
Sensasi dari babak pertama tadi masih terasa sampai saat ini, tubuhku sepertinya masih tidak bisa melupakan sensasi dari pasca bertarung tadi. Sensasi rasa sakit setelah merasakan tangan kiri ku yang putus masih juga terasa, dan ini benar-benar gila.
Aku tertanya kepada Rubick-chan apakah ia juga merasakan apa yang kurasa, namun rupanya hanya aku sendiri yang merasakan sakitnya kehilangan sebuah lengan.
Pantas saja banyak dari para Warrior yang merasakan ngerinya pertarungan, biasanya mereka mengalami gangguan mental baik itu berupa ketakutan yang berlebihan atau susahnya mengendalikan emosi.
"Sebaiknya kau kembali keruangan perawatan dulu, Muzzy! Dari wajah mu terpampang jelas kau masih merasa sakit," saran Artizy kepadaku.
Namun aku mengatakan, aku baik-baik saja dan mampu untuk menenangkan diriku sendiri. Semua itu juga berkat bantuan Mika dan juga Rubick-chan yang terus menerus mengeluarkan aura penyembuh kepadaku.
"Pertarungan berikutnya akan berlangsung 50 menit lagi, sebaiknya kita berkumpul dengan yang lainnya, mereka pasti membutuhkan kita!" saranku juga.
...
"Bagaimana keadaan mu, Nak Muzzy?" tanya Mr. Jack kepadaku.
Aku mengangguk lalu berkata. "Sudah berangsur-angsur membaik Mr. Jack!"
Mr. Jack menepuk-nepuk pundakku lalu berkata. "Syukurlah kalo begitu, terima kasih banyak ya Nak Muzzy!"
Lalu beliau juga menepuk pundak Artizy yang juga berada di sampingku. "Terima kasih banyak juga ya Nak Artizy, kalian berdua sudah memberikan yang terbaik untuk kelas ini!"
Kami berdua tersenyum bangga, ya walaupun ada rasa malu karena di puji oleh Mr. Jack tapi perasaan ini sangatlah menyenangkan karena bisa membuat orang lain bahagia.
Tiba-tiba saja lampu yang ada di arena mati nyala secara mendadak, dan guncangan kecil juga terasa, guncangan itu seperti gempa namun dengan skala kecil.
"Wow, ada apa ini?!" tanya Artizy yang terlihat terkejut karena merasakan guncangan.
Lambat laun guncangannya semakin terasa kuat, beberapa penonton juga terlihat panik namun untungnya arena memang di rancang kokoh dan biasanya jika terjadi suatu bencana alam, arena sering dijadikan posko atau tempat penduduk mengungsikan diri.
Listrik sempat padam beberapa saat, namun hanya beberapa detik saja.
"Gempa ini, seperti malam itu!" ujar Mika yang berpegangan denganku karena takut.
"Kau merasakannya juga, Mika?" tanya Ellen.
Ellen lalu bercerita bahwa ia juga merasakan getaran dan bukan hanya getaran namun juga suara auman atau suara yang amat keras di dalam tanah. Bahkan Jeo juga bereaksi ujarnya, dan ini adalah kala pertama kali ia dan Jeo merasakan hal seperti itu.
"Suara dan guncangan?" tanya Artizy kebingungan sampai-sampai ia memiringkan kepalanya.
Bukan hanya Artizy saja yang bingung, anggota kelas yang lain juga tidak pernah mendengar suara dan bahkan merasakan getaran pada malam itu.
Ellen tiba-tiba saja menutup telinganya.
"Suara itu! Terdengar lagi!" ujar Ellen yang terlihat panik.
Kepalaku dibuat bekerja keras untuk berpikir, kenapa hanya Ellen yang mendengar suara itu.
"Ellen, tenangkan diri mu, kami tidak mendengar apapun disini, hanya ada suara penonton," ucap Mr. Jack yang mencoba menenangkan Ellen.
Tubuh Ellen langsung ambruk, yang membuat seluruh anggota kelas menjadi kalang kabut di tambah lagi persiapan pertarungan yang hanya menyisakan 20 menit lagi.
"Apa yang terjadi pada Ellen!?" Mika panik sambil mencoba membangunkan Ellen dengan menepuk pipi Ellen dengan lembut.
Para medis akhirnya datang setelah Mr. Jack memberitahu mereka. Mereka berkata, Ellen hanya mengalami shock atau terkejut saja, tapi Ellen disarankan tidak dianjurkan ikut bertanding yang artinya dia sementara di bangku cadangkan dulu.
