
"Wah ... tidak ku sangka, kita bakal bertemu disini Mika!" ucap murid laki-laki itu dengan tatapan antusias.
"Hmm iya, tapi kenapa bisa?" ucap Mika keheranan.
"Mungkin ini takdir, Mika. Iya ini Takdir!" ucapnya sambil memegang kedua tangan Mika.
Entah kenapa Mika langsung melepaskan tangan Ryuu lalu berlari kearahku.
"Eh Mika! Kenapa kau bersembunyi dibelakangku?"
Mika tidak menjawab pertanyaanku, Ryuu mendekat ke arahku dengan tatapan tajamnya lalu memegang kerah bajuku yang membuat tubuhku sedikit terangkat.
"Hmm, kalian punya hubungan spesial hah!?"
Aku menatap matanya tanpa rasa takut dan belum sempat aku menganga untuk mengucapkan beberapa kalimat, Artizy langsung menarik tubuh Ryuu ke belakang.
Artizy menatapnya, seperti ingin mengajak berkelahi melihat sobatnya di perlakukan seperti itu di depan matanya.
"Jangan berani-berani kau mengganggu sobatku yang satu ini!" balas Artizy memegang kerah bajunya Ryuu.
Karin melihat hal tersebut langsung berlari ke arah kami dan mencoba melerai tetapi usahanya seperti terhalang setelah melihat wajah Artizy yang berubah menjadi menyeramkan dan penuh amarah.
Aku mencoba menenangkan Artizy. "Sudahlah Artizy, lepaskan saja dia! Lagi pula aku tidak apa-apa."
Artizy melepaskan Ryuu lalu berkata. "Sekali lagi kau melakukan itu, kau pasti akan menyesal!"
Ryuu sama sekali tidak ada tatapan ketakutan dimatanya, dia malah tersenyum angkuh setelah melihat lambang Clan Hunter milik Artizy. "Rupanya kau dari Clan Hunter! Pantas saja kau tindak seperti ini, sangat menyedihkan. Dasar Clan monster!"
Karin memegang tangan Artizy lalu menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan jangan bertindak lebih jauh lagi.
Aku mendengar hal itu tentu saja tidak terima, dengan lantang aku berkata kepadanya. "Mohon maaf sebelumnya tetapi, temanku yang satu ini bukan Monster seperti yang kau bilang itu. DIA ADALAH TEMANKU!"
Artizy menetapku lalu aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum kepadanya.
Melihat ketegangan ini seorang murid perempuan dengan seorang guru perempuan berlari ke arah kami.
"Ryuu minta maaf sekarang!" tegas murid perempuan itu.
Di dalam benakku, aku berpikir mungkin dia adalah ketua kelas dari kelas Ryuu, tentu ini akan kesan pertamanya kepada kami menjadi buruk akibat ulah Ryuu.
Mr. Jack lalu datang dan menarik kami berdua, beliau menyuruh kami minta maaf padahal kami juga tidak salah apa-apa.
Guru perempuan itu juga menyuruh Ryuu untuk minta maaf, tetapi Ryuu malah melangkah pergi menjauh dengan tatapan kesal padahal dia terus dipanggil-panggil oleh sang guru itu.
"Maafkan perilaku anak murid saya, mungkin dia sedang mengalami masa-masa sulit yang mengakibatkan dia berperilaku seperti itu. Ryuu anak yang baik dan tidak biasanya dia seperti itu," ucap guru itu sambil menundukkan kepalanya kearah kami.
Aku dan Artizy juga meminta maaf karena telah membuat kekacauan, dan Mika juga ikut minta maaf karena ulahnya lah semua hal ini terjadi. Aku sama sekali tidak menyalahkannya tetapi menyalahkan Ryuu karena bertindak seperti anak kecil.
※※※
Saat perjalanan menuju pusat pelatihan aku duduk bersebelahan dengan Artizy, entah kenapa wajah Mika terlihat murung dan tidak bersemangat.
Sepanjang perjalanan, Artizy berbicara tentang game yang ia mainkan akhir-akhir ini, dia bercerita tentang game DMC dan menceritakan bagaimana dia memainkannya.
"Lalu karakter utamanya berubah menjadi iblis tetapi dia bisa mengendalikannya Muzzy! Hebat bukan?" ucap Artizy dengan antusias.
"Hmm hebat, tapi aku belum pernah memainkannya jadi aku kurang tau gamenya seperti apa?"
"Tenang saja nanti aku pinjamkan CDnya, tapi apa kau punya Konsel gamenya?"
"Ada kok, aku lebih sering bermain game ringan seperti Harvest moon,"
"Hah serius! Aku juga sering memainkan harvest moon, kau memainkan seri tahun berapa?"
