
Another Pov
Sandman dan rekan-rekannya akhirnya mulai memasuki sebuah gua yang sebenarnya jalan menuju ke dalam kawah gunung api itu.
Suhu udara mulai tidak karuan, terkadang dingin terkadang panas. Dinginnya udara dikarenakan efek pendinginan bumi yang memang sudah menjadi tugasnya untuk meredam panasnya lava yang ada, dan panasnya suhu udara dikarenakan angin panas yang bertiup dan saat ini juga gunung api itu tengah beraktivitas dengan santainya sambil mengeluarkan sekumpulan asap panas di mulutnya.
"Ini aktivitas abnormal, kenapa gunung ini tetap aktif walaupun sudah berumur berabad-abad tahun lamanya!" protes Lynyrd yang merasa sangat terganggu dengan panas dingin yang tengah ia alami.
"Sepertinya kau harus belajar banyak dengan nona Sarah," ujar Sandman sambil melihat Sarah yang tengah antusias terus menerus mengambil berbagai potret yang ada di sekitarnya.
"Dan kau menyebut diri mu seorang warrior?" satir Blink dengan santainya berjalan mendahului Lynyrd yang wajahnya seperti tengah di injak oleh seorang anak kecil dan dia menangis tersedu-sedu.
Ketika tengah asik mengambil potret, Sarah menemukan sebuah ukiran yang kondisinya sudah tidak terlalu jelas lagi karena dimakan usia.
"Teman-teman, coba lihat ini!" tunjuk Sarah ke ukiran itu.
"Seekor banteng raksasa atau apa itu? Ukiran itu terpotong," tanya Lynyrd yang mencoba memahami sekilas tentang ukiran dinding itu.
Ada sekitar 5 ukiran yang terukir di dinding gua itu, namun 2 diantaranya telah rusak parah dan sisanya kondisinya juga tidak bisa dibilang dalam kondisi yang sempurna.
"Coba lihat ini, sepertinya ini manusia, apa yang mereka tengah rebutkan itu?" tunjuk Linkin ke ukiran yang memperlihatkan manusia tengah bertarung satu sama lain.
"Mereka merebutkan cahaya atau matahari, entahlah?" Sandman juga ikut menduga-duga namun kesimpulan itu langsung dibulatkan oleh Sarah yang ia adalah seorang arkeolog.
"Mereka bertarung memperebutkan cahaya dan di saksikan oleh Iblis, lalu Iblis itu datang untuk menghancurkan mereka semua!" pungkasnya sambil mengambil kuas untuk menyapu ukiran itu.
"Maksud mu, membiarkan mereka membunuh satu sama lain lalu memanfaatkan keadaan yang kacau?" tanya Lynyrd lagi kepada Sarah.
Ketika mereka tengah asik berdiskusi, pasukan Wilkes yang di pimpin oleh Luxio telah berkumpul untuk menyergap mereka dari luar gua.
"Sepertinya mereka sudah memasuki gua ini, kapten Luxio!" ucap salah satu prajurit monster milik Luxio.
"Biarkan saja mereka, mereka tanpa sadar yang akan membawakan benda itu kepada kita," ucap Luxio sambil tersenyum jahat.
Luxio lalu memerintahkan pasukkannya untuk membuat jebakan dan tak lupa pula ia langsung membuat strategi layaknya seorang jendral perang yang tengah asik memainkan bidaknya.
...
Sandman dan pasukannya akhirnya menemukan sebuah aula besar yang di tengahnya terdapat sebuah wadah berbentuk cawan besar yang di sisinya terdapat kalimat kalimat yang tidak bisa mereka terjemahkan.
"Nona Sarah, hati-hati dengan langkah mu!" ujar Linkin memperingati Sarah yang ingin melangkah maju.
Linkin merasa tidak mungkin tempat ini tidak menyimpan sebuah jebakan atau teka-teki. Ia lalu mengeluarkan alat pemindai yang fungsinya memindai tempat itu apakah ada jebakan yang tersembunyi atau ada tombol-tombol yang bisa mereka gunakan.
Dan benar saja dugaan Linkin, banyak sekali tombol yang ada di patung-patung di ruangan itu. Patung-patung itu seperti memberi petunjuk kepada mereka semua, layaknya sebuah tanda yang harus mereka artikan sendiri. Beruntung dalam pasukan mereka ada seorang nona Sarah, walaupun usianya bisa dikatakan masih tergolong muda namun ia sudah sangat berpengalaman dalam memecahkan teka teki yang ada di dunia ini. Ya walaupun tidak semuanya berhasil di pecahkan karena dunia ini punya rahasianya sendiri yang tidak perlu manusia ketahui.
