
Suara gemuruh penonton masih terdengar sampai keluar gedung arena. Teriakan, cacian bahkan cibiran yang semula mempekikan telinga kami semua, kini mulai hilang bak di telan waktu.
"Apa Artizy akan baik-baik saja?" tanya Mika yang berada di sampingku.
Aku tersenyum puas sambil memandang punggung Artizy. "Tentu saja. Dia adalah seorang Demon Hunter, musuh alami para Demon bukan!"
"Betul kata Muzzy, Mika!" sahut Karin setuju dengan kalimatku tadi.
Mika lalu mengangguk sembari memberi senyum percaya kepada Artizy yang sudah bersiap di arena.
Aku sangat percaya kepada Artizy, ia bahkan lebih kuat dibanding denganku jika urusan serangan ya walaupun ia terkadang ceroboh tapi jika ia serius berarti musuh harus bersiap-siap menggali lubang kuburnya sendiri.
Aku sering latihan bersamanya dan ketika kami melakukan praktik bertarung, terkadang ia mampu memukul mundur skill perisaiku padahal skill perisai itu sudah begitu kuat namun tetap tidak mampu menahan kuatnya tebasan dari pedang Rondo miliknya.
Oh iya, skill perisai yang ku maksud adalah Shield of Light dan dia menjadi orang kedua setelah kakakku yang berhasil membuatku tergerak ketika menggunakan skill itu.
...
Hitung mundur mulai di lakukan, Artizy dan murid laki-laki itu telah melakukan Summon.
Namun sebelum mereka berdua bertarung entah apa yang ada di pikiran Artizy, ia malah menghampiri lawannya itu lalu mengajaknya berjabat tangan.
Another Pov
"Semoga beruntung, anu?" ujar Artizy yang kebingungan karena lupa dengan nama murid laki-laki itu.
"Namaku Gotye, semoga beruntung juga Artizy. Mari kita lihat seberapa pantas kau yang seorang calon Elder dan juga rank nomor 1 di kelas mu!" sahut Gotye menjabat tangan Artizy dengan penuh percaya diri.
Mereka berdua langsung berjalan mundur lalu saling berhadap-hadapan layaknya seorang cowboy yang sedang berduel satu lawan satu.
Artizy memulai menyerang duluan dengan senjata jarak jauhnya, Rhapsody.
Inilah keunggulan yang Artizy miliki. Mempunyai dua senjata yang benar-benar bisa membantunya dalam kondisi apapun baik itu serangan jarak jauh ataupun jarak dekat.
Gotye yang sadar Artizy hanya menyerang menggunakan senjata jarak jauhnya lantas mengambil inisatif untuk mencoba mendekat agar mampu menyerang Artizy.
Pistol miliknya itu benar-benar merepotkanku saja!, batin Gotye yang kesal.
Artizy terus menembakkan peluru-peluru sihir miliknya yang tak terbatas jumlahnya itu namun juga menghisap habis energi dalam diri Artizy. Gotye juga semakin kerepotan karena jeda tembakan yang Artizy lakukan sangatlah singkat.
Sial kalo begini terus, energiku juga akan terkuras. Aku harus bertarung jarak dekat dengannya!, batin Artizy lalu menyarungkan Rhapsody miliknya ke pinggang.
Artizy mengambil pedang besarnya Rondo yang ada di punggungnya lalu berlari kearah Gotye yang juga tengah berlari kearah Artizy.
Terjadi pertarungan sengit antara Artizy dan Gotye. Sama-sama pengguna pedang besar, menciptakan suara yang khas ketika pedang mereka beradu layaknya sebuah simfoni peperangan yang membuat para pendengarnya menjadi merinding.
"Gerakan Artizy berbeda dengan yang kita lihat saat di pantai dulu," ujar Karin yang melihat gerakan serangan Artizy yang sudah lebih bervariasi dan juga lebih mematikan.
Gotye melompat mundur setelah menghindari serangan Artizy yang membuat lantai arena terbelah.
"Hebat juga kau, Artizy. Seharusnya kau tidak masuk ke kelas F!" ujar Gotye mencoba membuat konsentrasi Artizy buyar.
Artizy tersenyum lalu mengangkat pedang besarnya mengarah kearah Gotye. "Terima kasih pujiannya, tapi kelas F bukan berisi orang yang seperti kalian pikirkan!"
Artizy berlari menyeret pedang besarnya lalu melompat ke udara untuk melakukan serangan.
Gotye berhasil menangkis serangan itu namun tempat yang sedang ia pijak mulai hancur karena kuatnya serangan Artizy.
Kuat sekali, kekuatan macam apa ini!?, batin Gotye yang mulai cemas karena sejak dari tadi ia tidak bisa melakukan serangan yang berdampak kepada Artizy.
