Mythical Rubick

Mythical Rubick
25 | Vanguard



Pukul 6 pagi aku sudah bangun dan bersiap untuk membuat sarapan, sudah lama sekali aku tidak membuat sarapan untuk kakak dan kucingku Nala.


Aku membuat kare susu agar rasanya tidak terlalu pedas dan gurih dalam bersamaan untuk menciptakan rasa umami yang membuat lidah menari-nari ketika memakan masakan milikku.


Saat memasak aku ditemani oleh Nala yang selalu ceria berjalan ke sana kemari sambil mengibaskan ekornya ke kanan ke kiri yang menandakan ia tengah dalam kondisi senang.


"Nala, coba bangunkan Kakak ya!" pintaku kepada Nala.


Nala lalu menggeong dan langsung berjalan ke arah kamar kakakku, desain setiap pintu di rumahku memang ada pintu untuk kucing jadi dia bebas mau kemana saja.


Kakakku rupanya sudah bangun sedari tadi, dia menggendong Nala menuju dapur dan kamipun sarapan bersama.


"Hmm kare buatan mu memang enak, sama seperti masakan ibu," puji kakakku sambil menyantapnya.


Aku hanya tersenyum, dan entah mengapa setiap aku memasak makanan kesukaan kami tiba-tiba saja aku merindukan ibu dan ayah.


Setelah sarapan aku dan kakak biasanya jika di hari libur kami berdua melakukan latihan ringan, bisa itu lari pagi atau melatih bela diri. Dulu saat ayah masih ada, biasanya kami melakukannya bertiga dan setelah latihan ibu sering membuatkan kue atau cemilan manis untuk kami yang membuatku sering lupa diri karena kue buatan ibu terlalu enak.


...


"Woah, sepertinya kau telah mengalami peningkatan yang signifikan!" kata kakakku sambil menangkis pukulanku.


"Masih belum!" sahutku sambil memutar tubuhku lalu menendang dengan keras dengan kaki kananku.


Dengan santainya kakakku bisa menahan tendangan itu. "Spin Kick hah? Kau sangat berkembang sekarang!"


Dan dengan mudahnya kakakku membantingku ke tanah.


"A-aduh, kenapa Kakak selalu kuat sih?"


"Kau ingin tau alasannya?"


Aku mengangguk.


"Seperti yang ayah selalu katakan, Muzzy. Carilah alasan utama mu bertarung, untuk apa kau menggunakan kemampuan Warrior mu itu. Jika kau sudah menemukannya bisa di pastikan kau akan menjadi sangat kuat, tetapi alasan yang kau  temukan haruslah alasan yang baik!" ucap kakakku lalu menyentil keningku dengan tangannya.


"Aw sakit, tapi bagaimana menemukannya Kak?"


"Jawabannya ada di ujung langit hahaha,"


"Ih malah bercanda, ya sudah deh aku cari tau sendiri aja. Oh iya Kak, aku mau jalan dulu ya sebentar!"


Kakakku langsung menatapku sambil tersenyum lebar seperti curiga adiknya ingin menghabiskan waktu Golden Week dengan jalan-jalan bersama perempuan.


"Cie ... ada yang mau kencan nih, nanti ajak kerumah ya kenalkan pacar mu itu kepada Kakak dan Nala juga!"


Nala yang ada di teras ikut menggeong sambil mengibaskan ekornya ke kanan dan kiri. "Meong ..."


※※※


Setelah mandi aku langsung berangkat menuju halte bus, aku sudah berjanji akan datang sekitar jam 10 pagi tetapi waktu sudah menunjukkan jam 9.25 pagi.


...


Singkat cerita setelah menaiki bus selama kurang lebih 10 menit, akhirnya aku sampai di depan gerbang kuil atau rumah Mika. Karena hari ini adalah hari libur, terdapat banyak orang yang berkunjung ke kuil, mereka selain berdoa ada juga yang hanya sekedar melihat keindahan kuil.


Rupanya Mika menungguku di samping gerbang dengan Pakaian gadis kuilnya, rambutnya juga di ikat kepang kuda. Entah kenapa dia begitu manis dengan gaya rambut apapun.


"Maaf Mika, apa kau sudah menunggu lama?" kataku sambil mengatur napas karena berlari.


Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak kok, ayo masuk! Ibu dan Ayahku sudah menunggu?"


"Eh kenapa mereka menungguku?"


Mika hanya tersenyum sambil menarik tanganku.


Ketika akan memasuki kuil, aku di sambut oleh nenek Mika. Beliau tersenyum lalu memberikanku sebuah kertas keberuntungan dan mendoakanku agar di beri keberuntungan. Aku menjadi kebingunan kenapa beliau melakukan hal tersebut.