***
Another Pov
Ellen mulai siuman dari pingsannya, ia terbangun di ruangan medis yang saat itu ditemani oleh Mika, Lumia dan Karin.
"Syukurlah kau sudah siuman, apa kau baik-baik saja?" tanya Mika.
Ellen mencoba bangun dari posisi berbaringnya, lalu memegang kepalanya. "Kepalaku masih terasa sakit, tapi aku baik-baik saja."
"Beristirahatlah dulu, Ellen!" saran Karin, sambil menyerahkan segelas air puith.
Lumia mengangguk cepat sambil tersenyum. "Untuk sementara kau dan Mika di cadangkan dulu kata Mr. Jack."
Ellen menatap Mika dengan ekspresi sedihnya. "Apa, kenapa Mika juga ikut di cadangkan!?"
Mika lalu tersenyum kearah Ellen. "Siapa yang akan menjaga mu, tidak masalah kok di cadangkan. Kita hanya perlu mendoakan temen-teman yang lain agar memenangkan pertandingan."
Ellen tersenyum sedih, ia meminta maaf kepada Mika dan yang lain karena sudah merepotkan.
...
Di sebuah altar besar, duduk seorang pria dengan jubah hitamnya yang khas di temani para budak-budak pemuas hawa nafsunya yang berada di sampingnya. Ia tertawa sambil memperhatikan sebuah bola biru yang bersinar.
"Sebentar lagi, Baruna akan menjadi milik kita. Aku sudah bisa merasakan ia bereaksi terhadap Blue Orb ini!" ucapnya lalu berdiri dari singgasananya.
Wilkes berjalan sambil sesekali tersenyum lalu ia memanggil anak buah kesayangannya, yaitu Emeralia.
Emeralia menunduk memberi hormat kepada tuannya Wilkes.
"Ada apa tuan memanggil hamba?"
"Panggil Ruxio beserta pasukkannya, kita akan mencari informasi sarang Baruna!"
"Siap tuan, saya akan segera memanggil Ruxio. Kalo begitu saya undur diri, Tuan!" ucap Emeralia lalu meninggalkan Wilkes untuk memanggil Ruxio.
Sambil berjalan kembali ke singgasananya, Wilkes bergumam di dalam hatinya.
Tidak ada siapapun yang akan menghalangiku kali ini! Batin Wilkes.
...
Murid laki-laki itu bernama Sato, ia pemilik warrior Dawn ride dari Clan D Horse dengan senjata Double Iron Spear. Sedangkan murid perempuan yang terpilih adalah Mai, ia memiliki warrior Sioux Mage dari Clan Lighting Bird dengan senjata Feather Thunder Bird.
Ke empat orang yang terpilih di persilahkan melakukan persiapan seperti melakukan peregangan terlebih dahulu dan membicarakan rencana yang akan di gunakan.
"Tunjukkan semua hasil latihan kita, Reznov!" teriak Artizy di samping lapangan.
Reznov mengangguk lalu tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
"Ayo Lumia, jangan mau kalah dengan Reznov!" tutur Karin yang juga disamping Artizy.
Lalu mereka berdua saling bertatapan sambil tersenyum satu sama lain.
Maze di pilih untuk menggantikan Muzzy yang biasanya memberikan arahan karena kondisi Muzzy yang masih di dalam kondisi pemulihan pasca bertarung.
"Orang yang bernama Sato itu adalah musuh alami mu, Lumia. Namun dia punya kecepatan yang mampu membuat api mu mengecil!" ujar Maze kepada Lumia.
"Bukan hanya itu, Mai sang Sioux Mage atau sang penyihir petir adalah musuh alami kau Reznov. Dia petarung jarang jauh yang akan sangat merepotkan kalian, menyerang dengan beberapa helai bulu Thunderbird yang sangat langka!" lanjut Maze.
Reznov melirik ke arah Mai lalu berkata. "Seorang pelaut tidak akan pernah takut dengan badai!"
Maze tersenyum. "Aye Kapten, ku harap Blackpearl tidak akan tenggelam terkena ombak Rogue hari ini!"
"Petir milik Mai dan kecepatan sato akan ku bakar sampai habis dengan api yang di anugrahi oleh dewa Api!" ucap Lumia dengan penuh percaya diri lalu melakukan tos kepalan tangan dengan Reznov lalu dengan Maze.
Setelah melakukan beberapa analisis Maze pun melangkah menjauh dari arena karena waktu untuk melakukan pemanasan dan pembuatan rencana sudah habis.
***
Seluruh penonton ikut menghitung mundur jalannya pertandingan.