"Seri tahun 2*** back to nature, aku juga baru main sampai tahun ke 4,"
Artizy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sombong. "Rupanya sobatku ini tidak jago bermain game, aku sudah tahun ke 33! Dan seri yang kumainkan juga bermacam-macam."
"Walaupun hanya main sampai tahun ke 4 tapi aku menikmati permainannya, bagiku itu sudah cukup,"
"Hmm benar juga ya, aku terkadang bosan lalu aku sering membuat tidur si playernya," ucapnya sambil menggaruk kepalanya.
Aku melirik ke arah Mika dan dia masih saja terlihat murung, mungkin aku akan mencoba menghibur ketika sudah sampai di tujuan.
...
Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai di pusat pelatihan itu. Tempatnya sangatlah luas dan udaranya sangat sejuk padahal waktu menunjukkan pukul 11.00 pagi tetapi suhu disini tidak terlalu panas.
"Wah ... inikah pusat pelatihan kita!" ujar Karin sambil melihat-lihat sekeliling.
Mr. Jack memerintahkan kami untuk berbaris dan melakukan absen, hal itu juga sama dilakukan oleh sekolah kejuruan Warrior cabang Distrik Java Hill.
Setelah selesai absen, seorang pria dengan memakai baju ala pelaut mendekat ke arah kami.
"Selamat pagi, Warrior-warrior muda sekalian!" sapanya dengan aksen Inggris yang kental.
"Selamat pagi!" sahut kami kompak.
"Selamat datang Mr. Jack dan murid-muridnya dan juga selamat datang ibu Mikado dan Murid-muridnya,"
"Saya sudah mendapatkan data bahwasanya saya akan mendapatkan 2 kelas dari tiap cabang sekolah kejurusan Warrior dari pihak sekolah kalian masing-masing," lanjut pria itu sambil tersenyum kepada kami semua.
Seorang wanita muda mendekat kearahnya lalu membisikkan sesuatu kepadanya, dan seketika ekspresi pria tadi berubah.
"Eh maaf saya lupa untuk memperkenalkan nama, perkenalkan nama saya Edward Kenway, atau biasa di panggil Kapten Edward dan sekali lagi saya ucapkan selamat datang di pusat pelatihan Jack Daw milikku ini!"
Kami semua bertepuk tangan dengan meriah, Artizy melompat-lompat kegirangan seperti tidak sabar untuk melakukan pelatihan.
Kapten Edward juga memperkenalkan assistennya tadi, dia bernama Anna. Selain memperkenalkan asistennya, Kapten Edward juga menjelaskan apa saja yang akan kami lakukan selama 3 bulan di sini.
"Jadi kalian akan mendapatkan suatu misi yang harus kalian selesaikan, pada hari seminggu sebelum berakhirnya pelatihan ini. Misi yang kalian dapatkan akan berbeda-beda, mulai dari solo, duet, sampai grup, jadi saya harap kalian benar-benar berjuang untuk diri kalian!" lanjut Kapten Edward kepada kami.
Kami semua sangat antusias dan tidak sabar lagi untuk melakukan pelatihan, apa lagi disini kami bebas untuk menggunakan kemampuan Warrior kami, karena disini zona aman dari penduduk. Walaupun bebas, kami tidak diizinkan untuk saling bertarung satu sama lain kecuali kami mendapat izin dari Kapten Edward.
※※※
Untuk hari ini kami semua di perintahkan untuk istirahat dan mulai membiasakan lingkungan sekitar yang udaranya terasa lebih dingin karena tanah disini memang memiliki keunikannya sendiri.
Setelah makan malam, aku melihat Mika di balkon lantai 2 sedang menatap langit malam yang dipenuh dengan bintang-bintang dan bulan yang baru berganti fase awal kemunculannya.
Aku mendekat lalu menyapanya. "Hey ... apa yang kau lakukan di luar ruangan? Apa kau tidak merasa kedinginan?"
Dia memalingkan tubuhnya lalu menatapku dengan wajah murung. "Hmm iya suhu disini cukup dingin, tapi aku sedang memikirkan sesuatu!"
"Apa yang tengah kau pikirkan, Mika?"
"Ryuu," ucapnya lalu memandang langit.
"Hmm si Ryuu itu, biar ku tebak dia itu kenalan mu?" tanyaku tersenyum lebar.
"B-bagaimana kau tau Muzzy? I-iya dia teman masa kecilku dan juga ...,"
Mika terdiam, aku memandang dia dengan penuh tanda tanya.
"Juga apa?" tanyaku kemiringan kepalaku.
"Tolong rahasiakan ini lagi ya, Ryuu itu lah calon tunanganku. Padahal aku sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini!" ucapnya sedikit kesal.