***
"Lihat, seluruh patung di ruangan ini memiliki bentuk yang berbeda-beda!" tunjuk Linkin sambil mencoba menganalisa patung-patung tersebut.
Sarah lalu melangkah menuju salah satu patung yang ada di sampingnya di temani sang kapten, Sandman.
"Ini patung suku Dayak, suku yang mendiami pulau Borneo dahulu kala," ucap Sarah lalu berjalan menuju patung selanjutnya.
Satu persatu dari patung itu berhasil mereka ketahui, mulai dari patung suku Jawa, suku Madura, suku Batak, suku Minang sampai di patung terakhir yaitu suku Papua.
"Apa arti dari patung-patung ini semua, nona Sarah?" tanya Sandman kepada Sarah yang terlihat berpikir.
Dikepalanya muncul berbagai jawaban bahkan diorama tentang semua ini. Layaknya seorang cenayang, ia memutar-mutar otaknya.
"Ini semua adalah suku yang ada di negara Indonesia, tapi ini tidak masuk akal!" ujar Sarah.
"Lalu bagaimana caranya kita bisa memecahkan jig saw ini?" tanya Lynryd sambil menggaruk-garuk kepalanya yang terasa sangat gatal padahal ia sendiri tidak memiliki rambut sehelaipun di atas kepalanya itu.
Sandman lalu berjalan mengitari sambil melihat dengan seksama patung-patung itu berharap bisa membantu menemukan jawaban yang sebenarnya.
"Aku menyerah, kepala ku sudah overheat!" keluh Lynryd sambil memperlihatkan kepalanya yang bersinar terkena pantulan cahaya matahari dari sela-sela ruangan itu, dari semua prajurit atau anggota yang ada padahal ia sama sekali tidak membantu berpikir.
"Nusantara!" ujar Blink sambil memutar-mutar pisau kecilnya.
Sarah langsung mengangkat satu telinjuknya. "Benar, jawabannya Nusantara. Suku-suku ini semua adalah Nusantara, jadi kalimat-kalimat yang ada di cawan besar itu berarti-"
"Bhinneka tunggal ika!" potong Linkin sambil tabletnya yang isinya penuh dengan informasi tentang Nusantara.
Mereka semua berjalan ke tengah ruangan itu, mengelilingi cawan besar yang saat itu tidak ada apapun di dalamnya.
"Sepertinya kita harus menyusun ukiran batu-batu ini menjadi sebuah simbol," ucap Sandman menunjuk ke arah batu-batu yang bentuknya seperti puzzle.
"Serahkan saja padaku!" sahut Sarah dengan semangat 45 dimatanya.
"Sepertinya, nona Sarah jauh lebih hebat dibanding dengan orang-orang yang membuat puzzle ini," puji Sandman kepada anggota barunya yang sejauh ini sangat membantunya.
Sarah hanya tersenyum malu lalu bekata. "Kapten ini bisa saja!"
Ruangan tiba-tiba saja bergetar lumayan kuat, langit-langit ruangan tadi yang awalnya terbuka tiba-tiba saja tertutup rapat bahkan sinar matahari yang awalnya mampu menembus serta menyinari ruangan tadi hilang begitu saja.
Ketika semua gelap gulita, muncul cahaya merah terang keluar dari cawan besar yang ada di hadapan mereka saat ini dan secara ajaib bola kristal berwarna merah ada di dalam cawan itu. Cawan itu juga mengeluarkan cairan seperti lava yang entah kenapa lava itu tidak seperti lava pada umumnya yang bersuhu panas.
"I-ini kah kehebatan orang pada zaman dulu yang kita tidak ketahui?" tanya Lynryd yang seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Sudah kubilang, dunia ini penuh misteri!" sahut Linkin sambil tersenyum puas.
Sandman langsung mencoba mengambil bola kristal itu namun niat itu dicegah oleh Sarah yang khawatir dengan mengambilnya bola Kristal itu keseimbangan dunia menjadi kacau namun Sandman menjelaskan ini semua demi umat manusia yang saat ini di ambang peperangan besar.
"Hanya ini yang bisa kita lakukan, nona Sarah. Percayalah denganku!" ujar Sandman mencoba menyakinkan Sarah.
Sandman lalu tersenyum kepada Sarah sambil menganggukkan kepala dengan maksud semua akan baik-baik saja.
"Aku percaya pada mu Kapten, tapi aku merasa ada sesuatu yang salah," ujar Sarah kepada kaptennya itu.
