semester ini bukan. Yep jawabannya orang yang tengah memakan roti isi daging itu yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri. Rupanya pintar saja tidak cukup untuk mengalahkan orang yang beruntung.


-Tbc-