Belum sempat aku mengucapkan terima kasih kepada nenek Mika, Mika langsung menarik tanganku lagi.


Dia sangat bersemangat dan wajahnya berseri-seri, dia terlihat sangat senang pagi hari ini.


"Mika pelan-pelan!"


"Hehe maaf, sakit ya?" ucapnya sambil berhenti menarik tanganku.


Aku menggeleng. "Tidak, tetapi apa kau tidak malu menarik tanganku sejak dari tadi?"


Mendengar hal itu, sifatnya pemalunya kembali dan langsung melepaskan tanganku.


"Kau ini manis sekali ketika malu-malu seperti itu, Mika!" pujiku kepada Mika sambil tersenyum.


Wajahnya sangat merah dengan malu-malu ia menutup wajahnya dengan tangannya dan terkadang mengintip di cela jarinya.


Dia benar-benar manis dan imut. Aku semakin ingin melihat sifat manisnya dan imutnya.


Tibalah aku di depan sebuah aula yang di dalam kuil itu, di depan pintu aula itu tertulis tulisan Kebaikan adalah kekuatan yang paling kuat di banding apapun.


Dengan sedikit gugup aku menggeser pintu itu, jantungku benar-benar berdetak kencang seperti piston sebuah mesin yang tengah bekerja keras.


Setelah pintu terbuka aku melihat ayah Mika dan Ibu Mika tengah duduk dan anehnya lagi ada sebuah matras di tengah ruangan itu seperti sedang di siapkan untuk sebuah pertarungan jarak dekat.


Ibu Mika langsung tersenyum ketika melihatku dan berdiri menghampiriku.


"Ayo masuk! Ayah Mika sudah menunggu mu,"


Mendengar hal itu, membuatku bertanya-tanya ada apa gerangan terjadi.


Ayah Mika yang dari tadi duduk sambil menutup kedua matanya lantas membuka matanya dan berjalan kearahku.


"Ayahanda, inilah orang yang dulu pernah menyelamatkanku!" ucap Mika.


Aku hanya tersenyum malu dan juga kondisi saat ini terasa sangat canggung.


"Jadi kau orangnya, aku melihat aura yang kau keluarkan begitu hangat dan nyaman. Jika kau yang di inginkan Mika sebagai calon suaminya, kau harus mengalahkanku dulu dalam duel!"


"T-tapi-"


"Tidak ada tapi-tapian, lawan aku dan buktikan kau memang layak untuknya!"


Mika dan Ibunya malah tersenyum, mereka seperti sudah merencanakan hal ini.


Mau tidak mau aku harus bertarung dan di saksikan oleh beberapa anggota Clan Mika, yaitu Clan Shaman.


"Pertarungan 1 lawan 1, akan di laksanakan. Kalian berdua akan bertarung tanpa menggunakan kekuatan Warrior tetapi dengan kekuatan bela diri masing-masing, kalian berdua mengerti!" ucap seorang anggota clan yang berbaju wasit.


Tunggu dulu sejak kapan dia berada di tengah-tengah matras, batinku di dalam hati sambil memasang ekspresi kebingungan.


Mika menghampiriku. "Jangan kalah, jika kau kalah aku tidak akan boleh pergi kemana-mana lagi. Tujuan pertarungan ini agar aku bisa pergi bebas keluar rumah dan kau adalah orang yang akan menjagaku!"


"Kenapa kau tidak bilang yang sebenarnya saja?!"


"Hehe, aku ini putri penerus clan. Jika sesuatu terjadi terhadapku bisa-bisa terjadi masalah besar!"


Aku tersenyum pasrah, melihat tubuh kekar ayah Mika saja membuatku berpikir beribu-ribu kali untuk melawannya.


Demi loker devy jones, aku benar-benar harus bertarung.


Baru menggerakkan jari jemarinya saja, beliau sudah mengeluarkan bunyi yang sangat mengintimidasi.


Aku sudah siap dalam posisi kuda-kuda bertarung ku, kali ini aku akan menggunakan bela diri yang ayah ajarkan. Bela diri yang di ajarkan turun temurun oleh Clan Grand Templar.


※※※


Beliau berlari dan menerjang ke depan, dengan gerakan spear yang sangatlah berbahaya.


Untung saja aku berhasil menghindarinya, ini peluangku untuk menyerang balik. Ku arahkan tinju ke arah punggung belakang beliau yang terbuka lebar tapi naas tinjuku berhasil di halau hanya dengan telapak tangannya.