"Nona Sarah, di dunia ini kita harus memilih walaupun harus mengorbankan satu hal lain untuk menyelamatkan banyak hal lainnya," sahut Blink yang juga ikut menyakinkan Sarah.
Berkat kalimat yang diucapkan oleh Blink, tangan Sarah yang awalnya menahan tangan Sandman untuk mengambil bola itu akhirnya ia lepas.
Secara perlahan Sandman dibantu dengan alat dari Blink mengangkat bola Kristal itu lalu mereka masukkan kedalam sebuah robot beruang kecil ciptaan Linkin. Robot beruang kecil itu lalu menelan bola agar di simpan dalam perutnya. Robot kecil itu lalu menghilang layaknya sebuah butiran partikel.
Linkin lalu membuat tiruan bola Kristal itu dan memasukkannya kedalam sebuah koper hitam, ini semua adalah rencana mereka karena Sandman sudah tau bahwa ada pasukan Wilkes yang tengah menunggu mereka keluar dari gua itu.
"Nona Sarah, sebaiknya kau gunakan jubah itu lagi karena kita akan mendapatkan sambutan yang hangat oleh beberapa orang diluar sana," ucap Sandman sambil mencoba memakaikan jubah tak terlihat itu ke Sarah layaknya seorang kekasih yang memakaikan jaketnya kepada pasangannya.
...
"Sepertinya mereka tidak menyadari kita sudah menunggu mereka di luar sini!" ujar Luxio sambil tersenyum memamerkan giginya yang sudah tidak kuning lagi karena sudah rajin menggosok gigi.
"Bos mereka datang!" kata salah satu prajuritnya memperingati Bosnya Luxio.
Namun yang muncul adalah segerombolan Ursa yang masih kelaparan dan beberapa rudal dari Linkin.
"Terima Kasih sambutan hangatnya kalian para monster jelek sekalian!" Teriak Lynyrd yang langsung melompat ke udara lalu memukul keras tanah yang membuat getaran luar biasa.
Anak-anak buah Luxio yang hendak menyerang Lynyrd tiba-tiba saja berhenti dari langkahnya dan seketika kepala yang ada di harusnya di tempatnya malah terjatuh ke tanah.
Luxio lalu melemparkan suatu kertas yang membuat sebuah portal tiba-tiba saja terbuka.
Keluar lah 3 orang dari dalam portal itu. Mereka bertiga hanya tersenyum menatap para pasukan metal yang dipimpin Sandman, senyuman yang mereka tampilkan bukanlah senyuman ramah melainkan senyum aneh yang terasa seperti menginginkan mereka semua terbunuh.
"Oy kapten Luxio, sepertinya rencana mu kacau huh?" ucap Kalila sambil menenteng sebilah sabit besar berwarna putih.
"Haha, sepertinya begitu Kalila," sahut Dimna yang menyeret sebilah sabit besar mirip seperti milik Kalila namun miliknya berwarna hitam pekat.
"Bisakah kalian berdua memberikan rasa hormat kalian kepada kapten Luxio!" protes Rexzar kepada rekannya yang terasa kurang ajar.
"Sudahlah, itu tidak penting untuk saat ini," ucap Luxio lalu menunjuk Sandman yang dengan santainya tersenyum manis kepada musuhnya.
"Pasukan Metal yang sudah sering mengganggu kita akhir-akhir ini bukan?" tanya Dimna.
"Ayo kita lihat apakah mereka sekeras metal atau itu hanya nama yang konyol saja!" sahut Kalila sambil menjilat ujung sabitnya agar terlihat mengerikan.
Tanpa di sangka-sangka, pipi dari Kalila langsung mengeluarkan darah segar.
"Terlalu banyak bicara!" ujar Blink yang saat itu ada dibelakang mereka.
S-sejak kapan orang ini?, batin Kalila.
Dengan tinju besarnya, Rexzar mencoba menyerang Blink namun dengan cepat Blink menghindar.
"Cepat juga, tikus kecil itu!" puji Rexzar kepada Blink.
-Tbc-
Halo teman-teman semua, LB balik lagi hehe. Kondisi LB saat ini sudah sehat seperti sedia kala dan masa Isolasi mandiri LB juga sudah berakhir yey. Semoga teman-teman semua selalu diberi kesehatan ya dan yang saat ini sakit semoga lekas di cabut penyakitnya dan bisa kembali beraktivitas sedia kala.
Terima kasih ya udah mampir, maaf jika cerita yang LB bawa masih dibilang sangat sederhana. LB harap tulisan LB bisa menginspirasi kalian dan membuat hati kalian senang ( ◜‿◝ )
Sampai jumpa lagi teman-teman, keep safe ya (^∇^)ノ