Mereka berdua beradu pedang lagi. Keringat dingin mulai mengalir di pori-pori wajah Gotye yang menandakan sudah tidak kuat lagi menahan kuatnya serangan Artizy.
Tubuh Gotye terlempar cukup jauh dan hampir saja ia keluar dari arena.
Jika begini terus aku akan kalah!, batin Gotye mencoba bangkit.
Statistik pertandingan sudah mulai menghitung dan tingkat prediksi kemenangan Artizy sudah mencapai angka 80% sedangkan Gotye hanya disisakan 20%.
Para anggota kelas 10F bersorak gembira ketika melihat statistik prediksi kemenangan yang dimenangkan oleh Artizy.
"Jangan senang dulu, permainan baru saja akan berbalik!" ujar Gotye lalu menancapkan pedang besarnya di depannya.
"[Dark Rift]!" rapal Gotye sebelum ia menghisap kekuatan dari skill miliknya itu.
Tubuh Gotye tiba-tiba dikelilingi aura gelap yang teramat kuat sampai-sampai beberapa penonton dibuat pingsan karenanya.
"Tekanan kegelapan apa ini, begitu kuat!" ujar Muzzy yang tangannya sedikit ikut gemetaran karena efek aura hitam pekat itu.
Aku bisa merasa tekanan yang kuat di tubuhnya. Skill tadi yang telah memberinya kekuatan, aku juga harus mengeluarkan auraku!, batin Artizy lalu ikut mengeluarkan aura pemburunya yang tidak kalah dengan aura milik Gotye.
Dengan cepat Gotye melakukan serangan yang tidak di sangka-sangka oleh Artizy.
Serangan itu mengenai paha kanan Artizy yang membuat pahanya terluka cukup parah.
"Bagaimana hah?! Kekuatan sejati dari kegelapan baru saja dimulai!" ujar Gotye lalu melakukan serangan lagi Ke arah Artizy yang tengah berusaha bangkit dengan menopang pedang besarnya.
Artizy menggenggam erat gagang pedangnya sampai-sampai membuat tulang jarinya mengeluarkan suara.
"Kau ingin melihat kekuatan kegelapan? Akan ku perlihatkan kekuatan kegelapan yang sesungguhnya!" teriak Artizy sebelum aura pekat pemburu mulai menyelimuti tubuh Artizy layaknya sebuah jubah berwarna hitam.
Di samping lapangan para anggota kelas 10F dan beberapa anggota kelas 10B sampai-sampai harus melindungi kedua matanya dengan tangan mereka karena menerima tekanan yang mampu membuat mata mereka perih.
"Kekuatan aura mereka saja membuat mataku perih!" protes Reznov sambil melindungi matanya dengan tangannya.
Muzzy lalu berinisiatif untuk membuat sebuah perisai untuk melindungi teman-temannya terutama Mika yang sedari tadi merasakan kesakitan di bagian dadanya karena efek gila aura pemburu Artizy yang belum pernah ia tunjukkan seperti ini.
Hanya dengan aura saja, Artizy mampu memojokkan Gotye untuk sekali lagi.
Para anggota Clan Hunter memang hebat, sesuai ekspektasiku!, batin Gotye yang merasa kagum namun di sisi lain ia juga kesal.
Gotye memaksa kedua kakinya untuk berlari kearah Artizy dan melakukan serangan namun usahanya sia-sia, dengan mudah Artizy melukai Gotye hanya dengan sekali tebas di bagian dada yang membuat bagian dada Gotye harus mengeluarkan darah yang berwarna merah pekat.
Gotye tersungkur sambil mencoba menutup lukanya dengan tangan kirinya.
Dengan santai Artizy berjalan kearah Gotye sambil menenteng pedang besarnya di pundaknya.
Artizy mengarahkan pedang besarnya kearah Gotye. "Masih ingin melihat kegelapan yang sesungguhnya?"
Sambil mengatur napasnya yang mulai tidak teratur karena luka di bagian dadanya, Gotye lalu berkata sembaring tersenyum kearah Artizy. "GG, Artizy! Aku menyerah!"
"Gotye menyerah yang artinya, pemenang pertandingan ini adalah Artizy!" teriak komentator yang membuat para penonton terdiam karenanya.
Para anggota kelas 10F bersorak gembira setelah mengetahui kelasnya memenangkan pertandingan yang sangat sengit.
"K-kita menang 2-3, apa aku sedang bermimpi?!" ujar Karin yang seperti tidak menyangka mereka semua berhasil memenangkan pertandingan dengan skor yang sangat tipis.
Artizy langsung berlari kearah kumpulan teman-temannya. "Kita menang teman-teman!"