Aku harus fokus, serang bagian vital dan alihkan perhatian musuh dengan sengaja membuka kuda-kuda, batinku di dalam hati.


Seperti dugaanku ayah Mika terpancing dan melayangkan tendangan T yang langsung mengarah ke wajahku, dengan sigap aku langsung menunduk dan menendang kuda-kudanya yang membuat beliau terjatuh.


Melihat beliau terjatuh sempat ada niatan untuk menyerang tetapi kurasa itu hal yang tidak jantan dan bukan seseorang yang berjiwa kesatria.


"Kenapa kau tidak menyerang saat aku terjatuh?" ucap beliau sambil berusaha bangkit.


"Seorang Warrior sejati tidak menyerang lawannya ketika tidak dalam keadaan siap!" sahutku dengan lantang.


Beliau tersenyum lalu mulai menyerang dengan sangat cepat,beberapa tinjauan dan tendangan berhasil aku tahan. Begitu pula denganku, aku juga melayangkan beberapa tinju dan tendangan tetapi berhasil di tahan beliau.


Pertarungan kami sangat sengit, sampai aku hampir kehabisan tenaga dan napas.


Melihat hal itu, Mika berinisiatif memberikanku semangat.


"Ayo Muzzy, kalahkan Ayah!"


Mendengar hal itu, ekspresi ayahnya berubah.


"Berani sekali kau sudah mengubah anak kesayanganku!" ucap ayah Mika sambil melayangkan tinju.


Sambil menghindar. "Saya tidak mengerti apa maksud anda, paman. Tapi saya sama sekali tidak pernah mengubah Mika!"


Setelah menghindari serangan tadi aku melihat cela untuk menyerang dan benar saja, pukulan japku mengenai tepat pelipisnya dan langsung menendang lututnya membuat ayah Mika tertunduk di lantai matras.


Ayah Mika yang tersungkur malah tersenyum ketika menerima serangan milikku.


"Aku menyerah, Kau memang layak Nak!" kata ayah Mika sambil tersenyum kepadaku.


Entah kenapa aku merasa senang dan sedih dalam bersamaan, aku senang karena menang duel dan sedih karena telah berani memukul orang yang lebih tua dariku walaupun ini adalah sebuah pertandingan, tetap aku tidak bisa menerimanya begitu saja.


Aku meminta maaf kepada keluarga Mika karena telah memukul begitu keras wajah ayah Mika. Mika dan Ibunya terlihat sangat senang karena kemenanganku. Sudah ku duga mereka bersekongkol, tetapi asalkan Mika senang aku juga turut senang.


※※※


Aku duduk bersebelahan dengan Mika yang wajahnya terlihat senang padahal aku baru saja memukul wajah ayahnya.


"Ahemm ... Nak Muzzy! Aku minta mulai sekarang kau jaga anak kesayanganku yang satu ini dan jika terjadi sesuatu yang membuatnya terluka ataupun membuatnya sedih maka itu adalah akhir dari hidup mu! Kau mengerti!?" kata ayah Mika dengan raut wajah seperti tidak rela anak semata wayangnya harus di jaga seseorang dari luar Clan.


"I-iya paman, saya mengerti!" sahutku tersenyum pasrah.


Aku memandang Mika yang tersenyum-senyum.


"Tolong jaga aku ya!" ucap Mika sambil menepukkan kedua tangannya lalu tersenyum.


Aku hanya mengangguk lalu mengelus kepalanya dan tersenyum balik.


Saat itu aku dinyatakan menjadi bodyguard Mika oleh para petinggi Clan, jadi jika Mika ingin pergi kemana saja aku harus ikut dan harus membuat laporan kepada ayah Mika seperti seorang akuntan yang tengah mengerjakan sebuah invoice keuangan.


Saat di luar kuil ibu Mika memberi pesan bahwa aku tidak boleh melanggar perjanjian tadi kecuali di minta oleh Mika sendiri, sebagai orang yang menjunjung tinggi kepercayaan tentu saja aku tidak akan pernah melanggar janji, apalagi janji itu dibuat untuk melindungi orang yang sekarang menjadi alasanku bertarung.


"Kau terlihat sangat senang hari ini, padahal aku baru saja memukul wajah ayah mu dengan sangat keras yang merasa," ucapku sambil menenteng tas ransel.


Mika tersenyum manis lalu berlari kecil. "Hehe tidak apa-apa, ayahku itu kuat tapi kau lebih kuat, itu memang sesuai ramalan yang aku lihat! Jadi sekarang aku bebas!"


"Ayo kita berenang, sekarang saatnya aku yang membantu mu Muzzy!" lanjutnya lalu menarik tanganku.


-Tbc-