Napas para petarung sudah mulai terasa begitu berat karena efek teriakan penonton yang mulai menguncang mental mereka.
"Delapan!" teriak penonton ramai-ramai.
Reznov melirik Lumia yang melompat-lompat kecil sambil sesekali mengatur napasnya. "Gugup?"
Lumia hanya tersenyum kecil. "Sedikit, lagi pula ini final. Hal itu wajar terjadi bukan?"
"Lima!"
Reznov melakukan Summoning , namun kali ini Summoning yang ia lakukan berbeda dari biasanya. Mula-mula sebuah genangan air muncul lalu keluarlah bilah pedang Tidebringer Sword miliknya dengan efek deburan ombak layaknya seorang pelaut.
"Admiral is on board!" ucap Reznov tersenyum.
Lumia juga telah melakukan summoning, dan mereka berdua telah siap melawan warrior dari kelas 10D.
...
Ketika hitungan telah melewati angka satu, kelas 10D langsung melancarkan serangan. Mai langsung menerbangkan beberapa helai bulu yang beraliran listrik miliknya ke arah Reznov dan juga Lumia.
"Lumia, menghindar!" ucap Reznov sambil melompat kesamping.
Lumia dan Reznov berhasil menghindari serangan dadakan dari Mai namun rupanya dibelakang mereka ada Seto yang langsung menyerang mereka berdua.
"Licik juga kau ya!" ujar Reznov sambil menahan tongkat besi milik Seto dengan pedangnya.
Reznov tersenyum lalu berkata. " pedangku dirancang bukan untuk hanya bisa menahan serangan namun juga mampu menyerang walaupun dalam posisi bertahan!"
Sebuah percikan ombak tercipta yang mengenai lengan Seto.
"Apa?!" Seto terkejut, ia langsung melompat mundur sambil memegang lengan kanannya terluka akibat terkena percikan ombak milik Reznov.
Miracle of Wave milik Tide harus di isi ulang lagi dalam 2 menit sekali, aku harus berhati-hati!, batin Reznov.
Di sisi lain arena, Lumia tengah asik bertarung lempar-lemparan serangan dengan Mai.
"Api mu tidak mampu menandingi kekuatan petir dari Dewa Thunder bird milikku!" ujar Mai mencoba mengintimidasi Lumia dengan kata-katanya.
Lumia menciptakan sebuah bola api yang besar di atas tongkatnya. "Oh ya, kalau begitu coba tahan ini dengan bulu mu itu, apakah bulu-bulu itu akan terbakar habis?"
Mereka berdua melempar serangan mereka masing-masing dan terciptalah sebuah ledakan yang bukan hanya membahayakan mereka berdua namun juga rekan mereka yang saat itu juga tengah bertarung.
"Lumia! Kendalikan api mu itu, jangan sampai membakarku juga!" teriak Reznov yang tengah menunduk berlindung dari lidah api.
Dengan santainya Lumia malah tertawa sambil menggaruk kepalanya. "Hehe, maaf aku terlalu bersemangat!"
Reznov dan Seto kembali menjual beli serangan. Bahkan Reznov terlihat kewalahan karena harus selalu menghindari setiap serangan yang di lakukan oleh Seto.
Double Iron Spear miliknya sangat merepotkanku, aku harus terus menambah kekuatan dari Miracle of Wave agar efeknya semakin kuat batin Reznov lalu menancapkan pedangnya ke tanah.
"Apa kau ingin menyerah?" tanya Seto keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Reznov.
Reznov tersenyum lalu berkata. "Tidak, kau yang seharusnya menyerah!"
Sebuah sigil kuno tiba-tiba muncul di hadapan Reznov dan muncullah beberapa awak kapal yang sudah tidak karuan bentuknya, ada yang hanya tersisa tengkoraknya saja dan ada juga beberapa awak kapal yang bentuknya seperti manusia setengah ikan.
"Sudah ku bilang, sebaiknya kau menyerah. Awak kapalku sedang dalam mood yang tidak baik hari ini apalagi melihat kaptennya kerepotan seperti ini!" ucap Reznov lalu mengangkat pedangnya seperti mau memberi aba-aba untuk melakukan serangan.
"Para awak kapal milik Reznov itu sangatlah kuat loh, kami sering menggunakan mereka untuk berlatih!" ujar Artizy lalu berteriak memberi semangat kepada Reznov dan juga Lumia yang juga saat itu sedang ingin menunjukkan siapa penyihir dengan kekuatan penghancur paling kuat di arena.
-Tbc-