Mika dan Muzzy juga ikut merayakan bersama-sama dengan yang lainnya.
"Kita tetap di upper bracket, berarti kelas kita akan menunggu kelas yang akan kita lawan. Mereka antara kelas B, C dan D!" ujar Muzzy kepada teman-temannya semua.
Mr. Jack bersalaman dengan pak Sam yang sepertinya masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa anak didiknya mampu dikalahkan oleh kelas yang di cap sebagai kelas para orang yang gagal.
"Pak Sam, senang bertarung dengan kelas anda. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, saya harap anda tidak terlalu keras terhadap mereka," ucap Mr. Jack kepada pak Sam yang seperti menahan malu karena sudah meremehkan kelas yang di pegang oleh Mr. Jack.
Seluruh anggota kelas 10F melambaikan tangannya ke arah Mr. Jack dan berterima kasih banyak atas pembelajaran yang telah beliau ajarkan kepada mereka semua.
"Ayo kita rayakan kemenangan perdana ini dengan makan-makan di restoran keluarga!" ajak Mr. Jack sambil merangkul anak-anak muridnya yang ia percayai dan seluruh muridnya pun juga percaya kepadanya.
Another Pov end
...※※※...
"Ellen sejak dari tadi selalu murung, ada apa ya?" tanya Artizy kepadaku dengan suara pelan.
Aku melirik kearah Ellen yang seperti kehilangan kunci kehidupannya. Ketakutan terhadap darah rupanya yang membuat statistik bertarungnya rendah.
Aku pikir wajar seorang manusia mempunyai suatu ketakutan terhadap apapun namun dengan ketakutan itulah manusia bisa belajar dan menjadi lebih kuat lagi. Manusia memiliki pilihannya, apa ia akan kalah dengan ketakutannya dengan menyerah begitu saja atau melawan rasa takutnya itu ya walaupun harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Aku mendekatkan wajahku kearah telinga Artizy. "Mungkin Ellen masih merasa tidak puas dengan hasil bertandingnya tadi, selain itu mungkin dia masih teringat akan ketakutannya terhadap darah."
Mika dan yang lain juga terus mencoba menyemangati Ellen tetapi entah kenapa hal itu seakan sia-sia, Ellen seperti sudah sangat menyerah dengan keadaannya saat ini.
"Ellen, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Karin sambil memandang Ellen yang pandangannya tidak berekspresi seperti biasanya.
Ellen hanya mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Apa yang membuat mu sangat takut dengan darah?"
Semua terdiam setelah mendengar apa yang di tanya oleh Karin, para anggota kelas termasuk aku juga sangat ingin tau apa sebab ia begitu takut terhadap darah.
Ellen mulai bercerita sambil memegang erat tangannya.
"Kalian tau, aku bukan berasal dari Distrik ini. Aku dan beberapa anggota clanku adalah pendatang di Distrik ini,"
"Sebelum aku berhasil di evakuasi oleh para anggota The Guardian, aku melihat pembantaian yang sangat mengerikan di hadapanku dengan kedua mataku sendiri. Pembantaian yang dilakukan oleh sekelompok orang karena telah menolak beraliansi dengan kelompok mereka!" lanjut Ellen yang mulai berlinang air mata.
Aku menahan emosiku yang mulai memuncak karena kisah yang di ceritakan Ellen sangatlah menyedihkan, itulah mengapa aku sangat membenci peperangan, bukan hanya melahirkan kebencian, kesengsaraan namun juga melahirkan mimpi buruk yang menghantui siapapun. Mereka yang mempunyai harapan, namun hari itu tidak akan pernah datang karena peperangan.
"Alasan mereka ingin mengajak clanku masuk kedalam aliansi kelompok mereka adalah karena kami para Beast Warrior di anggap sangat ahli dalam menjinakkan para Beast dan bisa menjadi senjata yang sangat berguna jika mampu mengendalikan Beast legendaris!"
"Apa!? Beast legendaris?" tanya Artizy terkejut.
Ellen menyapu air matanya yang tersisa di pipinya lalu mengangguk. "Iya, Beast Legendaris. Aku juga tidak tau apa itu Beast Legendaris namun kata tetua, mereka memang ada dan para anggota clan kami yang terpilih sajalah yang mampu mengendalikan mereka dan berkomunikasi langsung dengan mereka!"
Aku yang mendengar hal itu seperti tidak mampu menelan ludahku sendiri. Kepalaku dipenuhi pertanyaan dan mulai berandai-andai, apa jadinya jika mereka mampu mengendalikan Beast legendaris itu, apa perang akan terjadi lagi, dan banyak apa-apa lainnya yang melayang di kepalaku.
...-Tbc-...