"Pantas saja si Ryuu itu tadi marah sekali ketika aku berada di dekatmu,"
"Hmm, maafkan aku Muzzy. Karena aku, kau jadi punya masalah tadi," Mika sambil membungkukkan kepalanya kepadaku.
"Eh ... aku tidak merasa tadi itu masalah kok, lagi pula Ryuu juga yang salah karena sudah bertindak seperti anak kecil!"
Mika lalu tersenyum manis sambil membenarkan rambutnya yang di tiup angin dengan lembutnya, seakan-akan membelai rambut hitam lurus milik Mika.
Mika memalingkan wajahnya karena malu karena sejak dari tadi aku terpana melihat dirinya. "M-muzzy bisa kau berhenti memandangku, aku malu!"
Aku yang baru tersadar seperti habis di hipnotis. "Whaa ... Maaf Mika hehe"
Hembusan angin tiba-tiba terasa semakin dingin, jadi kami berdua memutuskan untuk masuk dan ingin ke kamar masing-masing. Entah kenapa Mika menceritakan bahwa dia sudah mencintai orang lain.
Dia bercerita bahwa dulu saat dia masih kecil, ada seorang anak laki-laki yang menyelamatkan hidupnya dan sampai saat ini dia mencari anak itu.
"Semoga kau cepat bertemu dengan anak laki-laki itu Mika!" ujarku dengan senyum padahal ada rasa sedikit kecewa karena rupanya Mika sudah punya seseorang di hatinya.
"Hehe yang tadi itu tolong dirahasiakan ya, Muzzy!" pintanya sambil tersenyum.
Belum sempat aku menjawab, rupanya ada Karin dan Lumia yang tiba-tiba mengejutkan kami berdua.
"Hayo rahasia-rahasia apa nih?" goda Lumia sambil tersenyum lebar.
Wajah Mika memerah lalu segera masuk ke kamarnya. "Tidak ada!"
Aku memandang Karin yang saat itu ekspresinya datar.
"Apa yang kau tunggu cepat kembali ke kamarmu!"
Aku langsung beranjak dan kembali ke kamar, yang diisi oleh Si Kunyuk Artizy, Reznov dan Robin. Entah kenapa kami selalu di letakkan di kamar yang sama.
"Nah ini dia orang yang di cari-cari, kemana saja kau?" ujar Artizy sambil menghidupkan Laptopnya yang sudah terpasang Joystick.
"Iya setelah makan malah menghilang, pasti pacaran dengan Mika!" goda Robin.
"Eh sembarangan, tadi aku cari angin!"
Artizy menekukkan tangannya lalu membuat mimik konyol. "Hilih CaRi AnGiN!"
"Sudah-sudah, Comrade Muzzy! ayo ikut kami bermain game saja," ajak Reznov.
Tanpa basa basi aku langsung ikut bermain game dengan mereka bertiga. Kami memainkan game sampai larut tengah malam, saat bermain game aku jadi teringat dengan anak perempuan berambut pendek itu.
...
Dan besoknya laptop milik Artizy di sita karena kami bangunnya kesiangan karena terlalu asik bermain.
"Whaaa ... laptop ROG kesayanganku, tolong jangan sakiti dia Kapten Edward!" Artizy merengek seperti bayi.
Karena aku, Robin dan Reznov ikut bermain bersama jadi mau tidak mau kami harus ikut merasakan hukuman, yaitu membersihkan ruang makan beserta semua peralatannya.
...
Kami berempat malah keasikan dan tidak merasa ini adalah hukuman, kami membersihkan ruang makan dan peralatannya dengan hati gembira sambil bermain-main seperti anak kecil.
"Nanti kita lakukan lagi yuk teman-teman, aku tidak pernah dihukum bersama-sama seperti ini," ucap Artizy sambil membersihkan jendela dengan kain lap.
Kami mendengar permintaan konyol Artizy lantas tertawa bersama-sama, dan hari ini adalah hari pertama agenda pusat pelatihan yang membuatku semakin bersemangat.
Sambil tersenyum memandang kaca jendela aku berkata di dalam hatiku, mimpiku menjadi seorang The High Table akan tercapai, ayah ibu aku pasti akan membuat kalian bangga!
-Tbc-
Pojok Fyi
● Pusat Pelatihan Warrior adalah suatu program yang di wajibkan untuk para Warrior muda untuk mendapatkan KLW (Kartu Lisensi Warrior), di program ini mereka akan di latih selama 3 bulan lamanya.
Pusat Pelatihan Warrior memiliki banyak cabang di tiap distrik yang ada di dunia. Biasanya pusat pelatihan Warrior akan mendapatkan 2-4 kelas tiap tahunnya.